My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Undangan


__ADS_3

Tita sudah menyiapkan baju ganti Erik di atas ranjangnya tanpa harus menunggunya menyuruh.


Ponsel suaminya juga sudah di charger terisi baterai penuh.


Lalu meninggalkan kamar untuk menyiapkan makanan untuknya.


Tampak Tuan Muda dan Nona muda yang sedang memakan sandwich di meja makan.


"Tita...kemarilah sarapan!"Anjani melihat Tita muncul dari balik ruangan belakang.


"Terimakasih Nona!, silahkan...!,aku mau memasak dulu!"


"Dimana Erik?,dia sudah bangun kan?"Tanya Devino sambil memakan sandwich-nya.


"Dia sedang mandi Tuan Muda, mungkin sebentar lagi selesai..!"


"Iya sudah saya dan Anjani akan turun terlebih dahulu!, kalian berdua selesaikan urusan kalian dan turunlah jika sudah pada sarapan yah!'


"Baik Tuan Muda!"


Keduanya langsung menyelesaikan makanannya dan turun ke lantai bawah terlebih dahulu.


Tita langsung memasak makanan untuk Erik, sebagaimana seorang istri ia harus bersikap baik dan melayani suaminya dengan sepenuh hati.


Setelah selesai membersihkan diri dan tampak rapi di depan cermin, Erik langsung keluar dari kamarnya menunju ke ruangan utama yang ada di apartemen ini.


Tampak sepi,ia hanya melihat istrinya saja yang sedang sibuk dari kejauhan, lalu ia mencoba menghampirinya.


"Dimana Tuan Muda dan Nona?, kenapa sepi sekali?"Tanya Erik sambil mengambil minumannya yang ada di dalam kulkas.


"Tuan muda dan Nona sudah turun ke ruko terlebih dahulu!,jika kau ingin turun juga... makanlah dulu!,aku sudah memasak makanan untukmu..!,ini perintah Tuan Muda juga,kau harus sarapan terlebih dahulu sebelum beraktifitas!"


Dengan lembut Tita berbicara,ia sudah mengambilkan peralatan makanya untuk suaminya ini.


"Baiklah!"langsung duduk di kursinya, begitu juga Tita yang akan menemaninya sarapan.


Terlihat makanan yang sangat enak dan menggoda di mata Erik,Tita selalu melayaninya dengan baik dan bahkan selalu menghidangkannya dengan makan-makan yang enak dari tanganya itu.


Membuat Erik terdiam dan berpikir sejenak.


Tita hanya berani terdiam dan menundukkan kepalanya sambil mengambil makanannya,ia tidak pernah berani menatap suaminya sendiri dari dekat.


Melihat Tita yang terus terdiam dan tidak berbicara sedikitpun membuat Erik merasa tidak nyaman sendiri dan menatapnya lekat yang sedang makan itu.


Dia baik,dia selalu melayaniku dengan baik...,apa mungkin aku denganya memang sudah di takdir kan untuk bersama?..


Masih menatap Tita yang mengunyah makanannya dengan lembut dan terdiam itu.


Manis juga kalau sedang makan...,


Apa yang aku katakan?,apa aku sudah gila...


Tiba-tiba Erik merasa bersalah sendiri karena bersikap terlalu jauh dari istrinya, mengingat kebaikan istrinya selama ini membuat hatinya merasa bimbang tiba-tiba.


Ada apa denganku?, kenapa aku jadi menatapnya begini...


Dan kenapa juga perasaanku jadi tidak jelas begini...


Terlebih mengingat perjuangan Tuan Muda untuk Nona Anjani membuatnya merasa bersalah dengan sikapnya sendiri kepada istrinya.


Erik merasa begitu jauh berbeda dengan sikap Tuan Muda kepada istrinya Anjani.


Ia yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada istrinya dan sedangkan dirinya selalu menjauhkan diri dari istrinya itu.


Tak sengaja kedua pandangan itu bertemu, membuat Erik merasa canggung dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Aku rasa dia memperhatikan ku tadi..,


ada apa?,


apa penampilan ku terlalu jelek?...


Merasa insecure sendiri,lebih baik ia terdiam dan melanjutkan makannya kembali sambil menatapnya sekali yang sedang makan itu.


*****


Matahari sudah mulai terik.


Terlihat keadaan toko hari ini lumayan rame.


Terlihat juga raut- raut wajah bersemangat dari mereka semua yang sedang mengurus dan melayani toko ini.


"Minumlah!,kau belum minum sejak tadi"


Anjani yang sudah mendekat dan memberikan satu botol air mineral dingin untuk suaminya.


Devino langsung tersenyum dan menerimanya.


Terlihat keringat yang sudah membasahi kening suaminya, membuat Anjani segera mengambil tisu untuk mengusapnya perlahan.


"Istirahatlah dulu!, stok adonan masih banyak!,kau terlalu bersemangat sayang...!"


Mengusap keningnya dengan lembut, Anjani masih merasa tidak tega melihat suaminya yang bekerja keras seperti ini.


Devino terbengong!, mendengar panggilannya yang lembut membuat hatinya tersentuh,baru kali ini juga ia mendengar panggilan sayang dari mulutnya istrinya yang begitu lembut.


Merasakan sikap istrinya yang seperti ini benar-benar membuatnya bahagia.


"Panggil aku seperti itu lagi!, aku ingin mendengarnya,aku mohon...!"Berkata lembut menatap istrinya lekat.


se-sederhana inikah untuk membahagiakan mu suamiku...


"Suamiku Istirahatlah dulu!,ini sudah siang...,kau sudah bekerja keras sejak tadi...,ayo kita makan sayang...!"Menatap suaminya lekat, mengelus pipinya lembut dengan mata berkaca-kacanya.


"Baiklah...!"Terseyum sambil berjalan mengikuti langkah istrinya yang akan keluar dari ruangan produksi.


Mobil mewah tiba-tiba terparkir tepat di depan rukonya.


Erik yang sedang berjaga-jaga dan menunggu para customer yang berdatangan langsung berdiri dengan kehadiran mobil itu.


Mobil yang tampak tidak asing lagi baginya, perasaannya sudah mulai tidak enak dengan kehadiran mobil ini.


Terlebih melihat salah satu dari mereka yang keluar dari dalam mobil, membuat mimik wajah Erik mengerut seketika ketika karena merasa kesal.


Ada apa lagi ini, tidak puas juga mereka berbuat ulah...


kenapa mereka kemari?,


Orang itu langsung berjalan menuju ke arah toko roti itu sambil menatap balik Erik.


"Ada apa kau kemari...senior Zen?,apa kalian tidak memiliki kerjaan?"


Tanya Erik yang sudah berwajah muak melihat kehadiran-nya di depannya.


"Tenganlah Erik!,tak usah memanggilku senior,itu terlalu berlebihan, Panggil saja aku Zen.."


"Umur kita jauh berbeda!, jadi tak usah banyak bertele-tele,ada apa kau kemari?, dimana Tuan Besar kenapa tidak ikut turun juga?..."Erik sudah menatap sinis mobil itu.


"Aku kemari hanya ingin bertemu dengan Tuan Muda!,ada hal penting yang akan aku sampaikan...!"


"Sepenting itukah?,Tuan Muda sedang sibuk!, Bicarakan saja padaku!,aku yang akan memberitahunya...!"

__ADS_1


Menatap tajam lelaki yang sedang berbicara ini.


Erik dan Zen sama-sama orang nomor dua. Tingkat dan kedudukannya sama, sama-sama tangan kanan dari orang-orang nomor satu di keluarga ini.


Erik adalah tangan kanan Tuan Devino dan Zen adalah tangan kanan Tuan Besar, makannya Erik memanggilnya senior, karena ia masih memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih Tua darinya.


"Aku sendiri yang akan memberitahunya!,jadi minggir!,aku akan bertemu Tuan Muda!"


Zen memaksa masuk dan mencoba untuk menyingkirkan Erik yang menghalanginya.


Namun Erik sudah mencengkram erat tangan Zen.


"Kali ini aku masih menghormatimu!, jangan membuatku marah dan mengusir mu dari sini sekarang juga!, sudah aku bilang aku melarangmu masuk!,jadi jangan memaksa!"


"Lepaskan!"Mengibaskan tangan Erik begitu saja.


"Aku tidak akan melakukan apapun!, aku kesini baik-baik!,aku hanya ingin bertemu Tuan Muda,apa kau tidak dengar?..."


"Ada apa ini?"Devino yang sudah muncul dari balik pintu masuk toko sambil menggandeng istrinya keluar.


"Tuan Muda!" Zen menundukkan kepalanya setelah bertemu pandang dengannya.


Tuan Besar hanya menunggu dari dalam mobil bersama anak buahnya yang lain.


"Kenapa kau kemari..?"


Melihat kehadiran mobil sang Ayah yang terparkir itu membuat Devino terdiam menatap tajam mobil itu sekilas.


"Saya hanya akan memberikan undangan ini untuk Anda Tuan Muda!, semoga Anda berkenan untuk hadir nantinya!"


Terlihat undangan pernikahan yang ia terima.


Undangan ini terlihat begitu cantik dan tertera atas nama Daniel dan kekasihnya.


Ternyata adik Tuan Muda akan menuju ke pelaminan Minggu ini.


Tuan Muda hanya membacanya sekilas,lalu melempar undangan itu ke lantai di hadapan Zen.


Tingkah laku Tuan Muda ini di lihat oleh Tuan Besar yang berada di dalam mobil, namun Tuan Besar masih terlihat santai dan menyaksikannya begitu saja.


"Buat apa kalian mengundang orang yang tidak lagi diharapkan di keluarga ini?,aku tidak akan menghadirinya!."


Berbicara serius sambil menatap Zen yang terlihat kaget karena Tuan Muda berani melempar undangan itu.


Erik hanya menikmati suasana ini,ia juga terlihat berwajah masam menatap Zen, sementara Anjani hanya terdiam mengeratkan genggamannya kepada suaminya itu.


"Aku harap Tuan Muda tatap datang ke acara ini!, agar tidak terjadi masalah nantinya"Zen berbicara sambil mengambil undangan yang di buang itu.


"Jangan membuat Tuan Besar marah dan menghancurkan toko roti ini dengan segera Tuan Muda!, hadirlah..!"Menyodorkan undangan itu ke Erik secara paksa, lalu ia meninggalkan mereka semua begitu saja.


Membuat Tuan Muda dan Erik semakin melotot tajam mendengar perkataan Zen yang pergi meninggalkan tempat itu.


"Bedebah!,mau kalian ini apa si?"Teriak Tuan Muda yang terlihat begitu marah mengepalkan tangannya.


"Kita hanya ingin Tuan Muda hadir!"


menghentikan langkahnya yang akan membuka pintu mobil.


"Jika Anda tidak ingin terjadi apa-apa pada Nona Muda,maka hadirlah Tuan Muda.!"


Teriak Zen kembali sambil masuk ke dalam mobil lalu pergi begitu saja dengan mobil mewahnya itu.


"Berani sekali dia mengancam ku!, Tenganlah Anjani... tidak akan terjadi apapun pada dirimu!"


Menyakinkan istrinya yang sudah berwajah pias mendengar perkataan lelaki itu sambil merangkulnya.

__ADS_1


__ADS_2