
Waktu sudah menjelang pagi.
Anjani terbangun dari tidurnya tiba-tiba, membuat suaminya kaget ikut terbangun juga karena kebetulan ia sedang tidur sambil memeluknya.
"Ada apa sayang..?"
"Huek..huek..!"Merasa enek di pagi hari.
Anjani tidak mendengarkan perkataan suaminya yang sedang bertanya itu.
Ia bahkan langsung beranjak berdiri dari duduknya sambil mengalihkan tangan suaminya menuju ke kamar mandi.
"Huek..huek..!"
"Kau enek lagi sayang?..,apa masih merasa pusing..?"
Anjani hanya menggelengkan kepalanya sambil sambil menunduk itu.
Devino dengan lembut memijat-mijat lehernya.
Beginikah orang hamil, kasian istriku... jika harus seperti ini terus...
Merasa tidak tega sendiri jadinya, bahkan rasa ngantuk-nya hilang begitu saja melihat keadaan istrinya yang begini.
"Kau tidak papa..?"mengambil tisu dan mengusap-usap mulut istrinya dengan lembut.
Anjani masih merasa begitu enek,ia hanya sanggup menganggukan kepalanya menjawab perkataan suaminya itu.
"Maafkan aku...!"memeluk istrinya erat.
"Kenapa kau meminta maaf..?"Anjani yang merasa bingung dengan pelukan hangatnya yang iba-tiba ini.
Terlebih mendengar bicaranya yang meminta maaf membuatnya bingung sendiri.
"Maafkan aku...!, karena aku tidak bisa melakukan apapun!,kau menjadi muntah-muntah begini karena aku, dan aku tidak bisa melakukan apapun untukmu,maaf Anjani,maaf...!"masih memeluknya erat.
"Apa yang kau katakan Sayang..?,aku tidak papa, bagaimana bisa kau menyalahkan dirimu sendiri tentang ini?,ini semua pasti dialami oleh Ibu hamil!, muach..."mencium pipi suaminya lembut dengan senyuman manisnya, lalu berbicara dengan lembut juga,
"Aku... hanya ingin mandi sayang, tiba-tiba aku merasa gerah sekali,aku juga kebelet...!"
"Iya sudah mandilah..!, hati-hati takut licin!, muach... muach..."
Tak lupa dengan ciuman di kening ya.. Tuan Muda!,makin sayang aja nih sama istri.
"Kau yakin bisa sendiri?..."Merasa ragu untuk meninggalkan istrinya di kamar mandi sendiri.
"Tenganlah!,aku bisa..!"
"Baiklah..!"
lalu ia keluar menutup pintu kamar mandi untuk membiarkan istrinya mandi.
"huek..huek.."sebenarnya Anjani masih merasa begitu enek dan ingin sekali memuntahkan semuanya yang ada di perutnya.
Namun karena kehadiran suaminya tadi membuatnya tidak enak diri dan mencoba menahan apa yang sedang ia rasakan.
*****
Pagi ini adalah pagi yang begitu indah,Tita sudah terbangun dari tidurnya menatap suaminya yang sedang memeluknya erat itu.
Mengingat tentang semalam membuatnya merasa malu dan tersenyum sendiri.
Masih begitu terasa sentuhan lembut yang di berikan suaminya semalam, lalu menatap baju-bajunya yang terlempar kemana-mana.
__ADS_1
Kemudian ia segera sadar dan beranjak duduk dari tidurnya.
"Kau mau kemana..?"Tanya Erik yang masih ngantuk sambil mengeratkan pelukannya lagi.
"A...a.. aku..aku mau...!"
"Mau..apa?.."membekap tubuh istrinya di bawah selimut untuk tidur kembali.
hey..hey gila yah, ini sudah pagi..,
kau menjadi tidak waras sekarang?
Mengeratkan selimutnya yang melekat di tubuh polosnya itu,
Tita hanya bisa terbelalak dan terdiam melihat tingkah Erik yang seperti ini,ingin sekali ia membersihkan dirinya.
Kemudian Erik terseyum melihat Tita yang terlihat semakin tegang Itu,
tingkahnya semalam membuatnya gila dan menggila.
"Apa yang kau pikirkan..?"
Erik beranjak berdiri dari tidurnya lalu menindih tubuh Istrinya yang berada di bawah selimut itu, membuat Tita beringsut merasa berdebar-debar dengan tingkah Erik kali ini.
Terlihat juga pipinya yang merona saat bertatapan dengan suaminya
"I...i.. ini udah pagi kan?.."Bingung harus mengatakan apa melihat tingkah suaminya yang begini,membuatnya berbicara pelan juga dan terbata-bata.
"Iyah..."Menjawab santai, sambil menengok ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.
Terlihat waktu yang begitu cepat berjalan dan menunjukkan pukul 5:11 pagi.
"Memang kenapa...?"malah bertanya balik dengan santai dan terus menatap istrinya lekat.
Lalu Erik terseyum melihat Tita yang menatapnya tegang,
"hehe....,aku hanya bercanda...!, bangunlah!, bersihkan dirimu...!"terseyum, sambil mencubit hidung Tita yang tampak memerah juga, kemudian melepaskan jeratannya yang sedang membekap istrinya itu.
Tita langsung segera kabur dengan wajah penuh merona sambil membawa selimut itu yang masih melekat di tubuhnya untuk menutupi tubuhnya yang polos dari tatapan Erik.
haha... kenapa ia terlihat imut sekali saat merasa malu...
Aku pasti sudah gila karena merasa senang sekali kali ini...
Erik terseyum senang, sambil menatap ranjang tidurnya yang terdapat bercak darah istrinya itu,
Kemudian ia juga teringat akan dirinya dan istrinya semalam.
Apa dia kesakitan?..
Segera mencopot sprei ranjang dan melemparnya ke ranjang.
Mengingat kembali akan mimik wajahnya yang sangat imut dan manis karena ketakutan untuk melakukan hubungan itu.
Dengan suara-suara lembut *******
istrinya juga masih terngiang-ngiang di telinga Erik, membuatnya merasa gila sendiri sekarang.
Hal ini benar-benar membuatnya tersenyum lagi sambil menggelengkan kepalanya sendiri atas apa yang telah ia lakukan kepada istrinya semalam
Apa ini kah cinta,aku bahagia sekali bermalam dengan Tita semalam...
Masih tersenyum, lalu segera mengambil baju dan handuknya untuk membersihkan diri di kamar sebelah, karena ia juga akan terburu-buru untuk kembali ke rumah Tuan Muda.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan badan, Anjani langsung memilih pakaiannya di dalam lemarinya.
Melihat istrinya yang terdiam memilih baju membuat Devino mendekat dan memilihkannya .
"Pakailah ini..!,kau pasti akan terlihat sangat cantik jika memakai baju ini..!"menunjuk sebuah Dress berwarna hitam yang bercorak bunga-bunga untuknya.
"Aku pakai ini..?"menatap baju itu sambil memegangi handuknya yang melingkar di tubuhnya.
"Iyah..!,aku suka jika kau memakai baju ini...,kau tampak bersinar dengan kulit putih mulus mu ini...!"mengelus bahu istrinya lembut.
Membuat Anjani terseyum malu.
Dengan senang hati menerima baju itu dari tangan suaminya untuk memakainya dengan segera.
"Baiklah...!"
"Kau masih merasa enek..?"perhatian Devino yang begitu peka sambil membelai kepalanya lembut.
"Sudah tidak sayang...!"sambil memakai baju itu di depan suaminya, dengan lembut Devino membantunya untuk segera mengancing bajunya yang terlihat sangat cocok dan pas di tubuh Anjani itu.
"Tuh kan!, kau terlihat sangat cantik dan semakin cantik,Muach.."mencium pipi istrinya yang begitu wangi habis mandi.
"Muach..."membalas ciumannya,seraya berkata,
"Kau juga tampan sekali...., walaupun belum mandi..!"
Tersipu malu, meninggalkan suaminya yang masih mengerutkan keningnya mantap istrinya mendengar perkataannya itu.
"Hey kau mau kemana..?"menyusul istrinya yang keluar dari ruangan kamar.
"Mandi dulu sana..!"Dengan terseyum Anjani mengatakannya,ia mencoba mengusir suaminya yang mendekatinya itu.
"Tidak mau!"Terus mengejar istrinya yang berjalan cepat menghindarinya.
"ih...jorok..!"Menghindari suaminya yang mendekat.
"oh...,kau tidak mau di dekat ku yah?..."Devino terus mengikuti istrinya yang mencoba menghindar itu.
Lalu menangkap istrinya dan membekapnya erat di pelukannya.
"Ih.. mandi sana!"Tertawa sendiri, mencoba melepaskan pelukan suaminya yang terasa geli.
"Tak perlu mandi pun aku sudah wangi sayang, iya kan! jujur..!"
"haha... PD banget ya kamu!, memang siapa yang bilang kamu wangi sekarang..?"
"Buktinya kau suka kan di peluk olehku, walaupun belum mandi,iya kan?"
"Benarkah..?, Tidak juga!,kamu yang memaksa memelukku.."lari dari pelukan suaminya dan kabur keluar ke balkon depan.
"Anjani...!"Devino merasa begitu geregetan dengan istrinya dan menyusulnya kembali.
Bahkan keduanya tidak sadar banyak yang memperhatikan keromantisannya sejak tadi,baik para pelayan yang sedang membersihkan ruangan itu.
Termasuk Daniel yang sedang berdiri mematung sejak tadi memperhatikan mereka berdua sambil memegangi minuman jus-nya.
Kenapa aku merasa kesal melihat mereka berdua seromantis itu,
Kenapa Anjani semakin hari terlihat semakin cantik saja sekarang....
Lalu ia meminum jus-nya dengan kesal yang ada di tangannya itu,
sambil menatap mereka berdua yang terlihat sangat romantis berpelukkan erat di balkon depan sambil berjemur matahari pagi.
__ADS_1