
Sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan, waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 pagi tentunya ini sudah semakin siang.
Devino dan Erik sedang menuju ke lantai atas untuk kembali ke dalam Apartemennya.
Keduanya langsung memasuki ruangan setelah berada tepat di depan pintu tanpa basa-basi lagi.
Mencium Aroma ruangan yang begitu wangi dengan bau-bau roti panggang yang begitu lezat membuat keduanya merasa lapar setelah mamasuki ruangan.
"Hemm...,bau apa ini?, kenapa enak sekali?"mendengus memperhatikan istrinya yang sedang menghadap ke arah oven.
Sepertinya Anjani begitu sibuk dengan pekerjaannya kali ini sehingga ia tidak melihat kehadiran suaminya yang sudah memasuki ruangan Apartemen.
"Saya rasa juga begitu Tuan Muda!,ini baunya saja sudah enak sekali, sepertinya makanan yang sangat enak dan begitu nikmat!, sepertinya ini juga makanan ala taburan atau balutan keju!"
"Benarkah?,aku suka sekali keju.., mencium aromanya saja sudah membuatku lapar..."Devino yang tersenyum mencium bau itu dan langsung mencopot sepatunya dengan segera.
Apa yang Anjani buat?, aku lapar sekali mencium baunya,
memandang istrinya sebentar dari kejauhan,Ia
langsung memasuki kamarnya untuk segera membersihkan diri,karena ia merasa sangat lapar kali ini.
Begitu juga dengan Erik, ia langsung memasuki kamarnya untuk membersihkan dirinya yang penuh dengan keringat itu.
Setelah semua makanan buatan Anjani sudah siap ia langsung menatapnya di meja makan, melihat suaminya yang sudah wangi dan bersinar itu membuatnya mengerutkan dahi.
"Kau sudah pulang?,kapan kau pulang..?"
Devino mendekat ke arah lemari es dan mengambil minuman dinginnya sambil menatap istrinya yang bertanya.
"Kau terlalu sibuk mengurusi urusanmu!, sehingga kau tidak pernah memperhatikan suami mu kapan pulang dan kembali!"
Mendengar ucapan suaminya yang seenaknya itu membuatnya manyun menatap suaminya.
"Aku hanya bercanda!" Terseyum dan mengelus rambut istrinya sesekali yang terlihat manyun itu, sambil meminum air.
"apa yang kau buat?, kenapa enak sekali baunya?"
Mendekat ke arah meja makan dan melihat pemandangan yang begitu menakjubkan.
"Waw...kau yang membuat ini semua?,kau bisa membuat makanan seperti ini?, bagaimana kau bisa membuatnya?,ini semua buatan mu...?"merasa tidak percaya.
Terbelalak menatap istrinya setelah menelan ludahnya sendiri karena tertarik dengan hidangan yang ada di meja makan yang terbuat dari keju itu.
"Iyah, kenapa?, kenapa kau terlihat kaget begitu?"
"Aku kira kau tidak bisa melakukan apapun selain marah-marah dan menangis!"
Sambil tersenyum mengatakannya kepada istrinya, membuat Anjani merasa kesal dan ingin sekali memukulnya.
"Ihhh...aku kesal sekali kepadamu!, kau sedang meledekku sekarang!"memukul bahu suaminya karena begitu kesal dengan ucapannya.
"iy..iya..iya...aku..aku hanya bercanda!,tuh kan kau marah-marah!"menahan tangan istrinya yang memukulinya kesal sambil tersenyum meledek dan menatap mata istrinya lekat.
Mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinganya lembut,
"Kau tampak semakin cantik jika marah-marah!, aku suka Anjani...!"
__ADS_1
Terbelalak mendengar perkataan suaminya yang lembut itu.
"Kau bilang apa tadi?"Masih tidak percaya dan ingin mendengarnya kembali.
"Aku...?,aku tidak bilang apapun,aku hanya lapar!, memang apa yang kau dengar tadi?..."
Terlihat berbicara serius tanpa terseyum sedikitpun, ia langsung duduk saja di kursi makan-nya menghadap ke arah hidangan.
Aku rasa dia dengarkan tadi,
Devino yang sebenarnya terseyum di dalam hatinya melihat tingkah Anjani sedang bingung memikirkan perkataannya tadi.
Bukannya tadi dia bilang...
"Aku bilang panggilkan Erik dan Tita!, suruh dia makan!, ini sudah semakin siang kau tidak dengar!"
Tapi tadi bukan seperti itu...
Merasa kesal sendiri, Anjani langsung memanggil Erik dan Tita untuk segera makan bersama.
"Kenapa baunya saja enak sekali!, kenapa dia itu tahu kalau aku ini sangat menyukai keju...!"
Menelan ludahnya melihat pemandangan keju+Mozarella yang di lapisi dengan berbagai taburan toping di atasnya membuatnya semakin papar.
"Apa dia pandai juga membuat roti?,kenapa dari baunya saja terasa lezat sekali!"Ingin sekali Devino mengunyah semua makanan ini di mulutnya, perutnya sudah merasa begitu lapar dan keroncongan berbunyi sejak tadi.
Tak lama kemudian mereka bertiga datang ke meja makan dan duduk berdampingan dengan suaminya masing-masing.
"Kau mau makan apa?,mau aku ambilkan?.."
"Aku hanya ingin makan ini!,aku penasaran bagaimana rasanya!"
Mengambil satu menu keju kontak Mozarella yang terlihat begitu menggoda itu di matanya.
"Makanlah Erik, Tita!, terserah kalian berdua mau makan apa yah, ambil saja!"
Devino langsung mengambil satu sendok keju yang tampak lumer menggoda itu, dengan balutan kentang dan sayuran lainnya yang berlapis di bawahnya membuatnya terlihat begitu nikmat untuk di santap.
Devino langsung menyantap begitu saja, sambil terdiam mengunyah pelan-pelan untuk merasakan makanan buatan istrinya ini.
Kenapa ini enak sekali?,...
Memandang roti panggang yang ada di sebelah piring makanya juga,
Itu juga menggoda... kira-kira bagaimana rasanya,
Menyicipi menuju keju itu kembali dan langsung mengambil roti panggang yang tampak mekar dan kering dengan Baluran keju juga.
Anjani masih terdiam memperhatikan Devino,
Ia makan begitu cepat dan mencicipi semua menu buatannya.
"Kenapa kau mencicipi semuanya?,apa ini terasa aneh?"
Anjani yang merasa penasaran dengan masakannya sendiri.
"Erik cicip ini sekarang!, yang ini juga!, yang ini juga dan jangan lupa yang ini juga!"
__ADS_1
Bukanya menjawab pertanyaan istrinya malah ia menyuruh Erik untuk mencicipi semua menu makanan buatan Anjani.
"Aku hanya ingin komentar darimu!,agar Anjani mendengarnya sendiri!"
Kenapa si?,
apa tidak ada yang berhasil satupun, ataukah hambar?, atau keasinan?,atau rasanya acak-acakan semua,
Anjani masih terdiam memperhatikan Erik yang sedang mencicipi semua menu buatannya.
Kenapa Erik terlihat terdiam begitu,apa tidak ada yang enak...
"Bagaimana?, apa rasanya?"
Tanya Tuan Muda yang sudah hampir menghabiskan satu menu keju itu sambil menatap Erik yang sedang mencicipi makanan yang ia suruh.
"Seperti yang anda rasakan Tuan Muda!, Anda menyukainya, dan ini sangatlah enak,sama persis dengan rasa di restoran yang pernah aku rasakan sebelumnya!, Anda pintar sekali Nona...!"
"Iyah!,aku juga begitu,aku rasa ini rasanya sangat enak seperti restoran,lalu bagaimana dengan rotinya?"
"Teksturnya pas,ada kremasnya juga dan ada balutan madu di atasnya itu menyempurnakan rasanya Tuan Muda!,ini terasa semakin lembut dan enak saat di kunyah!, bentuknya juga sangat menarik dan unik, Anda benar-benar hebat Nona, ini terasa buatan restoran dan anda adalah chef-nya!"
Restoran...,
chef,
Devino termenung sejenak,
"Kau tahu bagaimana cara membuat roti-roti ini kembali Anjani?, dari mana kau mendapatkan semua resep ini?..."Tanya Devino serius menatap istrinya.
"Tentu saja,aku sudah hafal!,aku sering membuat makanan seperti ini di rumah, dan aku juga suka membuat makanan atau roti-roti seperti ini, karena aku ingin sekali memiliki usaha sendiri dan mendirikan toko roti setelah lulus kuliah nanti!"
Semua masih terdiam memperhatikan Anjani yang sedang berbicara.
"Semua resep ini dapat di cari di internet!,itu juga banyak kan?,tapi aku bukan belajar dari internet,aku belajar dari mereka, mereka yang telah hilang dan pergi meninggalkanku 5 tahun lagi lalu!, yaitu Kakek dan Nenek ku, dulu aku sering membantunya di toko roti milik kakek dan nenekku,tapi tak di sangka musibah terjadi dan toko roti yang kami punyai kebakaran, hingga menghanguskan segalanya,kami tidak mempunyai uang untuk mendirikan modal dan buka toko kembali!"
Terlihat mata Anjani yang sudah berkaca-kaca sambil berbicara menceritakan ini semua.
"karena uang yang terkumpul dari hasil penjualan selama ini aku gunakan untuk biaya rumah sakit nenek dan kakekku akibat luka bakar, tapi takdir berkehendak lain, keduanya tidak terselamatkan juga,aku benar-benar merasa kehilangan waktu itu, aku.....!"
Anjani mulai terdiam,ia tidak ingin berbicara lagi, lalu berdiri dari duduknya membuat semuanya bingung menatapnya.
"Kalian makan saja!,aku masih merasa kenyang...!"
Terlihat kesedihan di matanya lalu pergi meninggalkan meja makan begitu saja sambil menitikkan air mata.
Devino yang melihatnya bersedih ikut merasa sedih dan tidak tega.
Setelah menceritakan semua ini membuat Anjani begitu rindu dengan kakek dan neneknya yang sangat ia sayangi itu.
"Anjani...?"
Devino memanggilnya pelan untuk menghentikan langkahnya yang pergi meninggalkan meja makan itu,namun melihat istrinya yang tidak menengok sama sekali ke arahnya, membuatnya membiarkan istrinya untuk menangkan diri terlebih dahulu.
"Biarkan dia!,aku yakin dia merindukan kakek dan neneknya!, kalian makanlah!, sehabis itu kita akan berbicara Erik!,ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadamu!"
Ikut meninggalkan meja makan untuk menemui istrinya, bahkan makanan yang ia santap belum habis dan ia tinggalkan begitu saja.
__ADS_1