My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Devino Sakit


__ADS_3

Sesampainya di Apartemen Devino langsung menuju ke dalam kamarnya.


Melihat istrinya yang berada di dapur ia hanya melihat ke arahnya sebentar tanpa mengucap sepatah katapun.


Terlihat jelas ia terlihat begitu lelah dari raut wajahnya.


Anjani mengerutkan dahinya melihat tingkahnya yang terdiam dan menuju ke dalam kamar.


Tumben jam segini dia sudah pulang...,


Tapi kenapa dia terlihat cuek sekali,


Membuka baju kemejanya yang terasa begitu gerah, lalu Devino merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya.


Kenapa kepalaku pusing sekali, tidak seperti biasanya aku seperti ini,


Mencoba memejamkan matanya untuk istirahat, kepalanya terasa semakin pusing jika ia berdiri.


"Aku tinggal yah Tita!,aku mau menemui Devino sebentar!"


"Tinggal saja Nona!,biar aku saja yang menyiapkan makan malamnya!"


"Iya sudah baiklah!"


Anjani meninggalkan dapur dan berjalan ke kamarnya.


Membuka pelan-pelan untuk masuk ke dalam kamar, melihat suaminya yang terbaring di atas ranjang dan telanjang dada membuatnya merasa geram.


Apa-apaan ini,


dia langsung tidur sebelum membersihkan diri hah,


tanpa pake baju lagi,menyebalkan sekali..


Menatap punggung suaminya yang tampak putih mulus itu, mengingatkan akan dirinya kembali yang pernah bermalam denganya.


Namun lupakan bayangan itu,ia mendekat ke arah suaminya.


"Kau tidak ingin mandi?,apa harimu melelahkan?"


Tanya Anjani yang merasa sedikit saja peduli dengannya.


"Nanti...!"


Jawabannya pelan, bahkan ia tidak bergerak sedikitpun,ia masih memejamkan matanya dan tengkurap di atas ranjang.


"Baiklah!,aku siapkan air hangatnya sekarang!"


Meninggalkan suaminya yang masih terdiam di atas ranjang itu untuk menyiapkan air mandinya.


Setelah beberapa menit menyiapkan air hangatnya, Anjani kembali keluar untuk memanggil suaminya agar segera mandi.


"Aku sudah mempersiapkan air hangatnya!, cepatlah mandi!, sebelum airnya dingin kembali!"


Meninggalkan suaminya begitu saja,


namun melihatnya yang terdiam dan tidak menjawab perkataanya, membuatnya menghentikan langkah dan mundur kembali mendekatinya.


Melihatnya yang terus memejamkan mata, membuatnya curiga, sedangkan bibirnya terlihat pucat sekali.


"Kau tidak papa?"


Semakin mendekat ke arah suaminya.


Namun Devino tidak menjawab lagi,ia masih terdiam memejamkan matanya.


Mendengar nafasnya yang tidak beraturan membuatnya Anjani gelisah dan mencoba memeriksa keningnya.


"Kau sakit?"


Suhu tubuhnya terasa begitu panas, nafasnya pun terasa hangat.


badannya panas sekali..


"Kau sakit?,kau tidak papah?"


Anjani terlihat gelisah melihat suaminya yang terus memejamkan matanya.


"Aku tidak papa!...aku hanya..."


masih berbicara pelan dan mencoba membuka matanya menatap istrinya.


Anjani langsung bergegas mengambil termometer dan mengukur suhu tubuhnya kembali tanpa mendengarkan perkataanya.


Alat yang ia pegang menunjukkan angka 39,4 Derajat Celsius,itu tandanya Tuan Muda sedang mengalami demam tinggi.


"Kau demam tinggi...,kau baik-baik saja kan?"


Tak sadar Anjani membelai kepala suaminya yang tengkurap itu dengan lembut dan panik.

__ADS_1


Anjani terlihat begitu panik, membuat suaminya terdiam menatap kepergiannya yang pergi meninggalkan kamar.


Anjani kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah baskom yang berisi air dingin dan handuk kecil.


"Benarkan posisimu!, tidurlah dengan benar di atas bantal!, jangan tengkurap seperti ini...!"


Berbicara lembut,menyentuh bahu suaminya agar ia mau berdiri dan membenarkan posisinya,


Ia segera berdiri dan membenarkan posisinya,matanya terlihat begitu sayu dan memerah akibat rasa pusing yang ia tahan dan ia rasakan saat ini.


Badannya panas sekali,


apa dia baik-baik saja...


Entah kenapa ia begitu gelisah dan khawatir melihat suaminya yang demam tinggi.


Anjani langsung mengompresnya dengan handuk kecil yang ia basahi dengan air dingin ke keningnya.


Melihat bibir suaminya yang begitu pucat membuatnya semakin gelisah menatapnya,ia bahkan terus memejamkan matanya dan terdiam tiduran di atas ranjang.


"Tunggulah di sini!,aku akan memanggil Dokter ke mari!"


Tangan itu langsung beralih menahan tangan Anjani yang akan pergi meninggalkannya.


"Tidak usah!, aku tidak papa,tak usah memanggil dokter...!"


Devino menggenggam erat tangan Istrinya yang akan tetap pergi meninggalkannya itu,ia berbicara dengan suara yang begitu lembut menatap istrinya.


"Kau harus di periksa!,suhu badanmu sangat tinggi!"


Devino tidak melepaskan genggamannya ia terus menggelengkan kepalanya untuk melarang Anjani memanggil Dokter.


Melihat tingkah suaminya yang belum melepaskan genggamanya membuatnya mengingat akan dirinya yang sedang sakit.


Dimana suaminya selalu bersikap lembut dan perhatian padanya ketika sedang sakit.


Membuat Anjani tidak tega melihatnya,terlebih melihatnya kedinginan dan terlihat menggigil sambil memegangi tangannya.


"Kau tidak papa kan?"


mendekat ke arah suaminya dan duduk di sampingnya dimana ia tertidur,


karena ia merasa tidak tahan dan semakin gelisah melihat keadaan suaminya yang sedang demam tinggi.


"Jangan tinggalkan aku...!"


Bicara pelan,semakin menggenggam erat tangan istrinya yang belum terlepas itu.


Perasaanya semakin tidak karuan menatap suaminya yang terlihat begitu lemas membisu.


"Kau baik-baik saja kan?"


Berbicara lembut membelai kepala suaminya yang terus terpejam itu dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


Apa aku harus sakit Anjani,supaya kau mau mendekatiku seperti ini...,


Membuat Devino terseyum di dalam hatinya, merasakan sentuhan lembut Anjani di kepalanya membuatnya merasa tenang dan nyaman.


kegelisahan mulai menyelimuti dirinya,Anjani semakin mendekat ke arah suaminya dan berbicara.


" Apa kau sudah makan?"Menatap suaminya dengan penuh kekhawatiran.


"Belum....!"


"Tunggulah disini!,aku akan...!"


Devino terus menggelengkan kepalanya dan menahan tangannya yang akan pergi meninggalkan ranjang.


"Baiklah!,aku tidak akan meninggalkanmu!"


Anjani duduk kembali dan menemani suaminya yang sedang sakit itu.


Anjani hanya mampu memerintah Tita lewat WhatsApp-nya untuk mengambilkan makan malam untuk suaminya.


Melihat tingkah suaminya yang menggenggam tangannya dengan erat, membuatnya tidak berani meninggalkannya.


kenapa tanganya dingin sekali!,dia tidak papa kan,


Menyelimuti suaminya yang telanjang dada itu, membelai kepalanya dengan lembut karena merasa tidak tega.


dia itu menyebalkan,tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya sakit begini...


Masih terus menatap suaminya yang terpejam itu,ia berulang-ulang menggantikan kompressan yang ada di kening suaminya.


Nafasnya terdengar semakin cepat dan tak beraturan, bahkan keringat dinginnya mulai bermunculan di pelipisnya.


Apa aku benar-benar harus sakit Anjani?,


supaya kau mau berdekatan denganku seperti ini,

__ADS_1


tapi aku tidak akan memaksamu, apapun itu,


"Jika kau ingin kembali ke kamarmu maka pergilah!,aku tidak papah....,ini sudah malam...!"


Perintah Devino pelan sambil mempererat selimutnya.


Tidak,aku juga masih memiliki hati,


tidak mungkin aku meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini...


Tak lama kemudian Tita masuk membawa makanan dan air putih,ia menaruhnya di atas meja lalu pergi meninggalkan kamar itu kembali.


"Kau belum makan kan?, setidaknya makanlah dulu, isi perutmu!"


Perintah Anjani lembut yang masih duduk di sampingnya.


"Aku tidak ingin makan,aku hanya ingin tidur...!"


Menjawab pelan dan terus mempererat selimutnya karena ia merasa menggigil.


Melihat Devino yang terlihat sangat lemas dan menggigil itu membuatnya semakin tidak tega jika ia harus tidur pisah ranjang.


Entah kenapa hatinya merasa gelisah dan ingin tidur dengannya malam ini.


"Baiklah tidurlah!,aku akan menemanimu malam ini!"


Anjani berbicara singkat tanpa menatap suaminya,ia lalu membaringkan tubuhnya di samping Devino,bahkan posisinya begitu dekat dengannya dan bersentuhan,


Membuat Devino terbelalak menatap istrinya yang sudah membaringkan tubuhnya di dekatnya itu.


"Jangan berpikiran apapun!,kau sedang sakit kali ini!, makan-nya aku menemanimu!"


mengalihkan pandangan dan tidur membelakangi suaminya.


Devino hanya bisa tersenyum menatap punggung istrinya yang tertidur di dekatnya itu.


Iya... walaupun hanya bisa menatap punggung istrinya saja,tapi setidaknya ia merasa senang tidur dengan istrinya kali ini.


Sekian menit berlalu, suasana begitu sunyi di dalam kamarnya, hanya sayup-sayup hembusan nafas suaminya yang terdengar di telinganya yang masih tak beraturan itu.


Menghadap ke arah suaminya yang terpejam dan terlihat begitu anteng,


membuatnya menatap lama dan semakin tidak tega dengannya yang sedang sakit itu


Ia mengecek suhu tubuhnya kembali, hasilnya


masih tetap sama, suhu tubuhnya masih begitu tinggi,


"Kau tidak papa kan?"berbicara pelan melihatnya tertidur,


lalu membelai kepala suaminya dengan begitu lembut dan penuh kekhawatiran,


Anjani terlihat begitu khawatir malam ini sambil menatap suaminya lekat.


Ia masih membelai kepalanya dengan lembut.


Membuat Devino yang pura-pura tertidur itu merasa kaget dengan sikapnya yang begitu lembut ketika membelai kepalanya.


Aku tahu Anjani, kau sangatlah lembut...,


kau bersikap seperti ini kepadaku karena kau belum bisa memaafkan aku,aku tahu itu...


maafkan aku,


Tangan itu dengan sengaja melingkar begitu saja di pinggang istrinya,


mungkin ia merasa ingin dekat sekaligus kedinginan, membuat Anjani terbelalak dan kaget melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba memeluknya ini.


Jantungnya berdegup kencang seketika,


Tapi melihat suaminya yang anteng tertidur membuatnya membiarkan ulah Devino yang memeluknya itu.


Anjani hanya takut mengganggu Istirahat suaminya yang sedang sakit.


"Baiklah!,tidurlah dengan nyenyak!, cepat sembuh...!"


mencoba untuk tidur di pelukan suaminya.


Membuat Devino terseyum di dalam hatinya mendengar perkataan Anjani tadi.


Setelah Anjani terlihat Sudah tertidur pulas barulah Devino bisa menatap parasnya yang cantik itu dari dekat.


Kau sangat cantik jika tertidur,


karena aku bisa menatap wajahmu sepenuhnya..,


Terimakasih telah menemaniku malam ini..


Maafkan aku Anjani,

__ADS_1


"Muach..."kecupan lembut di kening istrinya yang tertidur itu.


Walupun ia merasa sangat pusing, namun ia berusaha untuk tidur dan beristirahat di samping Istrinya yang sudah tertidur malam ini.


__ADS_2