
"Pergi kamu dari rumahku" usir Marni pada Ridwan.
"Tanpa kamu usir, aku juga akan pergi dari sini, asal kamu tau sebenarnya aku neg sama kamu" ucap Ridwan tanpa basa basi.
"Sialan kamu!, dasar laki-laki gak modal. Enyahlah dari hadapanku sekarang, jangan lupa bayar semua yang sudah aku kasih ke kamu" ucap Marni mengebu.
"Bayar? Emang gue beli? Elu aja yang murahan.Asal loe tau Bini gue itu kaya korea bodynya kaya gitar spanyol lah elu? Kaya gentong kek gitu, jangan merasa bangga, justru disini aku yang dirugikan dekat dengan kamu" ucap Ridwan tanpa beban.
"Tega ya, kamu ngomong kaya gitu! Bener-bener nggak punya hati kamu" ucap Marni.
"Punya hati buat elu? Sory to say elu nggak level ama gue" ucap Ridwan tiba-tiba pakai elu gue.
Marni melempari Ridwan dengan benda apa saja yang ada didekatnya, ia sangat menyesal telah dipermainkan oleh Ridwan.
"Liat saja Ridwan aku akan bikin hidup kamu menderita" guman Marni dengan gigi gemeletuk menahan amarah.
"Dukun sialan, bukanya aku dapat jodoh yang lebih kaya aku malah diporoti laki-laki nggak guna kaya Ridwan. Awas saja, aku akan meminta pengembalian uang yang sudah aku bayar ke dukun dan juga aku akan menagih ke Ridwan semua uang yang sudah dia gunakan termasuk biaya ngedukunin dia" Marni terus berbicara sendiri.
Ridwan sampai dirumahnya lalu, menjelaskan bahwa hubungannya dengan Marni tidak dapat dilanjutkan lagi, ia juga bercerita kalau marni tidak mau menangung biaya pernikahan mereka dan ingin menagih semua yamg telah diberikan pada Ridwan diangap hutang termasuk setiap Ridwan makan disana dianggap utang oleh Marni.
"Parah banget tuh janda, udah sukur anakku mau kawinin dia. Malah belagu" ujar Ibunya Ridwan.
"Ridwan capek bu, Ridwan mau keluar sebentar barang kali nanti Ridwan dapat pekerjaan doakan saja ya Bu" ucap Ridwan
"Iya semoga kamu segera dapat pekerjaan" ucap Ibunya.
__ADS_1
Sesaat setelah kepergian Ridwan Marni mendatangi kediaman Siti.
"Brak..." pintu dibuka kasar
"Kasar sekali kamu, ini rumah orang jangan seenak jidat.Dasar perempuan nggak tau tata krama, pantesan suami kamu cepet meninggal pasti shock liat kelakuan kamu yang kaya reog begini" umpat Tini Ibunya Ridwan
"Mana Ridwan? Ridwan....Ridwan....keluar kamu! Bayar utangmu jangan jadi pengecut" teriak Marni
"Hai Tarzanwati kamu pikir ini hutan teriak-teriak, bikin kuping budek" hardik Tini.
"Mana anak Ibu yang kurang ajar itu?" tanya Marni sudah tidak sabar pingin memaki kembali Ridwan.
"Ridwan nggak ada, cepetan pergi sana! Dasar janda getel! ditinggal bentar langsung nyamperi, Sini aku garuk pakai parutan kelapa biar nggak gatal lagi" ucap Tini
"Plak..." Marni menampar pipi wanita paruh baya dihadapanya.
"Heh...orang tua macam apa dulu yang harus aku hormati, kalau orang tua macam kamu orang gila juga tau, kalau kamu nggak pantas dihormati.Sudah tua bukanya tobat malah makin menjadi.Ingat umur bentar lagi kamu dipanggil yang kuasa, perbanyak ibadah jangan hanya bisa nyinyir aja" cerocos Marni.
"Kurang ajar!" ucap Tini lalu menarik rambutnya Marni dan terjadilah aksi jambak-jambakan.Siti yang terbangun dari tidurnya langsung keluar melihat keributan dilihatnya kakaknya tengah ditindih dan dihajar oleh Marni.
"Kurang ajar kamu!, beraninya sama orang tua" Ucap Siti sambil menarik Rambut Marni lalu mencekik leher Marni
"Uhuk....lepasin" ucap Marni.
"Siti! Lepasin wewe ini bisa mati kalau kamu cekik kaya gini" ucap Tini.Terpaksa Siti melepas cekikanya lalu mendorong Marni
__ADS_1
"Pergi dari rumahku! Kalau kau masih pingin selamat jangan pernah datang kesini lagi, atau aku akan suruh preman pasar buat perkosa kamu" Ancam Siti. Marni bergidik ngeri mendengar ancaman Siti, Karena siti memang kerja di pasar sebagai kuli panggul yang teman-temanya kebanyakan preman.
"Ampun" ucap Marni memelas
"Satu...Dua.." belum selesai Siti menghitung Marni sudah kabur duluan.
Sementara itu Ridwan yang galau mencari pekerjaan nggak dapat-dapat karena kendala dia mantan Napi, tak ada satupun perusahaan yang mau menerima dia untuk bekerja. Ditengah kegalaunya, dia ketemu dengan seorang teman yang mengajaknya kerja sama untuk mengadakan sirkus keliling.Awalnya Ridwan menolak tetapi, setelah dipikir kembali ia bersedia bekerja sama dengan temannya.
"Bud...itu hewan memang nggak berbahaya apa?" tanya Ridwan pada temanya Budi yang mengajak ia kerja sama mengadakan pertunjukan sirkus keliling.
"Santai aja, buaya itu jinak, ularnya juga jinak kamu tinggal kamu dekati dia pelan-pelan aja" ucap Budi.Arman mendekati satu persatu binatang buas yang akan dibawa ke pertunjukan sirkus.Ada rasa takut yang menyelimuti jiwanya namun sebisa mungkin ia tepis demi cuan.
"Satu lagi Wan, kamu juga harus pakai kostum agar pertunjukan semakin menarik" ucap Budi
"Apa? maksudmu aku harus pakai pakaian sirkus gitu?" tanya Ridwan seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Mau ditaruh dimana mukaku? kalau aku dulunya mantan Manager sekarang jadi pemain sirkus" batin Ridwan
"Wan...aku tau apa yang kamu pikirkan, justru ini adalah jalan yang terbaik buat kamu, dengan kamu memakai kostum dan didandani orang tidak akan mengenalmu.Ini justru menjadi keuntungan buat kamu" ucap Budi.
Ridwan tanpak berpikir sejenak, kemudian ia menganguk tanda setuju.Budi menyerankan Ridwan untuk langsung mulai kerja hari ini.Diamatinya baju kostum pemain sirkus dalam hatinya bergidik, membayangkan ia harus memakai baju itu belum lagi mukanya juga harus didandani, wajah yang selalu ia banggakan untuk menjerat para wanita, kini harus ditutupi dengan make up seperti badut. Mula-mula ia ragu untuk memakainya dengan perlahan-lahan ia memakai kostum itu.
Berkali-kali Ridwan mendesahkan nafasnya lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskanya perlahan.Ia mulai berkaca. Jas dan celana kain dan dasi yang biasanya menempel ditubuhnya yang menjadi kebangganya ketika hendak bekerja kini menjadi sebuah baju dinas kerja yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Ya...Tuhan, aku memang bukan orang yang baik. Sekarang baru aku sadar bahwa rejeki suami itu tergantung dari doa Istri, Aya maafkan aku dulu telah menyia-nyiakan kamu.Aku baru tau ternyata benar beda Istri beda rejeki, sebelum aku menikah dengan kamu hidupku pas-pasan dan kemudian setelah menikahimu derajat hidupku naik drastis namun aku tak mensyukurinya" batin Ridwan menangis meratapi nasibnya kini.
__ADS_1
"Wan jangan melamun, kita akan segera berangkat. Berdoa saja semoga hari ini banyak yang nonton sehingga kita pulang bawa cuan yang banyak" ucap Budi. Lagi-lagi Ridwan hanya bisa menganguk lemah