
Eh... Papah,aku kira Devino..
Merasa kecewa karena yang pulang bukanlah suaminya, melainkan Papah mertuanya.
"Anjani..!"Mendekat ke arah menantunya yang sedang menunggu itu sambil tersenyum.
"Papah.., Papah udah pulang..?"mengulurkan tangannya sekaligus menyambut kepulangan ayah mertuanya.
"Kau sedang menunggu Devino...?"
"Ee'...Iyah Pah!,aku kira Devino yang pulang.. ternyata Papah..!"Sambil terseyum malu karena merasa kecewa.
"Kau kecewa?...ayo masuk!, Devino pasti akan segera sampai..,dia sudah menghubungi mu kan?, tidak baik menunggu di luar sendirian...!"
"Iya.. Pah, sudah si tadi, katanya dia lagi perjalanan pulang....!"
Merasa kaku untuk berbicara panjang lebar dengan Papah mertuanya itu, sambil berjalan mengikutinya dari belakang karena di suruh masuk ke dalam rumah.
"Zen.., jangan lupa oleh-oleh Anjani kamu bawakan..?"
"Siap tersedia Tuan...!"
Eh...apa lagi ini, kenapa semua orang memberiku hadiah dan oleh-oleh hari ini
"Tin.. tin..."Suara klakson mobil berbunyi, pertanda Devino telah sampai ke rumah.
"Itu Devino pulang..!"
"Oh..iya Pah..,aku mau samperin Devino dulu!"mencoba meninggalkan tempat kembali.
"Sini Nona..., barangnya... biar aku saja yang bawa!"Zen,melihat tentangan yang masih menyangkut di tangan Nona mudanya mebuatnya merasa tidak nyaman.
"Oh... baiklah, Terimakasih Zen..!"
Anjani langsung berjalan menuju pintu keluar untuk menyambut kepulangan suaminya.
"Anjani...!"Panggilan Devino lembut setelah turun dari mobil.
"Sayang..."Memeluk suaminya erat.
"Kenapa lama sekali...?"
"Maaf..,aku ada pertemuan dengan rekan kerjaku..,jadi aku pulang telat!,maaf yah.. telah membuatmu menunggu..!"
"Jangan meminta maaf!,ayo masuk...!,kau pasti sangat capek kan?"melepaskan pelukannya, kemudian langsung menggandeng tangan suaminya masuk ke dalam rumah, bahkan keduanya meninggalkan Erik yang sedang mengambil barang-barang milik Tuan Mudanya yang masih ada di dalam mobil.
__ADS_1
"kenapa kau terlihat lesu..?, katakan apa ada masalah..?"Melihat istrinya yang terdiam memikirkan sesuatu membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku tidak papa...!"Keduanya langsung duduk bersanding di pinggiran ranjang kamarnya.
"Jangan berbohong..!, katakan jika kau menginginkan sesuatu..!,aku tidak bisa melihatmu begini Anjani..!"merasa tidak tenang sendiri jadinya.
Kemudian Anjani terseyum manis dan menatapnya sejenak.
"Kau pasti sangat lelah..?"membelai kepala suaminya lembut.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!,apa yang sedang kau pikirkan hem..?, katakan!,apa yang sedang kau inginkan?"membelai kepala Istrinya lembut, kemudian memeluknya erat.
Erik yang sudah masuk ke ruangan kamar tampak biasa saja, melihat pemandangan seperti ini sudah seperti sarapan pagi,atau makan siang, bahkan makan malam baginya karena sudah terlalu sering atau terbiasa.
"Aku hanya takut kau marah..!"Menunduk, seolah-olah ia tidak berani untuk mengungkapkan hal yang sedang ia inginkan saat ini.
"Aku pasti akan marah..!,dan pastinya sangat marah Anjani...tapi.. jika kau meminta pergi dariku.... muach...!"mencium keningnya hangat sambil mengelus perutnya yang tampak membuncit itu.
"Apa yang kau katakan?"merona sendiri, mendengar perkataan suaminya membuatnya semakin sayang.
"Aku tidak akan pernah pergi dari mu, apa lagi pergi meninggalkan mu Dev..!,itu tidak akan..,itu tidak akan terjadi.., karena aku sangat mencintaimu suamiku..aku benar-benar sangat mencintaimu..!"
Mendengar perkataan istrinya yang begitu indah di dengar di telinganya benar-benar menghilangkan rasa lelahnya seharian bekerja di kantor hari ini.
Kehadiran Anjani baginya adalah ketenangan jiwa, bahkan ia adalah kehidupan dan kenyamanannya,
"Muach... katakan lah!,apa yang sedang kau pikirkan saat ini..?,apa kau ingin makan sesuatu?..,akan aku belikan sekarang juga..!"
"Tidak...!,aku tidak ingin makan apapun!,kau lelah kan?,aku akan siapkan air mandinya yah...!"
"Anjani...kau tidak mendengarkan kata suamimu?,apa yang sedang kau pikirkan?, Katakan...!"Menarik tangan Istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Tapi kan...!"
"Katakan..!, katakan saja apa yang sedang kau inginkan...!"Menatap istrinya dengan tulus dan hangat, agar istrinya mau jujur akan apa yang sedang ia inginkan saat ini.
"Kapan kita pindah lagi?...,aku hanya ingin kita tinggal di rumah kita,aku tidak nyaman tinggal di sini..!"
Maafkan aku Dev, melihat tatapan adikmu yang begitu aneh kepadaku setiap hari membuat ku benar-benar tidak nyaman di sini..
"Aku juga tidak memaksamu untuk pindah secepatnya,aku tahu kau sibuk dengan urusan kantor mu sekarang..,dan aku juga tidak ingin membebani pikiran mu terus kalau aku....!"
"Hust...!"Telunjuknya sudah Menghentikan ocehan Anjani yang panjang lebar karena tidak enak diri untuk meminta semua ini dari suaminya.
"Maaf...!"
__ADS_1
"Kenapa meminta maaf Anjani..?, bukankah aku sudah bilang sejak awal, Nyaman mu adalah kenyamanan ku..,di mana kau nyaman di situlah aku nyaman!,jadi... kita akan pindah secepatnya!,besok mau..?"
"Tapi tidak besok juga kan!, tidak enak sama Papah..!, nanti dikira...!"
"Sudah jangan pikirkan!,aku yang akan mengurusnya!,kamu mau tinggal dimana..?,di rumah kita apa di Apartemen seperti dulu lagi..?"
"Rumah kita yang mana?, rumah yang mana lagi maksudnya?,kau memiliki rumah...?"
"Hehe..,rumah kita berdua sayang..!,kau mau kan?"
"Ki... kita berdua?"
"Aku tahu kau pasti sangat kaget!, Papah telah membuatkan ku rumah, ini semua juga di rencanakan sejak lama darinya,jika aku sudah menikah Papah berjanji akan membuatkan rumah baru dan khusus untukku, dia juga sudah berjanji kepada ibu untuk selalu membahagiakan ku dan menepati janji-janjinya...!"
"Papah memang sangat baik!,aku tahu itu..., sedangkan aku memang sangat egois jika aku minta kita pindah dari sini...!"
"Apa yang kau katakan?, kenyamanan rumah tangga seseorang itu apabila kita hidup mandiri dan tinggal di rumah sendiri Anjani!,aku tahu itu...,kau akan merasa lebih nyaman jika ingin melakukan aktivitas apapun di rumah sendiri..., kita pindah secepatnya, besok juga bisa,kau mau...!"membelai kepala dengan lembut, apapun hal baik yang di inginkan istrinya akan ia turuti dan penuhi.
Kemudian Anjani terseyum senang dan memeluk suaminya erat,ia juga tidak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas perhatian dan kebaikan suaminya benar-benar membuatnya tak berdaya untuk terus mencintai dan menyayanginya selamanya.
"Terimakasih sayang...,kau selalu mengerti apa yang aku inginkan selama ini, aku tidak bisa membalas apapun yang kau berikan selama ini, maafkan aku...aku mencintaimu..!"
"Aku tidak membutuhkan apapun Anjani..!, yang aku butuhkan hanya dirimu!, kehadiranmu dan rasa cinta mu ini yang selalu kau berikan untukku sepenuh hati!..,itu saja yang aku inginkan,dan aku akan selalu merasa bahagia akan ini, tidak lebih!, tataplah bersamaku selamanya Anjani..!"
"Pastinya...!,aku akan selalu bersamamu Devino sampai mati ku...dan sampai nanti juga apabila kita di pertemuan kembali di kehidupan yang lain..!"
Saling tersenyum satu sama lain...,
"Muach...,aku mencintaimu Anjani..,aku sangat mencintaimu....!"
Berpelukan erat kembali,
"Aku sangat lelah sekali...!"Sambil membuka jasnya, kemudian Anjani langsung bergerak dan membantu membuka jas suaminya seraya berkata,
"Tuh..kan,kau kecapean...?, maaf aku!, karena aku tidak bisa membantumu dalam urusan kantor,apa yang bisa aku lakukan?..."Manyun menatap suaminya,karena ia tidak bisa membantu kesibukan yang suaminya lalui di kantor membuatnya merasa bersalah.
"Baiklah..!,aku akan memaafkanmu...,tapi setidaknya berikan aku hadiah malam ini!"
Menyentuh bibir Anjani yang tampak bergelora dan merona itu.
Tanpa basa-basi Anjani langsung mengerti dan terseyum senang, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya dengan lembut untuk melayani suaminya sepenuh hati.
Membuat suaminya tergoda dan merenggutnya dengan lembut begitu saja.
"Kau sangat cantik Anjani...,kau sangat manis.. Muach... muach..!"Berbisik lembut sambil menciumi istrinya di pelukannya.
__ADS_1
Tangan itu mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Anjani yang begitu mulus dan merenggut semuanya yang di inginkan-nya saat ini.