
Anjani menatap suaminya yang terlihat marah itu, lalu mengelus pipinya lembut seraya berkata,
"Aku tidak tahu aku harus mengatakan apa kepadamu...?,Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu selama ini, maafkan aku.., maafkan sikapku selama ini.,dan terimakasih kau telah ada dan selalu hadir di hidupku..., kembalilah hidup bahagia dengan keluargamu Devino..., jangan pikirkan aku!, kembalilah, kau pantas hidup bahagia seperti dulu lagi...!"
Langsung berdiri dari duduknya, lalu meninggalkan tempat itu begitu saja.
Anjani terlihat begitu sedih, entah apa yang membuatnya sangat sedih, hingga membuat Devino ikut berdiri akan menyusul kepergiannya.
"Anjani...!"
Tentu saja Devino gelisah dan segera menyusul istrinya yang pergi meninggalkan mereka semua.
Aku benar-benar tidak menyangka!, menantu yang aku sakiti ternyata berhati mulia...,
Dia begitu baik,
Aku tahu...dia pasti sangat sakit hati sebenarnya,dia pasti sangat sedih kali ini..
Tuan besar masih bungkam dengan perkataan Anjani kali ini,ia tidak tahu harus menjawab dan berkata apa sekarang, yang ada...melihat air mata menantunya yang mengalir membuatnya merasa bersalah sendiri.
Cih..Drama,
ini tidak boleh di biarkan, jangan sampai Papah benar-benar mengembalikan posisi Devino seperti semula, lalu bagaimana dengan putraku?,dia akan kembali jadi anak buah Dev?, tidak!,ini tidak boleh di biarkan,
Nyonya besar semakin geram sekarang, bahkan tangannya sudah mencengkram erat tangan-tangan sofa.
kenapa aku jadi kasian lihat kak Anjani menangis, padahal ia begitu baik, sikapnya begitu lembut dan tidak pendendam, bukankah selama ini sikap kita semua keterlaluan....
kenapa justru kak Anjani yang meminta maaf,
Namun berbeda dengan raut wajah putrinya,ia terlihat tersenyum senang dan berharap kakaknya akan segera kembali pulang dan berkumpul lagi seperti dulu.
tapi senyumannya hilang seketika,ia juga merasa bersalah kepada kakak iparnya kali ini.
Sementara ke-dua pengantin baru ini terlihat berwajah datar, sepertinya mereka juga tidak suka dengan semua ini.
Bukanya membahas dan menyanjung pernikahan mereka tapi malah Tuan besar membahas tentang menantu pertama sejak kemarin, membuat semua iri dan merasa geram.
Bagaimana bisa sekeras hati Papah Bahara bisa luluh seperti ini sekarang,
bahkan... aku tidak menyangka jika ia harus meminta maaf kepada menantunya sendiri, dimana kewibawaannya,
Emely masih terdiam sambil menaikkan alisnya, karena kehadirannya yang baru datang di keluarga ini membuatnya tidak mengerti apa-apa maksud dan permasalahan mereka.
"Aku harap kalian semua segera sadar dan minta maaf lah kepada Anjani nanti!, sikap kita salah selama ini...!, tidak ada perbedaan di antara kita!, aku hanya ingin keluargaku kembali utuh seperti semula!, mungkin Anjani belum bisa menguasai dirinya saat ini, Ingat!, kalian semua harus minta maaflah kepada Anjani!,jika tidak!, kalian yang keluar dari rumah!"
__ADS_1
Gila apa?,
Papah sampai mengancam kita semua untuk keluar dari rumah jika tidak meminta maaf kepada Anjani..
Daniel terbelalak sendiri mendengar perkataan Ayahnya yang begitu serius sambil meninggalkan mereka semua di ruangan itu.
"Iya...Pah, kita akan segera meminta maaf kepada Anjani!"
Senyuman Nyonya besar yang terlihat begitu manis dari luar, sebenarnya ia sedang merasa kesal dan marah dengan semua ini, namun apa dayanya, ia tidak mampu untuk menentang keputusan suaminya sendiri.
"Mah,ayo kita segera meminta maaf kepada kak Anjani!, agar kakak bisa pulang lagi ke rumah!"
"Cukup Diva, apa yang kau katakan!,kau tidak waras..."
"Ini perintah Papah kan mah!"Diva yang terlihat memaksa dan bingung dengan sikap Mamahnya yang begitu sengit saat ini.
Cepat atau lambat Diva harus tahu siapa kakak kandungnya sebenarnya, supaya ia tidak begitu sayang kepada Devino...
Apa yang dilakukan Anjani kepada Papah, kenapa dia tiba-tiba di menerimanya sebagai menantu di keluarga ini..
"Iyah...Iyah Mamah tahu sayang!, kembalilah ke kamar mu...!, ada hal penting yang harus Mamah bicarakan dengan Daniel dan kita pasti akan segera meminta maaf kepada Anjani nanti..!"Senyuman palsu langsung terpapar lagi di wajahnya kepada putrinya yang begitu menyayangi Devino ini.
"Baiklah!"
Diva segera pergi dari ruangan itu sesuai perintah mamahnya.
Setelah keadaan tampak seperti dan hanya tersisa mereka bertiga maka Nyonya besar langsung memulai pembicaraannya.
"Kau dengar itu?,mau tidur mau kita harus meminta maaf kepada Anjani..!,Dan untukmu Daniel!,mamah tidak tahu akan posisimu nantinya,aku rasa Devino akan segera kembali ke rumah...!"
"Ya..ya... Daniel juga tahu Mah!, memang Daniel bisa apa jika kak Dev kembali nanti?, Daniel juga tahu kalau kak Dev adalah kesayangan Papah!"
"Kau menyerah begitu saja?,kau bodoh!, lakukan sesuatu!, Jika kau diam saja kau akan tersingkirkan dari jabatan mu itu...!"
Apa si yang sedang mereka bahas?, kenapa begitu rumit begini..
kenapa masalahnya jabatan segala?
Emely semakin bingung, sebenarnya ia penasaran, namun ia tidak berani untuk bertanya dan ikut campur.
"Sayang!, kembalilah ke kamar dulu!,aku akan segera menyusul mu nanti..!"
Pembicaraan ini begitu penting bagi keduanya, membuat Daniel menyuruh istrinya agar kembali ke kamar terlebih dahulu, supaya ia tidak ikut campur dan bertanya-tanya nantinya.
"Oh... Iyah sayang baiklah!"berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Sepenting itukah pembicaraan mu sayang, sehingga aku tidak boleh mengetahuinya...
"Mah,aku kembali ke kamar dulu!"Dengan rasa penasaran sebenarnya, Emely meninggalkan ruangan itu dengan segera.
"Memang apa yang bisa Daniel lakukan untuk mengalahkan Devino mah?, seberapa keras usahaku selalu di anggap remeh oleh Papah kan?,jika dia memang kesayangannya tetap saja dia kesayangannya!"
"Hey bodoh!, mamah tidak mau tahu!,kau harus berusaha keras seperti apa nantinya!, yang jelas... jika pendapatan perusahaan menurun lagi bulan ini, maka kau pasti akan tersingkirkan kembali!"
"Setidaknya kau harus meningkatkan pendapatan yang kau rugikan bulan lalu,kau tahu seberapa besar yang kau rugikan bulan lalu?"Bertanya dengan kesal menatap putranya.
"253 Miliar!"Menjawab dengan lemas, dan bersalahnya.
"Bodoh!,kau begitu banyak merugikan perusahaan!, tingkatkan usaha mu!, Mamah tidak mau tahu,kau harus mengalahkan Devino kedepannya!"Nyonya besar yang terlihat begitu kesal juga terhadap putranya, lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Sial, segampang itukah mereka semua berbicara!, memang memimpin perusahaan itu semudah itu apa, Devino terus yang mereka puji...!"
Daniel merasa pusing dan kesal sendiri sekarang, karena ia juga tahu ia tidak sehebat Kakaknya.
******
"Anjani...!"Panggilan gelisah suaminya yang menyuruhnya untuk berhenti dari langkahnya yang terus berjalan itu.
Lalu Anjani berhenti seketika mendengar panggilan suaminya itu,lalu memandang suaminya yang mengikutinya .
"Kau kenapa...?"Tanyanya lembut, melihat istrinya yang berderai membuatnya tidak tega.
"Aku tidak papah!"Terseyum menatap suaminya.
"kenapa kau berbicara seperti itu?, kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?, kenapa kau menangis Anjani...?"mengusap air matanya dengan lembut sambil menatapnya lekat.
"Aku hanya ingin hidupmu seperti dulu lagi!,aku ingin kau bahagia..,aku tidak ingin melihatmu sengsara dan berkerja keras di toko roti,Aku hanya terharu..!,apa kau akan kembali ke rumah itu lagi?"
"Kau takut jika kita akan kembali ke rumah itu lagi?"sambil memegang kedua pipi istrinya.
Devino tahu apa yang sedang di rasakan istrinya sekarang.
Anjani pasti masih merasa takut dan trauma atas sikap mereka dulu, terlebih melihat tatapan ibu mertuanya yang terlihat sinis di matanya membuat Anjani tidak berani untuk tinggal di rumah itu lagi.
Lalu Anjani menganggukan kepalanya sambil menatap suaminya yang menatapnya lekat sambil memegang ke-dua pipinya itu.
"Memang siapa yang akan kembali ke rumah itu lagi Anjani?...,aku hanya ingin hidup tenang bersamamu...!,aku tahu sikap mereka keterlaluan selama ini,tapi ketenangan mu lah yang aku pikirkan sekarang!,jika Papah memang sudah merestui kita maka bersyukurlah...!, tapi untuk masalah tempat tinggal,aku akan mengikuti mu.., kenyamanan mu adalah yang utama bagiku, aku tidak ingin kau terluka untuk yang kedua kalinya oleh ulah mereka!,.... muach....!"Mencium keningnya dengan lembut penuh pengertian.
Anjani benar-benar merasa takut jika harus kembali ke rumah itu lagi,dia hanya ingin hidup tenang.
"Aku juga belum percaya atas sikap mereka saat ini, tapi untuk Papah... aku benar-benar tidak tahu kenapa dia begitu tulus meminta maaf!, yang jelas...,jika kau tidak mau tinggal disana, maka kita juga tidak akan tinggal di sana lagi Anjani!, tenganlah!, kenyamanan mu adalah yang utama bagiku..."memeluk erat istrinya yang terlihat sedih dan merasa takut itu.
__ADS_1
Terimakasih sayang,kau selalu membuatku merasa senang...
Mulai tersenyum kembali sambil memeluk suaminya erat.