My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Siapa Yang Datang?


__ADS_3

Anjani berjalan menuju Dapur, mencoba untuk menangkan dirinya sekuat-kuatnya.


Menahan seluruh air mata yang ingin sekali keluar dari matanya


Ia mencoba untuk tetap tegar dan terseyum.


Apa gunanya aku menangis,


ini hanya akan membuatku merasa sedih


Tangisan ini juga tidak akan mengubah kondisi apapun saat ini,


Pikirnya begitu,


Para pelayan yang sedang bekerja di dapur merasa kaget dengan kehadiran Nona muda yang sudah memegang nampan.


"Anda mau apa Nona?,apa Anda mau makan?,


biar saya saja yang ambilkan!"


Salah satu pelayan lainnya yang terlihat menyukai Anjani dan menyetujui pernikahan ini.


"Tidak!,aku tidak lapar!,aku hanya ingin membawa semua makanan ini ke meja makan!, kalian semua Istirahat saja!,ini adalah tugasku!, tinggalkan saja dapur,aku yang akan melakukan semua pekerjaan ini!"


Sambil Terseyum Anjani berbicara,ia terlihat seperti tidak terbebani dengan apapun.


"Tapi Nona ini adalah tugas kami!,biar kita saja yang melakukannya!"


"Aku mohon!, demi diriku!,dan demi kalian juga!, agar kalian tidak mendapatkan masalah nantinya!"


"Tapi...!"


"Pergilah!"


Aku benar-benar tidak tega melihat Nona muda di perlakukan seperti ini,


kemana sebenarnya Tuan Devino,


Para pelayan yang merasa kasihan dan masih terdiam berdiri di situ.


"Apa yang kalian lakukan?, kalian tidak mendengar perintah Nona Anjani untuk pergi meninggalkan dapur!, pergilah!,tak usah membantunya!, turuti saja apa perintahnya!"


Berbicara sewot dari kejauhan, seakan-akan ia ikut sangat benci dengan Nona mudanya, sepertinya Ketua Pelayan memang sangat iri dengan kehidupan Anjani yang sekarang, namun asal ia tahu yang sebenarnya, kalau kehidupan seperti ini bukanlah kemauan Anjani.


Ketua Pelayan yang sudah muncul dari arah belakang dan menghampiri semuanya yang masih berada di dapur.


Semua pelayan pun pergi meninggalkan dapur dan meninggalkan Nona mudanya,


Walaupun merasa tidak tega,tapi mereka bisa apa, mereka hanya bisa terdiam dan mengumpat di belakang.


Kasihan sekali Nona, dimana Tita, kenapa dia tidak terlihat kali ini,


Para pelayan bertanya-tanya sambal memasuki ruangan Istirahatnya,karena mereka tidak melihat kehadiran Tita yang sejak pagi tadi menemani Nona mudanya malam ini.


"Waw... sepertinya pekerja ini tidak terlalu berat Nona!, selamat menikmati, semoga harimu menyenangkan!"


Ketua Pelayan begitu lancangnya berbicara seperti ini sambil meninggalkan ruangan Dapur.


Terserah dia saja mau bilang apa kepadaku,aku tidak boleh terpancing, karena ini akan membuat hatimu terluka Anjani,


Menyemangati dirinya sendiri dan segera menyiapkan makanan dan meraciknya.


Daniel berjalan menuju ke dapur, ia haus dan ingin mengambil minuman jus yang ada di dalam kulkas.

__ADS_1


Melihat kakak Iparnya yang sedang meracik makanan membuatnya tertarik untuk mendekatinya.


Semenjak menjadi istri kakak,dia terlihat cantik juga...


Menatap Kakak iparnya dari dekat.


Melihat adik iparnya yang sedang menatapnya membuatnya menatap balik, namun hal itu tidak berlangsung lama,


Daniel langsung berjalan menuju ke arah kulkas dan mengambil minumnya.


Meminum jus yang ada di tangannya sambil memperhatikan kakak iparnya dari belakang.


lumayan juga,


Menatap dari bawah hingga ke atas sambil menghabiskan minuman jusnya,


Bentuk tubuh Anjani yang ideal dan langsing membuatnya terlihat begitu cantik saat memakai dress,


Kulitnya juga terlihat putih dan mulus bersinar.


Setelah memindahkan makanan ke nampan Anjani berbalik badan dan begitu kagetnya dia saat mendapati Daniel yang sedang berdiri di belakangnya.


"Haa..."


Anjani juga tak sengaja menginjak kakinya.


"Maaf!,aku tidak sengaja!"Anjani yang berusaha menjauh darinya dan mengangkat kakinya yang sudah menginjaknya itu.


Apa yang sedang ia lakukan?,


kenapa dia berdiri di belakangku..


"Berani sekali kau menginjak kaki ku!,apa kau tidak bisa berjalan dengan benar,kau tidak memakai mata mu?"perkataannya sinis, menatap wajah kakak Iparnya yang terlihat pias itu.


"Bukan aku yang bersalah!, tapi kau yang berdiri di belakangku!"


"Baiklah aku yang bersalah!, maafkan aku!"


Malas untuk berdebat dengan orang-orang seperti mereka, walaupun ia tahu kalau sebenarnya adik iparnya yang sudah berdiri di belakangnya terlebih dahulu dan itu pastinya sengaja iya lakukan,


namun ia tidak tahu apa maksud dan apa yang akan ia lakukan kepadanya.


Anjani pergi meninggalkannya,menaruh piring kotor yang sedang ia pegang ke tempat cucian.


Tapi lelaki ini malah berjalan dan terus mendekatinya.


"Tidak semudah dan segampang itu untuk mendapatkan maaf dariku!"


Daniel yang sudah mendekati kakak iparnya dan memojokan-nya di dekat cucian piring.


Mau apa si dia ini, kenapa dia terus mendekatiku...


Anjani tidak menghiraukannya dan mencoba terus untuk menghindarinya, bahkan mendengar perkataanya pun tidak,


Tapi tangan itu justru semakin memikat dan menghalangi langkahnya.


Daniel memojokan Anjani di antara dua sudut meja dan lemari yang ada di dapur, tentunya Anjani tidak bisa melangkahkan baik ke kanan maupun kiri, ataupun kebelakang karena tubuhnya sudah bersandar di dinding meja dapur.


sedangkan melangkah ke depan sudah ada dirinya yang berdiri sambil merentangkan tangannya.


"Apa yang kau lakukan?, Jangan kurang ajar kepadaku!"


Menatap sinis adiknya, sedangkan Deniel memandang wajah Anjani lekat sambil tersenyum melihatnya ketakutan.

__ADS_1


Semakin di pandang, menarik juga dia..


"Belagu sekali kamu!,kau pikir kau cantik dan aku akan tertarik kepadamu begitu?, jangan mimpi!"


Tapi ia tidak bergerak dari posisinya sama sekali,ia tetap memojokan Anjani yang terlihat pias ketakutan.


Anjani bergeser mencoba untuk meloloskan diri.


"Kalau begitu minggir!, biarkan aku bekerja!"


Anjani yang merasa sewot dan berusaha menyingkirkan tubuhnya.


"Silahkan saja kalau bisa!"Terus mempertahankan posisinya, seolah-olah ia tidak memiliki rasa hormat dan sopan santun kepada kakak iparnya ini.


Apa lagi yang harus aku hadapi di rumah ini, apakah lelaki ini juga gila...


mau apa sebenarnya dia


Anjani langsung berusaha menyingkirkan tanganya yang menghalanginya itu,namun tangan itu bertumpuan sangat kuat di atas meja dapur, sehingga tidak berkutik sama sekali.


"Pergi dari hadapan ku sekarang!"Pinta Anjani yang sudah merasa kesal.


Daniel masih tersenyum sambil menatapnya lekat, senang sekali rasanya membuatnya kesal, apalagi melihat Anjani yang semakin ketakutan dan tidak bisa berkutik dari dirinya.


Lindungi hamba dari orang gila ini ya Tuhan,aku benar-benar tidak tahu apa maksud dan niatnya bersikap seperti ini...


"Aku tidak pernah melihat ada pelayan secantik dirimu di rumah ini!"


sambil menahan tangan Anjani yang berusaha menyingkirkan tanganya,ia bahkan menggenggam tangan Anjani dengan erat dan semakin memojokkannya.


"Kakak!"


"Deg,"menghentikan langkah Daniel dan melepaskan genggaman tangannya yang sedang menggenggam tangan Anjani.


Daniel langsung menjauh dari Anjani dan mencari alasan untuk mengambil gelas air yang ada di lemari atas tepat Anjani berdiri.


lalu menghadap ke arah adiknya yang tiba-tiba datang dan memanggilnya itu.


"Apa yang sedang kakak lakukan?"Tanya Diva curiga


"aku hanya ingin mengambil minum air dingin,apa kau mau juga?"mencoba mengalihkan pembicaraan adiknya.


"Tidak!,aku hanya ingin mengambil yogurt!"


"Iya sudah habis ini kita makan Diva!, karena sudah ada pelayan khusus yang melayani kita malam ini!"


Daniel sambil berjalan meninggalkan ruangan dapur.


"Tentu saja kakak!,saya sudah lapar!"


Diva menatap sinis kakak iparnya yang masih terdiam berdiri dan segera mengambil yogurt-nya, kemudian pergi jauh meninggalkan dapur ke ruang makan.


Anjani benar-benar merasa deg-degan,ia begitu takut tadi, dengan sikap Daniel yang terlihat aneh kepadanya


Namun untung saja,Adik iparnya yang lain datang dan menyelamatkannya.


Ia segera menangkan dirinya dan segera mengangkat nampan yang sudah di penuhi dengan berbagai makanan itu untuk menaruhnya ke meja makan.


Semua anggota keluarganya tampak sudah duduk menunggu di meja makan, Anjani mencoba untuk tetap tegar dan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan makan.


Walaupun sedikit gemetaran ia tetap mencoba melangkah dan membawa makanan itu dengan hati-hati dan terus berjalan.


"Brakkk..."Nampan itu tampak terbang dari tangan Anjani karena hempasan tangan seseorang, membuat Anjani begitu kaget dan terbelalak menatapnya.

__ADS_1


"Duarr... cetarr...!"Semua makanan dan peralatannya berjatuhan dan bahkan sudah pada pecah dan berserakan di lantai.


Membuat semua orang yang ada di rumah ini melihat dan menengok ke arah dimana Kejadian itu terjadi, terlebih keluarganya yang sedang bersantai di meja makan terlihat begitu kaget dan menengok ke arah belakang melihat kedatangan seseorang.


__ADS_2