
Entah kenapa Anjani terbangun dari tidurnya di tengah malam.
Melihat suaminya yang memeluknya begitu erat membuatnya terdiam menatapnya.
Wajah tampannya terlihat begitu bersinar terkena pantulan cahaya lampu yang terang di ruangan kamar ini.
Aku tidak pernah menyangka kau begitu baik kepadaku,
aku juga tidak menyangka kau akan sebaik ini kepadaku...
kau rela meninggalkan keluarga dan kekayaan mu hanya demi bertanggung jawab kepadaku...,
beginikah dirimu yang sesungguhnya...
Menatap terus wajah suaminya yang terpejam itu, perasaannya benar-benar tidak karuan dan jantungnya berdebar-debar sendiri setiap kali menatap wajah suaminya dari dekat.
Ia ingin sekali mengelus pipinya sesekali.
Tangan itu bergerak begitu saja, mengelus pipi suaminya yang tampak mulus itu,
Entah dia sadar atau tidak, yang jelas Anjani mengelus pipinya dengan lembut sambil melamun.
"Ada apa?, kenapa kau terbangun?..."
Tanyanya lembut,Ia masih memejamkan mata merasakan tangan istrinya yang tiba-tiba menyentuh dan mengelus pipinya bagitu lembut.
Membuat Anjani kaget dan terbelalak menjauhkan tanganya dari wajahnya.
"Kau belum tidur...?"Anjani, merasa begitu canggung dan malu sendiri karena telah berani menyentuh pipinya.
"Belum,aku tidak bisa tidur, kenapa kau bangun...?"Bertanya lembut sambil membuka matanya menatap istrinya lekat.
"Tidak papa..!"Terseyum kecil,merasa malu dan membalikkan badannya membelakangi suaminya yang terlihat tersenyum itu.
seharusnya aku tidak menyentuh pipinya tadi, kenapa tiba-tiba aku melakukan ini si...
Dan kenapa dia tersenyum,
Mengigit bibirnya kelu, merasa malu dengan suaminya sendiri.
Devino terseyum menatapnya dari belakang,ia terlihat begitu senang melihat tingkah istrinya yang tampak malu itu.
Anjani merasa suaminya semakin mendekat ke arahnya,membuat jantung Anjani semakin berdebar kencang merasakan ia yang bergeser mendekatinya.
"Tidurlah!, ini sudah sangat malam, jangan memikirkan apapun!,kira perlu istirahat, karena ini sudah terlalu malam...!"
memalukannya dari belakang, membuat Anjani menyengkrut merasa grogi bercampur deg-degan saat di peluknya.
"Apa kau lapar...?"Bisikan di telinga Anjani membuatnya merasa geli dan beringsut.
Ia bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa canggung untuk menjawab pertanyaannya.
Melihat tangan Devino yang melingkar itu entah kenapa membuatnya tersenyum kecil.
Kenapa aku selalu merasa nyaman setiap kali dia memelukku begini,
apa aku juga merasa senang saat ini...
Hembusan nafas Devino yang melintas di telinganya seolah-olah adalah nyanyian baginya.
Hembusan nafas itu terasa begitu indah saat di dengar di telinganya,
Membuatnya memejamkan mata kembali untuk tidur kembali sambil mendengarkan nafasnya suaminya yang terdengar indah di telinganya.
*****
Pagi sudah datang, Anjani sudah terbangun dari tidurnya,menatap suaminya yang masih terpejam membuatnya diam-diam beranjak berdiri dari ranjang agar tidak menggangu suaminya yang masih tertidur itu.
Berjalan menuju dapur.
Ada Tita di situ, membuatnya berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Bau apa nih?, enak banget!,soto yah..?"
"Hmm,iya Nona,apa Nona suka soto?"
"Tentu saja...,dari baunya saja sudah membuatku lapar!"
Mengelus perutnya sendiri,lalu mendekat dan memperhatikan Tita yang sedang memasak.
"Selain cantik, rajin dan pemberani kau pintar memasak yah...!"
Anjani, terus berdiri di samping Tita menemaninya memasak, sambil memperhatikannya.
"Tidak juga Nona!,aku hanya bisa sedikit..!"
"Cih...,apa kau sedang merendah untuk meroket?, pintar masak juga.., masih berbohong!"
"apa kau sudah menikah?"Tanya Anjani penasaran dengan anak buah Tuan muda yang satu ini.
Membuat Tita terdiam dan berpikir,
Apa yang harus aku katakan?,
sepertinya lebih baik jika Nona muda mengetahui hal ini...,
"Sudah Nona!"masih mengaduk makanannya.
"Wah, benarkah?,dimana suamimu?, kenapa kau jarang pulang?,apa kau tidak merindukan suamimu?, pasti suamimu sangat mencintaimu, kau sudah cantik pandai memasak lagi..."
"Tida juga Nona,bagiamana aku bisa merindukannya!, sedangkan aku saja bertemu setiap hari..?"
Tita sambil tersenyum kecil membumbui masakannya.
"Hah?, dimana?..., tapi aku tidak pernah melihatmu bertemu dengan suamimu?,apa dia sering datang kemari?...."
Anjani merasa bingung sendiri mendengar perkataannya
"Nona bahkan hampir bertemu setiap hari Nona...!"
"Aku istrinya Erik Nona,dia itu suamiku..., hubungan kita memang jauh!, tidak ada yang mengetahui kalau aku dan Erik itu suami istri, kecuali Anda dan Tuan Muda, kita memang sengaja menyembunyikan ini, agar orang-orang tidak tahu kalau kita ini suami istri!"
"Hah..., suami istri?"
Merasa tidak percaya, karena selain itu Anjani tidak pernah melihatnya dekat,ataupun berdekatan dengan Erik,
keduanya saling cuek, bahkan tidak bisa di tebak kalau mereka berdua ini adalah suami istri.
Melihat keduanya saling berbicara akrab pun sepertinya tidak pernah.
"Mungkin Nona tidak percaya!,tapi memang inilah kenyataannya....!"
"Bagaimana bisa begitu?, bagaimana bisa kalian berdua menyembunyikannya?"
"Bukan karena apa-apa Nona!"Sambil terseyum,Tita terlihat bungkam untuk masalah pribadinya.
Apa yang mereka sembunyikan?,
kenapa begitu....,
"Kenapa kalian saling jauh?, kalian saling mencintai kan?,..."
Melihat Tita yang hanya tersenyum membuatnya tidak berani bertanya lagi,
"Maafkan aku!, kenapa aku jadi bertanya-tanya tentang pribadimu!,maaf...!"
"Tenang saja Nona, tidak papa!"
Sebenarnya Tita ingin sekali berbicara tentang hubungannya dengan Erik, namun ia memilih untuk bungkam, karena ini adalah masalah pribadinya.
Anjani bingung harus mengatakan apa lagi kali ini, melihat suaminya yang keluar dari dalam kamar membuatnya menghentikan mulutnya yang akan berbicara lagi.
Dia sudah rapi..,apa dia mau berangkat kerja lagi ke restoran...,
__ADS_1
Apa dia benar-benar akan tetap bekerja di restoran itu,
Devino mendekat ke arah Anjani, Anjani masih merasa bersalah,ia juga akan berusaha untuk bersikap baik kepada suaminya saat ini.
"Kau mau minum?"Tanya Anjani yang melihatnya berjalan mengarah ke kulkas.
"E'..., Iyah"sambil menganggukkan kepalanya,lalu Anjani menarik tangan suaminya pelan dan menyuruhnya duduk.
"Duduklah!,akan aku ambilkan...!"Anjani berbicara lembut,ia langsung mengambil gelas dan mengambil air minum untuk suaminya.
Devino terdiam duduk, melihat istrinya yang bersikap seperti ini membuatnya tersenyum kecil.
"Kau akan kerja lagi?,kau yakin akan tetap kerja di situ?.."
Tanya Anjani pelan menatap suaminya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca itu sambil memberikan minumnya.
"Iyah...,aku tidak mungkin kan jadi pengangguran!, lagian aku juga sudah nyaman bekerja di situ!..."
"Kalau begitu..,aku akan berhenti kuliah!,aku tidak ingin menambahi beban mu!, aku juga ingin bekerja saja...!"
Devino terbelalak mendengar perkataannya,ia merasa kesal dan marah.
"Tidak boleh!,kau harus tetap kuliah dan fokus kuliah!,aku melarangmu bekerja,apa lagi jika kau sampai berhenti berkuliah!, jangan membicarakan tentang beban!, karena aku tidak sedang merasakan beban apapun!..."
Berdiri dari duduknya mendengar perkataan istrinya yang terus seperti ini membuatnya tidak nyaman dan meninggalkan minumannya.
"Tapi aku akan tetap bekerja!,aku tidak ingin melihatmu bekerja sendirian!...."Anjani, ikut berdiri mengikuti langkahnya, melihat para wanita yang menggodanya kemaren membuatnya kepikiran, mungkin ia merasa sedikit cemburu ataupun tidak rela jika suaminya di goda para wanita itu lagi.
"Kau tidak dengar apa yang aku katakan?, turuti perkataan suamimu!, apapun itu..!"Berbicara serius menatap Anjani.
"krekk..."
Suara pintu terbuka, pertanda Erik sudah siap juga dan muncul dari balik pintu kamar.
Apa dia juga tidur pisah ranjang dengan Tita,
tapi kenapa?...
Kenapa hubungannya seperti itu?..
Aku benar-benar penasaran,
"Dengarkan perkataan suamimu!, turuti apa perintah dan perkataan ku!,jika kau memang merasa bersalah, maka turuti perkataanku!,kau harus tetap kuliah,dan hanya fokus kuliah saja!, jangan bekerja!, karena kau adalah istriku sekarang..!,"
Anjani malah terdiam menatap Erik yang berjalan menghampirinya,ia terlihat tidak mendengarkan perkataan suaminya.
Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah keduanya ketika saling bertemu nanti,..
"Kau tidak mendengarkanku?"Devino yang merasa kesal melihat istrinya terdiam begitu saja.
"hm?,iy.. Iyah aku dengar kok!"memperhatikan Erik dan Tita diam-diam, keduanya hanya terdiam berpandangan tanpa berbicara apapun.
Mereka berdua hanya terdiam seperti ini, bagaimana bisa?, sudah begitu saja...?
tidak ada romantis-romantisnya sama sekali?..
berbicara pun tidak aneh sekali,
Sepertinya Anjani lupa dengan hubungannya sendiri yang sama-sama hambar itu, sehingga ia merasa gregetan dengan hubungan Erik dan Tita.
"Ingat itu!,Aku harus berangkat sekarang!"Menghabiskan minumnya dan akan berangkat bersama Erik.
"Kau tidak makan dulu?..."memperdulikan suaminya, sekaligus ingin melihat sikap Erik dan Tita saat berdekatan nantinya.
"Tidak, aku sudah telat!, ayo Erik kita berangkat..!"
"Baik Tuan Muda!"
Mereka berdua langsung membalikkan badan menunju ke arah pintu dan pergi begitu saja meninggalkan Apartemen.
Terdiam mengerutkan keningnya,Ia menatap Tita yang terlihat hanya tersenyum manis menatapnya.
__ADS_1
Membuat Anjani benar-benar tidak percaya kalau mereka berdua itu adalah suami istri.