
Cahaya Pov
Pagi ini harusnya aku sudah melakukan aktifitas seperti biasanya, namun gara-gara mas Arman aku jadi terlambat keluar kamar, Ahh...rasanya malu sekali, disaat aku mau menghukumnya aku malah tidak berdaya dengan semua sikab manisnya beberapa hari ini.Semua ia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya padaku, entah kenapa semua menjadi lebih manis pertempuran kami setelah beberapa hari kami perang dingin.
"Mama...tok...tok..tok" kudengar Narayan mengetuk pintu.Ia pasti sudah siap dandan untuk berangkat sekolah.
"Iya nak, bentar" sahutku tapi Mas Arman malah mengeratkan pelukaknya.
"Mas...itu Narayan kasian," ucapku sambil melepas pelukanya.Akhirnya Arman melepaskan pelukanya secepat kilat aku memakai baju dan membukakan pintu untuk putraku.
"Mama kok balu banun?" tanya putraku yang tampan ini.
"Maaf ya, mama kesiangan" ucapku sambil membelai rambut anakku.
"Ndak papa, kata bibi mama lagi capek tadi Nalayan mau bangunin tapi ndak boleh sama bibik, Nalayan udah mandi tinggal calapan aja lalu cekolah" ucap anakku dengan polosnya.
"Anak pintar" ucapku
"Ih...Papa kok ndak pake baju" ucap Narayan lalu aku melirik kearah suamiku.
"Bener-bener ya, suamiku ini hihhh" batinku
"Ah...jagoan Papa, maaf ya Papa nggak pakai baju.Soalnya gerah Papa habis olah raga" jawab Mas Arman.Aku lansung mendelik sebal kearahnya.
"Olah laga?, pelacaan papa balu banun" ucap Narayan keheranan.
"Papa push up dikamar sayang, kamu tau kan push up" tanya Arman.
"Tau pa, tapi biacanya Papa dilual push upnya kenapa cekalang didalam?" tanya anakku aku langsung menepuk jidatku.
"Ya, karena papa sedang pingin push up dikamar aja,Sekarang kamu sarapan dulu Papa mandi lalu antar kamu kesekolah" ucap Mas Arman pandai sekali dia bicara batinku.
Setelah itu Aku langsung mandi dan berdandan sedikit, entah kenapa aku pingin berdandan, biar fresh dikit nggak pucet-pucet amat.
"Mama mau pelgi kemana? Ketoko? Inikan masih pagi?" tanya Narayan.
"Enggak kemana-mana, mungkin nanti Mama ketoko sorean soalnya mama mau ngurus taman dulu" ucapku yang memang mengurus taman yang beberapa hari ini tak aku rawat karena aku terus menghindari mas Arman.
"Kok Mama dandan, biacanya mama nggak dandan?" anakku memang kritis sekali terhadap hal-hal disekitarnya.
Biasanya aku memang tidak pernah berdandan,aku berdandan kalau mau pergi aja, aku jadi kesulitan menjawab pertanyaan anakku.
__ADS_1
"Mama lagi pingin cantik hari ini" Mas Arman mulai mengodaku kembali.
"Cetiap hali Mama cantik gini, juga ndak Papa Nalayan cenang" kata Narayan.
"Papa juga senang,mau dandan mau enggak Papa tetap senang" Mas Arman terus saja mengombal.
"Kalau Mama cantik kaya gini, ndak ada ladi yang bilang mama buluk kalena berbedak tepung" ucap Narayan.
Ah...rupanya hinaan mertua dan mantan suamiku masih membekas dibenak anakku,
"Maafin Ibu ya nak waktu itu, Ibu membuat kamu malu jangankan beli bedak beli sayuran untuk keperluan sehari-hari aja udah syukur banget"ucapku.
"Nalayan ndak malu, cuma Nalayan ndak cuka ada yang bilang begitu cama Mama, kan Mama jadi cedih" ucap tulus anakku.
"Sekarang nggak boleh sedih-sedih lagi, kan ada Papa yang akan melindungi kalian" ucap Mas Arman.
"Iya cekalang ada Papa, Nalayan nggak pelu kawatir kalau mama dicakitin pas Om Ilham ndak ada, kan Papa celalu ada ya kan pa?" ucap Narayan.
"Iya Papa akan selalu ada untuk kalian" ucap Mas Ridwan.Lalu ia memeluk kami berdua.
"Udah ah pelukanya, sekarang kami harus sekolah dulu,ya sayang!" ucapku .Anakku lalu menaganguk patuh dan menyalami lalu menciumku Mas Ridwan ikutan menyalami dan menciumku sambil berbisik "Hari ini aku cuti"
Apa maksudnya dia berkata seperti itu, Ahh sudahlah lebih baik aku lanjutkan aktifitasku merawat bunga-bunga yang kini menjadi hobby baruku, dulu jangankan merawat bunga merawat diri saja tidak sempat, kembali aku bersyukur dengan keadaanku saat ini.
"Hai sayang!, Ada yang bisa aku bantu" tanya Mas Arman basa-basi
"Nggak makasih, kalau kamu disini yang ada bukanya membantu malah ngerecokin" ucapku.
"Yang bener?" ucapnya lalu mendekatiku dan memelukku dari belakang.
"Lepasin ih, ini siang-siang mas jangan peluk-peluk kek gini risih tau nggak sih" ucapku.
"Kalau lebih dari peluk boleh dong" godanya. Tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuhku.
"Mas lepasin, kamu mau ngapain?" tanyaku.
"Mau menghukum kamu, karena kamu sudah menghukumku terlalu lama, sekarang saatnya balas dendam" ucapnya tanpa melepas bopongan tubuhku lalu membawa kekamar kami sejurus kemudian ia mengunci kamar dan terjadilah ronde kedua siang ini.
"Mama...Papa, Nalayan puwang" terdengar suara anakku memanggil baru saja aku hendak merebahkan tubuhku karena kelelahan anakku sudah pulang, kulirik suamiku dia seperti nggak ada cape-capenya di habis mandi dan kelihatan seger banget.
"Kamu buruan Mandi biar Narayan aku tangani" kata Mas Arman dan aku hanya bisa mengangguk patuh.Setelah selesai mandi aku melihat Mas Arman dan Narayan sedang asik bercanda, seketika hatiku menghangat.Tawa keduanya berhenti ketika melihat ada tamu yang datang.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Wa..alaikum salam," ucapku tergagap saat tau siapa yang datang, rupanya mas Ridwan yang datang ia tampak berbeda sekarang tubuhnya kurus, wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus dan kulitnya sekarang agak gelap sangat kontras penampilanya dengan dulu saat kami masih bersama, dulu laki-laki ini sangat klimis kini berbanding seratus delapan puluh derajat.
"Boleh aku masuk?" tanyanya membuyarkan Lamunanku.
"Iya silahkan!" ucapku.Aku tidak menanyakan dari mana ia tau rumahku, itu tidaklah penting yang penting dia tidak mengusikku lagi.
"Narayan ini Ayah" ucap Mas Ridwan namun Narayan kelihatannya cuek banget, aku juga tidak bisa memaksanya untuk langsung luluh pada Mas Ridwan. Bocah sekecil dia memang butuh proses untuk percaya lagi dengan orang yang membuatnya trauma.
"Papa tadi Nalayan gambal loh disekolah, Papa mau lihat ndak?" tanyanya pada Mas Arman.
"Boleh" kata Mas Arman sontak Narayan langsung lari menuju kamarnya untuk mengambil gambarnya untuk diperlihatkan pada Mas Ridwan.Kulihat Mas Ridwan terus memperhatikan interaksi Narayan dan Mas Arman pelupuk matanya mulai mengembun.
"Papa lihat ini baguskan? Ini Papa ini, Mama ini Nalayan" ucapnya sambil memperlihatkan gambarnya satu persatu.
"Jagoan Papa kenapa perut mama kembung kaya gini? Mama cacingan ya?" ucap Mas Arman dan langsung kulempari bantal ke mukanya.
"Iseng banget sih ucapku" tanpa kusadari Mas Ridwan memperhatikan interaksi kami ia juga terus-terusan melihatku dan mas Arman bergantian.Ia mengamati rambutku yang masih memakai handuk juga rambut Mas Arman yang basah, sebagai laki-laki dewasa pasti dia tau apa yang barusan terjadi.Lagi-lagi aku merasa tidak enak padanya.
"Bukan kembung Papa, didalam pelut Mama ada adek bayi" ucap Narayan yang membuat kami semua kaget mendengar jawabanya.
"Kamu mau adek bayi?" tanya Mas Arman kumat isengnya.
"Iya bial Nalayan punya teman main, temen-temen Nalayan juga puna adek bayi Pa" ucapnya.
"Kalau gitu kita tempel saja gambarnya dikamar" ucap Mas Arman.
"Let's go Papa" ucap Anakku.
"Boleh Ayah lihat gambarnya nak" ucap Mas Ridwan tiba-tiba namun, hanya dibalas gelengan anakku yang kemudian langsung naik punggung Mas Arman.Mereka berdua menuju kamar Narayan.
"Kamu kelihatanya sangat bahagia Aya," ucap Mas Ridwan.
"Seperti yang kamu lihat mas" ucapku mantab.
"Harusnya yang diposisi Arman saat ini aku, bukan dia" ucapnya pelan namun masih bisa kudengar kulihat matanya mulai basah
Tbc...
Happy reading guys.....jangan lupa like,comment dan masukin ke favorite kamu yah, biar kalau author updates kalian tau...
__ADS_1
Love you all