
Kondisi Anjani sudah membaik,
Tuan Muda menuntunnya keluar dari ruangan rawat untuk pulang ke rumah.
"Kita mau pulang?"
Tanya Anjani pelan,ia merasa enggan untuk balik ke rumahnya, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca karena tidak ingin pulang ke rumah itu lagi.
"Iya!, bukanya kau sudah sembuh?, memang kau betah di sini?, sampai tidak mau pulang?"
Terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju ke parkiran.
Tampak Erik yang sudah menunggu di sana.
ih, bukan begitu kali,
lagian siapa juga yang ingin sakit terus,
Merasa geram dan meremas tangan suaminya yang sedang menggandengnya itu, membuatnya meringis merasa sakit menatap istrinya tajam.
"Antar aku pulang ke rumah Ibu!,aku tidak ingin pulang ke rumahmu!, lebih baik kita pisah saja!, dari pada aku harus disana terus!"
Mau sampai kapan dia akan berbicara tentang perpisahan,
Mendengar perkataan itu membuat Devino geram melirik istrinya kembali.
"Dengarkan baik-baik!,aku tidak akan mengantarmu pulang ke rumah ibumu!, lagian aku ini suamimu bukan?,aku melarang mu pulang!,kau dengar itu?"Berbicara kesal menatap istrinya.
Berhenti melangkahkan kakinya, mendengar perkataannya suaminya yang melarangnya pulang ke rumah membuatnya marah, bahkan ia langsung mengibaskan tangan suaminya yang menggandengnya itu.
"Lepaskan!"menatap suaminya kesal.
"Baiklah tidak papa!,aku akan pulang sendiri ke rumah ibu!, aku tidak ingin pulang ke rumahmu!,aku tetap akan pulang ke rumah ibu!"
Mencoba pergi meninggalkan suaminya untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Ampun..,
keras kepala sekali dia ini
Merasa begitu kesal dan melarangnya pergi,ia langsung menarik tangan Anjani dan menggendongnya menuju ke arah mobil.
Jika ia mengantar Anjani pulang ke rumah ibunya,ia merasa harga diri Tuan Muda sebagai seorang menantu menurun.
"Turunkan aku!,aku mau pulang!,aku tidak ingin bersamamu, Turunkan aku!,aku mau pulang!..."berteriak-teriak.
"Diam!, kau ingin memanggil seluruh orang rumah sakit untuk menolong mu dari ku!"
membekap mulut istrinya yang terus mengoceh itu sambil memasukannya ke dalam mobil.
Cih Tuan Muda dan Nona Muda menggemaskan sekali,
walaupun sering bertengkar tapi keduanya terlihat sangat cocok dan menggemaskan,
Erik terseyum sendiri melihatnya.
Ia segera menutup pintu mobil setelah keduanya masuk ke dalam.
Erik bermaksud membantu Tuan Mudanya yang sedang berusaha menahan Nona muda yang ingin pergi darinya itu.
"Erik buka pintunya! buka pintunya!,aku mau pulang..!,Erik!..."
Beranjak berdiri,
ia duduk di pangkuan suaminya untuk berusaha membuka pintu mobil agar bisa keluar dari dalam mobil.
Anjani tidak perduli dimana ia duduk,walupun di pangkuan suaminya sekalipun, yang penting ia ingin segera turun dari mobil.
mau sampai kapan dia akan bersikap seperti ini....
Menatap istrinya yang sedang bertingkah di pangkuannya itu sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara Erik tidak mendengarnya,ia langsung berjalan masuk ke mobil dan memegang setirnya, karena ia sudah siap untuk menyetir melajukan mobilnya.
"Apa kau bisa diam?, Turuti perkataan suamimu!,jika aku melarangmu pulang!, berarti kau tidak boleh pulang!"
Suaminya yang merasa geram dan berusaha memegangi tangannya yang berusaha membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Erik kunci pintunya!"perintah Tuan Muda Tegas.
"Tidak mau!, aku tidak ingin pulang ke rumahmu!,aku ingin pulang ke rumah ibu!...buka..buka... Erik buka..buka Erik..!"masih berbicara ngotot dan terus berusaha membuka pintu mobil.
Namun Erik tidak menggubrisnya sama sekali.
Sialan,
Erik benar-benar keterlaluan,ia tidak mendengarkanku sama sekali,
apa ia sudah bersekongkol dengan lelaki menyebalkan ini..
rasanya aku ingin sekali menimpuk-nya!,
Menatap suaminya semakin kesal.
"Buka pintunya?!.. buka pintunya...!,buka pintunya...!"
"Muach..!"ciuman mendarat tiba-tiba.
"Aww..."Teriakan Anjani seketika.
Devino sengaja mencium bibir Anjani yang terus mengoceh itu agar terdiam, bahkan ia memberikan gigitan kecil di sana,
membuat Anjani menjerit merasa kaget, karena mendapati ciumannya yang tiba-tiba itu,
ia juga langsung mengundurkan diri dan menjauh dari suaminya.
Erik hanya terdiam melihat pemandangan ini,ia berusaha untuk tidak melihatnya tadi,
karena ia sendiri yang merasa malu melihat tingkah Tuan Muda dan Nona Mudanya ini.
Dia mencium ku?, di hadapan Erik,
menjijikan sekali,
berani sekali dia melakukan hal ini kepadaku..
Terbelalak menatap suaminya bercampur kesal.
"Jangan membuatku marah!,atau kau akan mendapatkan akibatnya nanti!"
"Ihhh......apa yang kau lakukan?"Merasa kesal sambil memukuli dada bidang suaminya yang telah mencium dan mengigit bibirnya itu.
"lelaki brengsek!, lelaki brengsek! lelaki brengsek...!"Teriakan Anjani sambil memukuli dadanya.
"Kau berani memukulku?"menahan kedua tangannya yang terus bertingkah itu, bahkan Devino melotot tajam menatapnya balik.
Erik Hanya terdiam menggarukan kepalanya melihat ini semua,ia bahkan tidak berani menengok ke arah belakang.
ia merasa canggung sendiri dan ingin sekali tertawa mendengar Nona mudanya yang marah-marah karena di cium oleh suaminya.
"kau tidak mau menuruti perkataan suamimu?,apa mau aku ulangi?"
mendekatkan wajahnya ke bibir Anjani, membuatnya ke takutkan dan menjauhkan wajahnya dari suaminya.
"Erik!, kita pulang sekarang!"
"baik Tuan Muda!"langsung melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Sementara Anjani terdiam masam,
ia duduk terdiam di sebelahnya dan terlihat sangat kesal dan marah dengan suaminya itu.
Berwajah kusut sambil mengigit bibirnya kelu yang terasa sakit akibat gigitan suaminya itu.
Apa aku harus melakukan hal ini untuk membuatnya terdiam..,
Terseyum sendiri menatap istrinya yang terdiam kesal di sampingnya,ia merasa menang.
Tingkahnya ini benar-benar membuat Anjani langsung terdiam anteng di sebelahnya.
bahkan ia terlihat murung menatap ke arah kaca menghindari tatapan suaminya itu.
Kenapa jantungku berdegup kencang setelah ia mencium ku tadi,
aku benar-benar kesal dia menciumku,aku benar-benar kesal..aku kesal....
__ADS_1
Aku kesal kan?...
Masih tidak percaya dengan perasaannya yang campur aduk itu.
Entah apa yang Anjani rasakan sekarang, intinya perasaan campur aduk tidak karuan, bahkan jantungnya berdebar-debar begitu cepat.
Setengah jam berlalu, mobil sudah memasuki pintu masuk Apartemen, membuat Anjani bingung di dalam hatinya, ia ingin bertanya namun malas, karena masih mengingat kejadian dimana suaminya menciumnya secara tiba-tiba tadi.
"Ayo Turun!"melihat istrinya yang masih terdiam duduk di dalam mobil.
"Gak mau!"Masih berbicara jutek,ia bahkan tidak ingin menatap suaminya, karena ia tidak ingin Turun.
"Mau aku hukum lagi dengan gigitan yang lebih sakit?"
berbisik ke telinganya, membuat Anjani merasa semakin kesal dan Turun dari mobil.
Ih...aku benar-benar ingin sekali menjambak rambut trotoar ini..
Merasa begitu kesal dan ingin sekali *******-***** suaminya, namun melihat pemandangan Apartemen yang begitu ramai dan indah membuat matanya berkeliling ke sana kemari terhibur dan melupakan amarahnya.
Kenapa dia membawaku kemari?, bukankah ini Apartemen...,
Berjalan mengikuti langkah suaminya yang terus menggandengnya itu.
Masuk ke dalam lobby Apartemen menuju ke lift untuk naik ke lantai atas.
Lift berhenti di lantai paling atas, kemudian Devino menuntun Anjani keluar dari ruangan lift dan menuju ke Apartemennya.
"kenapa kita kesini?"
Anjani merasa bingung, menatap suaminya yang masih terdiam menggandengnya berjalan ke arah pintu masuk Apartemennya.
"Sekarang kita tinggal di sini!,ini rumah kita yang sekarang!, jadi tak usah merengek untuk meminta pulang seperti anak kecil!,kau mengerti?"
Membawanya masuk ke dalam Apartemennya dan segera menutup pintu.
"Lalu bagaimana dengan keluargamu jika kau pergi meninggalkan rumah?"Anjani yang sedikit memikirkannya juga.
"Kau masih mengkhawatirkan ku?,apa kita pulang saja?"sambil menggandeng tangannya kembali menuju ke arah pintu.
"Tidak mau!, disini saja!"langsung melepaskan tangannya dan mundur ke belakang menjauhinya.
"Baguslah...jika seperti itu!"Tuan Muda langsung mencibirkan bibirnya dan duduk di sofa.
Anjani juga ikut duduk di sofa, melihat-lihat sekelilingnya yang tampak begitu sunyi.
Sedangkan Tuan Muda terdiam sambil menyanggahkan tanganya menatap istrinya yang sedang berkeliling matanya.
"Kita hanya berdua disini?"merasa merinding sendiri.
"Iya... memangnya kenapa?, bukankah berdua itu lebih enak!"menjawab dengan santainya.
Apa maksud perkataannya itu...
Menatap sinis suaminya.
"Memangnya kau mau berapa teman di sini?"
sambil merebahkan tubuhnya ke sofa, Tuan Muda terlihat begitu ngantuk karena kurang tidur semalaman.
"Satu saja!, untuk teman bicara!"
"Yakin?,apa kau sudah siap?"memejamkan matanya.
Apa si maksudnya sudah siap?,
membuat Anjani semakin merasa bingung dengan perkataanya yang aneh itu.
"Baiklah!, tunggu saja sampai kau siap untuk melakukannya,kau saja belum pulih!,masih meminta lagi...!"
Hey...hey...kau pikir aku minta Anak darimu,
aku hanya meminta seseorang untuk menemaniku di sini,
bukan anak, dasar lelaki!,
Mendengar perkataan yang sedikit menjerumuskan itu, membuat Anjani terbelalak dan ingin sekali melemparnya dengan bantal sofa,
__ADS_1
Namun melihatnya yang Ateng memejamkan matanya membuatnya tidak tega.