
Sesampainya di rumah sakit semuanya langsung terburu-buru masuk kedalam gedung rumah sakit.
Sudah tersedia juga ruangan khusus untuk mereka setiap kali datang ke rumah sakit ini, sepertinya memang ruangan ini sudah di beli dan khusus untuk keluarga Bahara Sanjaya.
Beginilah kehidupan orang kaya yang serba memiliki dan serba ada.
Dokter kandungan segera datang dan mengecek keadaan Nona mudanya itu.
Erik dan Dea pun berjaga di ruang depan, sementara Tuan Devino menunggu dan menemani istrinya di dalam.
"Bagiamana Dok?,apa istriku akan segera melahirkan?"
"Belum Tuan Muda, istri anda baru mengalami tahap pembukaan 6, mungkin butuh waktu beberapa jam lagi agar Nona muda bisa melahirkan secara normal..."
"Kenapa harus seperti itu?, bukankah istriku sudah mulas dari tadi?, kenapa tidak sekarang saja Dok, kau mau menyiksa Istriku lebih lama lagi Dok...!"Devino terlihat semakin pucat mendengar perkataan dokter,ia tidak ingin melihat istrinya terus merasa kesakitan walupun hanya satu jam lagi.
Jangankan satu jam,satu menit pun ia begitu merasa berat hati.
Tersenyum Anjani mendengar perkataan suaminya itu.
Sementara Dokter tercengang,ia bingung harus menjawab apa, mungkin hanya kepalanya saja yang ingin menjawab dengan ber-geleng.
"Maafkan suami saya Dok,ia tidak mengetahui tentang hal ini, Terimakasih Dok..., pergilah.."
"Baik Nona saya mengerti, permisi Tuan Muda.."Terseyum dokter itu melihat raut wajah Devino yang bingung menatap istrinya yang tersenyum itu.
"Kenapa kau ini lucu sekali sayang?, kemarilah..."Masih terseyum, walaupun ada rasa sakit di dalam dirinya, ia tetap berusaha untuk terseyum sambil menatap suaminya yang tidak rela melihat kepergian dokter itu.
"Kau tidak papa kan?,kau pasti sangat kesakitan..."
"Semua butuh proses dan waktu sayang, tenanglah, semua ibu hamil pasti merasakan hal seperti ini.."
Sebagai seorang Naratama menunggu di sebuah ruangan pasien VIP adalah hal biasa.
Terlihat Devino yang berjalan kesana-kemari menunggu kehadiran dokter kandungan yang belum juga memasuki ruangan pasiennya ini.
Kurang lebih dua jam Devino dan Anjani menunggu di ruangan ini, sementara Dea sesekali masuk untuk membantu melayani Nona mudanya jika membutuhkan sesuatu.
"Aduh....ah.."Meringis, lalu mencoba berdiri dari tidurnya sambil memegang perutnya kembali.
Sepertinya tegangan rasa mulasnya semakin besar dan semakin menekan kali ini, membuat Anjani terlihat tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya
__ADS_1
"Kenapa dokternya belum juga datang?, kemana si mereka semua?,apa mereka tidak bisa melihat istriku yang sedang kesakitan sekarang..."merasa geram, mungkin ia bukan hanya merasa sebagai seorang Naratama saja, tapi lebih dari sekedar itu,ia merasa ia adalah seorang Naratetama yang harus di dahulukan terlebih dahulu, apapun alasannya ia tidak peduli.
"Erik...panggil seluruh dokter!,layani istriku dahulu, sebelum ia melayani yang lain..!"
Terserah kau saja Tuan Muda,aku tahu anda sedang Panik,tapi mengertilah ini itu di rumah sakit, bukan di hotel..
"Sayang...."Memanggil suaminya lembut yang sedang panik itu,ia juga ingin berusaha menangkan suaminya agar membuatnya mengerti.
"Kenapa sayang,apa bayinya mau keluar...?,Tunggu bentar yah?, bertahanlah..."Semakin panik.
Aku ingin kau diam, kenapa kau yang begitu panik, seharusnya kau menenangkan ku kan,aku takut sayang...
Semakin berkaca-kaca matanya,lalu menggenggam tangan suaminya dengan erat sambil memejamkan matanya untuk menahan rasa sakitnya itu.
melihat istrinya yang semakin berkeringat dingin membuat Devino ingin menangis sekali rasanya.
"Sus, bawakan alat persalinan cepat kemari!"perintah dokter yang tampak terburu-buru sambil memakai sarung tangan.
"Cepat Dok, lakukan yang terbaik untuk istriku, jangan sampai ia kenapa-napa, selamatkan dia dan anakku, lakukan yang terbaik...,aku mohon"menggenggam tangan Istrinya dengan erat,ia terlihat begitu khawatir dan terus berkaca-kaca, bahkan beberapa bekas air mata sudah mengalir di pipinya.
"Dev..."
"Iyah.. sayang,kau baik-baik saja kan,kau pasti bisa,kau pasti kuat,kau pasti bisa..." Terus berusaha menyemangati istrinya yang tampak berkaca-kaca itu.
Senyuman terpancar oleh kedua pasangan ini.
Walaupun hati Anjani di penuhi dengan debaran jantung yang begitu kuat,ia tetap berusaha untuk mengontrol emosinya.
Suster dan para Dokter terlihat berdatangan membawakan peralatan persalinan, mereka juga terlihat memakai peralatan medis yang di tentukan seperti biasanya.
Tuan muda semakin tegang melihat istrinya yang sudah berposisi dan akan siap untuk melahirkan itu.
Sementara pembukaan memang benar-benar cepat sudah berada di tahap 10, jelas Anjani sudah siap untuk melahirkan anak yang ada di kandungannya itu.
"Atur nafas anda Nona,dan tenangkan diri anda, jangan panik, Tuan Muda, berikan dukungan penuh untuk Nona muda yah.., bantu kami juga agar dapat berjalan dengan lancar"
"Tentu saja... muach.."Mengecup kening istrinya dengan penuh kehangatan."kamu pasti bisa sayang..,kamu pasti sehat dan baik-baik saja"
Persalinan langsung di mulai, baru pertama kalinya Devino menyaksikan persalinan di depan mata.
Bibirnya gemetar, jantung hatinya berdetak tak karuan,ia terlihat terus menggenggam tangan istrinya dengan erat dan memberikan belaian penuh kehangatan di situ.
__ADS_1
Selamatkan istriku dan anakku ya Tuhan..,lancarkan lah persalinannya,jaga dia, sehatkan dia, untukku..
Lindungi dia,aku sangat mencintainya,aku mohon.., mudahkanlah.. jangan sakiti dia,
Sudah menangis Devino,ia tidak bisa menahan air matanya lagi, Cengeng sekali.
Melihat perjuangan Anjani yang sedang berusaha melahirkan itu membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Ia hanya bisa berdo'a di dalam hatinya dan memberikan dukungan penuh untuk istrinya ini.
"Kau pasti bisa sayang...,aku mencintaimu, sangat mencintaimu"Bahkan ia tidak berani menatap dokter dan suster yang sedang memegang alat persalinan seperti gunting dan lain-lain.
Ia begitu takut dan gemataran, apalagi sampai melihat darah, rasanya ia ingin sekali pingsan.
Keluarga pun sudah berdatangan dan menunggu di luar ruangan.
Terlihat Laras dan ibu Maria yang begitu gelisah sambil berpelukan bahu untuk menantikan kabar dari dalam kamar pasien ini.
Nampak juga raut wajah yang begitu pias karena gelisah, sesekali ibu Maria menintikkan air matanya sambil berdoa untuk keselamatan anaknya dan cucu pertamanya itu.
Terlihat juga Tuan besar yang sudah datang dan berdiri di depan ruangan ini,ia terlihat khawatir dan gelisah juga.
Sementara Nyonya besar terdiam sambil duduk menunggu, sepertinya ia sedang berdo'a agar anak yang di lahirkan-nya itu adalah perempuan bukan laki-laki.
Terlihat juga Erik yang datang dari sudut ruangan lain membawa istrinya tercintanya yang sedang hamil itu.
Ya ampun, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar,aku harap Nona baik-baik saja berserta anaknya.
Berdo'a sambil mengelus-elus perutnya yang nampak semakin membesar itu.
Yeh ... bentar lagi aku akan punya ponakan, semoga saja kak Anjani dan anaknya sehat-sehat saja nantinya.
Tak sabar juga Diva menantikan kehadiran ponakannya itu yang akan lahir.
"Ayo sayang kamu pasti bisa..."Mendukung penuh, sampai akhirnya kecupan penuh cintanya mendarat lagi ke kening istrinya lama.
"Aku akan selalu bersamamu,aku akan selalu ada untukmu,aku yakin kau bisa,aku mencintaimu Anjani, sangat mencintai,kau pasti bisa....."Berbicara lembut,penuh permohonan dan harapan yang begitu besar untuk ini.
Mendengar perkataan suaminya yang begitu tulus dan memohon membuat Anjani semakin mengumpulkan tenaganya untuk melahirkan anaknya itu.
Lalu ia memejamkan matanya dengan penuh harapan seorang ibu yang akan melahirkan anaknya ke dunia dengan selamat,lalu...,
__ADS_1
"Oe...oe.."Terdengarlah suara tangisan bayi yang di dengar oleh sang Ayah dan ibunya itu.
Air mata langsung berjatuhan merasa bahagia tak terkira karena terharu.