
"Sayang... muach"
Devino menatap dan terus mengelus-elus perut istrinya lembut.
Sesekali ia memberikan kecupan hangat disana.
Perut yang terlihat membesar membuatnya semakin tidak sabar untuk menjadi seorang Ayah.
"Hemm..."Menatap suaminya lekat sambil mengelus kepalanya.
Devino juga terlihat sangat mager,ia tidur sambil memeluk dan mengelus-elus perut istrinya di pagi hari.
"Kapan anak kita lahir?,aku sudah tidak sabar untuk menjadi seorang Ayah dan menggendong anak..."Sambil menempelkan jemari tangannya di atas perut sang istri, sepertinya ada yang bergerak-gerak di dalam,hal ini yang membuatnya terus mengamatinya dengan amat sangat.
"Wah,dia bergerak begitu kencang,apa dia sedang memanggil Papahnya"Menempelkan telinganya ke perut istrinya, seolah-olah ia benar-benar ingin mendengar suara dari dalam perut istrinya itu dari anaknya.
"Apa yang kau lakukan..?"Terseyum menatap suaminya yang terlihat begitu serius mendengarkan apa yang sedang ia dengar.
"Aku tidak mendengar apapun, sepertinya hanya cacing perutmu saja yang bergema,apa kau lapar.. hehe?"
"Apaan sih..."Mencubit hidung suaminya yang mancung itu.
Devino masih terdiam di atas perutnya,ia benar-benar tidak berkutik sejak tadi.
"Aku jadi bingung, bagaimana rasanya jika ada yang hidup di dalam perut kita?,Ayo sayang ceritakan,apa yang kau rasakan saat anak kita bergerak-gerak di dalam?"
"Apaan si Dev?, jangan aneh-aneh deh, tentu saja aku tidak bisa menjelaskannya, hanya seorang ibu yang dapat merasakan hal ini..."mengelus kepala suaminya kembali dengan lembut.
"Iya..iya aku tahu..,bulan ini bulan masuk kelahiranmu kan sayang... Muach..."memberi kecupan hangat di lehernya sesekali.
"Iyah, tentu saja sebentar lagi, tenanglah hanya tinggal menghitung hitungan hari kan?,aku juga sama sepertimu, aku juga tidak sabar menunggu anak kita lahir"
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, bahkan di setiap harinya keduanya selalu menghabiskan waktu dengan cara-cara yang romantis dan penuh kebersamaan.
Walaupun kadang Devino selalu di sibukkan dengan urusan kantornya,ia selalu tidak betah dan langsung cepet pulang setiap kali selesai berkerja.
Bahkan ia selalu pulang terlebih dahulu sebelum pekerjaannya selesai,ia selalu menyelesaikan pekerjaannya di rumah bersanding dengan istrinya dan ini lah yang membuatnya merasa lebih nyaman.
Hingga saatnya bulan kelahiran pun tak terasa dengan cepat sudah tiba begitu saja.
Rasa lelah yang dirasakan setiap ibu hamil akan selalu menghilang dengan obat penantian dan harapan agar sang anak segera lahir ke dunia ini.
__ADS_1
Setiap ibu hamil pasti merasakan lelah yang begitu luar biasa,selain merasa berat badan semakin naik dan berat untuk melangkah kan kakinya kemanapun ia melangkah, namun semakin besar juga rasa dan harapan ini agar anaknya itu segera lahir ke dunia.
Mengelus,meraba,membelai dan mendo'akan di setiap pagi hari selesai beribadah.
Berjemur setiap kali mentari telah menyambut dan bersinar cerah di pagi hari, begitu lah yang biasa di lakukan oleh perempuan hamil.
Bahkan untuk Anjani sendiri lebih sering terdiam menatap jendela keindahan kamarnya yang memperlihatkan kesempurnaan lingkungan sambil mengelus-elus perutnya,rasa penantian ini sungguh tidak sabar dan ingin sekali melihat kehadiran-nya dengan secepatnya.
"Tapi aku yang sangat takut jika kau akan melahirkan aku nanti"
"Bagaimana bisa kau yang merasa takut sedangkan aku yang akan melahirkannya?"Terseyum menanggapi suami ini.
Kehadiran Devino seakan-akan adalah malaikat di setiap waktu.
ia juga bukan hanya malaikat,tapi ia juga termasuk penenang jiwa yang selalu hadir di dalam jiwa dan raganya.
"Anjani..., maafkan aku.."
Tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan suaminya ini. Ia tiba-tiba meminta maaf dan terlihat begitu lemas, bahkan berdiri dari tidurnya pun tidak.
"Maaf untuk apa sayang..?, kenapa kau tiba-tiba meminta maaf?"
"Maaf untuk semuanya, selama kau menikah denganku,aku belum pernah memberikanmu kebahagiaan sepenuhnya, bahkan dari awal pernikahan kita hanya di penuhi dengan masalah dan cobaan, maafkan aku...aku belum pernah membahagiakanmu,aku juga belum pernah mengajakmu jalan-jalan ataupun berbulan madu..,ya kan?"
Semakin tidak mengerti dengan perkataan suaminya yang tidak penting ini.
Jalan-jalan ataupun hura-hura dan berpergian jauh bukanlah keinginan ataupun hal yang diinginkan Anjani.
Ia tipe yang sederhana,apa adanya dan biasa saja,ia juga tidak suka lebih ataupun berlebihan seperti menghamburkan uang.
Kehadiran suaminya di sampingnya setiap hari adalah hal yang paling indah dan paling membuatnya bahagia.
"Ini semua tidak aku impikan, jangan memikirkan hal-hal seperti ini, justru Aku merasa kau sudah memberikan segalanya untukku, janganlah berlebihan sayang, kenapa aku berpikiran dan meminta maaf seperti ini?"
"Aku ingin mengajakmu pergi dan bersenang-senang,aku ingin kita berpacaran layaknya seorang remaja, aku ingin membahagiakanmu sepenuhnya.."
"Hust....,apa yang kau katakan sayang?"memegang kedua pipi suaminya sambil menatapnya lekat.
Kau tahu Dev,kau sudah memberikan segalanya yang kau punya untukku,
Hidupmu, harga diri, kebahagiaan dan kenyamanan pun engkau tinggalkan demi aku, itu semuanya pengorbanan mu,itu begitu besar bagiku, bahkan melebihi dirimu sendiri,kau tidak pernah memikirkan dirimu hanya untuk diriku saja,
__ADS_1
kau tahu sayang,kau tak pantas meminta maaf,aku lah yang seharusnya meminta maaf kepada mu.
"Seharusnya aku yang meminta maaf,semua pengorbanan besar kau berikan kepada diriku sepenuhnya, terimakasih atas semuanya... muach.. muach.. muach"mengecup bibir suaminya berulang-ulang.
"Kau tahu?, kehadiranmu di sepanjang hariku itu rasanya sudah seperti bulan madu setiap hari bagiku, karena apa?, karena kau lah alasan aku hidup bahagia sayang...,dan karena kau lah yang selalu membuatku senang dan tentaram,aku hanya membutuhkan kehadiranmu yang selalu ada di sisiku sayang, selamanya, sudah hanya itu saja..."
"Tapi apa kau tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk berbulan madu denganku?"
"Tentu saja mau,tapi bukan sekarang kan?, lagian kita akan segera punya anak, pastinya kita akan sibuk mengurus anak kita nantinya"
"Rasanya aku ingin sekali berpacaran denganmu,aku ingin mengajakmu berkencan layaknya pasangan remaja,ayo kita berpacaran seperti remaja sekarang, yang di penuhi dengan banyak gaya dan tingkah ini itu.."
"Apaan si Dev,kau ini sedang apa sayang?,kita itu bukan pacar lagi,tapi lebih dari sekedar pacar,kita itu suami istri kan,kita bisa lebih melakukan apapun dari sekedar pacar..."
"hmm..kau maunya yang lebih-lebih yah?"menyelipkan tangannya ke pinggang Istrinya, lalu menyelusup masuk ke dalam, terserah kemana tangan itu pergi, yang jelas ia akan main sesukanya.
"Ihhh... apaan si"Merasa geli.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,kau mau?"
"iya..iya baiklah!, lebih baik sekarang kita pikirkan pekan ini kita akan pergi kemana, emang mau jalan kemana?"
"Ke tempat senam,aku akan menemanimu pergi ke tempat senam hamil hari ini, bagaimana?,kau mau kan?,ini demi kesehatan bayi dan ibunya kan agar lebih bugar?"
"Iya..iya baiklah"Beranjak berdiri dari duduknya, seolah-olah Anjani akan langsung siap dan berangkat sekarang juga di pagi hari ini ke tempat senam itu.
Tapi tangan itu langsung menggelayut dan menyangkut begitu saja di tangan Anjani, membuatnya terdiam dan terhenti dari langkahnya yang akan pergi meninggalkan ranjang tempat tidurnya itu.
"Kau mau kemana?"Menarik tangannya dengan lembut namun berpegangan erat,ia melarang istrinya untuk pergi meninggalkannya.
"Aku hanya akan siap-siap sayang"
"Sudah, nanti saja!, aku saja masih ngantuk?,ayo kita tidur lagi,aku ingin memelukmu dengan erat dan hangat pagi ini
"Ih..Apaan si.."
"Anjani!"Yang mulai kesal karena Anjani belum juga naik ke atas ranjang.
"Iya..iya sayang,baiklah"
langsung saja naik ke atas ranjang dan memeluk suaminya dengan gemas.
__ADS_1