
Bayi itu masih menangis kencang.
Sementara keduanya saling bertatapan memberikan sinyal cinta satu sama lain.
"Anjani..."Berbicara begitu lembut menatap istrinya, dengan air mata penuh dengan kebahagiaan juga mereka tunjukkan satu sama lain.
Anjani tampak tersenyum bahagia walaupun wajahnya terlihat begitu pucat setelah melahirkan.
"Terimakasih sayang.., apa kau baik-baik saja.., muach"Mencium keningnya dengan sangat lama, Devino benar-benar merasa bahagia dan sangat bersyukur atas kehadiran anak pertama yang baru lahir itu.
Sementara Dokter dan suster langsung mengurus bayi itu.
Kemudian memperlihatkan kepada orang tuanya yang sedang terharu itu.
"Selamat Nona, Tuan Muda,bayi anda terlahir sehat,ia seorang putri sama halnya yang di prediksi selama ini"
Keduanya memang pernah melakukan USG beberapa waktu lalu, namun hal ini mereka sembunyikan dan biarlah menjadi kejutan di hari kelahirannya nanti.
Namun pada hari ini hari yang di impikan itu tiba.
Rasa sakit yang sedang di rasakan Anjani langsung tak terasa dan menghilang begitu saja setelah melihat buah hatinya yang sangat menggemaskan itu.
Kemudian tangisannya terdiam setelah ia mendengar detak jantung ibunya yang sedang ia peluk itu.
Sepertinya batin mereka telah bersatu dan saling memberikan ketenangan batin yang menciptakan ketentaraan di dalam dirinya.
Ya ampun sayangku, selamat atas kehadiranmu nak,aku sangat mencintaimu..
Tidak bisa berkata-kata Anjani,ia hanya bisa memberikan isyarat dengan air mata yang mengalir begitu deras.
Sementara Devino sedang berusaha untuk mengontrol dirinya yang sedang berderai itu.
Ia terus mengelus-elus rambut istrinya dengan sangat lembut sambil menatap putrinya yang sedang berada di pelukan dada sang ibu.
"Sayang.., anak kita.."menangis terisak,Anjani tidak bisa menahan harunya yang telah melahirkan putrinya dengan selamat ini.
"Iyah Anjani...,dia sangat cantik sepertimu..muach... muach terimakasih sayang,kau telah berhasil melahirkan putri kita, maafkan aku,aku tidak bisa membantu apa-apa..."Semakin menangis Devino,di tambah lagi melihat istrinya yang menangis membuatnya tak bisa menahan air matanya sambil mencium pipi istrinya berulang-ulang.
Kemudian dokter kembali mengambil bayi itu untuk di mandikan dan akan di masukan ke dalam box bayi yang ada di samping ruangan sebelah persalinan ibunya tadi.
Ruangan bayinya juga khusus dan tersendiri, jadi ruangannya masih menyatu dengan ruangan kamar pasien khususnya itu.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya salah satu suster sudah keluar dari ruangan itu untuk mengambil keperluan yang ia perlukan.
"Bagaimana sus?,apa cucu saya sudah lahir..?"
Tanya Tuan besar yang sudah sangat menunggu dan menanti kabar ini sejak tadi.
"Sudah Tuan muda,kami sedang mengurusnya,cucu anda terlahir selamat dan sehat"
__ADS_1
Namun sebelum panjang lebar suster itu berbicara ia tampak berlari karena sedang terburu-buru.
Bahkan mereka semua yang ada di depan ruangan sangat penasaran tentang jenis kelamin bayi itu termasuk Tuan besar sendiri.
Syukurlah cucuku sudah lahir dengan selamat, semoga Anjani juga baik-baik saja tak ada masalah
"Laras..."menatap putrinya lalu berderai air matanya karena merasa begitu gelisah dan khawatir sejak tadi.
Ia juga begitu mengkhawatirkan keselamatan putrinya yang hendak melahirkan itu.
"Alhamdulillah mah, kakak dan bayinya sehat.."
Laras terseyum merangkul ibunya yang sedang terharu juga atas kabar ini.
"Iya sayang, syukurlah.."
"Kira-kira laki-laki atau perempuan?"
Erik dan Tita merasa begitu penasaran sekali dengan hal ini sambil menatap pintu ruangan itu.
Kenapa suster itu malah pergi sebelum mengatakan bayinya itu laki-laki atau perempuan, dasar menyebalkan,ini membuatku penasaran saja..
Nyonya besar sudah menyengkrut-kan dahinya merasa penasaran dengan lahirnya cucu pertamanya itu.
Terdapat juga ke-lima pengawalnya yang berjejer di sudut lorong dekat ruangan pasien ini.
Mereka tampak memantau dari berbagai segi sudut dan memasang pandangan yang begitu tajam seperti biasanya untuk berjaga-jaga.
Box berisi putrinya itu sudah berjejer di dekat ranjang dimana ia terbaring.
Guratan wajah kebahagiaan kembali bermunculan di sertai mata berkaca-kaca saat menatap Putri imut mereka.
"Kita beri nama Putri kita siapa Sayang?"
Devino yang sudah tidak sabar untuk memberinya nama.
"Kau Ayahnya,kau lebih berhak memberikan nama untuknya"
"Kau yakin?"
"Aku yakin,nama yang kau berikan pasti sangat bagus dan indah tentunya,aku sudah menduga itu"
Anjani belum bisa bergerak dari duduknya yang bersandar itu,tapi ia masih menatap putrinya dengan senyuman yang begitu bahagia.
Bahkan rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini menghilang dan tak berasa saking bahagianya.
"Baiklah, bagaimana kalau aku memberinya nama Anita Putri Bahara Sanjaya"
"Anita Putri Bahara Sanjaya?,nama yang bagus sekali,jika itu yang kau inginkan,aku setuju, namanya sangat bagus untuk putri kita.."
__ADS_1
Terdengar juga putrinya yang mulai merengek dan menangis kembali, mungkin ia mendengar suara Ayah dan ibunya yang membuatnya menangis.
Kemudian Devino menggendong putri kecilnya untuk memberikannya kepada istrinya, karena ia sendiri belum tahu bagaimana cara menenangkannya yang menangis itu.
"Sayang, Anita menangis..,aku tidak tahu bagaimana caranya agar membuatnya terdiam"Segera menyodorkan putrinya kepada Anjani.
"Nona.."Dokter yang tiba-tiba datang dari salah satu ruangan.
"Iyah.."Berusaha menggendongnya dengan sangat hati-hati dan memberikan kenyamanan untuk putrinya.
"Belajar berikan ASI kepada Putri anda mulai sekarang Nona, mungkin ia juga lapar sejak tadi belum minum susu"
"Eh...iya dok"
Baru pertama kalinya juga ia akan mencoba menyusui,hal ini membuatnya grogi dan gemetar sendiri, terlebih mendengar putrinya yang semakin manangis kencang.
"Kau pasti bisa sayang.."Terseyum Devino untuk membantu memposisikan istrinya yang akan menyusui itu.
Ia berusaha untuk memasukkan putingnya ke dalam mulut sang Anak, namun putrinya masih terus saja menangis dan tidak mau.
Ini membuatnya bingung dan gelisah.
"Perlahan Nona,ia juga sedang berusaha untuk mengenalinya..."
Barusaha untuk mengarahkan putingnya itu ke mulutnya lagi, sementara Devino sedang menggarukan kepalanya karena bingung harus apa yang ia lakukan.
"Bagaimana ini Dok, kenapa dia tidak mau, kenapa dia terus menangis?.."Gelisah jadinya.
"Sepertinya ASI-nya belum terlalu keluar Nona,coba anda Ikuti gaya yang saya praktekkan sekarang.."
Dokter itu langsung memberikan arahan kepada Nona Mudanya agar ASI-nya dapat segera keluar dan ia dapat segera menyusui juga.
Memanglah tak semudah itu untuk menyusui, terlebih seorang ibu yang baru saja melahirkan dan belum pernah memiliki pengalaman sebelum ia pasti akan merasa bingung dan gelisah sendiri karena belum mengetahui triknya.
"Bagaimana Dok?,apa kita boleh masuk ke dalam...?"Tanya Tita langsung setelah melihat dokter keluar dari ruangan itu kembali untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah!,karena Nona muda sedang menyusui sebaiknya kaum hawa terlebih dahulu yang perbolehkan menjenguk duluan yah..."
"Baiklah,Terimakasih kasih Dok..."
"Nyonya Maria dan Nona Laras masuklah terlebih dahulu,anda berdua pasti sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Nona Anjani kan..."
"Baiklah.., kenapa tidak bareng saja.."Tawar Nyonya Maria kembali dengan lembut kepada Tita.
Melihat sikap istrinya yang begitu perhatian membuat Erik terseyum menatap istrinya yang sedang berbicara itu.
"Aku nanti saja bareng suamiku Nyonya,tak enak jika terlalu ramai..."
Erik langsung merangkul istrinya lembut dan mempersilahkan Nona Maria terlebih dahulu.
__ADS_1
Sementara Tuan Besar tak terlihat, sepertinya ia sedang menerima telvon penting yang harus ia bicarakan dan di bahas.
Sementara Nyonya besar masih sibuk menaikkan ponselnya sambil duduk di depan untuk menunggu suaminya ketika hendak akan menjenguk.