
Devino dan Erik berada di dalam satu ruangan kerjanya yang tak pernah ia pakai setelah sekian lama, mungkin Anjani juga belum tahu kalau Apartemen milik suaminya ini begitu luas dan besar, yang ia tahu hanya beberapa sudut ruangan saja, selebihnya ia tidak tahu dan tidak ingin bertanya-tanya ataupun mencari tahu.
"Istriku masih terlihat begitu sedih,mungkin ia merindukan kakek dan neneknya!,ia juga tidak ingin berbicara untuk saat ini!"
Duduk bersanding dengan Erik di sofa yang ada di dalam ruangan ini.
"Biarkan Nona menenangkan diri Tuan Muda!,aku yakin ia sangat merindukan kakek dan neneknya!"
"Setelah aku pikir-pikir Erik, bagaimana kalau kita buka usaha saja?,kita buka toko roti seperti apa yang di katakan Anjani!,siapa tahu ini adalah awal permulaan dari kebangkitan kita!"
"Anda yakin Tuan Muda?, semuanya perlu modal yang besar walupun hanya membuka toko roti saja, tapi aku siap membantu dengan senang hati!"
"Aku tahu, untuk semua peralatan, dan perabotannya itu memanglah mahal, aku harus memerlukan banyak uang untuk itu,tapi aku masih bingung bagaimana aku mendapatkan uang-uang itu,aku hanya memiliki sedikit tabungan saja!"
"Aku yang akan membantu Anda Tuan Muda!, kebetulan aku memiliki sedikit tabungan juga!"
"Tidak Erik!,aku tidak ingin merepotkan mu!, selamat ini kau sudah begitu banyak membantuku, itu uang kamu simpan saja buat hidupmu dan istrimu nanti,aku akan mulai semuanya dari diriku sendiri dan tidak ingin merepotkan orang lain!"
"Tapi Tuan Muda,aku senang jika aku bisa membantu Anda!"
"Erik aku tahu!,tapi aku benar-benar tidak ingin membebani mu!,aku hanya ingin memakai uangku sendiri!,aku akan menjual sesuatu yang aku miliki!"
menatap Tuan mudanya dengan penuh tanda tanya.
"Aku akan menjual mobilku!"
"Apa?"Erik sepontan kaget
"E'... maaf Tuan Muda!, anda yakin?, lalu bagaimana dengan Anda jika ingin berpergian nanti?,itu juga mobil satu-satunya yang anda miliki sekarang!"
Erik tidak percaya dengan perkataan Tuan Mudanya yang begitu serius.
"Iya juga sih,tapi tidak papa demi untuk mendapatkan uang Erik!,agar Anjani bisa buka toko kembali!,dan aku juga ingin mendirikan usah kecil-kecillan dari toko roti ini nantinya, siapa tahu ini awal dari kebangkitan kita dari keterpurukan ini, ya kan?"
"Tapi setidaknya jangan menjual mobil anda Tuan Muda!, bagaimana jika anda ingin berpergian nantinya, lebih baik pake uang ku saja!,aku akan membantu anda untuk mendirikan restoran ini!"
"Sudah aku bilang aku tidak ingin merepotkan mu terus-menerus!"
keras kepala,
"Aku tetap akan menjual mobilku,aku ingin memulainya dari uangku sendiri!,apa aku jual saja Apartemen ini?"
"Jangan Tuan Muda!,ini adalah Istana anda saat ini!, aku tidak ingin anda tinggal di tempat lain!"
"Makanya Jangan pikirkan aku Erik!, bantu aku untuk segera menjual mobilku, mobil bisa di beli lagi nantinya jika aku sudah bangkit dari keterpurukan ini,apa salahnya berusaha dan mencoba,kita buktikan kepada mereka semua bahwa kita bisa bangkit dari keterpurukan ini Erik!"
Terus menyakinkan Erik agar segera menyetujui dan mendukung semua rencananya ini.
Sebenarnya Erik benar-benar merasa tidak tega jika Tuan Muda harus menjual mobil kesayangannya.
__ADS_1
Tentunya yang paling berat bagi Erik adalah ini mobil satu-satunya milik Tuan Muda yang ia punyai sekarang.
"Baiklah!,jika itu kemauan anda Tuan Muda!,tapi jangan pernah menolak akan bantuan ku jika anda membutuhkan mobil untuk berpergian,aku siap menaruh satu mobilku disini!"
"Tenganlah Erik itu urusan gampang!, masalah mobil itu mudah, banyak taksi online di kota ini!"
Iya ampun Tuan Muda... kenapa Anda selalu membuatku terharu dengan sikap Anda yang seperti ini sekarang,
Aku do'akan kesuksesan akan cepat menghampiri Anda dan segera bangkit dari keterpurukan ini,
"Tapi satu hal Erik!, jangan sampai Anjani tahu soal aku yang menjual mobil itu!, karena aku tahu bagaimana sikap Anjani jika mengetahui semua ini nanti!"
"Tapi jika Nona muda bertanya tentang mobil anda bagaimana?"
"Aku pinjam mobil mu, yakinkan kalau itu mobilku, intinya aku tidak ingin ia mengetahui soal ini!"
"Baiklah Tuan Muda!,jika itu yang anda inginkan,apa Anda akan menyewa ruko di lantai bawah Apartemen ini yang terlihat kosong itu?''
"Pemikiran yang tepat!,tapi bukan menyewa Erik, aku ingin membelinya untuk Anjani maknanya aku menjual mobil, biar Anjani bebas mempunyai rukonya nanti!"
Aku rasa Tuan muda sangat mencintai Nona Anjani,
buktinya ia rela melakukan segalanya demi Nona muda,
Devino dan Erik masih berbicara serius tentang rencana usaha barunya di ruangan ini.
Seperti sedang mengadakan rapat kantor yang begitu penting saja di ruangan tersembunyi dan begitu serius ini.
Setelah selesai dengan urusan rapatnya, keduanya langsung keluar dari ruangan itu dan kembali ke Apartemennya yang ada di ruangan sebelah.
Devino langsung menemui istrinya kembali yang sedang duduk terdiam di atas ranjang sambil memakaikan ponselnya.
"Kau masih merasa sedih...?"
Duduk di depan istrinya, berbicara lembut sambil membelai rambutnya sesekali, sepertinya ia sudah terbiasa untuk melakukan hal ini kepada istrinya.
kenapa dia suka sekali membelai rambutku begini,
apa aku ini anak kecil...,
Menatap suaminya sebentar dan merasa berdebar sendiri.
Mungkin karena Devino terlalu sering menangkan Istrinya yang selalu ngambek, menangis,dan sering marah-marah itu,jadi ia terbiasa untuk membelai rambutnya.
Hanya menatap suaminya sebentar,ia tidak ingin berbicara apapun, lalu menghadap ke arah ponselnya lagi untuk membalas pesan-pesan dari adik dan ibunya.
"Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini?,kau lebih mementingkan ponsel dari pada suami mu..."
mengambil ponsel itu dari tangan Istrinya begitu saja.
__ADS_1
"Devino...!,aku sedang membalas pesan dari adikku!"
Merasa kesal ingin mengambil ponselnya itu dari suaminya yang merebutnya begitu saja.
"Jangan hanya mengirimkan pesan!, telvon lah nanti...!, mereka pasti merindukanmu!, tapi sekarang ajari aku membuat roti!"menyembunyikan ponselnya di balik punggungnya.
"Hah..?"Terbelalak mendengar perkataan suaminya yang aneh ini.
"Iya aku ingin belajar!,dan aku ingin membantu mu di toko roti nantinya!'' memegang tangan Istrinya dengan lembut.
"Di toko roti yang mana?, aku saja belum mempunyai toko roti, itu hanya impian saja...!"
menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangan suaminya sambil tersenyum kecil penuh dengan kepalsuan.
"Aku beneran!,aku akan membelikan toko roti untuk mu, bagaimana kalau kita buka toko roti saja untuk usaha?..."
"Jangan bercanda!, jangan membuatku semakin tidak enak akan semua kebaikanmu!, aku tidak ingin merepotkan mu,kau sudah menyuruhku tetap kuliah dan sekarang mau mendirikan toko roti,mau berapa uang yang kau keluarkan demi diriku?"
"Aku ini suamimu!, sudah sepantasnya aku melakukan ini!,aku tidak merasa keberatan Anjani, selagi aku punya aku akan berikan untukmu, lagian ini bukan untukku ataupun untukmu tapi untuk kita berdua kan?..."
Memegang kedua tangan Anjani dan meyakinkannya.
Kenapa dia jauh lebih baik dari apa yang aku bayangkan selama ini,
dan kenapa juga aku malah membencinya,
kau selalu membuatku tersentuh dengan sikap-sikap mu yang seperti ini, kenapa kau begitu baik Devino,
Anjani malah terdiam menatap suaminya lekat.
"Apa yang kau pikirkan?,Ayo kita buka usaha toko roti!, siapa tahu ini adalah jalan hidup kita yang terbaik!, aku tidak ingin menjadi pengangguran, Ayo ajari aku bikin roti Anjani!"
Menggandeng tangan Istrinya menyuruhnya agar segera berdiri dari duduknya.
"Kau yakin?,kau tidak malu?,apa kau punya uang?"masih tidak percaya juga.
"Aku yakin!, buat apa aku malu!, tenang saja aku punya uang, sebelum uangku habis makan-nya ayo kita belajar buat roti dan buka usaha!,ayo berdirilah!"
Menyuruh Anjani untuk segera berdiri,
bahkan dengan santainya ia berbicara kalau dia punya untuk modal saat ini, padahal ia akan menjual mobil mewahnya demi mempunyai toko roti untuk istri dan usaha barunya.
Dari seorang CEO kau rela menjadi seperti ini Devino,
Aku benar-benar tidak menyangka,kau melakukan semua ini untukku...
Menatap suaminya dari belakang.
Segala sikapnya yang begitu lembut dan baik hati membuat Anjani begitu bahagia dan terseyum saat ini.
__ADS_1
Masih menatap suaminya dari belakang dan mengikuti langkahnya keluar dalam kamarnya untuk keluar membuat roti bersama-sama.