
Anjani Mendekat ke arah teman-temannya. Mereka masih menatap ke arah Anjani yang memasuki gedung kampus.
"Tumben kau pakai mobil Anjani?"
Tanya Mutia penasaran,ia adalah sahabat dekat Ajanji yang selalu bersama di saat di kampus, bisanya mereka bertiga selalu berangkat bersama pakai motor.
"Kau beli mobil baru?"
Tanya Gita juga penasaran,ia termasuk sahabat dekatnya juga sama seperti Mutia.
"Cih... apaan si!,mana aku mampu beli mobil, untuk kuliah saja aku kesulitan,itu mobil suamiku...!"
Anjani sudah mendekat bergabung dengan mereka berdua.
"Apa?"
Mutia terbengong, karena ia belum mengetahui tentang pernikahan sahabatnya itu.
"Suami?, kapan kau menikah?"Gita juga kaget tentunya.
"Iya Anjani, kapan kau menikah?,kenapa kau tidak mengundang kita berdua coba?"
"Tak usah di bahas!, intinya aku menikah dengannya juga bukan keinginanku, yang jelas kita juga tidak saling mencintai..!"
"Kau di jodohkan?"
"iya, apa kau di jodohkan?"
"Tidak juga!,semua ini karena paksaan dan keadaan!,dia juga yang menyuruhku untuk menikah dengannya!"
"Hah...?"keduanya terbengong merasa aneh dengan perkataan Anjani.
"Tapi bagaimana bisa kau mau?, dengan orang yang tidak kamu cintai Anjani?"Tanya Gita yang begitu penasaran.
"Yang jelas ini sudah takdirku!, Maafkan aku, bukannya aku tidak mengundang kalian, tapi karena pernikahan ini aku juga belum siap sama sekali, semua karena dadakan, jadi aku tidak sempat menyebar undangan kemanapun...!"
"Bagiamana si... aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu?, maksudmu perjodohan juga bukan...tapi dadakan!,kok bisa dadakan?"
Bagaimana aku menjelaskan kepada kalian..., tidak mungkin aku menyebar aib ku sendiri,
Anjani merasa begitu geram dan bingung harus menjawab apa pada kedua sahabatnya,ia bahkan menggarukan kepalanya yang tidak gatal itu untuk berpikir,
bagaimana ini...
aku harus bilang apa coba,
jika aku jujur pastikan memalukan,
"iya.... intinya, gimana si menceritakannya?,ya sudahlah anggap saja ini adalah perjodohan!,aku yang memaksakan perjodohan ini, aku mau menikah dengannya karena aku ingin mencoba mengenal cinta dengannya..!"
Sambil tersenyum palsu kepada kedua temannya itu.
mengenal cinta dengannya hah, aku pasti sudah gila mengatakan ini pada kedua sahabatku...
"Aneh sekali..?"
"Maksudku mengenal cinta boleh kan, masa tidak boleh?..."
Anjani yang terus terseyum palsu dan bingung harus mengatakan apa pada kedua sahabatnya ini.
"Tapi aku penasaran bagaimana suamimu?, kenapa kau tidak mengenalnya kepada kita berdua?"
"Tenanglah!,dia biasa saja!, kalian pasti akan mengenal nantinya,ayo... sebaiknya kita masuk ke kelas, sudah jangan membahas ini terus...!"
"Tapi kita penasaran Anjani?"
"Iya.. iya... aku pasti akan mengenalkan dan memberitahu kepada kalian nantinya..!"
__ADS_1
Mencoba memutus pembicaraan sambil mendorong kedua sahabatnya untuk menuju ke ruang kelas mereka.
Mereka bertiga langsung masuk ke kelas untuk melanjutkan kuliah.
Sementara Anjani masih bungkam antara hubungannya dengan suaminya,
yang jelas ia belum berani menceritakan hal sebenarnya kepada kedua sahabatnya itu tentang apa yang sudah menimpanya.
******
Sesampainya di dekat restoran Tuan Muda langsung berganti pakaian, bahkan mobilnya ia taruh dan titipkan di tempat lain agar mereka semua tidak bertanya-tanya tentang dirinya yang terlihat sukses memiliki mobil.
Ia hanya ingin di pandang sebagai orang biasa kali ini, karena ia juga sedang berusaha menyembunyikan identitasnya yang berasal dari keluarga konglomerat,
yang akhirnya dapat menyusahkan dirinya saat orang-orang tahu nanti,inilah alasan Tuan Muda menyembunyikan identitasnya.
Erik sudah berdiri di belakangnya.
"Apa di restoran itu ada lowongan kerja Tuan Muda?"
Tanya Erik terdengar aneh membuat Devino mengerutkan dahinya menjawab pertanyaannya.
"Untuk apa kau bertanya seperti itu?"
"Aku ingin bekerja juga Tuan Muda!,aku bosan menunggu di mobil,aku ingin berkerja dengan Anda!, agar saya bisa mengawal anda dari dekat, sebagai pelayan juga tidak papa...!''
"Memangnya kau mau menjadi seorang pelayan?"
Tanya Tuan Muda sambil mengikat clemek itu di pinggangnya.
"Pekerjaan ini lebih pantas jika saya yang melamarnya Tuan Muda!, bukan anda!, lagian bukannya kata Tuan Muda jangan gengsi jika kita ingin sukses!"
"Kenapa aku tidak pantas?,iya begitulah awal kesuksesan.."
"kalau begitu,aku ingin kerja di restoran juga dengan anda Tuan Muda!"
Mereka berdua langsung menemui manager restoran untuk berbicara tentang Erik yang ingin mendaftar kerja.
Awalannya manager menolak permintaan mereka karena karyawan disini sudah cukup bagi pihak restoran,
tapi karena salah satu pelayanya tidak bisa hadir membuat Erik mendapat kesempatan bertugas untuk melayani para tamu restoran hari ini.
Suasana di restoran hari ini sangatlah ramai, entah karena kebetulan atau di sengaja,
yang jelas banyak wanita yang datang ke restoran ini, tentunya dari kalangan wanita muda.
Ada lebih dari tiga waiter yang melayani mereka semua di restoran ini, termasuk Erik yang baru saja mendaftar,tapi yang jelas tatapan para wanita menuju ke arah Tuan Devino yang terlihat sangat tampan itu.
Walaupun ia memakai pakaian pelayan, tapi ketampanannya tidak akan berkurang sama sekali dari pandangan para wanita.
Tampan sekali dia,aku benar-benar baru melihat waiter yang sangat tampan sepertinya,
kulitnya saja putih bersih,
badannya cool,tinggi lagi...
oow ..... tampan sekali, aku benar-benar merasa beruntung datang ke restoran ini lagi...
Batin para wanita yang ada di restoran itu sambil menatap Tuan Devino yang terus berjalan melayani para tamu restoran.
Bahkan mereka sengaja meminta bantuan kecil kepada Tuan Muda agar bisa berdekatan dengannya,
"Maaf kak!, boleh minta bantuannya sebentar!,aku masih bingung dengan menu ini...?"
Suara perempuan yang terlihat seksi dan mempesona itu menghentikan langkah Devino yang akan kembali ke dapur.
"Iya Kak!,aku juga bingung, aku baru ke restoran ini soalnya, boleh meminta bantuannya...!'
__ADS_1
Wanita yang di sebelahnya lagi ikut-ikutan bertanya juga, mereka tampak merapikan tampilan mereka baik menyibakkan rambutnya maupun membenarkan bajunya agar terlihat lebih seksi di mata pelayan ganteng itu.
Sudah terlihat sekali dari gaya mereka yang kecentilan mendekati Tuan Muda membuat Erik merasa gregetan dan geram.
"Maaf Tuan Muda!, biar aku saja yang melayani mereka!"
Bisik Erik yang mendekat ke arah Tuan Mudanya dan menyuruhnya untuk pergi.
"ehem...maaf!,apa ada yang bisa saya bantu?"
"Aku sedang meminta bantuan kepadanya kenapa kamu datang?,dia jadi pergi kan!"
Masih menatap kepergian Devino dari meja wanita yang bertanya-tanya kepadanya tadi.
"Tapi gak papa!,kau juga tampan..!"Wanita itu terseyum menetap Erik dengan penuh godaannya.
Wanita gila ya, semuanya di bilang tampan!
iya memang si aku tampan...,tapi gak gini juga kali..
Erik masih berdiri mendengarkan ocehannya, sebenarnya ia begitu merasa risih, namun karena ia sedang berkerja di tempat orang, jadi ia berusaha untuk melayani para tamu dengan baik
"apa kau mengenalnya, siapa waiter ganteng itu, aku benar-benar penasaran denganya!"
"Dia sudah memiliki istri yang lebih cantik dari kalian!,saya rasa kalian berdua tidak membutuhkan bantuan, kalau begitu saya permisi!"
Erik yang mendengar perkataan mereka yang tidak penting membuatnya menggelengkan dan pergi begitu saja.
"Dasar waiter sombong!,baru di bilang ganteng saja angkuhnya minta ampun, orang ditanya malah pergi,siapa juga yang menanyakan statusnya masih lajang atau tidak!"
Wanita itu merasa begitu kesal dengan kepergian Erik yang meninggalkan tempat saat di tanya hal tidak penting itu.
Hari ini adalah hari yang paling sibuk, bahkan tidak pernah di bayangkan pengunjung akan seramai ini hari ini, mereka semua yang ada di restoran juga tidak menyangka jika akan se-lelah ini.
Erik dan Tuan Muda sedang bersandar di depan mobilnya, mereka berdua sedang berusaha melepaskan lelahnya hari ini.
Kenapa kepalaku terasa pusing sekali,
"Erik sebaiknya kita pulang sekarang!,aku merasa lelah!"
Tuan Muda yang sebenarnya merasa pusing kepala.
"Baiklah Tuan Muda!"
****
Anjani sedang mencari udara segar di depan Apartemennya,
sambil menatap keindahan gedung yang begitu mempesona memancarkan keindahan kota ini di malam hari.
Ia terus berjalan ke tempat duduk untuk bersantai yang tersedia di dalam Apartemennya.
Melihat ke arah baju-baju yang masih menggantung dan belum di bereskan itu membuatnya mendekat,
sepertinya Tita sedang membersihkan dirinya di kamar mandi,
membuat Anjani yang akan membereskan baju-baju itu untuk membantu pekerjaan Tita.
Melihat sebuah baju seragam dan clemek restoran membuatnya bertanya-tanya.
"Bagaimana bisa ada baju seperti ini di sini?, memang siapa yang memakainya?, clemek ini pasangannya bukan?...tapi tidak mungkin juga baju Tita,ini terlihat sangat besar?..."
Anjani bertanya-tanya tentang baju itu sambil memperhatikannya bolak-balik,ia tidak mempunyai pikiran kalau suaminya yang memakainya,
karena ini terasa tidak mungkin baginya.
"lah... sudahlah!, aku tidak tahu ini baju siapa?, yang penting aku akan membereskannya!"
__ADS_1
Membereskan baju-bajunya dan tidak perduli milik siapa baju itu.