
"Ada apa Dev..?"
Anjani merasa khawatir dan panik sendiri jadinya,ia langsung berdiri dan mendekati suaminya yang sedang berdiri mematung itu.
"Ada apa Dev..?, kenapa kau menjatuhkan ponselmu...?, katakan..!"Semakin gelisah melihat Devino yang meneteskan air matanya.
"Pa.. Papah.., Papah..."Terbata-bata jadinya.
"Iya..,ada apa dengan Papah Dev?, katakan...!"
Ada apa dengan Tuan muda, kenapa Nona Anjani terlihat panik sekali...
Kedua tangan kanan Tuan-tuan muda ini juga begitu penasaran dan terbengong,lalu keduanya segera mendekat ke arah sofa ruangan ini karena penasaran.
"Papah kritis Anjani...,ia masuk ke rumah sakit.."
"Apa?..,Papah kritis?..,apa yang terjadi..?"Anjani terbengong, ia juga tidak menyangka akan kabar buruk yang tiba-tiba ini, air matanya juga dengan cepat mengalir begitu saja.
"Erik, siapkan mobil!, kita ke rumah sakit sekarang.."
"Baik Nona.."Erik langsung bergegas menyiapkan mobilnya.
Tuan besar kritis, bagaimana bisa tiba-tiba begini, kenapa tidak ada kabar dari Zen kalau Tuan besar sakit sebelumnya,
Tidak mungkin juga mendadak begini kan,
Setelah ia menyiapkan mobilnya,ia langsung saja menelfon Dea yang sedang berada di ruangan belakang.
"Dea.. ikutlah ke rumah sakit!, cepat..!,kau harus menjaga Nona muda mu kali ini,aku berada di halaman depan..!"
Dengan singkat,padat dan jelas tanpa mendengarkan jawaban kembali dari Dea yang tampak terdiam di telefon.
"Baik Pak..pak?, memangnya Nona muda kenapa..?"
Eh..malah di matiin,
Terlihat wajah pias ikut gelisah juga dari kedua wajah Ayana dan Reyhano yang sedang duduk itu.
"Rey.. Ayana, kita akan segera pergi ke rumah sakit, kalian..."
"Kita akan segera kembali ke hotel, tenganlah..,tak usah memikirkan kami, kalian pergi saja ke rumah sakit sekarang..!"
"Baiklah... mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.."
"Jangan pikirkan ini dan jangan meminta maaf, sebaiknya kalian pergi ke rumah sakit sekarang,ini juga bukan kesalahan..."
"Baiklah,kalau begitu kita akan pergi sekarang.., sebaiknya kalian Istirahatlah disini dulu, jangan langsung pergi, kasian Reyfan.., Istirahatlah dulu, nanti dia kepanasan.."
"Tenanglah..,tak usah memikirkan kami, pergilah Anjani, semoga tidak terjadi apa-apa pada Papah kalian,dan di berikan kesembuhan ya..,ia pasti akan sembuh...."
" Aammiin, Thanks you..,dah"
Dengan terburu-buru Anjani menggandeng tangan suaminya untuk segera pergi dan menuju ke arah mobil.
__ADS_1
Dea dan Erik sudah berdiri tepat di samping mobil menunggu keduanya untuk segera berangkat.
Mereka semua langsung saja berangkat ke rumah sakit untuk menemui Papahnya yang sedang kritis itu.
Devino terlihat sangat sedih dan lemas, bahkan ia masih terdiam sambil meneteskan air matanya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Sayang..., Tenanglah.., do'a kan yang terbaik untuk Papah yah.., aku yakin,dia akan baik-baik saja.."Mengusap air mata suaminya dengan lembut,
Lalu Anjani juga berusaha menenangkan dan membekapnya dengan hangat sambil mengelus-elus kepalanya di bekapan dadanya.
"Bagaimana bisa dia tiba-tiba kritis dan di rawat di rumah sakit Anjani..,apa dari kemaren-kemaren ia sakit dan tidak ada yang mengabari ku...hiks..hiks.."
"Entahlah kita tidak tahu, tanyakan semuanya pada Zen nanti..!, sebaiknya kita selalu positif thinking dan tenangkan diri kita,...Muach.. tenanglah sayang.. Papah pasti akan baik-baik saja"
Semakin membekap suaminya dengan hangat dan nyaman.
Ada apa dengan Papah mertuaku ya Allah.., sembuhkan lah dia..,aku tidak bisa melihat suamiku bersedih seperti ini,
Sehatkan lah dia kembali..
*****
Semua orang sudah menunggu di depan ruangan besar ini.
Nyonya besar sedang terdiam sambil menyanggahkan kepalanya.
Sementara Diva sedang terlihat begitu lemas dan terpuruk sambil menyenderkan kepala di bahu Nyonya besar juga.
Papah kenapa, Kenapa papah tiba-tiba seperti ini..,
Tak lupa dengan Daniel juga yang sedang duduk bersanding dengan Emely, keduanya tampak terdiam juga namun lebih sibuk dan fokus memainkan ponselnya.
Kali ini Zen terlihat begitu khawatir melebihi mereka semua yang ada di depan ruangan ini.
Ia bahkan tidak sempat duduk tenang, sejak tadi ia bolak balik kesana kemari untuk menghilangkan rasa gelisah-nya yang terus-menerus menyelimutinya itu.
Serapat apapun menyimpannya semua akan terbongkar juga kan,
aku tidak pernah menyangka jika keadaan Tuan besar akan ngedrop seperti ini..
"Semoga tidak terjadi apapun pada Tuan besar, maafkan aku Tuan besar, mungkin untuk kali ini saatnya putra pertama anda harus mengetahuinya,aku sengaja mengundangnya kemari,aku tidak bisa lagi menyembunyikannya..."
Terpapar jelas huruf kapital yang tertera di depan ruangan besar ini.
ICU,yah.. ICU, dimana Tuan besar sedang berada dan di tangani di dalam ruangan ini.
Raut wajah Zen terlihat begitu pucat di penuhi dengan kekhawatiran.
Tak lama setelah itu akhirnya Devino, Anjani,Erik dan Dea sampai juga di lingkungan rumah sakit.
Erik langsung memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia ini.
Kedua majikanya langsung bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit.
__ADS_1
"Dea...kau harus terus mengawasi Nona muda ya!..,jika susana sedang begini aku takut Tuan Muda akan lengah menjaga Istrinya karena perasaanya yang sedang kacau itu.."
"Baik kak!,eh...Pak..!"
"Disaat seperti ini kau boleh memanggilku kak,tapi jika ada rekan yang lain kau harus memanggilku seperti yang biasanya..!"
"Iya siap Pak Erik!"
"Adik yang manis!,kau sudah berlatih keras hari ini?"
"Sudah dong!, serajin mungkin,kan aku harus menjaga Nona muda, terlebih ia sedang hamil juga kan..!"
"Baguslah.., sekarang sebaiknya kau susul Nona dan Tuan Muda terlebih dulu!"
"Siap..!"Langsung berlari untuk menyusul ke-dua majikanya itu yang masuk ke dalam gedung rumah sakit terlebih dahulu.
Mereka bertiga sedang berjalan di lorong rumah sakit, sedikit jauh jarak Dea dengan kedua majikannya itu yang terus berjalan, namun ia berusaha bergegas juga untuk menyusul langkah mereka di depan.
Namun langkahnya terhenti begitu saja ketika melihat Langkah seorang lelaki yang terlihat begitu mencurigakan baginya.
Ia terlihat melirik dan mengikuti langkah keduanya, membuat Dea merasa tidak nyaman dan berwaspada.
apa yang di lakukan lelaki itu?, kenapa ia terlihat mengamati langka Nona muda dan Tuan Muda..
Menyengkrut-kan dahinya dan merasa semakin curiga, terlebih melihat lelaki ini yang semakin mendekati keduanya.
"Apa kau kecapean sayang..?"Terus merangkul istrinya yang berjalan di sampingnya ini.
"Tidak,aku tidak merasa lelah kok,aku hanya merasa khawatir...."
"Nona Awas...!"Teriakan Dea dan membuat keduanya menyingkir dari langkahnya begitu saja.
"Prrang..., Braghh...Brrughh..."Seorang laki-laki tak di kenal itu tiba-tiba akan menyerang Nona muda dari belakang.
Ia bahkan memegang sebuah pisau yang terlihat sangat tajam yang akan di tusukan ke arah tubuh Nona mudanya itu.
Mendapati serangan balik dari Dea membuat pisau itu terhempas dan gagal untuk melukai Nona mudanya.
lelaki tak di kenal tadi juga langsung terhempas dan terlempar ke lantai oleh serangan Dea secara tiba-tiba.
"iya ampun..."Anjani yang begitu kaget dan berdebar-debar hampir jantungan,ia bahkan terbelalak dan tidak bisa berkata-kata dengan kejadian ini yang terjadi di depan mata.
"Anjani...,ya ampun Anjani,kau tidak papa kan...?, sayang..."Devino terlihat semakin panik,ia juga langsung memeluk erat istrinya.
Rasa khawatirnya benar-benar membuat tubuhnya gemataran dan benar-benar tidak percaya akan kejadian ini.
"Bughk..,plak...plak...plak.. Bughk.."Dea begitu handalnya dia duduk dan bertumpuan di tubuh lelaki ini lalu menguncinya.
Ia terlihat sangat marah dan begitu marah. Tamparannya yang sangat kuat ia keluarkan kepada lelaki itu begitu saja.
Pipanya juga tampak langsung memerah tak terhingga karena bekas tamparannya.
Kehadiran lelaki ini benar-benar membuatnya seperti mendapatkan lawan dan baru saja mendapat umpan.
__ADS_1
Keahliannya di bidang olahraga taekwondo membuatnya terlihat begitu lincah saat melawannya tadi.
"Lelaki gila..,kau gila hah...?,apa yang akan kau lakukan tadi..,kau berani melukai Nona muda ku...?"Kedua tangan itu tampak mencekik leher lelaki ini, mencengkram kuat dengan lumuran darah juga yang mengalir di tangan Dea, sepertinya ia terkena goresan pisau tajam itu saat ia berusaha untuk menghindari langkah buruk lelaki itu tadi.