My Marriage Because Of Scandal

My Marriage Because Of Scandal
Kedatangan Allena


__ADS_3

Hari semakin menjelang pagi.


Anjani terbangun dari tidurnya, mendapati wajahnya yang begitu menempel dengan dadanya membuatnya mengundurkan diri karena kaget.


Tangan kanannya pun sudah melingkar di pinggang suaminya, seolah-olah ia sedang memeluk bantal guling-nya dengan sangat nyaman dan erat.


Entah kemana selimut yang di pakai mereka semalam, intinya sudah tidak ada di atas ranjang, sepertinya tergeletak di atas lantai.


Menatap suaminya yang masih terpejam.


Mengingat kembali akan dirinya yang demam semalam.


Apa dia baik-baik saja, apakah masih panas...


Mencoba mengecek suhu tubuhnya dengan tanganya sendiri, masih terasa sedikit hangat namun lebih mendingan dari semalam.


Menghadap ke arah dirinya,menatap dada bidangnya yang terlihat putih mulus itu.


Kenapa dia sangat mulus dan putih sekali,


Menyentuh dada bidangnya perlahan dan mengelusnya,ia tidak sadar akan apa yang ia lakukan, yang jelas tangan itu ingin sekali menyentuhnya.


Tapi kenapa dia tetap wangi walaupun tidak mandi semalam...,


Mendengus ke arah dadanya yang bidang itu, membuatnya tersadar akan apa yang ia lakukan saat ini.


Gila yah,apa yang aku lakukan...,


Langsung beranjak berdiri dari tidurnya, membuat suaminya kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Ada apa...?"Tanya Devino bingung, matanya terlihat begitu sayu dan berlipat-lipat.


Aduh dia jadi bangun kan...,


"Ti... tidak papa!,kau bangun!, maafkan aku..!"


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 lebih, membuat Devino beranjak dari ranjangnya.


"Kau sudah sembuh?"Melihat suaminya yang terus berjalan meninggalkan ranjangnya menuju ke kamar mandi.


"Sudah...!"berbicara lembut sambil memasuki kamar mandinya.


Anjani langsung keluar dari kamar membawa piring makanan dan gelas kotor.


Erik sudah tiba di parkiran, setelah memarkirkan mobilnya ia turun dari mobil lalu menuju ke supermarket mini yang ada di lantai paling bawah Apartemen untuk membeli air mineral.


Rasa hausnya sudah begitu melanda,jika ia minum di Apartemen majikannya yang ada di lantai atas itu terlalu lama,


ia begitu haus dan tidak sabar.


Setelah kelar dengan urusannya di supermarket, Erik langsung keluar ruangan dan berdiri menatap pemandangan sekitar Apartemen yang begitu indah sambil menikmati minumnya.


Tak sengaja mata ini melihat seorang wanita yang pernah ia lihat sebelumnya,ia sedang turun dari dalam mobil.


Membuatnya semakin mengerutkan dahi menatapnya lekat karena penasaran.


Mobil itu juga tampak tidak asing baginya, melihat wanita itu yang membuka kacamatanya membuatnya terbelalak karena ia begitu mengenalnya.


Lancang sekali dia kemari..


Mendekat ke arah wanita itu yang menuju ke arah lobby Apartemen utama.


"Tunggu...!"


Teriak Erik menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam lobby Apartemen.

__ADS_1


"Erik...!"


" Allena kenapa kau kemari?"Tanya Erik yang sangat geram dan mengerutkan keningnya.


"Menemui Devino lah!,siapa lagi!"Jawab wanita itu dengan santai.


"Tidak boleh!,kau tidak boleh menemui Tuan Muda!"Menghalangi Wanita ini yang akan masuk ke dalam lift.


"Kenapa Erik?, karena Devino sudah menikah begitu... hah?..,jadi aku tidak boleh masuk?, lagian Devino tidak mencintainya bukan!"


Menjawab dengan ketus sambil menyingkirkan tubuh Erik untuk berusaha masuk.


"Jangan sembarang bicara!, bagaimana kalau Tuan Muda sudah mencintai istrinya?..,aku yakin Tuan Muda sudah mencintai istrinya!, dan aku juga yakin Tuan Muda tidak mencintaimu lagi,maka pergilah!,tak ada gunanya kau kemari...!"


"Jaga ucapanmu Erik!, Devino hanya mencintaiku saja!, jadi jangan sembarangan..!,aku tahu dia tidak mencintainya!,dan ingat Tuan Muda hanya milikku,milikku... kau mengerti!"Allena merasa begitu kesal.


"Cih... setelah kau mengingkari janjimu waktu itu kau bilang Tuan muda itu milikmu hah..?,lalu kemana dirimu waktu itu!, sehingga kau tidak pulang untuk yang kedua kalinya?,kau bahkan tidak memberi kabar sama sekali kan?,kau pikir Tuan Muda tidak sakit hati hah?, dan satu hal lagi,kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana!..."


"Bukan Urusanmu!, minggir..!"


"Tidak,kau tidak boleh menemui Tuan Muda!,pergi dari sini sekarang!"Erik yang sudah mencoba mengusirnya dari Apartemen ini.


"Erik berani sekali ya kamu!,aku hanya ingin berbicara penting dengan tunangan ku!,jadi minggir, minggir..!"


" Cih...tunangan?, tunangan dari Thailand?,kau mimpi yah?, Tuan Muda itu sudah punya istri!"


Erik merasa begitu kesal,ia terus berusaha untuk menghalangi langkahnya yang akan masuk ke dalam lift, namun Allena tiba-tiba menggigit tanganya dan membuat Erik kesakitan karena kaget.


Sepontan ia terlepas dari genggamannya dan masuk ke lift untuk ke lantai atas.


Erik langsung berlari mengejarnya, namun lift itu sudah berjalan ke lantai atas terlebih dahulu.


"Sial, berani sekali dia kemari!, setelah bersikap seenaknya dan mengingkari janjinya ia kembali lagi dan ingin merebut Tuan Muda begitu saja?, tidak, tidak akan aku biarkan...!"


Setelah berada di depan Apartemennya, Allena langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar dan menggedor-gedor,ia terlihat begitu kesal dan membuat Anjani yang sedang membereskan buku-buku langsung menuju ke arah pintu.


"Thok....Thok.. Thok.."Ketukan pintu yang begitu keras.


Siapa sih tidak sopan banget, kenapa gak sabar sekali


Anjani mengerutkan keningnya sambil membuka pintu dan mendapati wanita yang terlihat begitu modis dan elegan mebuatnya terbengong menatapnya.


"Minggir!"main masuk saja seperti Tuan rumah yang sedang mengamuk.


"Siapa kau?, kenapa main masuk saja?"


Tanya Anjani yang begitu gregetan melihat sikapnya yang tidak sopan.


"Kau bertanya kepadaku?, seharusnya aku yang bertanya kepadamu!, kenapa kau di sini di rumah kekasihku?,apa kau perempuan penggoda itu..?"


menatap sinis Anjani.


"Jaga mulutmu!,apa yang kau katakan?"


Wanita itu tidak memperdulikan perkataan Ajani.


"Sayang...!, Devino!, Sayang...!"Teriakannya yang memenuhi seluruh ruangan Apartemen membuat Devino yang berada di dalam kamarnya mendengar teriakkan yang begitu keras.


Sayang...?,


apa maksud perkataannya?,


dia memanggil Devino sayang,apa dia tunangannya...


Anjani terdiam menatap wanita itu tajam.

__ADS_1


"Allena..., kenapa dia kemari?"


Langsung berdiri dan menuju ke arah pintu kamar.


"Kau gila yah!"


Erik yang sudah datang dan mencoba menyeretnya untuk keluar dari ruangan Apartemen, karena Allena berteriak-teriak tidak karuan menbuat Erik merasa gregetan, untung saja ruangan ini berada di lantai atas, tentunya tidak terlalu mengganggu para tetangga.


"Apaan si!, lepaskan!,Sayang..!, Devino....!"


Berteriak lagi,namun Erik menggenggam erat tanganya untuk menghalangi Allena bertingkah yang tidak-tidak di Apartemen ini, terlebih melihat kehadiran Nona mudanya yang sudah berwajah masam.


"Lepaskan dia!"Tuan Muda yang sudah muncul dari balik kamar.


"Tuh...kau dengar!"


Allena yang begitu bahagia dengan pembelaan Devino langsung menghempaskan tangan Erik dan memeluk Devino begitu saja.


"Sayang...!"Allena memeluk begitu erat Devino dan merasa begitu senang.


Anjani yang melihat pemandangan ini merasa begitu kesal, namun ia mencoba untuk biasa saja melihatnya.


"Lepaskan!"Perintah Devino datar.


"Entar dulu aku kan kangen!, emang kamu gak kangen apa sama aku?..."Allena yang semakin manja dan memeluknya erat.


Membuat Anjani yang melihatnya merasa semakin kesal sebenarnya, namun masih berusaha untuk menahan perasaannya.


Wanita gila yah, berani sekali dia bersikap seperti itu kepada Tuan Muda,


di depan istrinya lagi... dasar gila,


Tuan Muda.. kenapa anda diam saja?,


Erik yang sudah merasa geram sambil mengepalkan tangannya.


"kau tidak dengar?, lepaskan aku..!"masih bersuara datar dengan nada rendahnya menyuruh mantan kekasihnya ini untuk melepaskan pelukannya.


Sambil memperhatikan raut wajah istrinya yang terlihat kesal itu.


Lihat dia, dia bermesraan dengan wanita lain di depan mataku, apa-apaan ini...


lelaki buaya...


"Tidak mau!, aku ingin memelukmu sebentar saja!,tapi kenapa kau pucat sekali...?,kau kenapa sayang?,apa kau sakit?,kau baik-baik saja kan?,kau baik-baik saja kan sayang...?"


Allena yang belum melepaskan pelukannya juga,ia berbicara lembut mantap Devino yang masih terlihat pucat itu.


Anjani sudah tidak tahan lagi melihat ini semua, ia merasa begitu kesal dan sangat kesal.


Pertanda apakah ini..,


Ia langsung mengambil tasnya dan bersiap-siap berangkat ke kampus.


"Aku berangkat!, selesaikan urusan kalian!, dan kau Erik!,tak usah mengantarku hari ini!"


pergi meninggalkan ruangan begitu saja, bahkan terlihat dari gaya bicara saja Anjani sudah sangat jutek dan kesal.


"Anjani...?"Panggilan suaminya yang berusaha untuk menghentikan langkahnya.


"Tapi Nona...!"Teriak Erik juga.


"Hust... sudah biarkan!, biarkan dia berangkat sendiri sayang..!"


Perkataan Allena yang terdengar di telinga Anjani yang mencoba melangkah menjauh dari mereka semua membuatnya begitu sakit mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2