
Arman mengedarkan pandanganya mencari keberadaan istrinya, rupanya istri tercintanya yang semalaman membuatnya tak bisa tidur sedang menyirami tanaman. Dengan langkah berjingkat, tak ingin di dengar oleh istrinya Arman mendekati Cahaya lalu memeluknya dari belakang lalu menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya.
"Maafin aku sayang" ucapnya sambil mendekap istrinya.
"Lepasin Mas, nanti nggak selesai-selesai nyirami tanamanya" ujar Cahaya.Segala amarah dalam dirinya menguar sudah dengan pelukan hangat dan ucapan maaf dari Arman.
"Aku nggak akan lepasin kamu sampai kamu mau maafin aku, biar aja sampai magrib" ucap Arman.
"Ngaco kamu mas, ini masih pagi mau pelukan sampai magrib, memangnya kamu nggak kerja?" tanya Cahaya.
"Sebelum kamu maafin aku, aku akan terus begini" ucap Arman.
"Iya-iya aku udah maafin kok, aku juga minta maaf mas kalau sikabku kemarin bikin kamu cemburu" ucap Cahaya.
"Sudah lupakan saja, sekarang kita saling janji nggak akan dansa, pegangan pada orang lain, intinya kita nggak boleh kontak fisik dengan orang lain selain pasangan kita" ucap Arman penuh keseriusan.
"Iya mas, sejujurnya kemarin aku juga merasa cemburu melihat kamu dansa sama Shella, itu yang membuat aku nekat menerima tawaran Niko mengajariku dansa" ucap Cahaya.
"Kedepanya hanya ada aku dan kamu jangan pernah ada orang lain diantara kita" ucap Arman.
"Terus Narayan bagaimana?" tanya Cahaya.
"Itu beda cerita, dia buah hati kita yamg nantinya akan tumbuh bersama dengan anak-anak kita yang lain" ucap Arman.
"Sweet banget sih pak dosenku ini" ucap Cahaya sambil mengeratkan pelukanya.
"Mas, ayo kita sarapan dulu setelah itu kita langsung berangkat kerja" ucap Cahaya.
"Aku maunya disuapin kamu" ucap Arman manja.
"Ih manja banget sih, manjanya melebihi Narayan" ucap Aya.
"Kan Narayan tinggal dirumah Mama selama satu minggu dan kebetulan bibi juga sedang pulang kampung jadi kita hanya tinggal berdua, kita anggap aja ini bulan madu kita sebelum nanti kita benar-benar bulan madu" ucap Arman yang membuat pipi Aya merona.
__ADS_1
¤¤¤
Sementara itu Ridwan dan Ibunya sudah sampai di kampung halaman neneknya, keduanya langsung disambut oleh siti adek Tini Ibunya Ridwan.Setelah berbasa- basi sebentar Ibunya Ridwan menceritakan Nasib yang dialaminya tentunya dengan versinya.
Setelah beberapa hari tinggal dikampung dan Ibunya Ridwan terus-terusan menjelek-jelekan Cahaya, membuat Siti meradang diam-diam ia ingin pergi ke kota untuk menemui Cahaya.
"Bulek mau kemana kok sudah rapi begini?" tanya Ridwan.
"Bulek mau pergi ke tempat saudara yang rumahnya agak jauh mau menengok dia katanya sakit, kamu dirumah jaga Ibu kamu" titah Siti pada Arman.
Kemudian ia langsung berangkat ke kota untuk menemui Cahaya dan melabraknya.Sepanjang perjalanan ia sudah merangkai kata yang ingin ia ungkapkan jikalau nanti bertemu dengan Aya.
Setelah sampai dialamat yang ia tuju dia bertanya keberadaan Cahaya, ternyata dia sudah pindah rumah tidak lagi satu kampung dengan Ibunya Ridwan ia juga melihat rumah Ibunya Ridwan sudah ditempati orang lain, kemudian ia ke kampung yang di maksud orang yang ia tanyai ternyata sama juga Aya sudah pindah mengikuti suami barunya. Ia melihat rumah Cahaya yang besar dan lumayan bagus dikampung ini, mobil berderet memenuhi tempat parkir setelah itu Ia juga sempat melewati toko kue Cahaya yang lumayan besar outletnya karyawanya juga banyak. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat sampailah ia dikediaman Cahaya. Sebuah rumah hunian dikawasan elit.
"Ting...tung...ting...tung" Siti memencet bel rumah Cahaya.
"Ceklek" pintu dibuka oleh art Cahaya.
"Apa benar ini rumah Cahaya?" tanya Siti.
"Saya Siti buleknya Ridwan pingin ketemu Aya tolong bilangin ke dia" ucap Siti.
"Baik bu, silahkan masuk saya panggilkan Ibu Aya" ucap Art Cahaya.
"Wah gede juga rumah Aya ini, perabotnya juga lengkap dan ini pastinya mahal semua.banyak duit juga itu bocah"batin Siti seraya matanya menyapu seisi rumah Cahaya.
Tak lama kemudian Cahaya keluar dengan wajah cantiknya rupanya dia sudah bersiap-siap hendak ke toko kue miliknya.
"Ini Aya mantan istrinya Ridwan? Kenapa mukanya jadi bening begini?" batin Siti
"Bulek Siti apa kabar?" tanya Cahaya ramah.
"Loh ini beneran Aya, kenapa penampilanya beda banget dengan Aya yang dulu" batin Siti masih tidak percaya kalau yang dilihatnya ini Aya
__ADS_1
"Bulek kok melamun?" tanya Cahaya membuyarkan lamunan siti.
"Wah sudah sukses rupanya kamu sekarang" ucap Siti tiba-tiba.
"Alhamdulillah bulek, berkat doa bulek" ucap Cahaya ramah.
Narayan dari belakang langsung minta salim untuk berpamitan kesekolah.
"Mama, Ayo belangkat nanti Nalayan telambat cekolah" ucap Narayan.
"Kamu sekolah bareng jemputan dulu ya, Mama lagi nemeni nenek Siti sebentar, salim dulu sama nenek Siti" perintah Cahaya pada Narayan dengan patuh Narayan menyalimi Siti dan mencium tanganya lalu berpamintan kesekolah.Sesaat lamanya Siti tercengang melihat Narayan yang sudah tumbuh besar dan sehat sangat berbeda dengan Narayan yang dulu ia lihat kurus, dekil pakaianya lusuh.
"Diminum bulek!" ucap Cahaya.
"Hebat bener kamu Cahaya anak kamu sekarang manggil kamu Mama, cuih...Mama!, sadar nggak kamu itu nggak pantas dipanggil Mama kamu hanya wanita kampung!" ucapan Siti nyelekit.
"Ada yang salah dengan pangilan Narayan ke saya bulek? Saya sudah menyuruhnya memanggil Ibu seperti biasanya tapi dia tetap pingin mangil aku Mama maklum namanya juga anak-anak" Cahaya menjelaskan pada Siti.
"Gaya banget kamu dipanggil Mama, kamu itu pantesnya dipanggil Emak ingat dulu kamu cuma gadis kampung yang miskin dan dipungut oleh ponakanku Ridwan lalu kamu bisa hidup enak seperti saat ini" ucap Siti lebih nyelekit lagi.
"Maksud bulek apa?" tanya Cahaya.
"Dasar bodoh meskipun pakaian kamu sekarang sudah bagus, namun nyatanya kamu sama saja tetap menjadi perempuan bodoh seperti dahulu" ucap Siti.
"Saya nggak ngerti ya, kenapa bulek datang- datang langsung menghardik saya, salah saya apa sama bulek" tanya Cahaya yang kupingnya mulai memanas akibat ucapan-ucapan Siti.
"Kamu masih nanya salah kamu apa? Lihat dirimu lalu kamu ingat bagaimana kondisi Ridwan saat ini, setelah itu masihkan kamu bertanya salah kamu dimana?" ucap Siti.
"Maaf bulek saya tetap tidak mengerti kemana arah pembicaraan bulek, Saya sudah tidak ada sangkut pautnya dengan mas Ridwan kita sudah menjalani hidup kita masing-masing" ucap Cahaya.
"Apakah ini adil menurut kamu, Ridwan hidup melarat diluar sana sedangkan kamu disini hidup mewah bergelimang harta tinggal dirumah mewah lengkap dengan pembantu" cerocos Siti.
"Maaf bulek, kehidupanku saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan Mas Ridwan. Sudah saya katakan dari awal kita sudah bukan suami Istri lagi" tegas Cahaya.
__ADS_1
"Sombong sekali kamu!" umpat Siti.
Tbc....