
Anjani masih berusaha untuk melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangnya itu, sementara Devino langsung melepaskan pelukannya.
Ia masih menangis terisak bahkan belum menatap suaminya juga sejak tadi.
"Mau sampai kapan kau akan menangis?, makanlah dulu Anjani!,kau belum makan sejak tadi?"
Melihat suster yang datang membawakan makanan untuknya.
Tidak ada sahutan dari Anjani, bahkan menengok pun tidak.
Mau sampai kapan dia akan seperti ini...
Menerima makanan itu dari tangan suster dan akan menyuapi istrinya.
"Terimakasih Sus!, pergilah!"
Suster menggangguku kepalanya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Anjani makanlah dulu!,kau harus minum obat!"
Masih belum menjawab juga,ia masih terisak karena tangisnya..
Tuan Muda mengambil alih berganti posisi di hadapannya lagi, Anjani sama sekali tidak mau menatapnya.
"Makanlah dulu!"
menyodorkan satu sendok makanan ke mulutnya, Anjani tetap saja tidak mau membuka mulut,
Bahkan ia akan membalikan badannya kembali untuk menghindari tatapanya.
"Cukup!"Duduk di sampingnya dan menghentikan langkah istrinya yang akan membalikan badan dengan menahan bahunya, Anjani hanya terdiam menatapnya lekat.
"Jangan seperti ini!, aku tidak bisa melihatmu seperti ini...!"
Menatap istrinya dengan penuh kesedihan juga, namun Anjani mengalihkan pandangannya dan menghindari tatapanya itu.
"Aku tahu kau merasa sedih,tapi bukan hanya kau yang merasa sedih Anjani,aku juga!,dia adalah anakku, darah daging ku juga..!"Mencoba berbicara lembut menatap istrinya untuk memberikannya pengertian.
Mungkin hatimu merasa senang saat ini,iya kan,
Hanya mendengarkannya saja,ia tidak menjawab atau berpaling dari tatapanya yang menatap ke arah lain.
"Anjani..."membelainya dengan penuh kelembutan.
"Tapi setidaknya kau senang kan sekarang?.., melihat aku yang begini,...hiks... hiks..!,aku kehilangannya dan aku pasti akan kesepian..!, sedangkan kau, kau senang kan?,karena terbebas dari tanggung jawab mu ini, sekarang kau senang kan aku sudah keguguran?kau akan bebas dan pergi meninggalkan ku!,ya kan?..."
Sepertinya Anjani tidak tahan dengan hal-hal yang di pikirannya,ia ingin sekali mengusir suaminya dari hadapan agar segera pergi.
"Cukup!,apa yang kau katakan Anjani!"merasa begitu kesal mendengar perkataan istrinya.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya!,kau sengaja pergi meninggalkanku kan?, dengan wanita lain ya kan?, supaya aku di siksa oleh keluargamu sampai aku keguguran?,kau pergi entah kemana?,kau sengaja kan?,kau bahkan tidak mengirim pesan untukku seharian!,kau sengaja melakukan hal ini kepadaku!, supaya aku tersiksa ya kan?..."
Menatap suaminya dengan raut wajah berantakan penuh dengan air mata.
Apa yang dia katakan, Ternyata dia menantikan pesan dariku...
"Apa yang kau katakan Anjani?,aku pergi karena aku ada pertemuan dengan klien kantor!,aku tahu aku yang salah!,tapi niat untuk meninggalkanmu itu tidak ada,apa lagi membiarkanmu di siksa oleh keluarga ku itu tidak ada,dan...aku juga tidak pernah berpikiran seperti itu..!,apalagi sampai mencelakakan anakku sendiri, tidak mungkin Anjani..."Mencoba menjelaskannya dan membuatnya mengerti.
"Aku tidak mengirim pesan kepadamu karena aku tahu kau itu sangat membenciku...!,aku menyangka kau tidak akan membuka pesannya apa lagi menantikan pesan dariku...!"
__ADS_1
Anjani hanya terdiam sedih,ia sesekali mengusap air matanya yang terus berderai.
Anjani juga terlihat tidak mendengar perkataan suaminya karena ia merasa begitu sedih bercampur kesal.
"Kenapa kau begitu marah kepadaku...?,aku menggagalkan dua pertemuan hanya demi dirimu Anjani...!,aku tidak bisa meninggalkanmu di rumah seperti itu, makanya aku pulang malam ini juga, kerena ingin menghentikan sikap Mamah kepadamu,aku tahu aku salah!, maafkan aku....!"
"Kau menyalahkan ku sekarang?, pertemuanmu batal karena diriku begitu...?"
Anjani merasa semakin kesal dan terus mengajaknya berdebat untuk mengeluarkan seluruh emosinya.
Bagaimana caranya agar aku bisa menjelaskan kepada wanita sensitif ini...
Kesabaran Devino hampir habis,ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk bersikap lembut dan bersabar kepada istrinya, namun Anjani tetap saja marah-marah kepadanya.
"Bukan begitu!,iya..iya... ini semua memang salahku!,ini semua salahku!, maafkan aku!"
merasa menyerah untuk berdebat dengannya,ia juga bingung harus bersikap apalagi kepadanya karena sudah terpancing emosi.
"Iya sudah, sekarang aku sudah keguguran!, jadi kau gampang pergi meninggalkanku!,kau tidak perlu repot-repot berberat hati untuk meninggalkan ku, pergilah!,jika kau ingin kembali dengan tunangan mu ataupun mencari wanita lain, maka pergilah sekarang!, jangan berlama-lama... pergi!, karena aku tahu kau menikahi ku hanya sementara selama aku mengandung kan?, dan sekarang aku sudah keguguran!, maka pergilah!... pergi!... menunggu apa lagi?"
Merasa begitu sedih dan terpukul,ia berbicara dengan nada kesalnya mencoba mengusir suaminya dari hadapannya dengan kedua tangannya.
Devino juga semakin terpancing emosi, mendengar perkataan anehnya!.
"Apa yang kau katakan Anjani?,aku tidak mengerti apa yang kau katakan?,siapa yang mencari wanita lain?, aku pergi karena urusan kantor!, bukan sengaja meninggalkanmu!"
Devino yang semakin kesal dan membentak Anjani,membuatnya semakin menangis karena kaget.
"Hiks... hiks..hiks.."Semakin menangis tersedu-sedu mendengar suaminya yang membentak itu,
sambil mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya karena merasa takut.
Apa yang aku lakukan, kenapa aku membentaknya..,
Ia teringat dengan perkataan dokter yang menyuruhnya untuk menjaga kondisi dan perasaanya, karena wanita yang sedang mengalami keguguran pastinya sangat stress dan syok alias sensitif.
*Jangan membuat Nona stress apalagi marah-marah Tuan Muda!,
karena kondisi Nona Muda sangat ngedrop,ia butuh ketenangan dan istirahat, imun kekebalan tubuhnya juga sedang menurun, pastikan Anda menciptakan suasana yang tenang saat ia terbangun* nanti!,
Begitulah pesannya, sementara Anjani menangis sampai tidak ada suara.
"Maaf!, maafkan aku...!,aku tidak ada niatan untuk membentak mu!,aku benar-benar tidak sengaja,maaf!, maafkan aku!"
Memeluk istrinya erat, melihatnya yang menangis sampai tidak bersuara membuatnya semakin tidak tega.
"Aku tahu kau sangat kehilangan!, aku juga merasakannya Anjani,sama seperti yang kau rasakan saat ini!,Aku tidak akan meninggalkanmu!, aku pergi bukan untuk menemui wanita lain, tapi karena urusan kantor!"
Membelai kepalanya dengan lembut memberikan keterangan di bekapan dadanya.
"hiks... hiks.."hanya isak tangisnya saja yang terdengar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!, tenganlah...! kau tidak akan kesepian..!,kau adalah istriku sekarang!, semua ini sudah terjadi Anjani..!,aku tidak pernah memaksamu untuk tetap bersamaku, tapi pernikahan bukanlah sebuah permainan yang gampang untuk di bubarkan begitu saja...!"
"Aku sudah terikat akan ikrar pernikahan...!,aku yang mengambil semua keputusan ini,dan aku juga harus bertanggung jawab kepadamu atas semua ini!, entah kau masih mengandung atau tidak, tetap saja kau adalah istriku sekarang...!"
Terus membelai kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya,
Membuat Anjani merasa nyaman dan semakin tenang mendengar perkataannya.
__ADS_1
Semua ini pasti Mamah juga yang memprovokasinya,
Mamah benar-benar keterlaluan!,
aku kehilangan anakku karena mamah...,
dan dia pasti berbicara yang tidak-tidak kepada Anjani dan membuatnya sedih begini,
Aku tidak tahu dimana pikiran mamah?, seharusnya dia bersikap baik kepada menantunya..
Perasaanya bagitu marah terhadap mamahnya.
Namun ia masih terus membelai istrinya dengan lembut dan menenangkannya.
Suara tangisannya mulai memudar, hanya terdengar isak-kan tangis kecilnya saja yang terdengar, membuat Devino berani bertanya.
"Makanlah!,kau harus minum obat!, jangan menangis terus!,kau makan sekarang yah..!"perintahnya begitu lembut.
Anjani Menggelengkan kepalanya di bekapannya dadanya,ia tidak memiliki ***** makan saat ini,
"Tapi kau harus makan Anjani!"
masih memeluk istrinya lama dan terus berusaha untuk membujuknya agar mau makan.
Anjani tetap menggelengkan kepalanya, sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapanya suaminya ke dada bidangnya itu.
"Baiklah!,aku tidak akan memaksamu kali ini!"
Masih membelainya lembut, sebenarnya Tuan Muda merasa sangat lelah, waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah dua malam,ia juga belum istirahat ataupun memakan apapun sejak siang, tapi demi menangkan Istrinya ia mencoba menahan rasa laparnya dan tidak ingin melepaskan pelukannya.
Sekitar lima belas menit berlalu, Anjani benar-benar terdiam anteng di pelukannya,ia tidak bergerak ataupun bersuara sama sekali.
Hanya hembusan nafasnya yang terdengar tidak beraturan karena sedang sakit.
Melihat istrinya yang tertidur membuatnya menatapnya lekat, memandang setiap garis paras wajah istrinya yang terlihat manis itu, membuatnya berdebar seketika,
mencoba menyadarkan dirinya yang terus menatapnya lekat,lalu mengusap ujung matanya yang basah karena menangis.
Kau seperti anak kecil yang merengek dan ingin di perhatikan,
apakah kau tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelumnya,
Sifat Anjani yang terlihat polos itu membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah memiliki hubungan dengan seseorang sebelumnya atau tidak,
karena dari sifatnya Tuan Muda bisa membaca, mungkin ia baru pertama kalinya ia berhubungan dengan seorang pria dengan dirinya.
"Maafkan aku sudah membuatmu menangis!, tidurlah yang nyenyak!, mimpi indah!,Muach..."Mencium kening istrinya sepontan,membuatnya terbelalak sendiri.
Kenapa aku sampai menciumnya segala,
Mungkin Anda terlalu lama memandang wajahnya Tuan Muda, membuatmu lupa diri akan apa yang anda lakukan.
Hanya menggigit bibirnya kelu,ia merasa bersalah karena telah menciumnya itu, semuanya sudah terjadi!,
sambil berusaha membaringkan istrinya pelan-pelan di atas ranjang, agar ia bisa tertidur dengan nyaman dan nyenyak.
Tenanglah,
aku tidak akan membawa mu ke rumah itu lagi!, kita akan tinggal di rumah baru, agar kamu hidup dengan baik dan tenang nantinya,
__ADS_1
Menjanjikan istrinya di dalam hatinya sendiri sambil menyelimutinya dengan selimut.