
Hari ini aktifitasnya mulai kembali seperti biasanya.
Devino sudah rapi dengan kemejanya untuk berangkat bekerja.
Sementara Anjani juga sudah bersiap untuk berangkat kuliah pagi.
Mereka berangkat bersamaan dengan mobil mewah milik Tuan Muda menuju ke kampus terlebih dahulu.
Anjani langsung turun begitu saja, tanpa pamit ataupun berterima kasih kepada suaminya, yang jelas ia masih terlihat begitu cuek.
Hanya menatap suaminya sebentar, sepertinya ia ingin sekali mengatakan sesuatu tapi tidak jadi,ia berbalik arah dan terus berjalan ke dalam gedung kampus.
*****
"Bagaimana kabar putarku?, apa dia baik-baik saja?, seharusnya dia kesulitan dan pulang kemari bukan..?"
Nyonya Besar bertanya serius menatap kedua anak buahnya yang sedang menghadapnya ini.
"Sepertinya tidak Nyonya!, Tuan Muda terlihat lebih bahagia dengan pekerjaan barunya!"
"pekerjaan?, Devino tidak menganggur?, bukankah seluruh perusahaan sudah di bungkam dengan uang untuk menolak putraku jika ia melamar pekerjaan ke perusahaan manapun!, kenapa Devino bisa bekerja?..."
Nyonya besar begitu berharap Devino akan menyerah dan pulang kerumahnya kembali.
Ia juga begitu berharap dengan kehidupanya yang sekarang ini membuat Devino menyerah dan meninggalkan istrinya itu.
"Iyah tentu saja Nyonya, semua perusahaan memang sudah menolak lamaran kerja Tuan Muda!,tapi sayang,dia tidaklah tertarik untuk perkerjaan di sebuah perusahaan..!"
"lalu dimana Devino bekerja?, pekerjaan apa yang ia ambil?"
Nyonya begitu penasaran dengan nasib putranya yang sekarang, selain merasa kecewa kepada Devino, ia adalah seorang ibu yang melahirkan dan juga mempunyai perasaan untuk kebahagiaan putranya.
Hatinya memang masih di selimuti dengan perasaan duniawi, entah kapan ia akan sadar?,
Tapi yang jelas ia juga merasa kepikiran dengan nasib putranya sekarang ini.
Seorang ibu memang selalu ingin yang terbaik buat putra putrinya,namun kadang mereka lalai dengan nasib dan takdir yang telah di tentukan yang maha kuasa pada setiap masing-masing insan.
Karena terlalu mementingkan urusan duniawi sehingga Nyonya Besar belum bisa membuka hatinya untuk menantunya yang sekarang.
"Pelayan Nyonya!,ia sedang bekerja di restoran saat ini!"
"What..?,kau bercanda?, tidak mungkin putraku menjadi seorang pelayan!,apa kau tidak mempunyai akal sehat?"
protes Nyonya besar merasa mustahil dengan semua ini.
"Jika nyonya tidak percaya temui Tuan Muda!,dia sedang bekerja di sini sekarang...!"
memberikan sebuah kertas yang berisi alamat yang ia dapatkan dari hasil mata-mata selama ini.
"Apa yang Devino lakukan?, bagaimana bisa dia mau menjadi seorang pelayan seperti ini?,apa dia tidak waras?"
Merasa kesal dan gelisah, mendengar nasib putranya yang seperti ini membuatnya merasa tidak tega.
Ini semua gara-gara wanita itu,
seharusnya Devino tidak mengambil jalan dengan kebodohan ini,
dia seharusnya melepaskan wanita itu dan pulang ke rumah, bukan menjadi pelayan seperti ini,
"Apa Allena belum juga menemui Devino?, seharusnya dia merebut hatinya kembali dan membawa Devino pulang ke rumah bukan?"
Seandainya saja Nyonya Besar tahu sifat-sifat dari Allena yang sesungguhnya mungkin ia tidak akan berusaha menjodohkan keduanya kembali.
*****
"Anjani apa kemaren itu suamimu?"
Gita dan Mutia sudah duduk bersandingan dengan Anjani yang sedang menatap halaman dan keindahan kampus.
"Iyah,dia itu suamiku!"Menjawab pelan dan masih terdiam memikirkan sesuatu.
"Dia cocok sekali denganmu!,dia terlihat sangat tampan dan kau sangat cantik!"Mutia merasa senang melihat Anjani yang begitu cocok dengan suaminya kemaren.
"Seperti seorang pangeran dan putri bukan?"Gita yang pastinya ikut mendukung.
"Apaan si kalian?,Dia itu memang milikku, tapi hatinya milik orang lain!"
Anjani terseyum palsu menatap mereka semua.
__ADS_1
"Maksud mu?"
Keduanya bingung menatap Anjani.
"Aku yakin dia masih mencintai mantan Tunangannya,dia juga berpelukan kemaren!"
"Hah...?, berpelukan dengan mantan tunangannya kau melihatnya?''
"Bukan hanya melihatnya,tapi di depan mataku!, tapi sudahlah jangan membahas suamiku aku mohon,aku tidak ingin membahas tentang dirinya kali ini".
"Tega sekali berpelukan dengan mantannya di depanmu!"
Sunyi sejenak,
Gita langsung berbisik kepada Anjani yang terlihat kusut itu.
"Mutia hari ulang tahun,apa yang akan kita berikan untuknya?"
Bisik Gita pelan sampai-sampai Mutia benar-benar tidak mendengarnya.
O..iya,aku sampai lupa,
Anjani langsung terseyum...,
"Kita akan bahas hadiahnya nanti saja, tapi sebaiknya kita berikan ucapan selamat dan makan-makan gimana?"
Anjani yang ikut berbisik membuat Mutia mengerutkan keningnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang di bicarakan keduanya.
"Aku setuju tapi dimana?"
"Nanti kita bahas!"
keduanya masih berbisik.
"Ih... kalian lagi ngomongin apaan si?, ngomongin aku yah..?, kenapa si tega banget..."
Mutia terlihat kusut menatap keduanya,dia berburuk sangka terlebih dahulu melihat keduanya yang terus berbisik.
Lalu keduanya bergeser menjauhi Mutia yang sedang bertanya itu sambil tersenyum aneh.
"Tidak kok, kita hanya membahas tentang hal pribadi ya kan Anjani!"
jawab Gita yang semakin menjauhi Mutia bersama Anjani.
"Tidaklah!,ini kan cuma khusus untuk sahabat saja!"
Anjani berkata seperti itu membuat hati Mutia tiba-tiba sakit mendengarnya.
"berarti kalian berdua tidak menganggapku sebagai sahabat?"
Mutia yang sudah berkaca-kaca menatap keduanya.
"Tidak!"kompak dengan wajah keduanya yang terlihat serius mantap Mutia.
"Baiklah..."Merasa sedih dan langsung meninggalkan keduanya begitu saja.
Aku tidak menyangka kenapa mereka tiba-tiba bersikap seperti ini kepadaku,
apa aku melakukan kesalahan,
Melihat Mutia yang begitu sedih meninggalkan keduanya membuat mereka tidak tega.
"Kita keterlaluan!, kita membuatnya menangis, jahat sekali..."Anjani yang langsung berlari bersama Gita menyusul ke arah Mutia.
"Hap..."keduanya memeluk Mutia dari belakang.
"Happy birthday sahabatku!"Memeluk sahabatnya erat yang terlihat menintikkan air mata.
"Ih... kalian jahat sekali!"Terlanjur menangis dan merasa begitu sedih bercampur kesal.
"Maafkan aku!"Anjani
"iya maafkan aku juga,kau adalah sahabat kita yang paling baik Mutia happy birthday to you!"
Keduanya langsung memeluk Mutia dengan erat.
"Oh... maafkan aku Mutia!,kau terlalu cantik untuk menangis!, happy birthday sahabatku tersayang...!"
mengusap air mata Mutia yang sudah menitikkan air mata.
__ADS_1
"Iihhh... kelian ini membuat ku kesal!"langsung tersenyum menatap kedua sahabatnya itu sambil mengusap air matanya, Mutia tampak langsung ber-ceria kembali.
"Baiklah, mumpung kamu lagi ulang tahun bagaimana kalau kita makan-makan?"
Gita yang sudah tidak sabar untuk merayakan ulang tahun sahabatnya ini.
"Boleh, kamu mau kan Mutia?"Anjani yang tentu saja menyetujuinya karena ini termasuk ide-nya.
"Tapi nanti merepotkan kalian,aku juga tidak memiliki uang banyak...!"Mutia yang merasa tidak perlu dan tidak enak diri.
"Siapa suruh kau yang membayarnya!,aku dan Anjani yang akan mentraktir mu!, sebaiknya kau pulanglah bersiap-siap, nanti jam 3 sore kita akan bertemu di restoran bagaimana?"
"Beneran?,tapi..."
"Sudah-sudah pulang sana!, bersiap-siaplah!, aku akan segera memberitahu dimana kita harus bertemu...!"
Mutia pulang terlebih dahulu dari kampusnya dengan motornya itu, sementara Anjani dan Kinar sedang mencari tempat makan untuk mereka bertemu dan merayakan ulang tahunnya nanti.
"Kira-kira kita mau makan dimana Git?"Tanya Anjani yang membonceng.
"Di restoran lah!"
"iya.. maksudku di restoran mana?"
"yang mahal!, sekali-kali kita pergi ke tempat yang waw kan boleh lah, buat kenangan...!"
"Baiklah aku mengerti!, aku akan mencoba mencari restoran terpopuler di internet...!"
Setelah mencari dan menelusuri restoran yang ada di kota ini Anjani menemukan satu restoran yang terpopuler di kota ini.
"Bagiamana kalau kita kesini saja?"
menunjukkan sebuah restoran yang ada di ponselnya.
"Oke baiklah!,tapi mahal banget gak?"
"Mahal si,tapi tenang saja ada diskonnya!,aku rasa kita mampu membayarnya!"
Keduanya langsung menuju ke restoran yang sedang di tuju itu,
tak lama kemudian mereka berdua berhenti di depan restoran, tepat di restoran yang terlihat indah dan besar itu yang mereka cari.
"Benarkah ini restorannya?,ini terlihat restoran orang kaya Anjani?"
"Yang namanya restoran kan buat orang kaya, kalau rumah makan dan angkringan ya mestinya kita!"
"Tapi gak papa!, sekali-kali lah kita pergi ke tempat seperti ini bersama!"
Keduanya langsung memarkirkan motornya dan memasuki restoran yang begitu ramai.
Banyak wanita-wanita cantik dan kalangan anak muda yang sedang duduk di dalam restoran ini.
"Tempat ini benar-benar populer yah!,aku lihat tamunya muda-mudi semua, banyak cewek-cewek cantik lagi"
Mata Anjani terus mengintai berkeliling menatap seluruh penjuru restoran.
"Iya aku rasa penampilan kita yang biasa saja!"
"Kak... ganteng banget si!, boleh kenalan gak?"
Mendengar suara perempuan yang mengoceh, membuat Anjani langsung menatap ke arah wanita itu yang sedang berbicara dengan salah satu waiter restoran.
Cih genit sekali,
Terbelalak Anjani melihat seorang pria yang yang sedang memegang nampan itu menghadap ke arah wanita itu yang sedang berbicara dengannya.
Raut wajah,muka,dan postur tubuhnya benar-benar sama seperti suaminya,
"Tidak mungkin!"
"hah?, apanya yang tidak mungkin?"Tanya Gita sambil memainkan ponselnya.
Lelaki itu terlihat hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum manis saja,ia terlihat tidak melayani wanita itu.
Menatap lelaki itu lama, ia benar-benar tidak sedang bermimpi kan,
Itu bukan Devino kan?, kenapa mirip sekali?, tidak mungkin,
bukannya dia di kantor, bajunya juga berbeda dari yang ia kenakan tadi pagi...
__ADS_1
Melihat salah satu waiter lagi yang ada di sebelahnya, tentunya ia adalah Erik, membuatnya semakin terbelalak melihatnya.
Erik, apa itu juga Erik?...