
Terdapat suasana di salah satu ruangan yang terlihat sunyi dan menegangkan ini,
kepalan tangan mencengkram karena kemarahan salah satu lelaki itu sambil menatap putranya.
"Kau bodoh!,kau tidak bisa mengurus perusahaan dengan benar?, bagaimana pendapatan bulan ini menurun drastis dari pendapatan bulan lalu!"
"Seharusnya data-data dan grafik yang kau berikan kepadaku menunjukkan angka peningkatan dan pengembangan yang begitu hebat!,bukan mengecewakan seperti ini!"
Tuan besar terlanjur emosi dan mencengkram erat kertas yang sedang ia baca itu.
Deniel hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya tidak berani menjawab perkataan Tuan besar yang terlihat marah-marah itu, jangankan menatapnya melihat mata Tuan besar saja Daniel merinding.
"Selama perusahaan di urus dan di pegang oleh Devino, setiap bulannya selalu ada peningkatan,dan perusahaan ini tidak pernah ada penurunan balik di bidang apapun!"
"Tapi kau, entah apa yang kau lakukan, bagaimana bisa seperti ini!"mengatur nafasnya
perlahan untuk meredam emosinya pada Putranya ini.
"Daniel sudah melakukan yang terbaik dan sebisa Daniel Pah!"menjawab santai.
"Tidak Daniel!, apa yang kau Daniel!,apa yang kau kerjakan di kantor?, bagaimana bisa seperti ini?,apa kau hanya bermain-main?"Bentak Tuan besar yang terlihat begitu marah kepada Daniel
"Pah, Daniel sudah berusaha sebisa Daniel, tapi papah hanya bisa membandingkan Daniel dengan Devino!, Papah tidak pernah menghargai apapun yang di lakukan Deniel!"
"Kau tidak pernah bersungguh-sungguh dalam bekerja!,kau selalu mengambil sikap santai dan menganggap enteng semua pekerjaan, buktinya ini, inikah yang aku lakukan, memberi agenda dan tanda-tanda tentang penurunan pendapatan perusahaan hah?, brakk..."Tuan besar sudah membanting dokumen itu.
"Terserah Papah mau bilang apa!, yang penting Daniel sudah berusaha!,tapi Papah memang tidak pernah menghargai usaha Deniel,jika Papah lebih percaya Devino maka suruh dia pulang dan mengurus perusahaan, Daniel sudah muak dengan semua ini, Papah selalu selalu pilih kasih dan membandingkan Deniel dengan Devino!"
Deniel yang terlihat marah balik dan pergi meninggalkan ruangan begitu saja.
"Daniel!"Teriak Tua besar yang begitu marah melihat kepergian putranya Daniel yang meninggal ruangan begitu saja.
Daniel tidak menggubrisnya,ia terus berjalan cepat melangkah ke depan tanpa menjawab panggilan dari Ayahnya yang terlihat marah itu.
Sementara Tuan besar kali ini terlihat pusing dan hanya terdiam menyerah,
melihat kepergian putranya saja membuatnya pasrah dengan raut wajah yang begitu kesal itu.
"Lihat putraku yang satu ini!,dia tidak pernah merasa bersalah!jika aku menegurnya seharusnya dia bangkit dan usaha lebih keras lagi, tapi ini apa?,...dia malah menyerah begitu saja!,dia benar-benar tidak pernah bersungguh-sungguh dalam mengurus apapun!"
Mengepalkan tangannya merasa begitu kesal kali ini.
Hanya Devino yang selalu cekatan dan becus dalam mengurus perusahaan,
Jika begini terus, perusahan ku yang akan bangkrut nantinya.
Tuan besar, tidak tahu lagi harus berkata apa,jika bulan depan terjadi penurunan data pendapatan perusahaan lagi, maka tidak adanya pilihan lain lagi jika putra pertama harus kembali ke rumah dan mengurus perusahaan seperti sedia kala.
Waktu sudah hampir menjelang sore,
Tuan Muda dan Erik sedang berada di sebuah ruangan belakang restoran yang tampak sepi itu.
__ADS_1
Keduanya menatap Manager dengan diam.
"Aku rasa kalian berdua harus keluar dari restoran ini hari ini jugalah!, karena kalian sudah membuat kekacauan dan keributan hari ini, kalian juga sudah merusak suasana restoran yang adem ini menjadi panas!,Jadi maaf!, atas perintah dari pemilik restoran yang lebih berwenang ini, saya memecat kalian berdua dari sini sekarang juga!"
Manager yang terlihat berbicara serius menghadap ke Tuan Muda dan Erik yang duduk terdiam itu.
"Tak ada kesempatan?"Erik yang terlihat lemas itu.
"Tidak ada!, semua ini adalah perintah, tidak bisa di tentang ataupun di lawan!"
Keduanya hanya terdiam menunduk mendengar ucapan sang Manager, namun mereka bisa apa, mereka hanya terdiam berpikir bagaimana mereka mencari pekerjaan lagi.
"Apa Mamahku yang menyuruhnya?"
Firasat Tuan Muda,ia sudah menduga ulah siapa lagi jika bukan ibu kandungnya.
"Jika Anda sudah mengerti maka pergilah!, kalian sudah membuat restoran ini mengalami kerugian hari ini!"
"Aku tahu!,aku yang akan membayarnya!"
Berdiri dari duduknya,ia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, namun hati Tuan Muda benar-benar sudah merasa begitu kesal hari ini,atas kedatangan Nyonya besar ibunya itu sudah membuatnya kehilangan pekerjaan dan di pecat dari restoran.
"Apa yang akan kita lakukan Tuan Muda?"Erik ikut merasa sedih dan kesal dengan Nyonya besar.
"bayar kerugiannya!,kita pulang ke Apartemen sekarang!"
Devino yang sudah terlihat begitu lemas dan tak bersemangat.
Setelah mengurusi urusan restoran keduanya langsung bergegas pulang ke rumah dan mengambil mobilnya yang di parkiran di parkiran sebrang restoran ini.
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini?,aku harus bekerja apa?, pastinya semua restoran juga akan di datangi Mamah dan di ancam kan?"
Menggerutu di dalam mobil sambil memegangi keningnya, Tuan Muda sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
"Kita pikirkan nanti Tuan Muda!,kita akan sama-sama cari solusi untuk masalah ini!"
Erik hanya bisa berkata ini untuk menenangkan hati Tuan mudanya,ia juga merasa bingung.
Kali ini ia hanya fokus menyetir untuk keselamatan dirinya dan Majikan kesayangannya itu.
*****
"Brakkk..."
lemparan tas di atas sofa yang Nyonya besar hempaskan begitu saja.
Ia terlihat sangat marah dan kesal akan putranya.
"Kenapa putraku yang selalu nurut itu menjadi lancang begini!,aku tidak tahu lagi harus berbuat apa!, wanita mana lagi yang dapat aku percayai untuk bisa merebut hati Devino!"
"Apa si menariknya Anjani!, bagaimana Devino lebih memilih wanita murahan itu ketimbang kehidupannya sendiri!,aku benar-benar merasa pusing!"
__ADS_1
"Aku harus segera mencarikannya wanita yang pantas untuk Devino!
"Ada apa mah?"
Diva yang mendengar suara ibunya yang terdengar marah-marah dari luar membuatnya mencoba memasuki ruangan kamar untuk menemui ibunya.
"Ada apa lagi jika bukan keras kepalanya kakakmu!,aku tidak mengerti bagaimana membuatnya mengerti dan menyuruhnya pulang ke rumah untuk meninggalkan wanita itu!"
"Jika kak Devino memang menyukai Anjani kita bisa apa mah!, percuma mamah menyuruh kan Dev pulang sekarang!, satu-satunya cara hanyalah menerima kakak Ipar!,itu yang hanya bisa membuat ka Devino pulang mah!"
"Kau!, bukannya memberi solusi malah mendukung"Nyonya besar tidak terima dengan ucapan putrinya,ia merasa semakin kesal mendengar ucapan putrinya ini.
"Itu karena aku menyayangi kakak mah!, yang bersikap baik dan memperhatikan Diva selama ini hanyalah kak Devino, bukan mamah dan Papah!"
"kalian selalu sibuk sendiri dengan urusan dunia, tidak seperti kak Devino yang selalu memperhatikan ku!"
Mengingat kebaikan kakaknya yang selama ini menyayangi Diva dengan baik membuat Diva tidak bisa kehilangan kakaknya.
Devino selalu mengajak Diva jalan-jalan di akhir pekan,ia selalu melindungi adiknya yang cantik ini dari kejahatan para pria yang mendekatinya.
Setiap sepulang kerja Devino juga sering sekali membelikan makanan dan cemilan kesukaan Diva.
Ia selalu menyayangi Adiknya sepenuh hati. Saking baiknya Devino membuat Diva merasa bahwa Devino adalah sosok seorang Ayah baginya.
Berbeda dengan sikap Tuan besar yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri,ia juga jarang berbicara ataupun mengobrol dengan putrinya.
Apalagi bercanda gurau dengan putrinya tentu saja tidak, karena Tuan besar tipe orang yang sangat dingin dan tidak suka bercanda.
Hal ini lah yang membuat hati Diva sedikit luluh dan menginginkan kakaknya pulang ke rumah kembali walaupun bersama kakak ipar yang tidak pernah di duga itu.
"Krekk.."
pintu terbuka, terlihat Tuan besar yang sudah datang dari arah pintu masuk kamar.
"Papah...?"Nyonya besar yang menyapa suaminya yang datang itu dengan senyuman manisnya
"Keluar Diva!, papah ingin berbicara dengan Mamah!"
"Iyah Pah!"Langsung keluar dari ruangan kamarnya.
"Ada apa Pah?, Papah lelah?"Tanya Nyonya besar yang sudah melihat suaminya duduk di atas sofa kamarnya.
"Tentu saja lelah,kau telah gagal mendidik kedua putramu dengan baik!, Devino telah pergi dari rumah!, dan Daniel,ia hanya bisa membuat kerugian di perusahaan saja!"
"Apah?, kerugian Pah?"Nyonya besar ikut kaget juga mendengar tentang ini.
"Jadi temui putramu!, dan buat di mengerti tentang bagaimana caranya mengurus perusahaan dengan baik!,aku sudah pusing dengan semua ini,kau harus bisa membuatnya mengerti Natara!".
Tuan besar berjalan menuju ke salah satu ruangan yang terdapat di dalam ruangan kamarnya dengan raut wajah kusam dan marah itu.
Daniel apa yang kau lakukan,kau membuat Mamah stress kali ini,
__ADS_1