
Empat jam berlalu, kini Devino benar-benar terbangun dari pingsanya.
Pandangan masih terasa samar, memandang lampu kamar yang begitu terang membuatnya mengerutkan dahi karena merasa begitu silau.
Tangannya yang masih terikat kuat dengan genggaman istrinya membuatnya semakin sadar dan beranjak duduk dari tidurnya.
Lalu memandang istrinya yang tertidur di sampingnya karena menunggunya bangun sejak tadi.
Melihat Tuan muda terbangun, Erik langsung beranjak berdiri juga dari duduknya.
Ia mendekat ke arahnya yang semula sedang duduk di sofa ruangan ini.
Memandang istrinya lekat yang sedang tertidur itu, menyibakkan setiap helaian rambut yang menutupi wajahnya dengan sangat lembut.
Kau terlihat sangat cantik Anjani,
"Bagaimana dengan kondisi Anda Tuan Muda?,anda baik-baik saja kan?"Erik berbicara berbisik, melihat Nona muda yang tertidur membuatnya tidak berani bersuara keras.
Terlebih sikap Tuan Muda yang begitu hati-hati dalam bergerak membelai rambutnya.
"Aku tidak papa Erik!, pergilah!, temui istrimu dan Istirahatlah, ini sudah malam...!"
"Baiklah Tuan Muda, kalau begitu saya permisi!"
Erik pergi meninggalkan ruangan begitu saja, setelah kondisi Tuan Muda terlihat membaik,ia merasa lebih tenang saat meninggalkannya.
Masih menatap istrinya lekat,ia terlihat semakin cantik saat di pandang dari dekat.
Lalu membelai kepalanya dengan lembut karena menyayanginya.
Namun gatal di tenggorokannya mulai terasa kembali, hingga membuatnya batuk-batuk.
"Uhuk...uhuk.."Sudah mencoba menahan rasa batuknya,namun tetap tidak bisa, Devino tetap saja batuk dan membuat istrinya terbangun dari tidurnya karena kaget.
"Devino..!"matanya sudah membulat penuh karena kaget.
"Kau sudah bangun?,kau tidak papa?,kau baik-baik saja kan?.."
refleks, langsung berkata seperti itu walaupun baru saja terbangun dari tidurnya, matanya masih sayu, namun ia langsung menatap suaminya lekat dengan kedua tangannya yang sudah menempel di pipinya karena merasa begitu khawatir.
Devino terdiam melihat istrinya yang bertingkah seperti ini tiba-tiba.
Melihat Devino terdiam dan tidak menjawab perkataanya membuat Anjani semakin khawatir.
"kenapa kau diam saja?, katakan sesuatu!, kau baik-baik saja kan?,kau tidak papa kan?"terlihat panik, mengelus kesana kemari pipi suaminya untuk melihat seluruh wajah suaminya yang semula memerah itu.
__ADS_1
Bahkan matanya sudah berkaca-kaca penuh dengan kekhawatiran.
Kenapa dia imut sekali ketika bersikap seperti ini,apa dia begitu mengkhawatirkan ku...
Terus menatap istrinya tanpa henti.
"kau baik-baik saja kan?, katakan kepadaku...!,apa yang kamu rasa saat ini?,apa gatal sekali?,apa kau baik-baik saja?,kau baik-baik saja kan?"
Melihat tangan dan lengan suaminya yang tampak putih kembali seperti semula, tidak ada bintik-kan sedikitpun disitu,warna merah yang menyelimuti tubuhnya juga nampak sirna.
"Aku baik-baik saja Anjani..!"
Berkata pelan dan terseyum meyakinkannya.
"Tapi kau batuk tadi, kau tadi papa kan?,kau benar-benar tidak papa kan?, jangan berbohong kepadaku!..."mengecek bagian lehernya dengan lembut kesana kemari.
"Apa yang kau lakukan Anjani,aku tidak papa, tenanglah!.."mencoba menenangkan istrinya yang terlihat berkaca-kaca sambil panik mendeteksi setiap lekuk badannya yang terlihat.
"Maafkan aku...!"tiba-tiba memeluk suaminya erat dengan penuh rasa bersalah, matanya terus menintik tak kuasa menahan rasa khawatirnya sejak tadi.
Kedua jantung yang hidup berdebar-debar itu tampak bersatu menjadi satu saat berpelukan. Pelukan Anjani yang begitu hangat dan tulus benar-benar membuat Devino terdiam kaku dan tidak bisa berkata-kata,ia merasa begitu bahagia dan terharu saat ini.
Dia memelukku...,
Masih tidak percaya, karena ia juga baru terbangun dari pingsanya, otomatis nyawanya masih di ambang kesadaran dan bahkan terasa mimpi.
Lalu menatap suaminya kembali dengan penuh air mata.
Membuat Devino tidak tega dan terseyum sambil mengusap air mata di pipi istrinya.
"Tenanglah...!,aku tidak papa!, jangan menangis seperti ini!,ini memang salahku sendiri..."sambil mengusap air matanya kembali.
"Seharusnya kau bilang kalau kau itu alergi kacang..!, kenapa kau melakukan hal ini!, kenapa kau tidak bilang saja,kau jadi sakit kan.?"
Anjani tidak tahu lagi harus berkata apa,ia merasa bersalah dan begitu sedih sekarang.
"Apa dayaku untuk menolak suapan mu Anjani...!"masih mengusap air mata istrinya berulang-ulang, bahkan ia berbicara lembut sambil tersenyum menatapnya.
"Kau sudah membuat Donat itu khusus untukku!,aku tidak bisa menolaknya jika tanganmu yang memberikannya!, aku hanya merasa senang jika kau yang menyuapiku dengan tanganmu Anjani..!"
Perkataan jujur Devino yang begitu lembut sambil tersenyum mengelus pipi istrinya membuat air mata istrinya semakin jatuh berderaian.
"Tapi setidaknya jika kau alergi bilang...hiks..hiks..., jangan seperti ini!, pikirkanlah dirimu!,aku tidak ingin melihatmu begini,kau jadi sakit kan...!..hiks...hiks..."Menangis terisak menatap suaminya lekat tak berdaya.
Devino ikut terdiam menatap istrinya yang begitu sedih membuatnya terbawa perasaan dan berkaca-kaca juga menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa kau menangis?,apa yang kau tangisi Anjani?aku tidak papa!, jangan menangis seperti ini!"
"Kenapa kau begitu baik kepadaku?"berderaian masih belum bisa menahan tangis dan rasa bersalahnya,Ia berbicara begitu lembut sambil menatap suaminya lekat.
"Apa kau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri?,kau selalu berbuat seperti ini kepadaku!, bahkan sikap ku yang tidak pernah menghargai mu apa semuanya kau lupakan?, kenapa kau tidak membenciku saja..?,kau rela menjual mobil kesayanganmu demi mendirikan toko bersamaku!, kenapa kau lakukan ini Devino?... kenapa?..hiks.. hiks..."
"Karena aku mencintaimu Anjani!,aku ingin hidup bersamamu!,dan aku tidak bisa membencimu, karena aku sudah terlanjur mencintaimu!, dan bahkan jika kau akan bersikap seperti ini terus kepadaku,maka akan aku terima!, karena ini semua salahku yang sudah berani menghancurkan hidupmu waktu itu!,asalkan kau akan terus bersama ku, aku akan menerimanya, hanya itu yang aku inginkan Anjani...!"berbicara begitu lembut juga menatap istrinya.
Kenapa kau tidak bilang dari awal jika kau mencintaiku,
mungkin aku tidak akan bersikap seburuk ini kepadamu Devino, kenapa kau sangat baik seperti ini...
Anjani tidak bisa berkata-kata, hanya deraian air mata yang mampu menjelaskan semua ini sambil menatap suaminya lekat.
Ia bahkan semakin menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis seperti ini Anjani!,aku tidak bisa melihatmu menangis!, maafkan aku yang telah membuatmu menangis!"
Mengusap pipi istrinya begitu lembut untuk menenangkannya kembali.
Melihat tingkah suaminya yang seperti ini, membuat Anjani tidak bisa menahannya lagi dan langsung memeluknya sangat erat.
"Maafkan aku...aku mohon maafkan aku!, sikapku yang selama ini kurang baik kepadamu, pasti membuatmu sangat terluka,hiks... hiks...,aku hanya ingin kau meninggalkanku!, makanya aku bersikap seperti ini kepada mu!, karena aku tidak bisa melihatmu hidup seperti ini sekarang!,aku ini tidak pantas untukmu Devino!, hidup kita jauh berbeda!,kau pantas untuk bahagia dengan kehidupan mu yang dulu.."
Anjani begitu sedih memeluk suaminya erat, bahkan pelukannya kali ini membuat Devino benar-benar ikut merasa sedih menintikkan air matanya juga di pelukan istrinya.
"Aku tidak pantas untukmu!,jika kau terus bersama ku maka kau akan terus kesusahan Devino!"
"Lantas apa aku juga pantas untukmu?,apa aku juga pantas bahagia setelah berani menghancurkan hidupmu waktu itu?, lelaki bajingan yang tidak tahu malu dan sudah berani mencintaimu ini Anjani?, tidak!,aku tidak pantas mendapatkannya,aku tidak pantas bahagia juga...,tapi sekarang... aku ingin hidup bersamamu!, lalu apa alasannya kau tidak pantas untukku?...,apa karena kau tidak mencintaiku sampai saat ini?"Keduanya masih berpelukan erat dan saling berbicara.
"Bukan seperti itu, tapi keluargaku dan keluargamu..."
melepaskan pelukannya dan langsung menutup mulut Anjani dengan telunjuknya untuk berhenti berbicara karena merasa kesal jika ia akan tetap melanjutkan bicaranya.
"Berhenti membicarakan harta dan dunia Anjani!,aku tidak butuh semua itu..., yang aku butuhkan saat ini adalah dia..." menunjukkan jarinnya ke atas untuk mengingatkan istrinya tentang sang pencipta yang selalu ada bersamanya.
"Dan cinta mu!, bukan yang lain!"
Membuat Anjani terdiam membisu karena tidak berdaya menahan rasa ini yang begitu campur aduk di hatinya sekarang.
"Harta bisa di cari kembali, dan akan lebih indah jika kita berjuang bersama-sama dari awal,maka hidupku kita akan lebih bermakna nantinya!,aku ingin hidup bersamamu Anjani, jadi jangan pernah menyuruhku untuk pergi!,aku mohon...!"
Langsung memeluk suaminya kembali dengan erat dan terus menangis.
"Kau tahu...kau adalah orang pertama yang telah mengatakan cinta kepadaku!, tapi bukan hanya itu saja, semua pembuktian yang kau berikan kepadaku telah mengajariku apa itu cinta, terimakasih Devino..., terimakasih atas semuanya...!,aku bahagia kau telah hadir di sisiku saat ini, maafkan aku... maafkan atas segala sikapku selama ini!, karena aku juga menyayangimu Devino!,aku menyayangimu!,aku mencintaimu juga... maaf!"
__ADS_1
Keduanya masih berpelukan erat, ungkapan perasaan Anjani secara tiba-tiba itu benar-benar membuat Devino bahagia sampai ikut menangis juga memeluk istrinya.