
Binar memperhatikan rumah Ridwan, sangat miris. Ruang tamu hanya ada empat kursi plastik dan satu meja plastik, lantai dilapisi karpet yang sudah sobek.Cat dinding sudah pada mengelupas, tak ada televisi, kulkas, ataupun perabot lainya.Sekilas ia melirik Dapur hanya ada beberapa panci yang tergantung di dinding dapur.Dalam hati ia bertanya kemana perabot rumah Ridwan, namun ia menahan lisannya untuk tidak bertanya pada Ridwan dan Ibunya. Rupanya Ibunya Ridwan menyadari kalau Binar memperhatikan lingkungan rumahnya.
"Binar, maaf yah...beginilah keadaan kami saat ini.Mungkin ini karma kami setelah Ridwan bercerai dengan Cahaya hidupnya langsung berubah drastis, Ridwan setiap malam menangisi Cahaya dan Anaknya ia sangat menyesal dulu menyiayiakanya hiks...hikss..hikkkss" Ibunya Ridwan memulai dramanya dengan mengarang cerita.
"Dita Istrinya Ridwan ternyata seorang penipu, Dia hamil dengan laki-laki lain dan selama dia jadi menantu Ibu dia terus menghasut Ibu untuk membenci Cahaya, Ibu sangat menyesal hiks...hiks...hiks" kebohongan demi kebohongan terus diucapkan Ibunya Ridwan untuk memperoleh simpati Binar.
"Sudahlah bu, semua sudah berlalu mbak Aya sekarang juga sudah bahagia dengan kehidupan barunya" ucap Binar.
"Iya wanita sialan itu kini berbahagia diatas penderitaan kami, aku benci wanita sialan itu" batin Ibunya Ridwan.
"Iya ....Aya pantas mendapatkan itu semua, setiap malam Ibu selalu berdoa agar Narayan dan Ibunya bahagia. Karena kami tidak mampu membahagiakanya" ucap Ibunya Ridwan sok tulus.
"Iya.....makasih doanya untuk mbak Aya dan Narayan, Mbak Aya wanita yang sangat beruntung meskipun pendidikanya rendah namun dia ulet,tekun jadi usahanya kini mengeliat naik pesat. Orangnya juga Ramah, sabar dia juga cantik banyak orang yang sayang padanya" ucap Aya.
"Bagiku Cahaya tetap sama dia adalah wanita lemah yang bodoh! , namun sepertinya Binar ini cukup pintar aku harus lebih hati-hati menghadapi Binar" batin Ibunya Ridwan.
"Iya...dia wanita yang lemah lembut" ucap Ibunya Ridwan.Bicaranya bertolak belakang dengan batinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu, takut kakak-kakak saya mencari saya. Ini ada sedikit uang untuk berobat Mas Ridwan"ucap Cahaya.
"Nggak usah Binar! Kami Iklas menolongmu" ucap Ibunya Ridwan pura-pura menolak padahal dalam hatinya berharap uang yang lebih.
"Nggak apa-apa Ibu, saya letakkan uangnya disini. Saya harus segara pulang, permisi" ucap Binar kemudian ia keluar dari rumah Ridwan. Begitu Binar keluar dari rumah Ibunya Ridwan cepat-cepat mengambil uang itu.Matanya langsung berbinar begitu melihat beberapa lembar uang berwarna merah.
"Satu, dua, tiga, empat, Lima wah....lima ratus ribu wan, lumayan ini buat makan kita lima hari kedepan" ucap Ibunya Ridwan.
"Ini uang buat beli salep, cuma luka kaya gitu doang nggak usah lebay" ucap Ibunya Ridwan sambil memberi selembar uang dua puluh ribu rupiah dari kantongya sendiri.
"Aku sakit beneran bu, tadi habis digebukin preman" ucap Ridwan.
__ADS_1
"Hallah cuma kaya gitu doang, kecil itumah...dulu kamu juga pernah dihajar Ilham dan anak buahnya sampai sekarang kamu juga masih baik-baik aja jangan sok bikin drama sakit.Ibu nggak percaya. Ya sudah, sekarang Ibu kewarung dulu beli beras sama mie" ucap Ibunya Ridwan langsung melengang keluar meninggalkan Ridwan yang masih meringis kesakitan.
"Dasar Ibu! Kalau ada duit aja, semua dilupakan bahkan aku dalam keadaan sakit begini ditinggal begitu aja" guman Ridwan setelah kepergian Ibunya.
Sementara itu Ibunya Ridwan langsung kewarung membeli beras 1kg dan mie namun ia sengaja memperlihatkan uang lima ratus ribu yang baru saja ia dapat dari Binar.
"Ah...nggak sabar pingin jadikan Binar mantu, kalau dia sudah jadi menantuku aku bisa pamer kesemua orang tiap hari" batin Ibunya Ridwan dengan bibir yang terus mengembang dibibirnya.
Dengan membusungkan dadanya Ibunya Ridwan keluar dari warung, Seraya memamerkan uang ditanganya yang ia kipas-kipaskan di wajahnya.Senyum mengejek melihat tetangga yang melihatnya.Tetangga malah semakin mengunjing kelakuan Ibunya Ridwan.
"Hallah paling juga uang itu hasil minjem, makan aja senin kamis pakai pamer uang segala dasar nggak punya malu" gunjingan demi gunjingan dilontarkan tetangga, namun Ibunya Ridwan tidak mempedulikanya ia mengangap tetangga hanya iri padanya.
###
Kediaman Cahaya
"Maafkan Binar mbak, tadi ketemu temen lama malah asik mengobrol jadi lupa waktu" dusta Binar ia tak ingin membuat kakaknya cemas.
"Maafkan aku mbak, aku terpaksa berbohong. Aku tau kalau aku jujur mbak pasti kecewa" batin Binar.
"Memangnya kamu nggak kuliah? Biasanya kamu bantu-bantu dosen apa itu namanya?" tanya Cahaya.
"Aku nggak kuliah mbak, dan aku udah ijin dosenku untuk tidak mengasisteninya" ucap Binar berbohong sebenarnya hari ini ia ada mata kuliah namun ia membolos karena insiden tadi menyebabkan ia terlambat lebih baik membolos sekalian.
"Ya sudah....kamu mandi terus makan!, kamu belum makan kan?" tanya Cahaya.
"Iya mbak" ucap Binar.
"Binar mbak mau ketoko dulu, kamu mau ikut nggak?" tanya Cahaya.
__ADS_1
"Enggak mbak aku dirumah aja,"ucap Binar.
"Ya udah, kalau gitu aku titip Narayan ya" ucap Cahaya berpamitan dengan adeknya.
"Iya.....mbak tenang aja, Narayan aman bersamaku" ucap Binar.
Seharian Binar menghabiskan waktu bersama Narayan, sore hari Narayan ngajak jalan-jalan Binar ketaman dan Binar menurutinya.
"Tante mau es krim" ucap Narayan.
"Ya udah, kamu duduk disini dulu yah. Anteng jangan kemana- mana tante beliin eskrim buat kamu" ucap Binar.
"Iya tante" ucap Narayan.
Ketika sedang asik bermain Narayan dikejutkan dengan kedatangan Ibunya Ridwan yang tiba-tiba datang dan memeluk Naraya.
"Narayan cucu nenek, nenek kangen," ucap Ibunya Ridwan sambil memeluk Narayam dengan erat.Narayan engap karena pelukan neneknya terlalu kencang, Narayan juga merasa heran dengan sikab neneknya ini kenapa tiba-tiba baik ia berusaha sekuat tenaga melepas pelukan neneknya namun tangan kecilnya tak mampu melepaskan pelukan neneknya.
"Epas...epas" ucap Narayan seraya mendorong tubuh neneknya karena engap.
"Tolong lepaskan cucu saya!" ucap Seseorang tiba-tiba mendorong Ibunya Ridwan.
"Oma...." ucap Narayan langsung menghambur memeluk Yulia.
Melihat pemandangan itu mata Ibunya Ridwan memanas, ia merasa sakit hati melihat Narayan lebih dekat dengan orang lain ketimbang neneknya sendiri.
"Hei...nyonya kaya! Jangan sok ngurusi cucuku, aku masih sanggup mengurus cucuku" ucap Ibunya Ridwan tidak terima.
"Oma...kita pelgi saja nenek kalau cudah malah...malah betah, nalayan pucing dengelnya nanti oma dijambak nenek ,Ayo pelgi oma...Ayo oma" ucap Narayan menarik tangan Yulia ia sudah trauma bila melihat neneknya sendiri kalau sudah memaki-maki orang nggak tau tempat Narayan takut kalau Yulian disakiti neneknya.Sontak Yulia langsung mengendong Narayan.Narayan sendiri lupa kalau tadi ia kesino dengan binar tanpa pamit Binar ia langsung ikut Yulia.
__ADS_1