
Sedikit tidak bersemangat, dengan rasa lelah yang masih melekat di dalam dirinya,
Devino melangkah kakinya meninggalkan parkiran Apartemen.
"Kau mau tidur di sini?, atau pulang ke rumah?,atau mau tidur dengan istrimu juga boleh!"
Tuan Muda yang sudah berdiri di depan lift,lalu masuk ke lift dan Erik mengikutinya dari belakang.
Erik masih terdiam belum membuka suaranya.
"Hubungan mu dan hubunganku memang sama Erik!,kita hidup dengan orang asing yang kita tidak tahu perasaan kita sendiri!,tapi tidurlah sesekali dengan istrimu!,aku juga begitu, kadang selalu tidur dengan Anjani dan kadang tidak,tapi apa salahnya mendekatkan diri!"
"Entahlah,aku juga tidak tahu Tuan Muda, tapi memang beginilah keadaannya sekarang!"
"Coba dekati istrimu sesekali!, mungkin kau juga akan jatuh cinta nantinya, istri berhak mendapatkan kasih sayang dari seorang
suami!, bahkan itu perlu Erik!, mungkin wajib, ya... walaupun pernikahanmu di dasari dengan cara perjodohan ataupun paksaan!"
"Tapi percayalah jika dekat itu tak nampak, namun jika jauh kita akan merasa kehilangan!".
"Saya akan mencobanya Tuan Muda!"
Dua tahun yang lalu,
Ayah Erik sakit keras,ia sakit dan terbaring di rumah sakit bahkan mengalami koma beberapa hari,
Namun saat ia terbangun dari komanya pada saat itu juga hari itu adalah hari terakhir di mana Ayah kandungnya terseyum kepadanya.
Awal pernikahan ini,di awali dari satu persatu keluarganya dengan rekan teman Ayahnya Erik, keduanya di jodohkan di dalam rumah sakit dan menikah di hadapan Ayahnya yang sedang sakit itu.
Tentu saja Erik belum siap menerima semua ini, terlebih wanita yang ia nikahi saja ia belum mengenalnya, bahkan baru bertemu.
Yang membuat Erik tidak menyukai sosok Tita istrinya adalah gayanya yang terlihat tomboy dalam berpakaian,ia selalu menggulung pakaian yang ia kenakan di bagian lengannya,ini membuatnya terlihat kesal saat menatapnya.
Namun apa dayanya ini ada permintaan sekaligus kenangan terakhir Ayahnya di rumah sakit, sehingga dia harus menikahi Tita secara paksa walupun tidak menyukainya sekalipun.
Tapi sikapnya selalu baik kepada Tita,ia tidak pernah menunjukkan akan hal bencinya terhadap wanita tomboy,ia selalu bersikap begitu baik kepada Tita walaupun terlihat jauh jaraknya.
Tita juga mengetahui hal ini, kalau suaminya itu belum juga mencintainya, karena sewaktu menikah, Tita juga belum menyukai Erik,namun seiring berjalannya waktu yang begitu lama membuat Tita merasa jatuh cinta dengan sikap Erik yang begitu baik kepadanya.
Keduanya sudah berada di depan pintu Apartemen,lalu masuk begitu saja mengikuti langkah Tuan Muda.
"Kau sudah pulang?"
Anjani heran melihat keduanya yang pulang lebih awal hari ini.
"Sudah!"
menjawab singkat dan langsung berjalan ke arah pintu kamarnya, ia terlihat lesu tidak bersemangat.
Dia kenapa?,apa dia marah kepadaku...
Anjani merasa gelisah sendiri dengan sikapnya,lalu menatap Erik untuk mendapatkan jawaban dari sikapnya itu, namun Erik juga terdiam menggelengkan kepalanya.
"Kau akan tidur disini kan?,aku melarangmu tidur di kamarku!,kau tidur dengan istrimu Erik!, karena aku akan tidur di kamar kedua!, titik!"
Tiba-tiba menatap tajam Erik, karena Anjani ingin sekali agar Erik tidur bersama istrinya.
Apa Tuan Muda yang memberitahu semua ini kepada Nona Anjani,
bagaimana dia tahu kalau Tita itu istriku..
"Jebrett...!"menutup pintu begitu saja seolah-olah Anjani sedang serius saat ini, padahal ia hanya ingin mengerjai Erik saja.
__ADS_1
Erik langsung berjalan menuju ke kamar ketiga,tanpa mengetuk ataupun basa-basi ia langsung masuk saja ke kamar istrinya.
"haaa.....!"langsung menutupi area dadanya.
bagiamana bisa dia masuk ke dalam kamarku,apa aku mimpi...
Tita yang begitu kaget karena ia sedang berganti pakaian melihat Erik yang masuk ke dalam kamarnya begitu saja membuatnya berteriak.
Erik pun terbelalak melihat penampilan Tita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, namun ia cepat sadar dan membalikkan badan setelah melihat penampilan Tita yang hanya berpakaian dalam saja.
"Maaf!,aku tidak sengaja!"
jantung berdebar-debar, namun banyangan yang indah itu masih melintas dan terngiang-ngiang di pikirannya.
Apa yang sudah aku lakukan,
apa yang sudah aku lihat, kenapa aku masuk pada saat ia seperti ini...
"Tunggu sebentar!,aku benar-benar tidak tahu jika kau akan masuk...."Tita berbicara pelan,ia merasa begitu grogi dan gemetaran
sendiri mendapati Erik yang tiba-tiba masuk dan melihat penampilannya itu.
"Lain kali kunci kamar mu!, bagaimana jika orang lain masuk, jangan ceroboh seperti ini!"
Erik yang bingung harus mengatakan apa, karena ia juga merasa sangat canggung dengan keadaan ini.
"Iyah!, maaf!, sudah...!"
Aku benar-benar tidak menyangka jika Erik akan masuk ke dalam kamarku, lagian ini kan baru jam segini tumben dia sudah pulang...
Membuat Erik membalikkan badannya pelan-pelan dan menatapnya yang sudah rapi berpenampilan.
"Apa kau memerlukan sesuatu?"Mencoba menghilangkan rasa canggungnya untuk berbicara dengan suaminya.
"Aku mau mandi!,aku lelah!"
Tumben sekali dia masuk ke kamarku, bukankah biasanya ia pulang ke rumah atau paling tidak di kamar kedua...,
Terdiam menatap pintu kamar mandi lama, namun ia segera menyiapkan pakaian suaminya dan menyiapkannya di atas ranjang.
Sementara Erik membersikan dirinya,ia mulai membasahi rambut dan dirinya dengan shower sambil memejamkan matanya, namun tiba-tiba bayangan istrinya yang ia lihat tadi melintas di pikirannya kembali,
membuatnya terbelalak dan menyemprotkan mukanya dengan air shower untuk menghilangkan bayangan itu.
Kenapa aku jadi terbayang-bayang si,aku pasti sudah gila, bagaimana bayangan ini terus melintas di pikiranku...
Membasahi dirinya dengan tegangan air yang begitu besar untuk mencoba menghilangkan pikiran kotor itu jauh-jauh dari dirinya.
*****
Anjani masih terdiam duduk di tepi ranjang,ia menunggu suaminya yang sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi juga.
Mendengar jawaban yang begitu singkat dan jutek tadi membuatnya tidak enak diri.
"Clekk..."Tak lama kemudian Devino keluar dari dalam kamar mandi membuat Anjani terdiam menatapnya.
Apa ia sedang marah kepadaku, kenapa dia terlihat terdiam begitu...
Melihat penampilannya yang hanya menggunakan handuk saja yang melingkar di pinggangnya itu membuatnya sedikit mengalihkan pandangan, namun apa dayanya ia tatap mencoba mendekat ke arah suaminya.
"Ini bajunya!,aku sudah siapkan!"
menaruh baju itu di tangannya dan membalikkan badannya untuk segera pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Membuat Devino terdiam menerimanya, melihat sikapnya yang baru pertama kalinya Anjani seperti ini membuatnya menatap lekat dirinya dan terseyum di dalam hatinya.
Tidak mendengar perkataan suaminya sedikit pun membuatnya merasa semakin gelisah sendiri dan membalikkan badannya kembali untuk menatapnya.
Kenapa dia terlihat jutek sekali kepadaku,
apa dia benar-benar sedang marah kepadaku..
Menatap suaminya yang sedang memakai bajunya itu.
Melihat istrinya yang terdiam menatapnya membuat Devino bingung menatap balik.
"Kau sedang marah kepadaku?"Tanya Anjani yang merasa tidak tenang sejak tadi.
"hah?,aku..?, tidak!, bagaimana aku bisa marah kepadamu tanpa alasan dan kesalahan...!"
Berbicara lembut, kemudian
Langsung merebahkan dirinya di atas ranjang,ia benar-benar tidak bersemangat bahkan hanya berbicara singkat saja.
Ia juga bersikap aneh karena menyembunyikan wajahnya dan membenamkan-nya di atas ranjang.
"Kau sudah makan?"Anjani yang sudah mendekat kembali ke arah suaminya
"Kau makanlah dulu!,aku sedang tidak lapar!"masih membenamkan wajahnya di atas ranjang tampan berkutik.
Dia kenapa si?,apa dia sakit?, kenapa dia bersikap seperti ini...
"Kau sakit?"
Hanya menggelengkan kepalanya saja.
Dia kenapa si,
kenapa terlihat cemberut dan lemas sekali...,
Merasa tidak tenang dan naik ke atas ranjangnya untuk berbicara.
"Apa ada masalah?"
Tidak ada jawaban dari Devino ia masih membenamkan wajahnya di atas ranjang dan terdiam anteng.
"Kenapa kau bersikap seperti ini tiba-tiba?, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?,jika ada masalah katakanlah!,apa kau sakit?"
Mengecek suhu tubuh suaminya dengan tenganya lembut.
Membuat Devino terseyum dan masih terdiam di atas ranjang.
"Kau marah kepadaku?"
Masih bertanya lagi, mencoba untuk mencari tahu tentang sikapnya.
Devino langsung beranjak berdiri dari tidurnya dan menatap Anjani lekat.
Apa kau akan tetap bersamaku jika aku jatuh miskin nanti...
apa kau akan meninggalkanku,jika aku jatuh miskin
"kenapa?, katakan?"Anjani merasa bingung melihatnya terdiam menatapnya.
"Tidak,aku lapar!, Ayo makan!"
Menggandeng tangan Istrinya dan mengajaknya keluar untuk makan.
__ADS_1
Devino masih bingung harus melakukan apa sekarang,ia harus berkerja dimana dan bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup bersama Anjani.
Tadi bilang tidak lapar bagaimana si...,