My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Keadaan Papah


__ADS_3

"Apa kau tidak papa?"


Bertanya lembut menatap Dea yang sedang duduk memegangi perban yang mengikat lukanya itu.


"Hehe..aku tidak papa Tuan Muda,ini hanya luka kecil, tenang saja.."


"Luka kecil kau bilang?,tapi kau meringis kesakitan,dan.. Terimakasih banyak karena kau telah menyelamatkan istri dan anakku.."


"Ini sudah menjadi tugasku Tuan Muda, jangan berlebihan..."


"Bukankah kau wanita?, kenapa kau hebat sekali saat melawannya tadi,apa kau memiliki ilmu beladiri?"


"Hehe.. tidak Juga Tuan Muda,hanya sedikit.."


Gadis ini benar-benar terlihat tenang dan masih bisa tersenyum walaupun ia sedang merasa kesakitan, hebat... dimana Erik menemukan gadis ini,


"Thok..thok.. thok.."Sepertinya Erik datang dan segera masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana lelaki itu?,kau sudah mengurusnya?"


"Dia aku tahan di kantor posisi Tuan muda, agar kita dapat mencari tahu apa motif di balik semua ini"


"Baguslah.., Lalu bagian caranya aku menjenguk Papah sekarang?, sementara Anjani jatuh pingsan?.."


"Tapi Nona muda tidak papa kan Tuan Muda?, tidak terjadi apa-apa padanya kan?"


"Tidak..,dia hanya syok dan kaget saja, mungkin ini juga karena ia sedang hamil,jadi kondisinya lebih lemah dari yang biasanya"


Tuan muda terlihat begitu lemas sekali, pasti ia sedang merasa sangat gelisah sekarang,


"Erik, bagaimana kalau hal ini terjadi lagi kepada istriku..?"Berbicara begitu lemas, seakan-akan ia benar-benar takut akan hal ini terjadi lagi nantinya.


"Tidak akan Tuan Muda, percayalah..!,aku akan mencari pengawal untuk Nona muda yang lebih banyak kali ini,ia sedang hamil,atas kejadian ini mengingatkan kita untuk bertambah berhati-hati dan lebih ketat lagi untuk menjaga Nona muda..."


"Iya aku tahu itu,ini juga berkat dia..,dia yang sudah menyelamatkan Istriku.."


menghadap ke arah Dea.


Kau telah melakukan yang terbaik hari ini Dea, teruslah berlatih dan tingkatkan kemampuan mu, kakak bangga kepadamu semoga kedepannya kau benar-benar menjadi seorang atlit internasional.


Terpapar senyuman Erik yang bangga kepada Dea, namun Dea hanya tersenyum kecil kerena merasa malu sendiri jadinya.


"Anda ingin menemui Tuan besar sekarang Tuan Muda,biar saya yang menjaga Nona disini.."


"Iya..,tapi rasanya aku sangat takut meninggalkannya..!"


Aku tahu Tuan Muda, pasti rasanya separuh jiwa anda sedang melayang entah kemana sekarang ini,


"Thok... thok.."


Ketukan pintu lagi, membuat mereka semua yang anda di ruangan ini terbelalak menatap ke arah pintu.


"Siapa lagi yang datang?, bukankah dokter sudah selesai memeriksa istriku"


"Aku juga tidak tahu Tuan Muda.."

__ADS_1


Kemudian muncul Zen dari balik pintu.


"Permisi Tuan muda,saya boleh masuk..?"


"Masuklah.."


"Saya sudah membawa lima pengawal khusus untuk Nona Tuan Muda, mereka sedang berjaga di luar, mungkin ini bisa membantu dan menjaga Nona jika anda dan Erik pergi karena ada urusan..."


"Kalian tahu apa yang aku inginkan sekarang, baguslah...,bagaimana keadaan Papah Zen..?"


"Ia belum sadar, kondisinya masih kritis, tapi sepertinya kondisinya lebih membaik dari yang tadi pagi Tuan Muda..."


"Papah kenapa?, kenapa mengabari ku dengan keadaannya yang tiba-tiba seperti ini?,apa kau menyembunyikan sesuatu?, kenapa papa bisa seperti ini tiba-tiba?...."


"Sebenarnya...,e'.... sebaiknya tanyakan kepada dokter nanti Tuan Muda,biar anda bisa mengetahuinya lebih jelas.."


Mereka bertiga memilih menunggu kesadaran Nona mudanya terlebih dahulu, mereka juga sedang bertanya-tanya tentang motif di balik serangan pisau tiba-tiba ini.


Tuan muda memilih untuk segera menyelidikinya setelah urusan semua yang ada disini terselesaikan.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun sadar juga, mendengar suara samar-samar orang berbicara di telinganya membuatnya terbangun.


"Dev.."


"Iyah.., Anjani kau sudah sadar"


Merasa lega,ia tersenyum kecil sambil menghampiri istrinya yang memanggilnya itu.


"Kamu tidak papa sayang?, Muach..., maafkan aku..,aku belum bisa menjagamu dengan baik, maaf..."memeluk Istrinya Erat,ia tidak perduli ada berapa banyak orang di ruangan ini,ia hanya ingin memeluk istrinya agar perasaannya semakin tenang dan lega.


Ya ampun sepertinya cinta mereka begitu besar dan tulus,aku benar-benar merasa iri ingin memiliki pasangan seperti mereka,


"Kau tidak papa Dea..?"


"Aku tidak papa Nona.."Terseyum manis,ia juga merasa lega Nona mudanya sudah sadar dari pingsannya.


"Terimakasih banyak Dea,dan maafkan aku, gara-gara aku kau menjadi begini..."


"Jangan meminta maaf Nona, ini adalah tugasku..."


Sekarang ada Dea yang hadir di sisiku,aku jadi kangen Tita,dia juga sama pemberani-nya seperti Tita,


"Ayo sayang kita lihat keadaan Papah.."


"Jangan,kau harus Istirahat disini saja!, setelah keadaan Papah membaik aku baru mengijinkan mu bertemu dengannya..,aku saja yang akan menemuinya bersama Erik,kamu disini dulu, keadaan mu juga masih lemas, Istirahatlah dulu yah.., Muach.."


"Tapi aku takut Dev.."


"Tenganlah...,ada banyak pengawal yang akan mengawal mu mulai sekarang"


Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan, tapi aku juga takut jika Devino pergi meninggalkan ku sewaktu-waktu karena keperluan,


Zen langsung memanggil ketiga pengawal untuk berjaga di dalam ruangan, sementara kedua pengawal itu berjaga di depan pintu masuk ruangan ini.


Memang berapa pengawal yang akan menjagaku, benar-benar seperti hidup di dalam kerajaan saja..

__ADS_1


"Aku tinggal dulu sebentar ya sayang.. , jaga dirimu baik-baik, suster juga akan membawakan makanan dan cemilan untuk kalian, tunggulah disini, Muach.. Muach....!"


"Iya sayang, baiklah...,jaga dirimu baik-baik juga"


Devino, Erik dan Zen langsung keluar dari ruangan ini.


Sementara lima pengawal benar-benar di tugaskan untuk menjaga Nona Mudanya di ruangan ini, agar tidak ada lagi orang jahat yang berani masuk ataupun berani melukai Nona Mudanya.


Semua anggota keluarganya masih terdiam di depan ruangan ini menunggu kabar dari dokter yang sedang sibuk menangani Tuan besar itu.


Devino datang, dimana Anjani?, kenapa dia tidak ikut,


Daniel yang sedang menatap sinis kedatangan kakaknya itu.


"Kakak..."Diva yang berlari memeluk kakak tercintanya sambil menangis.


Lihatlah, aku sudah memberitahunya yang sebenarnya,tapi tatap saja Diva lebih sayang Devino daripada Daniel.


"Tenganlah Diva, tidak akan terjadi apapun pada Papah.."


"Aku takut kak,hiks...aku takut.."


"Hust..., tenganlah!,do'akan yang terbaik untuk Papah yah..,kita hanya bisa berdo'a untuk kali ini.."


Membelai kepala adiknya lembut,ia juga merasa begitu khawatir dan gelisah dengan keadaan ini, namun apa dayanya,ia juga belum mengetahui Papahnya itu sakit apa sebenarnya.


"Maaf, apakah ada Tuan Muda Devino disini..?"


Suara yang tiba-tiba terdengar dari balik pintu ruangan ruangan ICU, terlihat dokter yang sedang bingung mencari-cari Tuan Muda Devino untuk masuk ke segera dalam ruangan.


"Saya.., kenapa?"


"Masuklah sebentar Tuan Muda!,kami perlu bantuan dari anda.."


"Baiklah.."


Lihatlah,dengan keadaan sakit begini tetap saja yang di cari Papah adalah Devino,bukan aku kan,


Kali ini Daniel benar-benar merasa tidak perduli lagi, yang jelas ia akan merasa bodo amat dan biasa saja dengan keadaan Papahnya yang sekarang.


Kaduanya langsung masuk ke dalam ruangan ICU.


Baru kali ini juga Devino melihat Ayahnya yang sedang terbaring memakai peralatan medis lengkap di ranjang rumah sakit.


Entah kenapa rasanya begitu pilu dan ingin sekali ia menangis melihat keadaan Ayahnya yang begini.


"Papah kenapa Dok?, kenapa dia seperti ini..?"Mendekat ke arah ranjang dan berdiri tepat di samping Ayahnya yang terbaring itu .


"Sejak tadi dia memanggil-manggil nama anda, mungkin ini dapat memberikan kesembuhan untuknya jika anda berada di sampingnya.."


"Katakan kepada ku yang sebenarnya, penyakit apa yang di derita Papah saat ini..?"


"Tuan besar terkena penyakit Pneumonia, mungkin selama ini dia tidak pernah memberitahu anda sebelumnya, keadaannya sekarang semakin parah,jadi ia kritis dan belum sadarkan diri juga untuk saat ini.."


"Apa?.."

__ADS_1


Devino terdiam,ia tidak bisa berkata-kata, hanya deraian air mata yang mampu menjelaskannya tentang apa yang di rasakanya saat ini setelah mendengar kabar ini.


__ADS_2