My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Keadaan Papah 2


__ADS_3

"Lakukan yang terbaik untuk Papah ku Dok.."


Menatap lemah Ayahnya yang terbaring itu,ia di hantui akan kejadian tadi,dan tambah lemas lagi melihat keadaan Ayahnya yang seperti ini sekarang


"Tentu saja Tuan Muda,saya akan memberikan penanganan yang terbaik untuknya, mungkin memang sulit bagi kami untuk menyembuhkannya,tapi kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin demi Tuan besar"


"Lakukan yang terbaik,aku tidak ingin mendengar perkataan itu lagi, intinya sembuhkan Papah ku,maka akan aku berikan bayaran yang setimpal seperti yang kau inginkan..."


"Tut..Tut.. Tut.."Alat pendeteksi jantung dan pembuluh nadi masih terlihat sama, namun jika di lihat dari angka deteksi yang ia hasilkan sedikit membaiknya kondisi Tuan besar saat ini.


****


Kira-kira Papah itu kenapa?, semoga ia baik-baik saja dan tidak terjadi apapun padanya,


Anjani masih terdiam sesaat di atas ranjang, kemudian ia turun dan mendekat ke arah Dea.


"Dea...kau yakin kau tidak papa..?"


Setelah turun dari ranjang Anjani langsung duduk di dekat Dea yang duduk di sudut sofa itu.


"Aku tidak papa Nona..,ini hanyalah luka kecil.."


"Maafkan aku yah...."


"Berapa kali Anda harus meminta maaf Nona,ini membuatku tidak nyaman..."


"Kau baik sekali.."


"Kata kak Tita Nona juga baik..eh.., maaf.."Main ceplos aja nih mulut.


"Kau kenal Tita?"


"Iyah tentu saja Nona,aku adalah adik iparnya.."


"Berarti kau adik Erik?"


"Iyah Nona,betul sekali.."


"Tapi kenapa kau harus memanggil Erik pak?"


"Tidak papa Nona, biar terlihat asing saja.."


"Kau sangatlah pemberani, sikapmu juga mirip sekali seperti Tita.."


"Hehe.. jangan berlebihan Nona,aku jadi malu kan.."

__ADS_1


Untuk menghilangkan rasa canggung dan sunyi di ruangan ini keduanya saling berbicara untuk mendekatkan diri satu sama lain.


Sementara para pengawal yang ada di ruangan ini benar-benar terdiam seperti patung yang benar-benar berjaga dengan hikmat.


"Sebenarnya aku tidak nyaman jika banyak pengawal seperti ini, rasanya sedikit seperti tahanan, namun bukan tahanan yang ada di penjara, hanya saja aku jadi grogi sendiri jika harus beraktifitas kesana kemari.."


Anjani mulai berbisik kepada Dea yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Ini demi keselamatan Anda Nona, lebih baik seperti ini, lakukan apapun sesuka Anda Nona, anggap saja Nona sedang sendirian..."Hanya bisa tersenyum dan mengatakan hal ini kepada Nona mudanya itu.


"Ee'...mau sampai kapan kalian akan berdiri?, duduklah di sofa,jika kalian bersikap seperti ini,ini benar-benar membuatku tidak nyaman!"Berbicara menghadap ke arah pengawal yang berjaga dan berdiri di ruangan ini sejak tadi.


"Tapi Nona kita ini..."


"Jangan membantah perintahku juga,aku tidak suka itu, duduklah..,aku mohon, lagian yang di perlukan kalian adalah tajamnya mata kalian saat memantau bukan?,maka kalian cukup dengan duduk saja,tak usah berdiri,ini juga bukan upacara hehe... "


Ketiga pengawal pribadinya ini langsung menundukkan kepalanya dengan hormat sambil terseyum juga, lalu mereka segera duduk di sofa.


"Beritahu yang di depan juga, suruh mereka duduk jangan berdiri,jika suami ku menanyakan hal ini, bilang saja aku yang menyuruhnya..!"


"Baik Nona.."


Seumur hidupku aku belum pernah menjadi pengawal dan berjaga sambil duduk,kenapa Nona muda yang satu ini benar-benar baik sekali..


aku benar-benar tidak tahu lagi harus mengatakan apa sekarang,


Salah satu pengawal langsung keluar ruangan untuk memberitahukan perintah Nona mudanya ini kepada penjaga yang bertugas di depan ruangan.


*****


"Dev...Devino..."Panggilan yang sangat lembut keluar dari mulut Tuan besar yang tampak berkutik dari pingsanya.


Kemudian di susuli dengan kedua jemari tanganya yang mulai berkutik dan bergerak-gerak, sepertinya Tuan besar akan segera sadar dari pingsanya.


"Apa Papah akan segera sadar Dok?"


Menatap sang Ayah dengan penuh harapan yang begitu besar, karena Devino ingin sekali melihat Ayahnya segera sadar dari pingsannya.


"Sepertinya Tuan Muda,Coba anda genggam tangan Tuan besar, siapa tahu bisa menumbuhkan sinyal dan perasaan batin seorang anak kepada sang ayah lewat tanganya.."


Entah apa yang di katakan dokter itu, Intinya Devino sendiri tahu akan maksud dan perkataanya itu.


Dokter segera menyiapkan alat medis kembali,lalu disusul dengan kedua suster yang menemani dokter itu untuk memberinya penanganan.


Akhirnya beberapa menit setelah melakukan penanganan dan memancing detak jantungnya yang semula melemah itu,kini kembali normal dan Tuan besar pun mulai tersadar dan membuka matanya kembali.

__ADS_1


"Papah.."Panggilan lembut seorang anak yang terdengar begitu bahagia menyaksikan ayahnya yang terbangun dari pingsanya itu.


"Devino...."Tuan besar tampak tersenyum kecil sambil menatap Devino dengan mata yang masih membuka tutup itu karena belum terlalu pulih.


"Papah..,apa Papah baik-baik saja?,hiks..hiks.., kenapa Papah tiba-tiba seperti ini?,apa yang telah Devino lakukan?, sampai Papah seperti ini sekarang..., maafkan Devino Pah.., maafkan Devino... Devino terlalu sibuk dengan urusan Devino sendiri..."Memeluk Ayahnya dengan begitu lembut dan kesedihan yang sedang menyelimutinya sejak tadi.


"Devino.., apa yang kau katakan?, dengarkan Papah.., Papah baik-baik saja, tenanglah.."


Mungkin umurku tidak akan lama lagi putraku,


tapi aku hanya ingin melihat cucu-cucu ku yang lahir nantinya ke dunia ini, termasuk anakmu yang akan menjadi penerus perusahaan nantinya, aku harus berusaha bertahan..,


Sehatkan hamba ya Allah..,


"Dimana Anjani?..."


"Anjani...diluar Pah, tenanglah,ia juga sedang menanti kesadaran papah.."


Untuk beberapa waktu kedepannya jika keadaan Tuan besar semakin membaik maka ia akan segera di pindahkan ke ruang pasien biasa,buka ICU lagi.


*****


Kurang lebih Tiga jam Anjani mengunggu kembalinya suaminya ke ruangan,ini sungguh lama sekali,terlebih mereka semua tidak memiliki kegiatan.


Makanan dan cemilan pun perlahan habis, karena Anjani merasa ingin ngemil dan makan terus.


"Anjani..."Panggilan Devino yang tiba-tiba memasuki ruangan ini bersama Erik.


"Sayang.., bagaimana keadaan Papah?,apa dia baik-baik saja?, keadaannya sudah membaik kan?"


"Alhamdulillah sudah,ia akan segera di pindahkan ke ruang pasien biasa"


"Syukurlah,aku boleh menjenguknya kan?"


"Iyah boleh,Nanti yah.."


"Kau lapar...?, kenapa kau lama sekali..?"Bertanya sambil menunjukan sebuah potong kue yang belum Anjani sentuh itu kepada suaminya.


"Tidak,aku tidak lapar.., maaf membuatmu menunggu lama,kau pasti pengin makan kan,kau lapar kan?"


"Tidak,aku sudah kenyang, sejak tadi aku juga makan buah-buahan, makanlah kue ini sayang..!,aku tahu kau belum makan apapun sejak tadi,aku mohon makanlah, jangan tidak makan..."


Melihat suaminya yang terlihat begitu lemas membuatnya tidak nyaman dan ingin sekali membuatnya untuk terseyum cerita seperti biasanya.


Tapi memang keadaan lah yang membuat suasana ini tercipta seperti ini.

__ADS_1


Setelah Tuan besar di pindahkan ke ruangan biasa, Akhirnya Anjani dapat menjenguk ayah mertuanya bersama suami tercintanya itu.


Terlihat juga para anggota keluarga yang hadir dan berada di situ, sikap mereka tetap sama, berpura-pura baik dan saling menyapa.


__ADS_2