
Semua terbelalak melihat kehadiran-nya.
Terutama sang ibu yang melihat kehadiran putranya yang berdiri di samping Anjani sambil mengepalkan tangan membuatnya berwajah pias.
Devino, bagaimana bisa dia pulang hari ini juga..
"Cukup Anjani!,apa yang kau lakukan?"
Menatap istrinya yang terlihat begitu kaget dan terbelalak dengan tingkahnya yang menghempaskan nampan begitu saja.
Melihat clemek yang melekat di pinggangnya membuatnya begitu marah dan langsung melepaskannya serta melemparnya ke lantai.
"Beginikah sikap kalian terhadap Istriku?"
Berbicara dengan tegas,menatap balik semua orang yang menatapnya juga, sementara para pelayan menundukkan kepalanya, mereka semua merasa begitu takut dengan kehadiran Tuan Muda yang tiba-tiba.
"Apa yang kalian lihat?, kalian tidak memiliki otak?,apa yang kalian lihat!, kenapa diam saja!?"
menatap seluruh pelayanya, termasuk ketua pelayan yang sudah terlihat di situ juga.
"Sandra!"
mendengar panggilan Tuan Muda yang begitu marah membuat nyali Ketua Pelayan langsung menciut.
"Iya Tuan Muda!"menundukkan kepalanya merasa begitu takut dan berusaha mendekatkan diri.
"Bebaskan Tita sekarang juga!,jika tidak!, aku tidak menjamin keselamatanmu nanti!"
Sial,apa Tita yang mengadukan semua ini kepada Tuan Muda, sehingga dia pulang malam ini...
"Kenapa kau terdiam!, bebaskan dia sekarang juga!,dan ingat jangan berani kau menyentuhnya!,atau kau akan berurusan denganku nanti!"
Tuan muda yang terlihat begitu marah, sambil merangkul Anjani yang terlihat ketakutan.
Tuan Muda memang merasa tidak yakin saat ia akan pergi meninggalkan istrinya begitu saja.
Ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjadi pelayan yang akan mengawal Nona mudanya di sampingnya.
Tak lupa ia juga memakaikan alat penyadap suara yang di pakai oleh Tita untuk berjaga-jaga.
Tapi hal ini beneran terjadi dan membuatnya gelisah seharian,
Selama kepergiaannya sejak pagi ia merasa tidak tenang dengan sikap mamahnya yang semena-mena, membuatnya tidak tahan dan hanya menemui satu pertemuan saja, selebihnya ia batalkan dan tidak perduli, walaupun ini adalah klien besarnya sekalipun.
Bagiamana kak Devino bisa pulang malam ini, bukannya dia ada jadwal dengan pertemuan Klien besarnya,
Daniel yang ikut menyaksikan semua ini di meja makan.
Diva juga terdiam melihat kedatangan kakaknya yang tiba-tiba.
sementara Tuan Besar tidak bergeming sama sekali dari tatapannya yang menghadap ke depan,ia masih membiarkan putranya untuk berbicara.
"Devino sayang!, kau sudah pulang"Nyonya besar yang sudah mulai berbicara.
"Diam!,aku tidak menyuruh Mamah untuk berbicara!"
"Apa yang kalian lihat!, kerjakan pekerjaan kalian!,jika sampai istriku yang melakukannya lagi!,aku tidak segan-segan memecat kalian semua dari sini!, kalian pikir siapa yang membayar kalian hah?"
__ADS_1
Memeluk semakin erat istrinya yang terdiam di sampingnya.
Melihat suaminya yang begitu marah membuat Anjani semakin ketakutan dan hanya bisa menundukkan kepalanya, menutupi air matanya yang berderai.
Semua pelayan langsung berkerja dan membereskan makanan yang berjatuhan dan berserah di lantai, terlebih banyaknya pecahan beling yang terlihat berserakan dari wadah makanan tadi.
"Mamah melakukan ini semua kepada Istriku?, beginikah sikap Mamah?"
Tanya Devino penuh dengan amarah menatap ibunya kembali.
"Devino mamah hanya.."
"Mamah hanya merendahkan istriku!, Mamah tidak menghargainya sebagai istriku!, Mamah melakukannya semena-mena!, mamah juga bersikap seperti ini,Mamah pikir pagi tadi Devino tidak tahu apa yang mamah lakukan kepadanya?,apa Mamah tidak pernah berpikir kalau dia sedang hamil!,dia itu sedang mengandung anakku mah!,seharusnya Mamah..."
"Devino!"Bicaranya terpotong mendengar Tuan Besar yang sudah mengangkat bicara.
"apa yang kau lakukan?, kenapa kau meninggalkan pertemuan mu?"
Tanya Tuan Besar yang terlihat marah juga dengan kepulangan Devino yang membatalkan klien besarnya yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Seharusnya aku yang bertanya!,apa yang kalian lakukan kepada istriku?, beginikah sikap kalian terhadap menantu?,Tak usah bertanya dengan pertemuan yang tidak penting itu!, kalian pikir aku peduli!"
Devino yang tidak perduli lagi dengan siapapun ia berbicara termasuk Papahnya, walupun itu adalah Tuan Besar sendiri yang terhormat dan disegani banyak orang,
bahkan ia tidak peduli dengan klien besarnya yang gagal ia temui malam ini.
"Ini semua salahmu!,kau yang bersikeras untuk menikah dengannya kan!"jawab sang Ayah juga lantang.
"Tapi setidaknya hargai dia sebagai Istriku disini!,dia itu sedang hamil Pah, Mah! dan bagaimana bisa Mamah bersikap seperti ini kepadanya, benar-benar keterlaluan!,aku tidak mengerti dimana pikiran mamah!"
"Anjani harus melakukan semua ini Devino!, karena ia yang menyetujuinya sendiri,ia juga bertanggung jawab untuk melunasi hutang-hutang keluarganya, jadi ia harus melayani kita semua!"
"Devino apa yang kau katakan?"
"Diam!,aku tidak menyuruh Papah untuk berbicara!"menatap kesal sang Mamah kembali.
"Kau berani menantang papah?"
"Demi kebenaran aku akan menentang siapapun itu!, termasuk Papah sekalipun!"menatap Sang Ayah dengan raut wajah kemarahannya.
"Untuk Mamah!,minta maaf kepada istriku sekarang!"menyuruh Nyonya besar secara tegas untuk meminta maaf kepada istri sekarang juga.
"Devino apa yang kau katakan?,kau mau mempermalukan mamah?"
"Mamah yang sudah mempermalukan Anjani!, Mamah juga yang sudah mempermalukan ku,apa Mamah tidak mengerti apa yang Mamah lakukan ini benar-benar kejam dan keterlaluan!,jika sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya,aku benar-benar tidak akan memaafkan mamah!"
"Devino!"Suara Tuan besar juga tegas terlihat begitu marah balik.
"Baiklah!,jika kalian tidak mau menerima kehadiran Anjani di sini maka aku terima!,Tapi jangan harap aku akan menginjakan kaki di rumah ini lagi!,aku juga akan pergi dari sini!, kalian benar-benar keterlaluan!"
"Devino!,kau yakin kau akan pergi dari sini?,kau akan menyesal nanti!"Papah yang terlihat tidak percaya.
"Silahkan saja!,aku tidak akan pernah menyesal Pah!,dan aku juga tidak akan mengharapkan apapun dari papah!,aku juga tidak butuh pemberian dari Papah apapun itu!"
dan Mamah!, jangan pernah bermimpi untuk bertemu dengan Devino lagi!"
Menggendong istrinya yang terlihat berdiri lemas karena kelelahan,ia segera berjalan meninggalkan ruangan keluarganya itu.
__ADS_1
"Devino!,Dev..!"
Mamah berteriak!, Ia tidak pernah menyangka putranya benar-benar sangat marah kali ini,ia mencoba menghentikan langkah putranya yang pergi meninggalkan ruangan.
Anjani terdiam melihat tingkah suaminya yang mendudukkannya di pinggiran ranjang,ia tampak begitu lesu dan sedih.
"Kau tidak papa?"membelai rambut istrinya dengan lembut.
Anjani masih terdiam sambil mengalihkan tanganya yang membelai rambutnya itu, bahkan menatap suaminya saja tidak.
"Aku tahu kau marah kepadaku?,
maafkan aku!,seharusnya aku tidak meninggalkan mu hari ini!"
"Tak perlu meminta maaf!,ini bukan salahmu!"berbicara pelan tanpa menatap suaminya yang sedang berbicara kepadanya.
"Tapi kau terlihat marah kepadaku!"
Berdiri dari duduknya menjauhi suaminya, menatap tirai jendela yang tampak gelap di luar, hanya hiasan lampu-lampu komplek yang menyinari sekelilingnya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba saja berderai.
"Aku hanya minta satu hal darimu!, Ceraikan aku!"
Membuat Devino terbelalak dan mendekatinya.
"Apa yang kau katakan Anjani?,itu tidak mungkin!, kau sedang mengandung anakku..!"
"Aku tidak perlu pertanggung jawaban darimu!,aku akan mengurus dan membesarkan anak ini sendiri!,aku tidak bisa hidup seperti ini, lagian kau juga akan menceraikan ku nantinya kan?,kau juga akan kembali dengan tunangan mu!, lalu untuk apa pernikahan ini berlangsung lama, lebih baik kita akhiri sekarang!"Anjani berbicara dengan air mata berlinang masih menatap jendela kaca besar yang ada di kamarnya ini.
"Apa yang kau katakan Anjani?,aku tidak pernah berniatan seperti itu, apa kau pernah dengar tentang semua itu dari mulutku?"
memeluk Anjani dari belakang,sama-sama menghadap ke arah jendela yang di penuhi dengan pemandangan gelap di malam hari.
Anjani mencoba melepaskan pelukannya, Namun tangan itu semakin memeluknya erat.
"Maafkan aku!,aku akan tetap bertanggung jawab atas semua ini, dia adalah anakku!,jadi aku tidak bisa menuruti permintaan mu!,kita tidak akan berpisah Anjani...!"
"Maaf!,aku tidak bisa!, aku tidak sanggup menghadapi keluargamu yang semena-mena ini!,aku juga tidak bisa hidup bersamamu!, aku akan tetap pergi!, dan ceraikan aku!"masih mencoba melepaskan pelukannya yang begitu erat.
Anjani tetap bersikeras, karena rasanya begitu sakit berada di rumah ini,
rumah yang seperti sangkar yang di penuhi dengan banyak duri membuatnya tidak bisa bertahan.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah!, karena aku akan tetap bertanggung jawab Anjani!, hidupmu hancur karena diriku!, maafkan aku,aku tidak akan menceraikan mu!"
Menyakinkan istrinya dan memeluknya semakin erat, Anjani masih terdiam mendengarkan perkataanya di dalam pelukannya, sambil mengusap air matanya sesekali.
"Aku tahu hatimu terasa begitu sakit atas semua sikap keluargaku kepadamu!, untuk itu kita akan pergi dari sini!, malam ini juga!, kita akan pindah dan tidak akan tinggal di sini lagi Anjani!"
berbicara lembut sambil
mengelus lengan istrinya.
Namun Anjani tidak menjawab perkataanya,ia benar-benar terdiam.
Pelukan itu terasa berubah menjadi berat, karena tubuh Anjani yang lemas bertopangan dengan tubuhnya,dan ternyata ketika ia menatap istrinya, Anjani sudah pingsan dan memejamkan mata di pelukannya.
"Anjani..?, Anjani..?,kau kenapa?.. Anjani?"
__ADS_1
Tuan Muda yang terlihat begitu khawatir melihat istrinya yang pingsan di bekapannya.