NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Sendiri memeluk sepi


__ADS_3

Pov Ridwan


Hampir satu bulan aku tinggal digudang ini, rasanya tenang dan damai, Setiap sepertiga malam aku selalu terbangun untuk mengadukan lara dan deritaku, karena hanya padaNya aku bisa mengadukan nasibku, kugelar sajadah kulantumkan doa-doa agar aku mendapat ampunan dari semua dosa-dosa yang aku lakukan dahulu, aku juga memohon agar diberi keiklasan dan ketabahan dan menjalani takdir hidupku ini.


Aktivitasku setelah membersihkan masjid kini aku juga bekerja di toko Aki Ali aku bantu-bantu disana, tokonya lumayan ramai, Aki Ali hanya tinggal berdua dengan putrinya Anisa dia adalah janda empat kali cerai karena dia wanita mandul, sebenarnya Anisa adalah wanita yang cantik, soleha dan juga baik namun nasib percintaanya tidak semanis wajahnya, dari sini aku bisa belajar bahwa semua orang itu diuji melalui takdirnya sendiri-sendiri.


Hari ini Aki Ali menyuruhku untuk berbelanja bahan baku ke kota, sudah lama sekali aku tidak ke kota, pada saat makan siang di warung nasi padang aku tak sengaja bertemu teman-teman kantor waktu aku masih berjaya dulu, rasanya aku sangat kecil sekali dihadapan mereka.


"Hai Wan, disini juga?" tanya Dini temanku


"Iya," ucapku mereka pasti sudah tau kisah hidupku, seperti biasa mereka pamer keberhasilan mereka selama ini, dan pencapaian-pencapaian yang sudah didapat, aku dulu juga sama seperti mereka saat makan siang pasti menjadi ajang pamer, Ya Tuhan ternyata buruk sekali prilakuku dimasa lalu, setelah selesai makan Dini menghampiriku dan membisikkan sesuatu.


"Wan, habis ini aku tunggu kamu dihotel melati, aku tau kamu pasti sudah lama nggak memadu kasih.Aku siap melayanimu" bisik Dita ditelingaku, sungguh aku merasa sangat risih.


"Maaf Din, aku nggak bisa" ucapku singkat dan sepertinya dia tersingung


"Hallah munafik kamu, casing kamu memang sudah berubah tapi aku yakin kamu masih sama seperti yang dulu doyan selingkuh, nggak usah jaim aku tau kamu sekarang kere, nggak ada uang tenang aja aku yang akan bayari" ucap Dini pelan

__ADS_1


"Sekali lagi maaf Din, aku nggak bisa" aku tolak halus dia agar tidak ada keributan, saat ini aku lebih suka menghindari keributan.


Lalu Dini dan teman-temanya meninggalkanku, sebelum pergi dia membayarkn makananku.


"Pak sekalian di meja sana, kasian itung-itung sedekah" ucap Dini agaknya dia kecewa padaku sampai ngomong pedas kaya gitu.Aku bersyukur setidaknya aku bisa menolak ajakan maksiat hari ini, kalau dulu pasti aku iyain aja, yang penting suka sama suka tidak ada masalah bagi kami, Ya Allah betapa kelamnya masalaluku.Setelah dari makan padang aku memutuskan untuk melihat Narayan dari kejahuan, aku lihat dia pulang sekolah di jemput papa barunya, dia kelihatanya bahagia banget, Arman sepertinya tulus menyayangi anakku.


"Ayah senang nak, kamu tumbuh dengan baik dan tidak kekurangan suatu apapun, Ayah janji Ayah akan bekerja keras untuk kamu" batinku


Setelah urusanku selesai aku langsung pulang dan membawa bahan baku pesanan Aki ali, sampai ditoko sudah sore, Aki Ali menyuruhku untuk pulang, bergegas melangkahkan kaki kemudian membersihkan diri lalu ke masjid untuk menunaikan pangilan Yang Maha Kuasa, setelah sholat aku duduk di mushola kulihat anak-anak sedang TPA diajar oleh Anisa, dengan telatenya ia membimbing anak-anak mengaji, sekilas wajah Anisa mirip dengan Cahaya, ah...kenapa aku jadi ingat dia, itu tidak boleh dia bukan muhrimku lagi, aku tidak boleh memikirkanya lagi meskipun tidak dapat kupungkiri aku masih mencintainya.Aku jadi berfikir apakah saat ini Narayan juga sedang TPA seperti anak-anak disini, atau mungkin ia sedang mengaji privat dengan seorang ustadz, melihat anak-anak ini aku jadi semakin merindukan anakku, tadi aku juga melihat nenek sambungnya sangat menyayanginya melebihi neneknya sendiri, nenek Narayan? aku jadi keinget Ibuku yang malang, sedang apa dia saat ini, terakir aku besuk dia masih mengamuk dan tidak mau bertemu denganku, hari berikutnya aku menjenguk Ibu kembali keadaanya semakin parah aku menangis melihat keadaan Ibu, dia mengaum lalu mencakar-cakar tanah ,lalu tertawa menyeramkan seperti kuntilanak, Ya Tuhan ampuni dosa Ibu hamba, sungguh hamba sangat menyayanginya.


"Mas Ridwan kok melamun?" tanya Anisa padaku yang membuyarkan lamunanku.


"Belum Mas, ini masih nungguin anak-anak sholat dulu, mas nggak ngaji dulu?" tanya Anisa.Aku langsung mengaruk kepalaku yang tidal gatal.


"He..he...he, maunya sih ngaji dek, tapi sayangnya saya belum bisa ngaji, huruf arab saja saya tidak mengerti" ucap Ridwan


"Mas, bisa ngaji pelan-pelan baca iqro' dulu, nanti kalau Mas tidak keberatan Nisa ajarin" ucap Anisa.

__ADS_1


"Memangnya dek Nisa nggak keberatan ngajari saya ngaji" ucap Ridwan.


"Saya malah senang Mas,bisa mengamalkan Ilmu saya" ucap Anisa dengan senyum manisnya, ihh...apaan sih aku ini, nggak boleh ini nggak bener aku nggak boleh menatap dia lama-lama.


Setelah pembicaraanku dengan Anisa waktu itu setiap sore aku belajar mengaji walaupun baru iqro' , aku bersunguh-sunguh dalam mempelajarinya. Anisa tampak senang dengan kemajuanku dan dia juga suka semangat belajarku diusia yang sudah tidak muda lagi ini. Hingga magrib sampai isya' aku masih dimasjid aku jadi semakin rajin berdzikir mengingat keagungan Yang Maha Kuasa, aku mulai akbrab dengan penduduk sekitar terutama kaum laki-laki, Malam semakin larut, satu persatu orang meninggalka masjid tinggalah aku disini sendiri memeluk sepi, aku keluar masjid lalu ke warung kopi sebentar untuk mengusir sepi.


"Mas Ridwan sendirian terus, truk aja gandengan loh mas" goda pemilik warung.


"Hallah Bapak ini ada-ada saja, saya ini penganguran akut. Kerja serabutan kalau siang bantu-bantu ditoko kalau sore kalau ada yang ngasih kerjaan ya kerja kalau enggak ya ngangur lagi, mana ada perempuan yang mau sama saya ,heheh" ucapku sambil menertawakan hidupku sendiri.


"Mas Ridwan ini ganteng, itu sudah cukup jadi modal buat menjerat gadis-gadis atau janda pasti maulah sama mas" ucap Pemilik warung.


"Hallah pak, makan wajah ganteng nggak cukup pak. Saya sudah berkali-kali gagal dalam rumah tangga, kini mantan anak dan istri saya sudah bahagia dengan keluarga barunya" ucapku sedih.


"Mas kenapa nggak deketi Anisa aja mas, dia sebenarnya perempuan yang baik, hanya saja nasib tidak berpihak padanya, dia juga berkali-kali gagal dalam rumah tangga terakir dia mondok untuk memperdalam agama dan melupakan semua masalahnya" ucap pemilik warung. Aku tersenyum rupanya bukan hanya aku saja yang brengsek diberi cobaan, ternyata orang baik juga diberi cobaan.


"Mas, kok senyum-senyum , naksir ya sama mbak Anisa?" goda pemilik warung.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, comment dan fav ya men temen


__ADS_2