
Pagi ini jauh terasa lebih berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Anjani terbangun dari tidurnya menatap suaminya yang sedang memeluknya erat saat ini.
Devino masih terlihat memejamkan matanya tertidur pulas.
Rasa hangat pelukan suaminya begitu berasa dan menangkan jiwanya.
Maafkan aku..!,
mulai saat ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, dan kita akan buktikan sama-sama... bahwa kita pasti bisa hidup bahagia nantinya...,
Mengelus pipi suaminya lembut,menatapnya dengan lekat, dengan penuh rasa bersalah juga,lalu...,
"Muach...."kecupan manis yang di berikan Anjani kepada suaminya di pipi.
Aku menyayangimu Devino,aku mencintaimu juga... maafkan aku... aku mohon maafkan aku!,
Devino langsung mengeratkan pelukannya begitu saja, membuat Anjani terbelalak dan bingung menatapnya,lalu tampak wajah tampan Devino yang tersenyum dan ikut mencium balik ke keningnya.
"Muach.."Masih memejamkan matanya rapat-rapat.
Tentu saja hal ini semakin membuat Anjani mengerutkan dahinya menatap suaminya yang tersenyum itu.
Pada awalnya memang Devino lah yang terbangun lebih dulu.
Namun melihat istrinya yang bergerak dan goyah dari tidurnya membuatnya memanjangkan mata kembali dan pura-pura masih tidur untuk mengelabuhi-nya.
"Kau pura-pura tidur?"
mimik wajahnya terlihat merekah cerah karena merasa malu telah mencium suaminya lebih dulu.
Terseyum lagi, lalu menatap istrinya yang sedang beringsut merasa malu.
Terlihat pipi Anjani yang begitu merona karena malu menatap suaminya.
"Aku hanya masih merasa ngantuk!, tapi kau menggangguku dengan ciuman mu tadi!, dan.. ini sudah membuat rasa ngantuk ku menghilang... !"dengan santainya berbicara dan masih menatap istrinya lekat.
"Ih... menyebalkan!"berkata pelan karena grogi,ia juga tidak berani menatap suaminya dan malah membalikkan tubuhnya membelakangi Devino.
Kondisikan jantungku...,
kenapa jantungku berdegup kencang begini,
aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, kemaren-kemaren masih bisa terkontrol,tapi kenapa sekarang jantungku tidak bisa di kendalikan lagi...,
Melingkarkan tangannya kembali ke pinggang istrinya dari belakang, membuat hatinya semakin bergetar hebat.
"Apa kau masih ngantuk..?"bertanya lembut tepat di telinga istrinya, hingga membuat Anjani semakin beringsut karena merasa geli.
"tidak, aku sudah tidak ngantuk!"berkata datar
Eh kenapa aku menjadi canggung begini si..,
Anjani terdiam anteng di pelukan suaminya karena ia benar-benar masih begitu canggung dengan suaminya sendiri.
Sementara suasana di kamar sebelah juga tampak masih sepi, mereka berdua masih terlihat tertidur pulas.
__ADS_1
Bahkan bantal yang di gunakan keduanya sebagai pembatas sudah hilang dari tempatnya.
Tita semakin mempererat pelukannya dengan bantal guling yang ia miliki seperti biasanya.
Pelukan ini terasa begitu hangat dan nyaman yang ia rasakan, namun kali ini terasa begitu berbeda dari biasanya.
Ia mulai meraba-raba dan menelusurinya, namun bantal itu justru semakin bergerak membekapnya.
Aku rasa aku bukan memeluk bantal guling..., kenapa dia bergerak..,
Tita setengah sadar, masih meraba-raba.
Setiap ruas yang ia telusuri tampak bertulang dan keras, bukan lembut seperti bantal guling, membuatnya langsung terbangun dan begitu kaget melihat Erik yang ia peluk dengan hangat.
Bukan hanya tanganya saja yang berulah seperti ini ,namun tangan Erik juga sudah melingkar di pinggangnya sejak semalam.
Memang ranjang yang mereka pakai tampak kecil dan sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga.
Karena Tita sudah terlanjur terbangun dari tidurnya ia tidak bisa tidur lagi.
lalu terdiam di bekapan Erik.
Menatap suaminya yang terlihat begitu tampan saat tertidur membuat jantungnya berdebar-debar begitu hebat.
Aku benar-benar kaget, baru kali ini dia tidur memeluk ku begini,aku tahu dia sedang tidak sadar, namun kenapa aku merasa begitu senang dengan ini,
Aku harus sadar, aku harus bisa mengendalikan diriku..,aku tidak boleh berharap lebih darinya,aku tahu dia tidak mencintaiku sampai kapanpun itu..
Tapi ia segera sadar dan mencoba melepaskan pelukannya yang erat itu, namun hal ini malah mengganggu tidur Erik dan membangunkannya.
Erik masih membuka tutup matanya sambil menatap istrinya yang terlihat berkutik mencoba menyingkirkan tanganya itu.
"Tidak papa..."
menghentikan aktivitasnya yang sedang memegang tangan Erik karena melihatnya terbangun,ia juga ragu sendiri untuk menyingkirkan tanganya.
Ia masih stand by di posisinya, namun Erik segera tersadar dan melepaskan pelukannya begitu saja.
"Maaf!,aku benar-benar tidak sengaja!, mungkin aku telah membuatmu tidak nyaman...!"
Merasa canggung dan grogi sendiri, entah ada apa dengannya, ini baru pertama kalinya keduanya berpelukan saat tidur.
Bagaimana bisa aku tidur memeluknya,
Menggarukan kepalanya dan menatap ke arah bantal guling yang sudah tergeletak di atas lantai, begitu juga dengan Tita yang ikut menatap bantal guling itu.
Membuat Erik merasa semakin canggung sendiri dengan ini.
Mengingat akan semalam,Erik teringat akan dirinya yang kepanasan dan gerah karena ranjang ini terasa begitu sempit baginya, kemudian dengan kesal ia melempar bantal guling yang tampak menggangu itu ke lantai tanpa sadar.
Gila aku yang membuangnya semalam,
apa yang harus aku katakan sekarang..,
"Mungkin aku yang tidak sengaja menjatuhkannya!"berbicara pelan,
lalu Erik berdiri dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Jika jatuh kenapa jauh sekali dari tempat tidur,itu tampak di lempar bukan..,
Tita terdiam, karena jarak bantal guling yang begitu jauh dari ranjang membuatnya ragu dengan perkataan Erik.
Cih,apa yang aku pikirkan?...tentu saja itu jatuh dan menggelinding kan bisa...
Positif thinking saja dengan posisi bantal guling itu,ia menghilangkan rasa berharapnya yang begitu besar.
*****
"Apa yang sedang kau pikirkan?, katakan jika ada sesuatu!..."masih memeluk Anjani hangat di pagi hari.
"tidak papa,aku hanya merasa...."
"Merasa apa?, lupakan semuanya Anjani..!"
Memang kau tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang,
"Yang lalu biarlah berlalu!, jangan terus merasa bersalah, aku yang salah dari awal!,kita mulai hidup baru sekarang!, jangan pikirkan hal-hal yang menganggu pikiranmu...!,anggap saja semua ini baru akan dimulai!"semakin mempererat pelukannya.
"muach...."mencium pipinya sesekali yang sedang terdiam di pelukannya.
Memberinya pengertian kepada istrinya, Devino tahu kalau hati Anjani itu sangat lembut dan berperasaan, pasti ia sedang merasa canggung dan masih merasa bersalah kepadanya.
Bahkan ia pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri saat ini, Devino tahu itu, Devino bisa membaca dari binaran mantanmu Anjani.
Kenapa kau begitu tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang,
aku memang masih begitu canggung terhadapmu,
dan aku memang masih merasa sangat bersalah dengan sikap ku selama ini... maafkan aku...
Membalikkan badannya kembali dan menatap suaminya lekat.
"Maaf... maafkan aku!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Anjani!, kenapa kau memintaku maaf..?, bahkan kau saja tidak memiliki kesalahan kepadaku sama sekali!.."membelai rambutnya dengan lembut.
"Jangan begitu...,jika kau berkata seperti ini aku akan semakin merasa bersalah, maafkan aku!,aku mohon maafkan aku...!"berkaca-kaca menatap suaminya karena masih merasa begitu bersalah sejak semalam.
Apa yang kau katakan Anjani, jelas-jelas ini semua salahku...
"Ayo bangun Anjani...!,kita harus siap-siap buka toko!, lihat jam berapa sekarang!,apa kau akan kuliah hari ini?"
Beranjak berdiri,ia mengalihkan pembicaraan yang tidak asik ini untuk menghibur istrinya yang terus menerus bersalah.
Ia menggandeng tangan istrinya untuk mengajaknya beranjak dari tidurnya juga.
Anjani hanya menggelengkan kepalanya, sambil menatap lekat suaminya yang sedang tersenyum itu.
Kenapa kau pandai sekali mengalihkan pembicaraan,
kau tidak merasa terluka sama sekali atas sikap ku selama ini,
terbuat dari apa hatimu itu Devino?, terbuat dari apa hatimu itu...
Masih mengikuti langkah suaminya yang terus menggandengnya itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Keduanya tampak keluar dari ruangan kamar. Seepertinya mereka berdua akan menyiapkan sarapan bersama-sama kali ini.