
Tak lama kemudian akhirnya Sang pemilik rumah pun datang.
Mobil langsung terparkir di depan garasi rumah.
"Apa itu mobil tamunya?"Tanya Anjani penasaran, sekaligus turu dari mobil.
"Iyah, itu mobil sahabatku..!"
Wah..apa dia kaya raya juga seperti Devino, terlihat juga dari gaya mobilnya yang ia pakai
Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan, sementara Dea yang mendengar kedatangan ke-dua majikanya itu langsung membukakkan pintu depan dan menyapa mereka santun.
"Selamat datang Tuan Muda, Nona,Pak Erik...!"
Semuanya menganggukan kepalanya menjawab sapaan Dea.
Mereka langsung masuk melangkah kakinya menuju meja tamu yang ada di ruangan utama.
Terlihat juga tiga orang berserta bayi kecil yang sedang duduk di sofa ruang ini.
"Rey...,maaf.., membuat mu menunggu lama.."Devino berjalan mendekati mereka semua sambil menggandeng istri tercintanya.
"Cih,Tidak juga.., aku juga baru duduk paling 15 menit-an"
"Tapi tetap saja itu menunggu kan namanya.."sambil duduk di atas sofa bersanding dengan Anjani.
Terpapar juga senyuman wajah Ayana yang sangat manis menatap keduanya yang datang itu.
"Haha..sudahlah lupakan masalah ini.."
"Oh..iya Ayana.., perkenalkan,ini.. istriku Anjani dan Anjani dia Reyhano sahabat dekat,sekalian rekan kerja ku..!"merangkul Anjani dengan Erat dan lembut untuk memperkenalkannya.
Anjani langsung mengulurkan tangannya.
"Anjani.." Kemudian keduanya langsung berjabat tangan dengan hangat saling membalas satu sama lain.
"Ayana.."Saling senyum satu sama lain.
"Siapa nama putramu...,dia imut sekali..?"Anjani semakin terseyum senang manatap putra kecil yang amat sangat imut dan gemuk yang ada di pangkuan ibunya ini.
"Namanya Reyfano.., panggil saja Reyfan.."
"Baiklah!,nama yang indah..,dia ini imut sekali, sangat lucu,aku jadi.."
Rasanya ingin sekali Anjani menggendongnya sebentar dan bermain-main dengannya.
"Kau sedang hamil...,jika ingin menggendongnya maka gendong lah,tak baik menahan perasaan sesuatu ketika kau sedang hamil..!"Ayana begitu peka ketika melihat tingkah Anjani yang mengepalkan tangan dan meremas bajunya karena ingin sekali menggendongnya.
"Iyah..aku ingin sekali menggendongnya, apakah boleh..?"
Kedua lelaki itu langsung terseyum dan menggeser duduknya, Reyhano duduk bersama Devino sedangkan Ayana duduk bersanding di satu sofa bersama Anjani.
__ADS_1
Terlihat juga Erik dan Danu yang sedang sibuk mengobrol di sudut ruangan sambil menikmati kopi dan pemandangan.
"Kau sudah menikah..?"Tanya Erik sambil menyeruput kopinya kembali.
"Belum, mungkin sebentar lagi.., karena tunanganku sedang menyelesaikan kuliahnya"
"Wah... baguslah, lagian terburu-buru itu tidak baik kan?"
"Iyah betul sekali,aku juga sedang memberikannya waktu untuk mengejar mimpinya.."
"Aku do'akan kalian akan segera bersatu dan hidup bahagia nantinya.."
"Thanks you atas do'a-nya.."
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu sekarang?, apa sudah mulai membaik?"
"Alhamdulillah..., lebih baik dari apa yang kau bayangkan, sekarang istriku sedang hamil muda,dia sedang beristirahat dan berhenti bekerja..!"
"Cinta itu akan datang pada waktunya sendiri yah..., dimana kita sering bersamanya kita memang tidak pernah merasakan kehadirannya, namun jika ia jauh dari kita, barulah kita merasakan arti kehadiran-nya selama ini..."
"Iyah kau benar...!,aku juga baru menyadarinya,aku tidak tahu juga kemana saja aku selama ini..."
"Sudahlah.., semuanya sudah berlalu, yang penting memperbaiki diri lagi mulai dari sekarang.."
Keduanya masih sibuk berbincang-bincang membahas topik mereka masing-masing.
"Hati-hati Anjani, takut Reyfan sampai menendang perutmu...!"
Terlihat dari raut wajah Anjani yang begitu senang saat memangku Reyfan,terlebih saat kedua tangan Reyfan yang terdiam dan bertumpuan di atas perut ibu hamil ini.
Terlihat wajahnya yang sedang mengamati perut calon ibu yang sedang mengandung itu.
"Apa dia tahu ada calon jodohnya di dalam perutnya itu, kenapa dia terlihat mengamatinya.... hehe..!"Reyhano yang heran melihat tingkah putranya itu.
"Haha.., ada-ada saja kau ini...."Devino yang tidak bisa mengartikan lagi apa perkataan sahabatnya ini.
Ia juga tertawa,mereka semua benar-benar tertawa dan terbawa suasana di dalam ruangan ini.
"Rey.. dia kan anak kecil,mana tahu tentang hal beginian..."Ayana yang juga bingung harus mengatakan apa kepada suaminya,ia hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya manatap suaminya yang tertawa itu.
"Memang kau tidak menyuruh istrimu untuk USG 4D saja biar jelas kan siapa sebenarnya anak mu...!"
"Belum..,aku masih enggan, biarkan saja dulu...biar ini menjadi kejutan untuk kita nantinya, tapi aku juga ada niatan untuk meng-USG nya,tapi nanti nunggu waktu yang tepat..."
"Baiklah.., semoga kabar baik yang menyertaimu..."
"Aammmin.., thanks you atas do'a-nya!"
"Melihatnya yang imut begini aku jadi tidak sabar untuk menggendong anakku sendiri, kenapa dia begitu menggemaskan dan lucu sekali, ternyata benar apa kata suamiku dia terasa begitu berat..."
Masih berbicara sendiri dan merasa gemas menatap Reyfano yang sedang tersenyum kecil melihat tingkah Anjani yang berusaha menggodanya.
__ADS_1
"Sama halnya dengan suamimu Anjani, karena kalian berdua belum terbiasa menggendongnya jadi ini terasa begitu lelah...,sini Reyfan, nanti kau kecapean, kasian kan baby-nya.."
"Kau tidak membawa suster kemari...?"Tanya Anjani yang terus memperhatikan Ayana sejak tadi,ia juga sedang mengambil beberapa snack sehat khusus untuk putranya itu.
"Aku tidak membutuhkan suster Anjani, lagian aku juga bukan orang sibuk yang memiliki pekerjaan kesana-kemari,aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak dan membesarkannya sendiri, lagian dia ini anak pertamaku,aku yang ingin membesarkannya dan merawatnya sendiri.."
"Aku juga bingung dengan istriku Anjani,aku sudah berusaha menawarinya dan mencarikan suster untuknya, bahkan suster yang paling mahal sekalipun,tapi ia tetap tidak mau dan keras kepala sekali..."
"Aku tidak keras kepala Rey,aku hanya ingin membesarkan putraku dan merawatnya sepenuhnya,aku juga yang akan menjaga dan memberikan kasih sayang sepenuhnya, masa tidak boleh..."
"Oh... boleh sekali sayang..!"
Mendengar ucapan Reyhano benar-benar membuat Ayana tidak terima sendiri, namun perkataan ini hanyalah candaan dan bentuk rasa perhatiannya juga kepada istrinya itu.
"Sepemikiran..,aku setuju.., sangat setuju,aku juga berniat akan mengurus dan merawat anakku sendiri nantinya..,aku juga ingin memberikan kasih sayang sepenuhnya untuknya,karena aku juga tidak bisa menyerahkan anakku ke orang lain untuk mengurusnya dan merawatnya,aku tidak mau..,kita harus bisa belajar mandiri kan.."
"Lihatlah mereka berdua terlihat lebih akrab dari kita bukan.."Bisik Rey kepada Devino sambil memperhatikan keduanya yang sedang akrab sekali berbicara.
"Perempuan kalau sudah bertemu memang begitu..!"
"Apa yang kalian bicarakan..?"Balas ke-dua wanita ini kompak membuat ke-dua lelaki ini yang sedang menggerutu terbelalak dan tak bisa berkata-kata lagi.
"Lihat.., bahkan mereka seperti regu kur yang akan bernyanyi saja...!"Devino hanya tersenyum saja meladeni keduanya yang sedang melotot tajam menatap kedua lelaki ini.
"Kenapa kalian berdua jadi menyudutkan kita si..?"Reyhano yang berusaha menghindari tatapan keduanya dan langsung fokus ke layar iPad-nya bersama Devino.
"Mamah muda kalau sudah marah begitu tuh.., menyeramkan,aku sampai tidak berani membuka suara jika mereka sudah bertingkah.."
"Apah Rey..?"Tanya Ayana yang mendengar gumaman suaminya dia balik layar iPad-nya.
"Tidak sayang, tenanglah..,kita hanya sedang membahas urusan kantor, lanjutkan keakraban kalian berdua..."
Keduanya langsung tersenyum melihat tingkah kedua lelaki ini yang melemah di hadapan mereka.
"Bolehkah aku yang menyuapi putramu saja,aku juga ingin belajar.."
"Tanpa kau meminta izin pun aku bolehkah Anjani.."
"Reyfan..aa...ayo..aa...!"Dengan bertemuan ini Anjani jadi banyak belajar tentang pengalaman baru.
Baik menyuapinya, menggendongnya maupun berlatih bermain-main dengan anak kecil yang begitu lucu dan imut ini.
Yang lebih menggemaskan lagi adalah gaya Reyfan yang terlihat begitu lahap menyantap makanannya.
"Ihhh... menyenangkan sekali jika ia ***** makan begini.."
Penuh dengan senyuman dan tebaran rona wajah kebahagiaan di ruangan ini.
Namun tak lama setelah itu panggilan masuk begitu saja ke ponsel Devino dan memberhentikan langkah mereka yang sedang menyantap cemilan dan hidangan meja di ruangan ini.
"Halo.. Iyah..??."Devino beranjak berdiri untuk mengangkat panggilan itu lalu terdiam sejenak untuk mendengarkannya.
__ADS_1
"Apa?..., Brakkk..."ponsel terjatuh begitu saja ke lantai dan membuat semuanya terkejut, terlebih melihat Devino yang tampak terbengong dan berkaca-kaca langsung karena tak percaya dengan kabar ini.