My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Anjani Panik


__ADS_3

Salah satu karyawan tokonya masuk ke dalam ruangan produksi untuk memanggang stok roti yang sudah hampir habis di meja utama.


Melihat Tuan mudanya yang jatuh tertunduk membuatnya panik karena kaget, terlebih melihat wajahnya yang sudah memerah dan berbintik akibat alergi itu,


"Tuan Muda,anda kenapa?...,anda tidak papa?, kenapa anda seperti ini?,.."karyawan itu mulai terlihat panik melihat kondisi Tuan Muda saat ini.


"uhuk..uhuk,to...tolong ambilkan air.. tolong air minum....!"sambil menggaruk-garuk bagian lehernya dan batuk-batuk kembali karena merasa begitu gatal.


"Tunggu sebentar Tuan Muda, akan saya ambilkan!'


Tanpa pikir panjang lagi, karyawan itu langsung keluar ruangan begitu saja untuk mencari Nona mudanya dan ingin memberitahunya tentang hal ini secepatnya.


Terlihat Anjani yang sibuk menata roti di bagian depan meja utama toko bagian pengemasan.


Membuat Qinan yang melihat kondisi Tuan Muda itu lagi mendekat dan tidak sabar untuk berbicara.


"No..nona,Tu.. Tuan Muda ia..ia kenapa?,apa yang terjadi padanya?, kenapa tuan muda seperti itu..?"


Membuat Anjani bingung mendengar perkataan Qinan yang terburu-buru dan terbata-bata sambil menunjuk ke arah ruangan dimana Tuan Muda itu berada.


karena Qinan sendiri bingung harus bagaimana mengatakan kepada Nona muda hingga membuatnya terbata-bata saat berbicara tadi.


"Maksudnya?,apa yang kau katakan Qinan?, seperti itu bagaimana..?"Anjani begitu penasaran melihat Qinan yang terlihat panik.


"Sebaiknya Nona lihat sendiri!,aku tidak tahu Tuan Muda kenapa, dia minta minum juga Nona, badannya terlihat memerah...!"


"Apah?...."


Melihat Qinan yang Panik membuat Anjani merasa gelisah sendiri dan langsung berlari masuk keruangan sambil membawa minum.


"uhuk...uhuk.."masih batuk-batuk.


"Devino...!"


Anjani merasa semakin panik melihat suaminya yang terduduk di lantai dan terus menggaruk-garuk tubuhnya sambil batuk-batuk.


"kau kenapa?,apa yang terjadi padamu?, kenapa kau seperti ini?, minumlah dulu!..."


Anjani segera membuka minuman yang ia bawa dengan tergesa-gesa,


Ia sudah mulai panik melihat wajah Tuan Mudanya yang tampak memerah dan berbintik karena gatal itu.


Memberikan minuman dengan lembut dan semakin panik menatap suaminya yang seperti ini.


Kenapa dia seperti ini?, ada apa dengannya?,apa yang terjadi sebenarnya...


"Uhuk .. uhuk..uhuk"


Sudah di beri minum oleh Istrinya tapi tetap saja tenggorokannya terasa gatal dan batuk juga,


mungkin karena efek kacang yang terlalu banyak ia makan dan masuk ke dalam tubuhnya hingga membuatnya seperti ini.


"Apa yang terjadi padamu?, kenapa kau seperti ini?,apa yang terjadi Devino...?"


Terlihat begitu panik sambil memegang kedua pipi suaminya yang tampak memerah itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Devino?, katakan!, katakan kepadaku,kau kenapa?, kenapa kau begini?....."


Melihat keringat dingin yang mulai muncul dan bercucuran membuatnya semakin panik dan gelisah, bahkan perasaanya tidak bisa di bohongi lagi,ia mulai berkaca-kaca karena panik bercampur takut akan keadaannya yang sekarang.


"Aku tidak papa Anjani..!,aku tidak papa!, tenganlah!...uhuk... uhuk... uhuk"masih batuk-batuk dan tetap menggaruk tubuhnya yang tampak memerah itu.


"Kau bilang tidak papa dengan kondisimu yang seperti ini,apa yang kau katakan?,dimana Erik, dimana dia?..."


Panik sambil mencari ponsel suaminya di kantong sakunya untuk segera menghubungi Erik.


"Apa yang kau lakukan Anjani?, aku tidak papa!, jangan menggangu Erik...!"mencoba untuk menangkan istrinya yang berusaha menghubungi Erik dan panik itu.


"Kau bilang tidak papa?,apa yang terjadi padamu?,lihat tangan dan pipimu kenapa menjadi seperti ini?,..."


Mengelus pipi suaminya lembut sambil menghubungi Erik.


Kenapa dia terlihat panik sekali...,


Melihat istrinya yang begitu panik membuatnya tersenyum kecil dan terus menatap Anjani lekat karena merasa bahagia.


Sesibuk apapun Erik saat ini, pastinya Ia akan segera menerima panggilan masuk itu dari Tuan mudanya.


Tuan Muda,


tumben!, apa ada sesuatu yang terjadi?, biasanya ia tidak pernah menggangguku jika aku pergi keluar,apa ada masalah?..


Segera mengangkatnya karena merasa tidak enak diri,


"Halo.."


Nona,


Erik sedikit kaget mendengar suara yang muncul itu adalah suara Nona mudanya,


"saya sedang berada di rumah paman Nona, karena sedang ada tasyakuran disini, jadi saya harus ikut menghadirinya...!"


"Iya sudah!, dimana kunci mobil Devino?,aku ingin memintanya!, kau taruh dimana kuncinya sekarang?..."


Dengan nada paniknya Anjani tergesa-gesa untuk memintanya jawaban kepada Erik. Membuat Erik terbelalak dan bingung harus menjawab apa pertanyaan Nona mudanya ini.


Kunci..,apa yang terjadi?, bagaimana bisa tiba-tiba Nona muda meminta kunci,


mana mobilku sedang aku bawa lagi aku harus mengatakan apa sekarang..


Sementara Devino juga terbelalak mendengar permintaannya.


"Apa yang kau lakukan Anjani?, kenapa kau meminta kunci mobil?"Devino yang sudah panik takut ia mengetahui yang sebenarnya.


"Dimana Kunci mobilnya?,ayo kita kerumahnya sekarang!"


"Tidak usah Anjani, aku tidak papa!'


Tidak mendengarkan perkataan suaminya,ia ingin segera meminta kunci mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.


"Erik kenapa kau diam saja?, dimana kuncinya,aku harus membawa Devino ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


Rumah sakit,


"Apa yang terjadi Nona?,apa yang terjadi dengan Tuan Muda?"


"Dia gatal-gatal dan terus batuk-batuk, bahkan seluruh tubuhnya memerah,aku tidak tahu dia kenapa, dimana kuncinya mobilnya?, dimana Erik?, katakan Sekarang...."


Anjani terlihat sudah begitu panik sambil menintikkan air mata,melihat kondisi suaminya yang terlihat samakin gatal-gatal dan terus batuk-batuk itu.


iya ampun Tuan Muda,apa dia habis makan Kacang lagi?..


"Tenanglah Nona aku mohon jangan panik,apa Tuan Muda habis makan kacang?"


Kacang?, bararti dia tadi...


Anjani terbelalak sambil mendengarkan perkataan Erik.


"Tuan Muda alergi kacang,dia tidak bisa makan kacang karena setiap kali ia memakan kacang kondisinya akan seperti ini..."Erik yang sudah tahu saat kondisi Tuan Muda seperti ini,ia juga ikut panik mendengarnya.


"Apah...?"sudah terlanjur menangis sambil menatap Tuan mudanya lekat karena merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan Devino..?, kenapa kau tidak bilang kepadaku sebelumnya?, kenapa kau malah memakannya tadi..."


Merasa begitu bersalah sambil mengusap wajah suaminya lembut penuh dengan kekhawatiran.


Devino hanya terdiam menatap istrinya yang terlihat begitu panik,ia sedang mencoba menahan rasa gatal di sekujur badannya dan tenggorokannya yang terasa begitu kering.


"Erik dimana kunci mobilnya?,kau taruh di mana kuncinya?, kenapa kau diam saja ayo bilang...!"tidak sabar karena Erik belum menjawab pertanyaannya sejak tadi.


"Bawa saja Tuan Muda ke lantai atas Nona!,aku akan segera memanggil dokter!,percuma saja jika Nona muda mencari kunci mobil itu!, karena kuncinya tidak akan pernah ketemu lagi!"


"Apa maksud mu perkataanmu Erik!, iya sudah panggilkan dokter sekarang!, sekarang juga!"


Merasa begitu khawatir dan langsung mematikan panggilannya.


Maafkan aku Tuan Muda, aku terpaksa melakukan ini, karena aku ingin Nona muda segera mengerti tentang kebaikanmu kepadanya,


biarlah kejujuran ini terbongkar dan tak usah di sembunyikan lagi, supaya Nona muda tahu seberapa besar perjuanganmu untuknya kali ini,


Erik juga bergegas pergi meninggalkan acaranya untuk kembali ke Apartemen Tuan mudanya.


Karena ia sendiri juga merasa panik dan khawatir.


"Kau tidak papa?,apa yang kaku lakukan Devino?, kenapa kau tidak bilang tadi..,kau jadi seperti ini kan sekarang..!"


Anjani memegang kedua pipi suaminya dengan lembut untuk berbicara kepadanya,ia benar-benar terlihat panik dan khawatir menatap suaminya.


"Aku tidak papa Anjani,aku tidak papa!, tenanglah...."


Berbicara begitu lemas sambil menatap istrinya dan akhirnya pingsan begitu saja di bahu istrinya.


"Devino... Devino...kau tidak papa?,kau pingsan?... Devino...?"


Menenpuk-nempuk pipi suaminya mencoba untuk menyadarkannya,namun hasilnya nihil,mata Tuan muda tatap rapat karena pingsan.


Langsung meminta bantuan dari para karyawannya untuk membantu membawa suaminya naik ke lantai atas.

__ADS_1


Pada akhirnya toko roti ini tutup lebih awal di karenakan kondisi Tuan Muda yang seperti ini dan membuat Anjani tidak ingin mengurus toko roti terlebih dahulu, karena ia akan fokus ke kondisi suaminya saat ini.


__ADS_2