
Tak terasa waktu sudah hampir pagi,
Devino terbangun dari tidurnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Melihat istrinya yang masih pulas memejamkan matanya membuatnya terdiam memandangnya sebentar.
Kenapa dia terlihat manis saat tidur,
kenapa aku senang sekali melihatnya tertidur begini..
Terseyum dan segera beranjak dari tidurnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepertinya Devino akan pergi pagi hari ini,dia juga terlihat terburu-buru.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Devino langsung mengemasi barang-barang lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya.
Anjani benar-benar anteng tidak bergerak, mungkin tidurnya kali ini terasa lebih nyaman dari hari-hari sebelumnya.
Tanpa pikir panjang Devino langsung mengambil roti tawar, selai dan susu untuk istrinya sarapan pagi saat ia terbangun nanti.
Karena ia sedang terburu-buru jadi ia segera pergi meninggalkan kamarnya untuk berangkat kerja.
Setengah jam berlalu, matahari sudah semakin bersinar cerah, sinar-sinar hangatnya mulai memasuki ke celah-celah kamar.
menembus tingginya kaca yang di lapisi dengan tirai- tirai transparan di dalam kamarnya.
Membuat Anjani terbangun dari tidurnya, melihat suaminya yang sudah tidak ada di atas ranjang membuatnya bingung mencarinya ke kamar mandi.
"Dia kemana?, kenapa dia tidak ada?,apa dia sudah bangun sejak tadi?"
Langsung menghampiri ruangan ganti,tapi tetap sama suaminya tidak terlihat,ia duduk di atas ranjangnya kembali dan duduk di pinggiran ranjang, melihat susu, roti dan selai yang tertata rapi di meja kecilnya membuatnya mendekat.
Ia melihat sepucuk kertas yang terlipat disitu,dan mencoba membacanya.
"Aku pergi karena ada urusan kantor diluar kota!, mungkin aku akan kembali besok atau lusa!, Rotinya jangan lupa dimakan, susunya juga jangan lupa di minum!,jaga kandungan dan kesehatan mu baik-baik!,jaga diri di rumah!, salah satu pelayan akan masuk ke kamar untuk menemani dan melayani mu sepenuhnya!, bilang saja padanya!, jika kau membutuhkan sesuatu yang kau inginkan!".
Kenapa aku merasa sangat kesal setelah mengetahuinya pergi begitu saja...
kenapa dia tidak bilang dari semalam jika ia akan pergi,
aku tidak punya siapapun kecuali dirinya,
lalu bagaimana aku menghadapi keangkuhan keluarganya nanti?.. jika ia pergi begini..
Meletakkan kertas itu dengan wajah kusutnya di atas ranjang,
"Thok.. Thok.. Thok..."Tak lama seseorang datang dan mengetuk pintu kamarnya.
"Permisi Nona!"menundukkan kepalanya.
"syukurlah anda sudah bangun!"
salah satu pelayan yang di maksud Dev datang juga untuk menemaninya.
"Apa kau yang bertugas untuk menemaniku kali ini, siapa namamu?"
"Betul sekali Nona, Tuan Devino yang menyuruhnya!, nama saya Tita Nona!"
"Tita?"
"Iya,tapi kenapa sarapannya tidak di makan Nona?,jika tidak!,Tuan Muda akan memarahiku nanti!"
"Benarkah?,dia berbicara seperti itu kepadamu?"
"Iya Nona, karena pekerjaan ini sangat berat jadi saya yang harus bertanggung jawab!"
"Bagaimana bisa seperti itu!,baiklah aku akan membersihkan diri dulu!, setelah itu baru makan!,jika terlalu pagi perutku masih terasa enek...!"
"baiklah kalau begitu saya akan membereskan kamar Anda!"
Anjani segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Tita langsung bertugas membereskan kamar Majikanya yang terlihat berantakan ini.
*****
"Apa Devino sudah pergi?"Tanya Nyonya Besar yang sedang mengambil minuman di dalam kulkas kepada ketua Pelayan yang terlihat sedang mencatat barang-barang.
kedua orang ini sedang berada di dalam ruang makan.
"Sepertinya iya Nyonya, tadi pagi saya melihatnya membawa tas bersama Erik menuju ke mobil!"
"Apa wanita itu ikut dengannya?"
__ADS_1
"maksudnya siapa Nyoya?"Ketua Pelayan yang merasa bingung.
"Bodoh!, siapa lagi kalau bukan istrinya?"
"Oh, sepertinya tidak,saya tidak melihatnya ikut!"
"Baiklah!, lanjutkan pekerjaanmu dengan baik!"
Nyonya besar pergi meninggalkan ruangan makan, entah apa yang sedang di pikirannya,dia terlihat tersenyum sinis.
Aneh sekali,
sepertinya seluruh keluarganya tidak ada yang menyukai Anjani,tapi kenapa?,
kenapa pernikahan berlangsung dan di rayakan waktu itu...
aku benar-benar penasaran!..
Mengetuk-ngetuk bolpoin yang sedang ia pegang sambil berpikir keras karena penasaran dengan kehidupan keluarga ini yang di penuhi dengan tanda tanya,
terlebih Kehadiran seorang menantu yang berasal dari seorang pelayan, sungguh aneh pikir Ketua Pelayan sambil meninggalkan ruangan.
Setelah selesai mandi Anjani langsung duduk di sofa kamar,
ia menikmati sarapannya,tak lupa dengan minuman susu buatan suaminya ia meminum hingga habis.
Masih menatap ke layar ponsel,ia terlihat menunggu kabar dari seseorang,apa kah yang ia tunggu adalah kabar dari suaminya, sepertinya,
Kenapa dia tidak mengirim pesan kepadaku,apa dia begitu sibuk,
Aku hanya bosan dan bingung di rumah ini, kegiatan apa yang harus aku lakukan,
sedangkan keluar ruangan saja aku tidak bisa berdiri tegak untuk berjalan..,
"Apa yang anda pikirkan Nona?,apa anda sedang merasa mual?"
"tidak!, aku tidak papa?,kau sudah lama bekerja disini?"
"Tidak juga Nona, kurang lebih dua tahun!"
"Kau tidak membenciku?"
Tanya Anjani sambil menikmati roti tawarnya kembali.
"Tapi semua orang membenciku di rumah ini!, kenapa kamu tidak?,bukankah semua orang yang membenciku sekarang..juga aku tidak melakukan kesalahan kepada mereka!"
"Hidup ini memang terlalu rumit Nona, percayalah!,orang yang baik itu memang lebih sering di benci orang!"
"Benarkah?, bagaimana bisa begitu?"
"Karena persaingan, semua orang pasti berlomba-lomba untuk mendapatkan julukan kebaikan,baik di sanjung maupun di puji banyak orang, bukankah pujian itu menyenangkan Nona, jadi semua akan bersaing demi mendapatkan pujian itu"
Anjani terdiam mendengarkan perkataan pelayan ini.
"Semisal orang kaya,ia tidak ingin namanya tercoreng hanya kerena bergaul dengan orang miskin, karena mereka akan mendapatkan cemooh bukan pujian!,jadi mereka semua membenci anda karena anda baik, dan demi menginginkan pujian dan menjauhi cemoohan, mereka semua membenci anda!, bukankah begitu!"
"Iya aku mengerti apa maksud perkataanmu!"
"Cklekk!"Tiba-tiba pintu terbuka dan memotong pembicaraan keduanya.
mamah,
"Hai Anjani,apa mamah boleh masuk!"Suara ibu mertua terlihat lembut tidak seperti biasanya.
Aneh sekali, kenapa bicara tidak se-galak yang kemaren..
"Oh.. tentu saja mah!, duduklah!"
Nyonya besar langsung duduk di samping Ajani, namun perasaan Anjani masih terasa aneh dan tegang.
"Apa kau bisa pergi dari sini!, tenang saja!,aku hanya ingin berbicara dengan menantuku sebentar!"
Bicara Nyonya besar masih terdengar lembut menghadap ke arah pelayan itu.
"Tapi Nyonya Tuan Muda melarang ku untuk..."
"meninggalkan Anjani!, tenang saja aku tahu itu!,aku hanya ingin berbicara dengan menantuku!, jadi jangan lancang!, dan pergilah!"
Pelayan itu menatap Anjani merasa bingung, Namun senyuman Anjani dan anggukannya membuatku keluar dari ruangan kamarnya.
Keduanya masih terdiam,Anjani merasa begitu canggung dengan ibu mertuanya yang tidak merestuinya ini,ia merasa aneh sekali,kenapa dia tiba-tiba bersikap baik.
__ADS_1
"Apa kau sehat?"Tanyanya lembut
Aku tidak bermimpi kan,
Anjani terdiam seperti patung karena tidak percaya.
"Mamah tanya kepadamu Anjani!,jadi jawablah!"membelai rambut menantunya sesekali, membuat Anjani merinding.
"Iy.. Iya.. iya.. aku sehat mah!"hanya bisa menggigit bibirnya kelu.
"kau adalah menantu di keluarga ini!, jadi...Ayo kita makan bersama!, semuanya sudah menunggu di ruang makan!"
Membelai kepala menantunya dengan lembut lagi.
Apa yang sudah merasukinya...
"Ta.. tapi?"
"Tidak ada penolakan bagi menantu di sini!"langsung menggandeng tangan menantunya dan mengajaknya keluar ruangan,ia bahkan menggandeng tangan Anjani dengan lembut menuju ke meja makan.
Ada apa ini,apa dia benar-benar bersikap baik kepadaku...
Anjani terdiam mengikuti langkah ibu mertuanya.
Mamah, apa-apaan ini, kenapa mamah menggandeng wanita itu..
Diva yang menatap sinis keduanya,ia merasa kaget dengan sikap mamahnya.
Apa mamah tidak waras,apa yang mamah lakukan,
Daniel pun ikut merasa kesal tidak terima.
Semetara Tuan Besar terdiam, karena ia sudah merasa begitu malas untuk berbicara,terlebih membahas tentang menantunya.
"Ayo Anjani duduklah!,kita makan bersama!"menyuruh menantunya untuk duduk.
"Apa yang Mamah lakukan?"Bisik Diva kesal.
"Diam, karena inilah yang terbaik!"jawab ibu dengan singkat dengan muka datarnya.
Semua orang sudah menyentuh piring makanya masing-masing, hanya tinggal Anjani yang masih terdiam kaku menatap makanan.
"Apa yang kau lakukan Anjani!, Makanlah!"perintah ibu dengan senyuman manisnya.
"Iyah mah!"
Dengan sedikit gemetaran Anjani mengambil piring dan menu makanannya, walaupun ini terasa begitu aneh tapi ia tetap saja tidak bisa menolak perintahnya.
Semuanya makan makanannya dengan diam dan menikmati,
tidak ada yang berbicara ataupun bergurau di meja makan, semuanya benar-benar terlihat menikmati makanannya masing-masing.
Tak terasa, hingga waktu makan bersama telah usai.
"Untuk para pelayan kemarilah!"
para pelayan yang mendengar teriakkan Nyonya besar langsung datang berbondong menghampirinya.
Sementara semua orang masih terdiam duduk termasuk Anjani.
"Semuanya dengarkan baik-baik!"Suaranya yang sudah mulai tegas kembali.
"Kali ini kalian tidak perlu membereskan peralatan makan dan perabotnya!, karena ada menantu yang paling baik disini..!, biarkan dia saja yang membereskan semuanya nanti!".
Anjani terbelalak mendengarnya,ia terdiam menatap ibu mertuanya yang sedang berbicara itu.
"dan ingat!, aku peringatkan kepada kalian semua!, tidak usah ada yang membantunya, karena dia sedang sehat!, tidak sakit!, bukankah begitu Anjani?"
Begitu sakitnya Anjani setelah mendengar segala perintah dan ucapan Ibu mertuanya,
Ia bukanya merasa keberatan untuk melakukan tugas ini, tapi dengan sikap baik dan pertanyaan pedulinya tadi, membuatnya begitu tertusuk, hanya karena ingin mempermainkan perasaanya.
"Iya tentu saja!,aku tidak keberatan!"
Jawab Anjani tenang, walupun sebenarnya ia sedang menahan air mata yang ingin sekali keluar dari kelopak matanya.
"Baguslah!, ini baru menantuku!"Senyuman sinis ibu mertua sambil berjalan meninggalkannya.
Terpancar juga senyuman kebahagiaan bagi Daniel dan Diva yang ikut pergi meninggalkan ruangan, sementara Tuan Besar tidak berkomentar ataupun bergeming dari mimik wajahnya yang datar itu,ia juga pergi meninggalkan ruangan makan.
Nyonya besar, benar-benar keterlaluan,
__ADS_1
Tita yang mengawasinya dari kejauhan langsung merasa geram sambil mengepalkan tangannya.