
"Inilah sifat Kak Arman yang aku benci, lembek!, tegas dikit napa? Laki-laki dan perempuan itu apalagi bukan muhrim sebaiknya harus ada batasan yang jelas, jangan hanya karena alasan sahabat istrimu terluka, dan lebih parahnya keluargamu berantakan hanya gara-gara sahabat" ucap Ilham penuh penekanan.
"Kakak nyesel Ham" ucap Arman.
"Nyesel terus tapi nggak ada perubahan percuma," ucap Ilham.
"Selesaikan masalahmu sendiri dengan mbak Aya, Aku pulang dulu ada pangilan dari kantor" tambahnya.
Setelah itu Ilham berlalu dari hadapan Arman, kini Arman terpekur seorang diri.Berkali-kali rumah tangganya yang baru seumur jagung hampi kandas gara-gara Shella, kini Aya salah faham lagi soal Shella. Arman benar-benar pusing.
Sementara itu dirumah sakit Aya, masih merenung memikirkan rumah tangganya, haruskan rumah tangganya kandas untuk kedua kalinya gara-gara seorang pelakor, dulu ia ketika masih jadi istri Ridwan bisa langsung memutuskan untuk bercerai, tapi kini ada Narayan yang sudah sangat tergantung pada Arman belum lagi calon bayi yang tumbuh dirahimnya.Ia benar-benar pusing saat ini, dilain sisi ia juga tidak sanggup berbagi suami dengan Shella tapi bagaimana dengan Shella yang sudah mengandung, ia kira itu darah daging suaminya.
"Ceklek" pintu kamar rawat Cahaya dibuka nampak laki-laki tampan dengan wajah kuyu masuk dengan langkah gontai.
"Ham...Kakak pingin makan sate" kata Cahaya tanpa menoleh siapa yang datang, Arman yang mendengar permintaan Aya langsung keluar untuk mencari sate.Beruntung tidak jauh dari rumah sakit ada penjual sate, ia langsung membelinya dan kembali keruangan Aya.
"Gerak cepat juga loe Ham" ucap aya saat mencium aroma sate yang menggugah selera, saat berbalik badan mukanya langsung berubah masam ketika melihat siapa yang datang.
"Yang ini satenya langsung dimakan mumpung masih anget" kata Arman
Aya hanya diam saja, sejujurnya ia sangat ingin makan sate itu namun mengingat kejadian tadi sebelum masuk rumah sakit, ia enggan makan sate dari tangan Arman.
"Aku suapin ya" kata Arman lembut, namun Aya hanya diam seribu bahasa, mulutnya serasa terkunci, lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
"Kata dokter besuk, Mama sudah boleh pulang" kata Arman ia terus saja berbicara meskipun diacuhkan Aya.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Arman keesokan harinya Aya sudah diijinkan pulang, sampai dirumah Narayan menyambutnya dengan Antusias begitupun dengan Yulia.Arman langsung diseret Yulia keruang kerjanya untuk diinterogasi.Arman menceritan semua kejadiaanya sengan runtut tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Lagi-lagi Shella, apa kamu nggak bosan tiap kali ribut masalahnya cuma Shella?" tanya Yulia kesal.
"Ma, Setiap kali Arman mau jelasin ke Aya dia selalu saja tidak mau mendengarkan perkataan Arman, Arman bingung Ma, bagaimana lagi cara Arman membujuk Aya?," ucap Arman frustasi.
"Cobalah bicara dari hati ke hati, kalau istilah jaman sekarang itu apa namanya ...talk apa itu?" ucap Yulia
"Pillow talk Ma," ucap Arman
"Iya apalah itu, kamu coba dulu. Jangan sampai Aya gegagah mengambil sikab, dia itu masih trauma dnegan pernikahan sebelumnya" Nasehat Yulia pada Arman.
"Narayan, Mama mau nanya sesuatu boleh nggak?" tanya Aya dengan hati-hati.
"Ya Ma, ada apa?" tanya Narayan.
"Misalnya kita tinggal berdua lagi, atau tinggal bertiga lagi sama om Ilham menurut kamu bagaimana?" tanya Aya.
"Maksud Mama, kita ndak tindal lagi sama Papa? Kan kasian Papa Ma, tinggal sendiri lagian om Ilham juga seling pelgi-pelgi, Nalayan udah ceneng tindal dicini cama Papa" kata Narayan.
"Deg" Hati Aya serasa dicubit mendengar ucapan anaknya barusan, haruskah ia egois dengan keiginanya untuk berpisah tanpa melihat dari sisi Narayan yang baru saja menikmati hangatnya kasih sayang dari seorang Ayah yang tak pernah ia dapat dari kecil, tapi bagaimana dengan dia sendiri sanggupkah ia menjalani poligami, Aya benar-benar dilema saat ini, jika pusaran takdir memang mengharuskan ia berpisah dengan Arman dan pernikahanya harus kandas untuk kedua kalinya.Ia bertekat tidak akan berumah tangga lagi, ia sudah tidak percaya lagi pada laki-laki, bukan tidak mungkin ia akan kembali terluka untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Mama, cekalang Mama balik ke kamal Mama bial Mama bica istilahat bial ndak cakit" kata Narayan bocah itu seakan tau kalau Mama dan Papanya sedang tidak baik-baik saja.
"Mama sebenarnya mau bobok disini menemani Narayan kan Mama kangen sama Narayan" Cahaya berujar mencari alasan yang masuk akal.
"Mama bobok dikamal Mama aja, coalnya Nalayan udah janji cama Oma mau bobok cama Oma" dusta Narayan, setelah ini ia akan meminta omanya untuk tidur dikamarnya.
"Baiklah kalau begitu, Mama balik kamar dulu ya" ucap Cahaya sambil membelai kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
Setelah sampai dikamarnya Cahaya langsung mengambil air untuk bersuci, kemudian ia mengelar sajadah untuk mengadukan prahara rumah tangganya, ia benar-benar sudah pasrah akan dibawa kemana nasib pernikahanya.Tak lama setelah itu Arman masuk kamar, laki-laki tampan itu tersenyum melihat istrinya sudah keluar dari kamar Narayan, tadi ia sempat mengira kalau Cahaya akan tidur dikamar Narayan.Setelah menunaikan kewajibanya Cahaya langsung naik kepembaringan lalu disusul oleh Arman.
"Kamu boleh melupakanku! Tapi jangan lupakan Tuhanmu," sarkas Cahaya.
"Astagfirullahaladzim, aku sampai lupa belum sholat" ucap Arman lalu bergegas untuk bersuci kemudian beribadah, ia berdoa sangat khusuk dan lama sekali, Cahaya sampai heran dibuatnya tidak biasanya suaminya bersikab seperti itu.
"Ngapain dia berdoa lama sekali, tumben-tumbenan apa dia meminta sama yang Maha Kuasa agar aku mengijinkan ia berpoligami, tidak...aku ngak sudi dimadu lebih baik aku yang mundur" batin Cahaya, yang masih saja berprasangka buruk pada suaminya.
Setelah menunaikan kewajibanya Arman langsung berbaring disamping Aya, walaypun dipunggungi ia tidak Masalah asalkan ia masih satu kamar, ia hanya berniat meluruskan persoalan yang sebenarnya.
" Sayang, aku mau bicara tolong jangan dipotong, setelah itu terserah kamu setelah mendengar apa yang ingin aku sampaikan padamu, Sayang aku bersumpah demi apapun aku nggak ada hubungan apapun dengan kehamilan Shella, dia sedang terkena musibah dia di******a empat orang laki-laki biadap, mereka adalah teman sekantor Shella, kejadian itu sudah berlalu satu setengah bulan yang lalu dan Shella baru menyadari kalau dia Hamil, belum lama ini dia takut berbicara pada Mama dan Papanya, karena Papanya punya riwayat penyakit jantung, ia tidak mau Papanya kenapa-napa, dan satu-satunya orang yang ia percaya saat ini hanya aku, tapi aku tidak akan turut campur lagi apapun yang berhubungan dengan Shella, demi kamu dan keluarga kecil kita sayang" ucap Arman mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Tbc....
Jangan lupa,like comment, favorite vote juga boleh
__ADS_1