
Sejak semalam perut terasa mulas dan berdenyut setiap beberapa waktu sekali.
Membuat Anjani tidak bisa tidur juga.
Ia bahkan terbangun di pagi hari ini, waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Tuan muda masih terkapar dengan hangatnya selimut yang menyelimutinya di tubuh
Menatap suaminya lekat yang masih tertidur itu, sesekali ia meringis mendapatkan dorongan dari dalam yang terasa menendang-nendang ingin keluar.
Pinggang juga terasa begitu pegal dan letih.
Apa aku akan segera melahirkan, kenapa mulesnya berulang-ulang,
Aku juga tidak pernah merasakan mules seperti ini sebelumnya
"Dev...."Memangilnya pelan, berharap agar suaminya sendiri segera bangun dari tidurnya itu.Anjani juga menepuk-nepuk bahu suaminya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Hem..."Gusar dari tidurnya,ia langsung mencoba membuka matanya mendengar panggilan dari istrinya itu.
"Perutku sangat mulas..."Meringis kecil menatap suaminya yang masih terlihat begitu sayu karena ngantuk sambil mengelus-elus perutnya.
"Apa...,kau mules?"Spontan beranjak berdiri dari tidurnya,ia terlihat begitu panik dan terburu-buru."Apa kau mau melahirkan?,Ayo sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang.."Menyingkap selimutnya begitu saja ke lantai,ia tampak begitu terburu-buru karena begitu khawatir.
"Sepertinya,tapi tunggu dulu..."Menggigit bibirnya kelu, menatap suaminya dengan air mata yang mulai menggenang di kelompok matanya.
karena mulesnya ini sesekali datang lalu menghilang,lalu beberapa saat mulai terasa lagi, begitulah yang sedang ia rasakan sekarang ini.
"Apa kau tidak papa?"Merasa tidak tega dan khawatir sendiri dengan keadaan istrinya saat ini,ia mulai mengelus-elus pipi istrinya sambil menatapnya penuh kekhawatiran dan pikirannya yang sudah kemana-mana.
Kemudian Devino segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat ranjang itu,lalu menelfon Erik dengan segera.
"Erik segera siapkan mobil, kita akan segera pergi ke rumah sakit, beritahu Dea juga, suruh dia bersiap-siap untuk menyiapkan seluruh keperluan Anjani"
"Baik Tuan Muda, akan saya siapkan dengan segera..."Mata ini masih terpejam karena masih mengantuk,tapi telinga terpasang dengan sigap untuk mendengarkan bicara Tuan Muda di dalam panggilan di Pagi hari.
kerumah sakit..
"Apa?,ke rumah sakit?,apa Nona Muda akan segera melahirkan?, gawat aku harus terburu-buru..."Langsung seger dan berlari masuk ke kamar mandi setelah sadar.
Ia segera membersihkan dirinya, tak lupa juga ia memberitahu Dea untuk segera bersiap-siap sesuai perintah majikannya itu.
__ADS_1
"Apa sakit sekali..?"menatap istrinya dengan penuh binaran air mata yang ber-genang, seolah-olah ia yang sedang merasa sakit dan menahan dirinya karena tidak tega.
Anjani hanya menjawab dengan senyuman manisnya yang tulus itu.
"Ada apa denganmu..?,aku tidak papa.."Berdiri dari duduknya lalu bertumpuan di ke-dua lututnya merasakan dorongan dan getaran yang sedang ia rasakan dari dalam yang mulai terasa lagi.
"Aku takut,kau baik-baik saja kan?, katakan apa yang sedang kau rasakan Anjani?, maafkan aku..aku tidak bisa membantumu, maaf...,apa yang bisa aku lakukan untuk mu sekarang, muach...muach"mencium keningnya dengan lembut dan penuh perasaan khawatirnya itu.
"Hanya kehadiranmu saja sayang,itu sudah cukup..."
"Sepertinya sakit sekali, bersandar-lah kepadaku Anjani,ayo bersandar-lah..."
Menunduk dirinya, lalu menunjukkan bahunya yang bidang agar istrinya dapat bertopangan dengan kuat untuk menahan rasa mulasnya itu.
"Ah....hust..."Meringis kembali, sesekali ia menunjukkan tanganya ke arah pinggang kepada suaminya itu.
"Kau baik-baik saja..?,mana yang sakit?,mana?"
"Tenanglah aku baik-baik saja,aku rasa dia menendang ku tadi, hehe..."Menahan, terseyum, lalu menyengkrut lagi, entah apa yang sedang ia rasakan sekarang ini, hanya ia sendiri yang mampu merasakannya, sedangkan suaminya itu merasa bingung sendiri dengan sikap istrinya itu.
"Jangan membuatku bingung, kau sakit kan?, kenapa kau masih tersenyum..?"menintikkan air matanya sendiri, Devino terlihat begitu gelisah dan khawatir.
"Rasanya tidak bisa di ceritakan sayang,ta.. tapi aku senang...,aku harap ini adalah pertanda dari kelahiran ku.."
"Iya... Iyah sayang, aku tahu... bertahanlah"Berdiri tegap lalu memeluk istrinya untuk menyenderkan tubuhnya ke pelukannya itu.
"Maafkan aku.., maafkan aku Anjani, aku tidak tahu apa yang kau rasakan sekarang, bertahanlah, kita akan pergi ke rumah sakit sekarang yah..,kau tidak papa kan.."
"Aku tidak papa sayang.."menggenggam tangan suaminya erat, lalu tersenyum lagi, begitulah yang ia tunjukkan kepada suaminya sejak tadi.
"Kau pasti tidak bisa tidur nyenyak semalam, sambil menunggu persiapan sebaiknya kau Istirahatlah dulu di sini.."Devino duduk di tepi ranjang,lalu mulai memangku istrinya dengan lembut di pangkuannya.
Menyibakkan rambutnya ke telinganya yang tampak menutupi ke cantiknya itu.
Sesekali tangannya juga dengan lembut memberikan perhatian sambil memijat-mijat lengan istrinya lembut.
Mengusap-usap tangan dan mengelus-elus jemari istrinya lembut.
Terlihat sekali ia yang begitu khawatir dan mereka gelisah sendiri sekaligus memberikan ketenangan untuk istrinya yang sedang menahan rasa sakitnya ini.
"Aku mau berdiri saja..."Tidak enak untuk terus duduk,ia hanya ingin menghilangkan rasa mulesnya saja yang tiba-tiba datang lagi.
__ADS_1
"Mules lagi..?"
Anjani menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya sendiri, lalu menatap suaminya dan terseyum lagi.
Tangan itu mulai kembali bertumpuan di bahunya dan mulai meremasnya dengan gemas.
"lampiaskan saja kepadaku Anjani, lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, kau mau menamparku juga boleh, mencubit ku juga boleh, memukul ku juga holeh, atau apapun itu terserah Anjani lakukan saja kepadaku,ayo..lampiaskan kepadaku Anjani..."Mengelus-elus pinggang istrinya sesekali,ia bingung harus bersikap apa sekarang.
Perasaan ini begitu merasa bersalah karena hanya bisa menyaksikan dan melihati istrinya yang terlihat kesakitan itu.
Ia tidak bisa melakukan apapun,ini lah yang membuatnya kesal sendiri.
"Apa yang sedang kau katakan Dev?"Masih bisa tersenyum melihat sikap suaminya yang tambah mengemaskan ini.
"Ayo kita kerumah sakit saja sekarang,aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus.."Semakin tidak tega melihat istrinya yang semakin pucat menahan rasa sakit.
"Iya sudah kamu bersiap-siaplah dulu sayang,aku tidak papa kok.."
"Kelamaan.., ayo kita ke rumah sakit saja sekarang"Akan mengendong istrinya ke luar dari ruangan kamarnya itu.
"iya..iya.. baiklah"
Dea menyiapkan semua keperluan Majikanya dengan terburu-buru, sepertinya masih banyak barang yang tertinggal, keadaan yang begitu dadakan ini membuatnya keteteran sendiri merasa bingung bercampur gelisah karena terburu-buru.
Erik saja belum sempat menyisir rambutnya, membuat semua yang melihatnya tertawa kecil saat melihat Erik terburu-buru termasuk para pelayan yang sudah membukakan pintu itu,
Tapi Erik tidak perduli,yang di pikirkan nya sekarang adalah keselamatan dan kesehatan Nona mudanya yang sedang kontraksi kandungan itu.
"Kak, rambutmu acak-acakan sekali?"
"iya biarin,kita sedang terburu-buru kan"
Langsung membukakkan pintu mobil setelah melihat Tuan muda yang menggendong istrinya menuju ke arah mobil.
Sebenarnya Anjani sendiri masih bisa berjalan, namun karena kekhawatiran suaminya yang berlebihan itu membuatnya tidak tega untuk berjalan sendiri ke arah mobil.
"Cepat masuk!,kita jalan sekarang!"
Menyuruh kedua anak buahnya ini agar cepat masuk ke dalam mobil.
"Bertahanlah sayang,kau harus baik-baik saja...,aku mencintaimu.. muach"Menyenderkan kepala istrinya ke bahunya itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kekhawatiran benar-benar melanda Devino sampai mereka sampailah di rumah sakit.