
Sesaat setelah kejadian ini Anjani langsung pingsan di bekapan suaminya.
Mungkin ia merasa begitu tertekan atas kejadian ini.
"Anjani..., Anjani... Anjani"Panggilan Devino yang terlihat begitu panik melihat istrinya pingsan dan mencoba menepuk-nepuk pipi istrinya lembut.
Apa yang terjadi hari ini, kenapa orang itu berusaha untuk melukai istriku,
siapa dia..?
dan apa maksudnya melakukan semua ini?
Rasa di dalam hatinya benar-benar sudah tidak karuan pagi, selain panik karena kabar sang ayah,ia juga semakin panik lagi mendapati kejadian hari ini.
Dimana ia harus menyaksikan keselamatan istrinya yang terancam,ia juga gemetar sendiri dan tubuh terasa begitu melemas tiba-tiba.
Melihat istrinya tercintanya yang akan di lukai oleh seseorang membuatnya begitu gelisah dan tidak tenang.
Ia takut hal seperti ini akan terjadi lagi nantinya.
Bahkan ia sampai tidak sempat untuk menjenguk Ayahnya terlebih dahulu.
Tidak akan aku biarkan kejadian ini terjadi lagi,
aku berjanji pada diriku sendiri,
tidak ada satu orang pun yang dapat melukai Anjani walaupun hanya satu goresan kecil pun,
Menatap tajam sang istri yang sedang pingsan itu sambil berkaca-kaca matanya.
Sementara Erik yang baru saja datang terbelalak melihat kejadian ini.Sungguh tak terbayangkan jika akan ada kejadian ini di dalam rumah sakit.
"Ya... ampun Nona.."tercengang, terlebih melihat Dea yang sedang berusaha menahan seseorang di tumpuan badannya.
"Satpam!"Teriak Etik memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Ada beberapa pengunjung yang menyaksikan kejadian ini juga, mereka tampak tercengang tak bisa berkata-kata, bahkan mereka semua menyudutkan dirinya untuk menghindari kejadian ini.
mereka juga merasa takut akan hal ini.
Erik segera bergegas ke arah lelaki tak dikenal itu dengan sangat marah.
"Dea minggir..!, Bantu Nona Muda sekarang!"
Erik langsung beralih ke lelaki bajingan itu.Badanya yang kekar dan berotot semakin memudahkannya untuk menaklukkan lelaki yang masih terbaring di atas lantai rumah sakit tanpa bisa berkutik.
"Jangan harap kau bisa hidup tenang!, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu sekarang...!,tapi aku masih mempunyai hati!, andai saja tidak ada dasar hukum di dunia ini maka aku pasti akan membunuhmu sekarang..!'
"Apun..pak,ampuni saya pak.. uhuk..uhuk..!"Dengan suara tercekik karena Erik benar-benar mengunci tubuhnya.
__ADS_1
Bahkan ia sampai batuk kecil akibat kesakitan setelah ia terkena serangan dan jurus andalan yang di berikan oleh Dea tadi.
Entah kemampuan jurus apa yang telah ia berikan kepada lelaki bajingan ini.
intinya dia adalah calon atlit internasional yang ada di negara ini.
Ia masih berada di dalam fase pembelajaran,tapi kemampuannya memang sudah terlihat begitu handal dan mumpuni.
"Ampun kau bilang?,kemana otakmu sebelum kau melakukan ini hah?,kau berusaha melakukan tindakan kriminal di rumah sakit,dan beraninya kau akan melakukan hal ini kepada Nona muda.., brengsek!, Plakkk... Plakkk.."
Tamparan keras juga Erik berikan kepada manusia tak punya moral ini, jiwanya benar-benar memanas dan ingin sekali menghajar ataupun menghabisi orang ini dengan tanganya sendiri sekarang juga.
Tapi ia masih berusaha untuk menahannya,biar aparat tindakan hukum yang menanganinya saja nanti.
"Pak..pak.. ampuni saya pak, maafkan saya..."Semakin merasa kesakitan mendapati tekanan tenaga Erik yang begitu kuat saat menahannya.
"Sakit?, rasakan!, akibat ulahmu ini adikku terluka bodoh!"
Erik terus melotot tajam, menatap lelaki yang sedang di desaknya ini.
"Ingin sekali aku membunuhmu sekarang juga, siapa yang menyuruhmu hah?,siapa?..."Kejadian ini benar-benar membuat Erik marah.
"Tidak ada pak.."
"Tidak mungkin!, katakan!, siapa yang menyuruhmu?,Ayo katakan!"Semakin menggelagar suara Erik.
Sementara Dea langsung berlari menghampiri Nona muda yang pingsan dan Tuan Muda yang terlihat panik itu.
"Sus.. suster,sus..., dimana suster yang ada di rumah sakit ini, kenapa tidak ada yang keluar?,apa kalian semua rabun hah?.."Teriakan Tua muda yang terlihat begitu khawatir dan marah akan kejadian ini.
"Erik!, Jangan lepaskan lelaki itu sebelum ia berurusan denganku..!"Mengatakan dengan ganas dan melotot tajam menatap lelaki bajingan itu, terlebih istrinya yang sedang hamil membuatnya semakin merasa takut dan kekhawatiran yang bergejolak.
"Baik Tuan Muda.."
Suster langsung berlarian membawakan Barankar dorong rumah sakit dengan terburu-buru setelah mendengar teriakkan Tuan Muda tadi.
Beberapa satpam pun bergegas menuju ke lorong rumah sakit dimana kejadian ini terjadi.
"Bawa dia ke kantor polisi!, jangan sampai dia lolos!, ikat lelaki ini dengan kencang!,ingat jangan sampai lolos!,siapa yang bertugas untuk mengatasi keamanan di rumah sakit ini?, Panggil Dia!, suruh menghadap ke Tuan muda satu jam lagi, kalian dengar!,jika tidak mau, tutup rumah sakit ini sekarang juga..!"
Erik bahkan terlihat marah sekali saat berbicara dengan para satpam rumah sakit ini, semuanya benar-benar tercengang karena merasa begitu takut dengan kemarahan Erik dan Tuan Muda.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini pak!, kami semua akan segera..."
Erik tidak mendengarkan ocehan para petugas rumah sakit itu lagi, yang jelas ia tidak ingin mendengarnya dan sedang terburu-buru untuk segera menemui ke-dua majikanya itu yang sudah memasuki ruangan pasien terlebih dahulu.
Nona sampai pingsan,
Ia pasti sangat tertekan,ia tidak terluka kan, kandungannya baik-baik saja kan,
__ADS_1
Aku harap Nona Anjani tidak papa, lalu bagaimana dengan Dea,dia terlihat terluka tadi..
Erik langsung berlari menuju ke sebuah ruangan di mana Nona mudanya itu akan di tangani di sebuah ruangan pasien.
Ada dua suster juga yang sedang mengobati luka Dea,ia berusaha untuk mem-perban lukanya yang cukup dalam akibat terkena tajamnya pisau itu.
"Sembuhkan dia dengan baik!, jangan sampai menambahkan rasa sakit yang ada di tangannya..!"
"Baik Tuan Muda,kami juga sudah membius lukanya!"
Tuan Muda merasa berhutang Budi kepada gadis ini, gadis yang terlah berhasil menyelamatkan tiga nyawa sekaligus,baik dirinya,Nona muda,maupun bayi yang ada di dalam kandungannya.
Dokter segera datang ke ruangan ini, untuk segera memeriksa Nona mudanya yang sudah terbaring di atas ranjang itu.
Devino terdiam sambil melamun sendiri,ia benar-benar tidak menyangka akan hal ini.
Ia juga tidak akan siap jika kejadian ini akan menimpa istrinya dan melukainya tadi.
Sebagian hatinya sedang merasa bersyukur dan sangat berterimakasih atas keselamatan istrinya pada yang maha Esa, namun sebagian hatinya sedang merasakan gejolak amarah yang begitu meledak saat mengingat lelaki itu.
Ia ingin sekali menemui lelaki itu dan mematahkan seluruh tulang-tulangnya,ia juga ingin sekali menghabiskannya sekarang juga,
tapi melihat istrinya yang sedang pingsan benar-benar membuatnya tak berdaya.
"Bagaimana keadaan istriku Dok?,ia baik-baik saja kan?"
"Tenang saja Tuan Muda!,Nona muda hanya syok dan kaget, mungkin setelah sadar ia juga akan merasakan sedikit trauma,tapi tidak papa, keadaannya akan segera membaik setelah ia sadar nanti..!"
"Baik,,pergilah..!,terimakasih telah memeriksa istriku.."
Masih dengan raut wajah yang belum bisa di tebak, begitu banyak pikiran yang sedang melintas di luar kepalanya sekarang,ia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya yang begitu gelisah saat ini.
Anjani bangunlah Sayang..
Ia merasa begitu cemas dan gelisah menatap istrinya yang masih terpejam pingsan.
Sebelum memasuki ruangan dimana Nona muda itu di tangani, Erik kebetulan berpapasan dengan Zen yang akan pergi ke parkiran mobil.
Zen juga sedang merasa penasaran apa yang terjadi di sekitar lorong rumah sakit tadi, melihati orang-orang yang berkerumun membuatnya menyengkrut-kan dahinya dan merasa begitu penasaran.
"Apa yang baru terjadi?, dimana Tuan Muda dan Nona?"
"Akan aku ceritakan nanti!,Nona sedang di tangani oleh dokter, karena ada orang jahat yang akan melukainya dengan pisau tadi..!"
"Apa..?,Pi..pisau?.."Zen terbengong jadinya, mendengar cerita singkatnya benar-benar merasa semakin ingin tahu dan khawatir sendiri
"Sudahlah!,nanti saja aku ceritakan!.."
Erik langsung berjalan cepat meninggalkan tempat untuk segera menuju ke ruangan di mana Nona mudanya itu berada.
__ADS_1