
Setelah aku mematikan sambungan Vicall, kini kembali kesunyian yang menemaniku. Tak terasa air mataku mengalir deras, tak ada kata yang bisa mewakilkan perasaanku saat ini, aku selalu teringat ucapan anakku bahwa aku harus bahagia karena dia juga bahagia.Bagaimana aku bisa bahagia, saat ini kebahagiaanku ada pada kalian dan Ibu, Ibu aku jadi kangen dengan beliau. Kemudian aku gelar sajadah untuk bersujud meminta ampunan dari segala dosa yang telah aku perbuat dan dosa-dosa Ibuku, semoga Yang Maha kuasa mengampuni kami.Pagi hari aku setelah membersihkan masjid aku bekerja seperti biasanya, hari ini lumayan, aku dapat upah tiga puluh ribu rupiah dari hasil bantu-bantu angkat sayuran.Selesai bantu-bantu angkat sayuran aku kembali ke toko Aki Ali.
"Ridwan dari tadi aku lihat kamu murung terus? Ada masalah apa?" tanyanya.
"Nggak ada apa-apa Aki, aku hanya kangen sama Ibu, tapi mau bagaimana lagi terakir aku menengok beliau teriak-teriak dan malah nggak bisa tenang seharian, terpaksa aku menahan rindu demi kebaikan Ibu" kataku.
"Ridwan, misalnya Ibumu dirukiyah bagaimana?" Aki Ali mencoba memberi Ide.
"Memang bisa Aki?" tanyaku
"Aki tidak bisa, tapi Nisa bisa melakukanya kalau kamu mau, Aki bisa menyuruh Nisa untuk membantu merukiyah Ibumu" kata Aki Ali.
"Dek..Ni...sa Aki?"tanyaku ragu, karena semenjak kejadian itu aku memang menghindarinya dan jarang berinteraksi denganya.
"Iya kenapa, kamu keberatan?" tanyanya.
"Bu..bukan begitu Aki, hmmm gimana ya" ucapku bingung bagaimana mau menyampaikanya.
"Aki sudah tau, masalah kamu dengan Anisa dia sudah bercerita pada Aki, kalau kamu keberatan berduaan dengan Nisa, Aki bisa ikut bagaimana kamu setuju?" tanya Aki Ali.
"Tapi Aki, kalau Aki ikut tokonya bagaimana?" tanyaku.
"Ya ditutup aja, Aki masih bisa makan kalau hanya menutup toko beberapa hari " ucap Aki Ali.
"Baiklah Aki, sebelumnya terima kasih sekali Aki mau bantu saya selama ini saya tidak tau harus bagaimana lagi cara saya menyampaikan rasa terima kasih saya" ucapku sungkan pada Aki Ali.
__ADS_1
"Tidak usah merasa sungkan seperti itu Aki sudah anggap kamu seperti keluarga sendiri" ucap Aki Ali.
Keesokan harinya dengan mengendarai pickup kami bertiga menuju RSJ tempat dimana Ibu dirawat, sesampainya disana seperti biasa Ibu menjerit histeris dan menangis, air mataku tumpah melihat kondisi wanita yang aku cintai didunia ini dalam kondisi seperti ini. Dengan di bantu Aki Ali, Anisa memulai ritual rukiahnya. Awalnya Ibuku berteriak teriak.
"Siapa kamu? Jangan coba-coba mengusikku" kata Ibu dengan tatapan kemarahan.
"Aku hamba Allah yang akan mengembalikan jiwa Ibu Tini yang sudah kamu sesatkan" kata Anisa
"Apa maksud Anisa? Jiwa Ibu yang disesatkan?" batinku terus bertanya-tanya.
"Jangan main-main denganku kamu tidak tau siapa aku" kata Ibu sangat marah.
"Aku hanya menyelamatkan anak Adam dari bujuk rayumu" ujar Anisa.
"Tutup mulutmu, aku tidak merayunya dia yang datang padaku dan memohon pertolonganku" kata Ibu, yang membuatku semakin tidak mengerti kenapa Ibu bisa diajak komunikasi oleh oleh Anisa sedangkan, dokter pun tidak bisa komunikasi dengan Ibu , aku jadi semakin kagum dengan wanita ini, Aku lihat Anisa membaca, ntah Ayat apa itu aku tidak tau, tapi ini cukup membuat Ibuku bereaksi, dia berteriak-teriak kencang dan ingin mengamuk aku lihat Anisa mengeluarkan keringat didahinya sebesar biji jagung, sungguh aneh menurutku dia hanya baca doa atau ayat apalah aku kurang begitu faham tapi, dia sampai berkeringat begitu seperti orang habis berkelahi.Setelah beberapa saat tubuh Ibu mulai melemas dan pingsan.
"Mas Ridwan tenang saja, kondisi Ibu baik-baik saja sebentar lagi dia akan sadar" kata Anisa dia kelihatan lelah sekali, Aki Ali mendekati putrinya lalu memberikan sebotol air mineral.
selang beberapa saat Ibu tersadar.
"Ridwan," itulah kata pertama yang keluar dari bibir Ibu, sungguh ini adalah sebuah keajaiban menurutku, sekian lama aku merindukan Ibu memanggil namaku kini aku bisa mendengar Ibu kembali, aku manangis terharu lantas kupeluk tubuh kurus Ibu.
"Ibu, ini Ridwan bu, Ibu ingat siapa aku?" tanyaku dan Ibu mengangguk pertanda ia mengenaliku, seketika aku bersujud syukur.
"Alhamdulillah ya Allah, makasih ya dek Anisa, Aki Ali" kataku. Aku sangat bahagia hingga tak dapat kugambarkan bagaimana rasa bahagiaku saat ini.Tak henti-hentinya aku bersyukur.
__ADS_1
"Ridwan, Ibu takut, Ibu tidak mau kesana lagi. Ibu nggak mau" kata Ibu yang membuat aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu.
"Mas Ridwan, biarkan Ibu tenang dulu saat ini kita belum bisa membawanya keluar dari tempat ini setidaknya tempat ini aman baginya jika sewaktu-waktu Ibu kambuh kembali" kata Anisa
"Memangnya Ibu belum sembuh total?" tanyaku
"Belum mas, Ibu baru satu kali diobati ini memerlukan beberapa kali pengobatan seperti ini, namun kadarnya sudah berkurang , mas banyak-banyak bantu doa memohon ampun segala dosa Ibu pada Yang Maha kuasa" kata Anisa dan aku hanya bisa mengangguk pertanda setuju setelah itu kami langsung pulang karena jam besuk sudah habis, dalam perjalanan pulang aku memberanikan diri bertanya pada Anisa sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu.
"Dek Anisa, apakah Ibu bisa disembuhkan dek? Tanyaku.
"Nggak ada yang nggak mungkin bila Allah menghendaki" kata Anisa.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu dek?" tanyaku penasaran.
"Sepertinya Ibu main dukun mas" kata Anisa.
"Nggak mungkin, Ibu tidak pernah pergi kedukun dan buat apa ? Apa yang membuat Ibu pergi ke dukun, itu rasanya mustahil dek" kataku
"Itu hanya dugaanku saja mas, semoga aku salah, tapi ada baiknya mas bicara dari hati ke hati sama Ibu apa saja yang sudah Ibu lakukan dan bujuk Ibu meminta maaf pada orang yang Ibu sakiti, agar orang itu memaafkan Ibu dengan begitu jika Ibu benar-benar bertaubat maka Insya'allah Allah akan mengampuni Ibu dan Ibu bisa sehat seperti sedia kala" kata Anisa kelihatan sekali dia berhati-hati memilah-milah kata yang ingin ia sampaikan padaku
"Orang yang pernah disakiti Ibu, selama ini Ibu sering sekali menyakiti banyak orang, tapi yang paling parah dan paling sering Ibu sakiti adalah Aya, Apa mungkin Aya balas dendam dan menyakiti Ibu dengan cara seperti ini" batinku
"Dek, apakah sakitnya Ibu ini diguna-guna orang yang disakiti oleh Ibu?" tanyaku penasaran.
"Aku rasa tidak mas, sepertinya orang yang mau disakiti Ibu orang baik dan Imanya cukup kuat jadi sihir ini berbalik pada Ibu" kata Anisa.
__ADS_1
Tbc.
Jangan lupa like, comment, fav dan juga hadiahnya ya heheheh