My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Cemburu


__ADS_3

"Turunkan aku!, Turunkan aku sekarang!"


Anjani yang merasa malu di lihat oleh para karyawan kantor.


Tak peduli dengan ocehan Anjani,


Devino dengan diam dan kesal membawanya kembali ke ruangan kerjanya.


"Katanya pulang?, kenapa kau membawaku kemari lagi?"


Anjani protes terus dengan tingkah laku suaminya,


ia benar-benar wanita pemberian yang pernah ada dan di temui olehnya.


"Turunkan aku!"Anjani yang terus meronta-ronta .


"Keluar dari ruangan ku sekarang!"


Perintah Devino dengan Nada seriusnya mengusir sekretarisnya yang masih duduk.


Gawat Pak Dev terlihat marah kepadaku...


Sekretaris itu langsung bergegas meninggalkan ruangannya.


Devino langsung menurunkan Anjani di atas sofa, menatap tajam istrinya, ia terlihat begitu kesal.


"Apa kau tidak bisa menjaga diri dengan benar?, bukankah aku sudah bilang aku melarangmu keluar ruangan!,tapi kenapa kau malah berani keluar ruangan Anjani...!"


Dengan nada penuh amarah dan raut wajah seriusnya.


Apa dia marah...


dia benar-benar marah,


Anjani terdiam kusut sambil menundukkan kepalanya mendengarkan bicaranya yang bernada tinggi.


"Oh...apa kau sedang sengaja menggoda para pria di kantor ini? "


"Apah?, bagiamana bisa kau bilang seperti itu kepadaku?"Anjani ikut merasa kesal mendengar perkataannya.


"Buktinya apa tadi?,kau sedang berduaan dengannya?,kau sedang menggodanya, dan kau pura-pura tergelincir,iya kan?"


"Kau gila!,kau pikir aku wanita seperti itu?, bagaimana aku bisa menggoda para pria di kantor ini!, bukankah katamu aku ini jelek!,lalu bagaimana aku bisa menggodanya coba?..."


langsung berdiri dari sofa untuk pergi meninggalkannya, namun Dev berusaha untuk menghalanginya.


"Lihat penampilan mu sekarang, bukanya..."Dev sontak menghentikan perkataanya.


Tidak mungkin aku bilang kalau dia terlihat cantik...


"Apa?,aku terlihat apah,aku terlihat jelek,yah aku sadar aku jelek, tidak cantik seperti sekretaris mu yang galak itu!"


Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat marah kepadanya, terlebih melihatnya yang berdekatan dengan pria lain,


apa aku merasa cemburu..


Apa lagi maksud perkataannya sekretaris,


"Mau kemana lagi?"Devino yang menghalangi kepergiannya.


"Minggir, aku mau pulang saja!, dasar menyebalkan!"


Anjani yang terlanjur kesal, mendorong tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat.


"Aw...!"Pergelangan kakinya benar-benar terasa sakit, namun ia mencoba untuk tetap berjalan.


"Anjani...!"Devino yang merasa khawatir jadinya, karena dia benar-benar terlihat kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.


"Minggir!, jangan menyentuhku!"


Mencoba melepaskan tangannya yang sudah menyentuh pundaknya itu untuk menghalanginya pergi.


Tanpa pikir panjang Devino langsung menggendong tubuh Anjani dan mendudukkannya di atas sofa kembali.


"lepaskan aku!, sebenarnya apa mau mu si..?"


"Duduklah, maafkan aku mungkin aku terlalu emosi!"


menyuruh istrinya duduk dan segera mengambil obat cream untuk meredakan kakinya yang tergelincir itu.

__ADS_1


Orang aneh tadi marah-marah...


Menatap suaminya yang mengambil kotak obat.


Devino langsung mengoles salep itu dengan lembut ke kakinya dan memijatnya perlahan.


Anjani dengan diam memperhatikan tingkah suaminya yang sangat lembut mengoleskan cream dan memijatnya itu.


"Kau sedang hamil!, seharusnya kau bisa menjaga diri dengan baik!, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kandungan mu?"


"Oh...jadi kau marah-marah begitu hanya karena kau peduli dengan kandunganku saja?, kau hanya peduli dengan dirimu sendiri! dan tidak pernah memperdulikan ku!"


"Kau ini benar-benar....!"tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa?, benar-benar apa?..."


Bagaimana aku menjelaskan semuanya kepada wanita sensitif ini,apa selama ini perhatianku kurang...


Devino diam saja, sambil mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.


"Batalkan saja pertemuannya!,aku sedang sibuk sekarang!"dengan cepat menutup panggilannya.


"Kau ada pertemuan?, kenapa kau bilang kau sedang sibuk?"


Tidak menjawab pertanyaan Anjani lagi, ia terdiam memijat kaki istrinya.


Benar-benar trotoar,


di tanya diam saja, menyebalkan sekali dia ini...,


Menatap suaminya kesal,


"Jangan terus mengoceh!, makanlah!,ini sudah siang!,aku sudah membeli makanan untukmu!"


Pergi meninggalkan istrinya yang masih bermuka masam duduk di atas sofa.


"haa... aku takut...."


Berteriak,ber berdiri dari sofa dan memeluk erat tubuh suaminya dari belakang.


"Brakkk..!"Kotak obat itu langsung terjatuh dari tangan Dev,ia merasa terkejut saat istrinya tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Tolong.. tolong aku... tolong aku... itu..itu ada cicak... aku takut... tolong!"


Melihat seekor cicak yang ada di sudut sofa membuat ajani begitu takut, bahkan ia memeluk erat suaminya sambil menghentak-hentakan kakinya.


Sepertinya ia pobia terhadap Cicak,


Tapi hal ini justru membuat Devino terseyum.


"Ada apa dengan cicak, dia juga diam saja!"


Jawab Devino dengan santai dan membiarkan Istrinya untuk tetap memeluknya.


"iya... iya tapi aku takut, singkirkan dia!, singkirkan!,aku mohon.. aku takut...aku sangat takut...geli aku...aku tidak ingin melihatnya..."


Saking takutnya bahkan Anjani sampai *******-***** baju suaminya.


"Kau takut dengan cicak?"


"ih... kenapa kau malah bertanya, bukankah aku sudah bilang aku sangat takut!"


merasa kesal namun tetap bersembunyi di balik punggung suaminya yang terdiam berdiri itu.


Ia mulai menghadap ke arah cicak kembali dan semakin memeluk suaminya dengan erat.


"Mana cicaknya?"


"Tuh..., loh dimana?, tadi disitu..., tadi benar-benar ada cicak disitu...?"


Anjani langsung melepaskan pelukannya yang erat itu.


"Itu...itu...itu..."


"Haaa....dimana..mana... mana?..,aku takut tolong aku... tolong aku...!"


Anjani memeluk kembali suaminya dengan erat, bahkan ia sembunyi di balik punggung suaminya lagi


"Hahaha....."Dev tertawa senang.

__ADS_1


"kenapa kau tertawa?,mana cicaknya?..."


"Orang bawel sepertimu takut cicak?, jelas-jelas cicak saja takut mendengar suaramu!,dia bahkan pergi sendiri sebelum aku mengusirnya!"


"Ih... lelaki menyebalkan!, pergi... pergi... pergi!"


Mengusir suaminya kembali dan duduk di sofa sebelah karena merasa kesal.


Devino menaruh kotak obat itu kembali ke tempatnya dengan senyuman yang menyelimuti dirinya,


entah kenapa ia begitu merasa senang saat Anjani memeluknya erat tadi.


Manis juga...


Kembali ke sofa menghampiri istrinya yang masih duduk di situ.


"Kenapa kau belum menyentuh makanannya juga?, bukanya aku menyuruhmu makan!"


Anjani masih terdiam menatap suaminya dengan masam.


"Makanlah!"


sudah membuka satu porsi makannya dan memberikan kepada istrinya,


lalu ia membuka lagi porsi makannya sendiri.


Anjani dengan diam memegang makanan itu dan menatap suaminya yang akan memulai makan.


"Kenapa kau tidak makan Juga?,apa yang sedang kau pikirkan?"


Melihat Anjani yang terdiam menatapnya menyantap makanan.


"Kenapa kau menikahi ku?, bukankah kau memiliki Tunangan?"


Tanya Anjani sontak, membuat Devino berhenti mengunyah.


"Karena kau sedang mengandung anakku!, dan bagaimana bisa hal seperti ini kau tanyakan kepadaku?"


Menatap Anjani tajam,Ia merasa kesal kembali dan ***** makannya sudah menghilang.


"lalu bagaimana jika tunangan mu kembali?,dan setelah anak ini lahir,apa kau akan menceraikan ku?"


"uhuk..uhuk.."pertanyaan Anjani kali ini benar-benar membuatnya tersedak dan langsung mengambil air minum di atas meja.


Bagaimana bisa dia berpikiran sejauh itu..


"Bisakah kau berhenti bertanya!"menatap istrinya dengan tajam.


"Aku hanya bertanya sesuai yang ada di pikiranku!,aku benar-benar memikirkan hal ini!, makannya aku bertanya...."Jawab Anjani sambil beringsut melihatnya mendekat.


"Kau mau tahu alasan yang sebenarnya?"semangkin menyudutkan istrinya yang duduk di sampingnya itu, bahkan hampir menghimpit tubuh Anjani yang sudah tertidur di tangan-tangan sofa.


lalu mendekatkan bibirnya dan membuatnya memejamkan mata.


"Tak usah bertanya seperti itu lagi!,apa lagi sampai membuatku marah,kau belum pernah melihat aku marah bukan?"


Bisikan suaranya terdengar sengit di telinganya.


Anjani hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Kau benar-benar ingin menjadi janda?"tanyanya sengit sekali lagi.


Anjani menggelengkan kepalanya juga.


"kalau begitu berhentilah bertanya!"menatap wajah istrinya yang begitu dekat memejamkan mata itu membuat jantungnya berdegup kencang.


"Apalagi sampai membuatku marah!,kau mengerti?"


beranjak berdiri menjauhi istrinya yang masih memejamkan matanya.


"Makanlah makanan mu!"Devino pergi meninggalkan sofa.


Ada apa dengan diriku...


kenapa perasaanku jadi seperti ini ketika menatap wajahnya,


Tuan Muda yang tiba-tiba merasa berdebar melihat Wajahnya dari dekat.


Anjani segera berdiri tegak dan menatap suaminya yang pergi menuju ke suatu ruangan.

__ADS_1


Kenapa dia tidak jadi makan, apa dia benar-benar marah kepadaku...


Anjani merasa bersalah sendiri melihat kepergian suaminya.


__ADS_2