My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Kehidupan Baru


__ADS_3

Keluar dari pintu kamarnya,ia sudah rapi memakai Dress yang melekat di tubuhnya.


Melihat suaminya yang sedang duduk di sofa membuatnya merasa kesal kembali,namun ia merasa begitu lapar karena belum memakan apapun sejak tadi.


Mungkin Anjani merasa malu dengan kejadian tadi, tapi mau gimana lagi ini sudah terjadi, biarlah semuanya berlalu.


Menghampiri suaminya yang fokus bermain dengan iPad-nya.


"Apa kau sudah makan?"Tanyanya pelan.


"Hm?"merasa kaget dan ingin terseyum melihat tingkah istrinya yang terlihat grogi berbicara kepadanya.


"Belum, kenapa, kau lapar?"menahan senyumnya yang ingin sekali terseyum di hadapan istrinya ini.


"Iyah,ayo kita makan!"masih berbicara pelan mengajaknya ke arah meja makan.


"Baiklah!"langsung berdiri dan mengikuti langkah istrinya dari belakang,ia masih tersenyum menatap istrinya yang terlihat grogi berbicara dengannya.


Sudah lupakan kejadian tadi anggap saja ini tidak pernah terjadi...


Masih menatap suaminya malu,


"Kau yang memasak ini semua?"bertanya sambil mengambil piring makanya.


"Iyah, maafkan aku!, jika tidak enak!"mengambil piring makannya juga.


Setelah makanan ter-hidangkan di piring, Devino segera berdo'a dan memulai makannya.


Mengunyah pelan-pelan dan terdiam merasakan masakan istrinya yang baru pertama kali itu.


Enak juga masakannya, pandai juga ia memasak,


"Apa keasinan?,apa tidak enak?,atau kurang berasa?"Tanya Anjani yang memperhatikan suaminya mengunyah pelan-pelan.


"Cukup!"menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya melanjutkan makannya kembali.


Dasar Trotoar, komentar kek dikit,


biar jelas,kan aku jadi kira-kira nantinya kalau mau masak lagi,


Ikut terdiam dan memulai makannya,


"Aku akan pergi keluar setelah ini!,Tita akan datang menemanimu dan melayaniku, kira-kira aku pulang malam!, karena begitu banyak urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan!"


"Iya sudah baiklah!"menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan suaminya yang akan pergi itu.


Ponsel berdering,


Panggilan masuk dari Erik, Tuan Muda langsung menyelesaikan makanya dan mengangkat telepon.


"Baiklah!,aku akan segera Turun!, tunggulah sebentar!"menutup Panggilan dan beranjak berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Kau berangkat sekarang?"Anjani yang belum selesai makan.


"Iyah,Tita juga sudah datang menuju ke mari!,aku akan pergi dulu!"


"Iyah baiklah...."


Devino langsung keluar meninggalkan Apartemennya menghampiri Erik.


"Kita mau kemana dulu Tuan Muda?"


"Aku harus ke kantor!, mengambil semua barang-barang ku,sehabis itu kita datangi beberapa Kantor untuk mencari pekerjaan,aku harus melamar pekerjaan ke beberapa tempat disini!"


"Hah?, memang anda tidak memimpin Kantor lagi Tuan Muda?"


"Iya beginilah diriku saat ini!, demi bertanggung jawab kepada seseorang yang telah aku hancurkan hidupnya...,aku harus kehilangan segalanya..!, mungkin semua ini tidak akan bisa membayar apa yang telah aku lakukan kepadanya,aku yang telah merenggut kehidupanya, semua ini adalah hukuman untukku, karena telah menghancurkan kehidupan seseorang!,Papah juga sudah menggantikan Daniel untuk memimpin perusahaan,aku harus segera pergi dari posisiku yang sekarang!"


Tega sekali Tuan Besar!, sampai segitunya menghukum Tuan Muda,


Niat Tuan Muda kan juga baik bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Nona Anjani...


Erik merasa geram sendiri sambil mengepalkan tangannya.


"Tenang saja Tuan Muda, semua pasti ada kebaikan dan hikmahnya di balik semua ini!"


Erik yang merasa sedih juga dengan keadaan majikan kesayangannya yang sekarang.


"Mungkin setelah ini aku akan jatuh miskin!,aku bukanlah Tuan Muda lagi, untuk itu...mungkin aku hanya sanggup membayar mu sepantasnya uang gaji, untuk bonus dan komisi lainnya seperti dulu mungkin aku tidak bisa memberikannya Erik!"


Tuan Muda yang sedang pusing memegangi kepalanya,ia harus mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya,jika tidak, ia tidak akan sanggup membayar Erik dan Tita sebagai anak buahnya.


Sebagaimana kehidupannya sekarang ini, karena kehidupan seseorang tidak bisa di lihat dari kehidupan masa yang akan datang, semua harus di persiapkan sejak sekarang,


karena kaya tak selamanya kaya dan miskin tak selamanya miskin,


Tuhan tidak perlu waktu lama untuk menghancurkan kehidupan seseorang,jika ia sudah berkehendak maka semuanya akan terjadi dalam sekejap.


Inilah resiko yang harus Devino jalani setelah mengambil keputusan yang begitu besar,ia rela kehilangan keluarga, harta, bahkan warisannya hanya demi seorang perempuan yang telah ia nodai,


karena ia begitu merasa bersalah dan berdosa atas perbuatannya yang keji ini.


Di hatinya juga masih di selimuti dengan rasa iman dan dosa, untuk itulah ia bersikeras untuk bertanggung jawab,


Karena ia percaya setelah kehidupan ini masih ada kehidupan yang lebih rumit yang harus ia jalani di akhirat kelak.


"Untuk Itu tak usah di pikirkan Tuan Muda...!, lagian aku lebih senang bekerja dengan Anda!"


Erik terseyum,ia merasa senang sekali jika bekerja dengan Tuan Muda Devino,ia tidak memikirkan bayarannya saat ini,


yang jelas berkerja denganya adalah kehidupanya,


itu juga membuatnya merasa senang,

__ADS_1


karena kebaikan dan perhatian Tuan Muda selama ini membuat Erik begitu sayang kepadanya, sehingga ia tidak pernah berpikir untuk berpindah profesi bekerja ke orang lain saja,


Ia hanya ingin berkerja terus dengan Tuan Devino dan sebagai anak buahnya.


Segalanya yang di berikan Tuan Muda dulu kepadanya juga sudah cukup dan penuh di dalam tabungan,ia hanya merasa sangat senang dengan perkerjaan ini.


Untuk itu ia hanya perlu mendukung dan mendorong Tuan mudanya untuk berdiri dan berjaya kembali seperti dulu, walaupun tampa campur tangan keluarganya.


Yang jelas kesuksesan tergantung pada jeri payah dan kesungguhannya dalam mengejar kesuksesan.


"Aku tidak pernah memaksamu untuk terus bekerja denganku nantinya jika kehidupanku semakin sulit Erik, yang jelas!, jangan beri tahu Anjani tentang masalah ini, biarkan dia hidup tenang!"


"Baik Tuan Muda!,saya tidak akan memberi tahu Nona tentang keadaan ini!"


Tak terasa mobil sudah memasuki pintu masuk kantornya, Mobil langsung menuju ke parkiran. keduanya segera turun dan masuk ke dalam gedung kantor.


"Apa Tuan Besar datang ke mari Tuan Muda?"Erik yang melihat mobil Tuan Besar sudah terparkir di lingkungan kantor.


"Iyah..,sepertinya ia datang kemari bersama Daniel untuk menyerahkan seluruh pengalihan kepemimpinan kantor yang baru!"


Berjalan menuju ke ruangannya.


Ternyata Benar terdapat Tuan Besar dan Daniel disitu, mereka berdua sedang berbicara serius empat mata,


Melihat putra pertamanya yang tiba-tiba muncul, keduanya langsung berhenti berbicara dan menghadap ke arah Devino.


"Maafkan aku!,aku tidak berniat untuk menggangu pembicaraan kalian,aku hanya ingin mengambil barang-barang ku!"Berbicara singkat tanpa menatap keduanya.


Devino segera membereskan barang-barangnya dengan diam, sementara Erik juga terdiam sambil membatunya.


"Kau yakin lebih memilih wanita itu dari pada keluargamu?"Tanya Tuan Besar berbicara seketika, membuat aktifitasnya terhenti dan menjawabnya.


"Aku tidak memilih keduanya,aku hanya sedang bertanggung jawab dan menjalankan tugasku sebagai seorang suami!"


"Aku juga tidak ada niatan untuk meninggalkan keluargaku!, tapi justru keluargaku sendiri yang berusaha meninggalkanku!"


"Kau yakin kau akan tetap pergi?,aku jamin hidupmu akan sengsara Devino!"Ancaman Tuan Besar.


"Yang menentukan takdir kehidupanku kedepannya adalah Tuhan Pah!, bukan Papah!,jadi Devino hanya mempercayai yang di atas!"


"dan jika hidup Devino sengsara nantinya, ini adalah pelajaran buat Devino untuk bangkit dari keterpurukan tanpa harus bergantung dengan harta orang tua,!"sambil membereskan kembali barang-barangnya.


Kenapa dia jadi lancang sekali kepadaku,apa ini ulah perempuan itu?..


Tuan besar merasa begitu kesal dengan ucapan putranya yang terus menyangkalnya.


Devino dan Erik langsung pergi meninggalkan ruangan kantornya setelah urusan barang-barangnya selesai tanpa berbicara apapun kepada Tuan Besar dan Daniel.


*Tuan Muda begitu hebat,


aku salut denganya, ancaman Tuan Besar pun tak mampu untuk menggoyahkan hatinya sedikitpun untuk terlepas dari tanggung jawabnya yang sekarang...,

__ADS_1


hanya demi Nona Anjani ia rela kehilangan harta dan warisannya*.


Erik merasa salut dengan pemikiran Tuan Muda yang tetap ingin bertanggung jawab itu.


__ADS_2