My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Berlian Merah


__ADS_3

Dua hari selama di rumah sakit keadaan Anjani semakin membaik.


Ia juga sedang berbicara menghibur putrinya yang sedang berkedip-kedip dengan mata kecilnya itu menatap kesana-kemari.


Sepertinya ia sedang berusaha untuk merasakan suasana barunya ini.


Ia juga belum bisa membuka lebar matanya,ia terlihat sangat imut dan menggemaskan sekali.


"Kau sedang apa sayang?"datang dari arah pintu dengan iPad-nya itu, sepertinya ia habis melaksanakan meeting online dengan karyawannya di kantor.


"Aku sedang berbicara dengannya,dia imut sekali,aku benar-benar merasa gemas..."Sambil Mengelus-elus tangan mungilnya dan menyelipkan jemari telunjuknya ke tangan si kecil itu.


Genggamnya yang begitu erat dan lembut saat mengepal benar-benar membuatnya semakin merasa sayang.


"Iya ampun sayang dia imut sekali kan?"


"lebih imut ibunya sih.. hehe.."Tertawa kecil, melihat istrinya yang merona tiba-tiba.


"Apaan si, biasakan kau memuji anak mu sedikit..!"Merasa gemas Anjani dengan suaminya,ia ingin sekali meremas-remasnya yang sedang tersenyum manis itu.


"Bisa,tapi aku lebih suka memuji ibunya ya kan sayang, ibumu terlihat lebih imut dan menggemaskan, iya kan nak.."sambil mengelus-elus putri mungilnya.


"Tuh kan terseyum,ia menyetujui semua yang aku katakan.."


"Tersenyum apaan, orang Anita diam saja.."


"Tapi Anita terseyum di dalam hatinya sayang,memang kau tidak merasakannya.."


Hanya bisa menggelengkan kepalanya Anjani sambil tersenyum menatap suaminya itu,lalu...


"Muach...I love you.."menciumnya tiba-tiba, membuat Devino terseyum kaget dan langsung berdiri.


"Berani sekali kau menciumku duluan, kau mau aku cium seribu kali apa?"


Mendengus mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.


"Plakkk.."


"Aw..."Spontan."kenapa kau memukulku?"


"kau mau melakukan hal ini di hadapan Putri mu yang suci ini?"


"Dia juga tidak mengerti kan...?"Melihat istrinya yang melotot membuatnya mengurungkan niatnya.


" iya iya baiklah aku mengerti,I love you to.."Duduk kembali dengan wajah tak bersemangat saat Anjani memukulnya tadi.


"Haha.. kau ngambek, padahal aku cuma bercanda,aku kira kau tetap berani melakukannya ternyata tidak..."


"Ih... kau ini benar-benar"Merasa gemas sekali Devino dengan istrinya ini.


Kemudian datanglah Zen yang sudah membuka pintu di ikuti oleh Tuan besar yang sudah masuk ke dalam ruangan.


"Papah..."panggilan keduanya yang terlihat kaget.


Terlihat Zen yang membawa kotak merah besar yang ia pegang dengan lapisan kaca berisi kalung berlian yang sangat indah di dalamnya


Apa yang mereka bawa..,


"Anjani kau sehat kan?"


Tersenyum menatap menantunya sambil mendekati putri kecil yang menggemaskan itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah Pah,aku sehat sekali.."


"Aammmin"Sahutan suaminya yang tampak tersenyum juga.


"Zen berikan kepada ibunya..."


"Baik Tuan"Membuka box itu dengan sangat hati-hati dan langsung mengarahkannya kepada Tuan Muda untuk memberikannya kepada istrinya itu.


"Silahkan Tuan Muda, kenakan di leher Istri anda.."Terlihat kalung yang begitu berkilau dengan liontin berlian merah yang sangat indah di pandang mata.


"Ini untuk Anjani Pah?"memperjelas suasana yang begitu canggung, melihat kalung yang begitu berkilauan membuat semua orang terpana.


"Iya Anjani itu untukmu, karena kau telah berhasil melahirkan cucu pertama untuk keluarga ini.."


"Kalung berlian biru juga masih ada di tempatnya, mungkin belum ada yang bernasib untuk memilikinya,kita lihat saja nanti siapa yang akan memberikanku cucu laki-laki nantinya, apakah Anjani lagi mungkin kedepannya.."


Karena belum tahu tentang bayi yang sedang di kandung istri Daniel membuatnya bersenda gurau kepada menantunya itu.


Anjani hanya tersenyum dan tidak bisa berkata apapun setelah mendengar ini.


Eh..,ini saja baru lahir,masa minta lagi..


"Anjani pakailah"Dev yang sudah menyodorkan Kalung berlian itu. Dari trawangan yang ia lihat, Anjani sangatlah cocok dan cantik saat memakai kalung ini."Kau pasti akan sangat cantik saat memakinya"menggodanya, sambil tersenyum semanis mungkin dan mengedipkan matanya.


"Dasar genit.."ikut mengedipkan matanya juga.


"Ih.. ngatain orang, tapi kamu sendiri ikut-ikutan"


Devino langsung memakaikan kalung ke leher Anjani dengan lembut."kau sangatlah cocok...,muach"mendarat kecupan di pipinya tiba-tiba.


"Eh... nyasar.."


"Alasan, kau sengaja menciumku kan?"Sepertinya mereka berdua tidak menghiraukan kehadiran Tuan besar yang sedang tersenyum kecil melihat tingkah keduanya yang menggemaskan itu.


"Kau sangat cantik.., lebih cantik dari bidadari, bahkan lebih...,aku suka..."


"Sudah.. sayang, jangan terus memujiku,kan aku jadi pengin nangis"Sudah berkaca-kaca Anjani ia bingung harus mengatakan apa saat ini.


"Terimakasih Pah, kalungnya sangat indah..."


"Jangan berterimakasih kepadaku.., berterimakasih lah kepada suamimu,ia yang menghadiahkannya untukku.."


"Benarkah...?"menatap suaminya tidak percaya, semetara Devino sedang tersenyum menantikan rasa berterimakasih istrinya itu,ia berharap lebih,pastinya istrinya ini akan menciumnya dengan hangat sambil berterimakasih.


"iya sudah..."


"Hey..kau tidak mau berterimakasih dengan suamimu?.."Merasa gregetan karena tidak sesuai dengan harapannya.


"Terimakasih sayang,ini sangat bagus..."


"Sudah hanya itu saja..?"


Mereka benar-benar tidak peduli dengan kehadiran sang Ayah dan Zen yang sedang tersenyum juga.


Memang apa yang pantas aku berikan kepadamu sedangkan kau memiliki segalanya.


Merasa bingung Anjani.


"Berikan aku bibirmu..!"Berbicara begitu saja tanpa di saring.Lalu Anjani langsung mencubit lelaki ini dengan gemas karena berbicara terlalu keras.


"Apa yang kau katakan?, nantilah ada Papah dan Zen..."Berbisik, sebenarnya Anjani merasa gemas sekali saat ini.

__ADS_1


Suara pintu terbuka, datanglah Erik bersama dengan Tita juga.


"Tita..."Merasa senang sekali Anjani karena Tita datang lagi untuk menjenguknya.


Terlihat juga perutnya yang sedang membuncit karena hamil.


Ini membuat Anjani begitu senang dan terseyum.


"Nona.., bagaimana kabarnya,Nona sehat-sehat saja kan?"


"Alhamdulillah aku baik Tita,kalau kamu bagaimana?,kamu sehat-sehat saja kan?, kandungan mu juga sehat kan?"


"Alhamdulillah Nona, seperti yang Nona lihat sekarang ini..."


"Clekk..."Suara pintu terbuka kembali,pertanda seseorang datang lagi.


Semuanya langsung menghadap ke arah pintu.


Terlihat lelaki tampan yang gagah menggandeng istri cantiknya yang manis itu sambil memasuki ruangan.


"Reyhano..."Panggilan Devino yang terlihat begitu senang melihat kehadiran sahabat jauhnya ini.


"Apa kabar?, selamat datang"Langsung menyambut baik datangnya sahabatnya ini dengan memeluknya erat.


"Baik sekali, bagaimana denganmu sendiri"


"Sangat baik sama seperti yang kau lihat"


Terlihat Senyuman Reyhano yang terpancar sejak tadi menatap Devino yang tersenyum juga.


"Ayana bagaimana kabarmu..?"Menyambutnya dengan hangat, sambil berjabat tangan.


"Alhamdulillah,baik juga.."


Mereka langsung mendekat ke arah ranjang dimana Anjani terbaring.


"Kau baik-baik saja kan Anjani..?"


"Aku baik-baik saja Ayana, dimana putra mu?"


Anjani merindukan Tuan Muda kecil yang sangat lucu dan menggemaskan itu yang tidak ikut hadir.


"Neneknya sangat merindukannya, jadi ia sedang bersamanya sekarang..."


"Ohh...gitu"


"Apa kabar Om?"Reyhano juga langsung menyapa Tuan besar yang sedang menatap cucunya itu.


"Sangat baik Rey,lama aku tidak berjumpa denganmu, bagaimana kabarmu...?"Sahut Tuan besar sambil menepuk pundak Rey.


"Sangat baik Om.."Terseyum menatap putri kecil itu


"Wah, apakah ia calon menantuku..?, menggemaskan sekali,ia sangat cantik dan lucu, cocok sekali untuk putra kecilku...."Bergurau kembali, menghilangkan keheningan di ruangan ini, lalu mendekat ke arah ranjang bayi setelah membuat orang yang ada di ruangan ini terseyum dan tertawa kecil.


"Lihat, Rey mulai lagi..."Ayana, sudah menggelengkan kepalanya terlebih dahulu sambil tersenyum menatap suaminya yang terus bercanda seperti itu sejak dulu.


"Siapa tahu memang beneran,aku merestui jika itu putramu..."Sahut Tuan besar tiba-tiba.


"Wah.. sudah di rencanakan sejak awal, bahkan restu pun sudah mengalir dimana-mana, baiklah aku setuju juga hehe..."Sahutan Devino yang sedang tersenyum lebar.


Semua orang yang ada di ruangan ini benar-benar tertawa bahagia satu sama lain karena sedang membahas perjodohan kecil.

__ADS_1


Apaan si mereka semua,aku bisa apa coba, baiklah aku akan mengikuti alur ceritanya..,


Anjani juga ikut tersenyum sejak tadi.


__ADS_2