
Pagi menyapa mengantikan tugas sang malam yang sudah usai, disebuah kontrakan sederhana nampak dua orang pria sedang duduk dan berbincang ditemani segalas kopi hitam, aroma kopi hitam menguar membangkitkan semangat hidup seorang Ridwan.Dari luar kontrakan Budi terlihat seorang wanita yang cantik dan sexy sedang menuju arah kontrakan Budi.
"Tok...tok..tok" pintu diketuk
"Ceklek" pintu dibuka oleh Ridwan dan betapa terkejutnya Ridwan melihat siapa yang datang
"Sila!, dari mana kamu tau aku ada disini" tanya Ridwan, kaget melihat siapa yang datang, sudah empat bulan lamanya ia tidak bertemu perempuan ini dan kini perempuan ini datang kembali, disaat ia masih belum bisa melupakan mantan istrinya.
"Itu nggak penting dari mana aku tau, kamu tinggal disini ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, kamu nggak nyuruh aku masuk dulu begitu?" tanya Sila
"Masuklah" ucap Ridwan pada akhirnya.
"Ada tamu to?, siapa dia Wan" tanya Budi.
"Saya Sila pacarnya Mas Ridwan" sila langsung menjawab pertanyaan Budi tanpa diminta.
"Ok, baiklah kalau begitu kalian bicara dulu sepertinya ada yang penting yang ingin mbak bicarakan jauh-jauh datang kesini, aku tinggal kalian dulu" ucap Budi dan langsung keluar dari kontrakanya.
"Mas ada yang ingin aku bicarakan" kata Sila.
"Bukanya sejak tadi kamu sudah bicara" ucap Ridwan.
"Aku serius Mas, saat ini aku sedang mengandung anakmu" ucap Sila
"Juederrrr" bagai disambar petir disiang bolong kabar yang disampaikan Sila cukup mengagetkan Ridwan, bagaimana dia tidak kaget ia sudah lama tidak berhubungan dengan Sila namun kemudian dia datang tiba-tiba dan mengaku tengah hamil anaknya, dulu saat berpacaran dengan Sila hubungan mereka memang sudah terlalu jauh layaknya suami istri, kini disaat ia baru menyadari bahwa cinta sejatinya adalah Aya, kemanapun cintanya berlayar ujung-ujungnya hatinya tetap berlabuh pada Aya, wanita yang sudah menemani dia dari nol dalam keadaan apapun wanita itu selalu bisa menerima keadaan Ridwan, kini nasi sudah menjadi bubur. Pupus sudah harapanya untuk kembali pada Aya, ditatapnya wanita cantik di depanya ini dia masih sama seperti yang dulu selalu cantik dan menarik namun, entah mengapa hatinya sudah tidak lagi tertarik pada wanita ini.
Pandangan Ridwan beralih ke perut Shella yang mulai membuncit.
__ADS_1
"Mas kok kamu diam? Kamu nggak akan lari dari tanggung jawabkan?" tanya Sila
ucapan Sila sukses membuyarkan lamunan Ridwan.
"I..iya Sila, aku akan bertanggung jawab terhadap anak ini, dia tidak salah kita yang melakukan kesalahan tidak seharusnya dia menanggung dosa kita" ucap Ridwan pada akhirnya.Meskipun dari dasar hatinya yang paling dalam ia ragu untuk menikahi Sila karena ia sudah tidak mencintai perempuan ini namun, bagaimanpun jaga bayi ini tidak bersalah sama sekali.
"Syukurlah Mas, kamu mau tanggung jawab. Setidaknya anak ini ketika lahir mempunyai seoarang Ayah" ucap Sila
"Iya aku secepatnya akan menikahimu scara siri dulu, nanti setelah anak ini lahir baru kita resmikan" ucap Ridwan.
"Terserah kamu saja mas, yang penting kamu mau tanggung jawab pada anak ini" ucap Sila.
"Satu lagi mas yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Sila
"Apa itu?" tanya Ridwan.
"Apakah kamu masih mencintai mantan istrimu yang pertama?" tanya Sila to the point. Pertanyaan Sila sukses membuat Ridwan bungkam sesaat, bagaimana bisa dia bilang tidak cinta Aya sedangkan ia hampir masuk penjara demi cinta gilanya pada Aya.
"Pertanyaan kamu tidak perlu aku jawab, Aya sudah bahagia bersama suami barunya yang lebib kaya" ucap Ridwan menutupi kegelisahan hatinya.
"Syukurlah kalau kamu sudah tidak memikirkanya lagi" ucap Sila
"Bahkah aku tidak bisa bernafas barang sejenak tanpa memikirkanya" batin Ridwan
"Satu lagi permintaanku Mas" ucap Sila
"Apalagi Sila" ucap Ridwan mulai jengah perempuan ini banyak maunya.
__ADS_1
"Aku ingin setelah kita menikah aku tidak mau kita tinggal dekat dengan Ibumu" ucap Sila.
"Kamu mau misahin aku sama Ibuku" tanya Ridwan mulai geram saat Sila menyebut nama Ibunya.Bagi Ridwan nama Ibunya terlalu suci.
"Mas, aku nggak mau seperti Aya yang bodoh. Mau saja dimanfaatkan oleh Ibumu dan satu lagi soal keuangan itu yang atur bukan Ibumu karena aku istrimu, jika kamu ingin kasih uang pada Ibumu kamu harus ijin dulu sama aku" ucap Sila
"Sila!, kamu belum apa-apa sudah banyak nuntut kaya begitu, pusing aku mendengarnya" ucap Ridwan.
"Aku hanya jaga-jaga tak ingin mengalami nasib seperti Aya ditelantarkan suami demi memakmurkan Ibumu" sanggah Sila
"Sila, tolong jangan bahas Aya lagi, itu hanya membuatku semakin merasa bersalah padanya, ingat kamu juga ikut andil dalam penderitaan yang dialami Aya" ucap Ridwan jengkel
"Bagus, kalau kamu menyesal artinya kamu tidak akan mengulang kesalahan yang sama padaku, andai aku tidak hamil aku juga tidak mau kembali padamu mengingat semua keburukanmu dimasa lalu" ucap Sila.
Mendengar ucapan Sila yang ingin meninggalkanya entah mengapa ia merasa tidak sedih sama sekali, berbeda dengan dulu bila Sila sudah mengancam meninggalkanya maka ia akan kelimpungan. Rasa Cinta dihatinya kini terkikis sudah niatnya menikahi Sila hanya sebatas tanggung jawab, sikab Silapun sudah tidak sehangat dulu.
Setelah cukup lama kami berbicara Sila berpamitan pulang, Hati Ridwan sejujurnya masih bimbang untuk menikahi Sila karena sudah tidak ada cinta diantara keduanya, ia bisa melihat bahwa Sila juga sudah tidak mencintainya seperti dulu, hanya karena bayi yang ia kandung dia ingin menikah dengan Ridwan.Sehari setelahnya ia berpamitan Pada Budi untuk pulang kampung membicarakan rencana pernikahanya ketiganya dengan Sila pada Ibunya.Sepanjang perjalanan ia terlihat melamun dalam bis ia melihat sebuah keluarga kecil yang sangat sederhana, Ayah, Ibu dan seoarang anak laki-laki kecil seumuran dengan Narayan.Hatinya mendadak sedih sesekali ia melirik keluarga kecil bahagia yang ada di seberang kursi yang ia duduki saat ini.
"Andai dulu aku tidak terjerumus hawa nafsu dan menelantarkan anak dan istriku mungkin saat ini aku sebahagia mereka" batin Ridwan.
Canda dan tawa keluarga kecil itu bagai sembilu menyayat hati Ridwan.
"Tuhan mengapa engkau hukum aku seperti ini? Disaat aku menyadari bahwa istri dan anakku adalah kebahagiaanku kenapa engkau jauhkan mereka dariku Tuhan? Dan kenapa engkau kembali memberikan jodoh kembali padaku wanita yang sudah tidak aku cintai lagi" batin Ridwan meraung
"Ayah, Ayah aku pingin punya adek biar ada temen main" terdengar suara anak disebrang duduknya Ridwan.
"Apakah Narayan juga pingin punya adek seperti bocah laki-laki itu, bahkan aku belum pernah mendengar Narayan meminta apapun padaku meskipun untuk sebuah hal kecil, dan kenapa aku harus melihat keluarga kecil sebahagia itu?" Ridwan kembali membatin
__ADS_1
Tbc...
Jangan lupa like ,comment, favorite kasih kopi juga nggak apa-apa biar otor nggak ngantuk dan semangat nulis