NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Slip gaji Ridwan


__ADS_3

Dua Tahun berlalu sudah kini anakku Narayan sudah berumur dua tahun .Ia sangat lincah dan mengemaskan dia adalah pelipur laraku .Dengan hadirnya dia sejenak bisa mengalihkan sakit hatiku atas ketidakadilan sikab Mas Ridwan padaku dan keluarganya. Yang lebih miris lagi ia lebih menyayangi Dinda anaknya Dita.


"Mas besuk Narayan ulang Tahun kamu mau kasih kado apa?" tanyaku


"Hallah anak sekecil Narayan belum tau apa apa, dibelikan mainan paling juga dirusakin.Sayang buang buang duit " lontar Mas Ridwan yang membuat hatiku sakit


"Apa kamu bilang mas? buang buang duit? yang benar saja? Narayan itu anak kamu, Dinda ulang tahun saja kamu belikan rumah rumahan barbie yang mahal, sementara untuk anak kamu kamu bilang cuma buang buang duit" ucapku geram


"Aya ...jangan mulai deh, ribut terus apa kamu nggak cape? kamu jadi orang jangan egois, kamu


taukan kalau Dinda itu ponakanku yang kurang beruntung bapaknya kerja serabutan begitu, ibunya cuma Ibu rumah tangga, itu boneka barbie yang aku belikan dia cuma nitip aja harusnya aku yang beliin sebagai pamanya" sewot Mas Ridwan.


"Terus kamu sebagai ayah Narayan apa yang kamu kasih kedia? selain nafkah dua puluh ribu yang kamu kasih ke aku?" tanyaku


"Iya besuk aku belikan mobil mobilan" kata Mas Ridwan pada akirnya


"Nah gitu dong, sekali kali buat anak sendiri" ucapku.


"Sekarang kamu nggak usah marah marah lagi, aku sayang sama kalian" ucap Mas Ridwan


"Iya maafin aku ya mas." ucapku pada akirnya


Seminggu setelah kejadian itu mas Ridwan sering dinas keluar kota. Sepulang dari luar kota dia lebih ramah dan jarang marah marah. Aku berharap mas Ridwan akan seperti ini seterusnya.


"Aya... Mas berangkat kerja dulu ya, jaga rumah baik baik jangan terlalu capek" pesan Mas Ridwan


"Nggak capek gimana, aku ngasuh anak sambil jualan belum lagi kerjaan rumah seabrek, Mas Ridwan ngelawak apa bagaimana?" tanyaku


"Sudah jangan marah marah terus, ini uang belanjanya sudah aku tambahin" ucapnya sembari memberi amplop padaku


"Wah tumben banget mas Ridwan ngasih aku pakai amplop segala, bisanya juga cuma dua puluh ribu dikasih diatas meja" batinku senang


"Iya mas, terima kasih" ucapku


"Kamu nanti beli bedak atau pengharum ketiak kek" ucapnya dan mengecup keningku sebelum pergi.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... mimpi apa semalam mas Ridwan ngasih uang aku seamplop" gumanku buru buru aku membuka amplop itu. Aku sudah membayangkan uang merah merah atau biru biru yang akan aku terima. Semyum terus mengembang dibibirku. Dan betapa terkejutnya aku setalah membuka amplop yang katanya uang belanja ditambah ternyata dia hanya menambah dua ribu saja .


Betapa begonya aku terlalu berharap, nggak mungkin dia tiba tiba kasih uang aku banyak selama ini mentok cuma dua puluh ribu.Dengan langkah gontai aku membersihakan kamarku hari ini tumben banget anakku ngompol. usianya kini sudah dua tahun dia tidak pernah memakai pempers sejak bayi karena keterbatasan ekonomi kami.


"Aduh anak Ibu ...tumben kamu ngompol" tanyaku pada anakku


"Iya ompol..maap" katanya. aku gemas langsung mencium pipinya kemudian aku memandikanya dan mendadaninya


"Sekarang anak Ibu sudah ganteng, main dulu disini jangan kemana mana ibu mau ganti sprei dan jemur kasur" kataku pada anakku.Waktu aku mengangkat kasur ternyata dibawah kasur ada sebuah amplop.


"Amplop apa ini?" gumanku lalu aku membukanya ternyata isinya slip gaji.


"Ini kan tertulis nama Mas Ridwan di slip ini, dan jabatan dia Brand Manager dan ini gajinya lima belas juta termasuk tunjangan dan lain lainya" aku membaca seksama slip gaji dari suamiku ini.Ternyata selama ini dia membohongiku .pertanyaanku cuma satu kemana gajinya selama ini? Aku harus tenang seolah olah tidak tau apa apa ,aku harus menyelidiki terlebih dahulu.


Sambil membersihkan kamar dadaku terus bergemuruh, dalam hatiku terus bertanya tanya kemana larinya uang segitu banyaknya? sehari hari ia kerja hanya menggunakan motor butut. Dan pakaian dia juga sederhana. Lagi-lagi aku bingung dengan fakta yang aku temukan barusan.


Keesokan paginya aku diam diam mengikuti mas Ridwan. kulihat dia mampir dirumah Ibu mertuaku sesaat kemudian dia keluar lagi dengan pakaian yang rapi berdasi dan itu dia naik mobil, bukanya itu kata Mas Ridwan mobilnya Aswan kenapa dia yang memakai, ahhh.....mungkin dia meminjam aku masih berfikir positif melihat apa yang dilakukan mas Ridwan. Setelah itu aku putuskan untuk pulang karena aku harus membuat kue untuk kutitipkan kewarung warung. Pada saat aku tengah sibuk membuat kue Ibu mertuaku datang.


"Aya ... kamu kok cuma masak sayur bayam sama tempe?" protes mertuaku


"Kamu ini suami kerja mapan cuma dikasih makan kaya ginian" omel mertuaku.


"Uangnya cuma cukup untuk beli, lauk seperti itu bu" kataku malas berdebat dengan mertuaku


"Dasar menantu boros" ucap mertuaku. Aku hanya diam saat dia mulai mengomel ngomel lalu aku lihat dia membuka tempat penyimpanan berasku.


"Aku mau bawa beras ini dirumahku habis" kata mertuaku


"Bu, aku cuma punya itu jangan di bawa" ucapku


"Kamu ini pelit sekali sama mertua sendiri, kamu itu harusnya bersyukur punya suami kaya Ridwan pekerjaanya mapan jadi kamu harus berbakti padaku jangan pelit pelit jadi orang" cecarnya


"Ya Tuhan....bagaimana ini bukanya aku pelit tapi aku sudah tidak punya uang lagi, kue yang aku titipkan diwarung belum dibayar semua bagaimana nanti" batinku aku hanya terdiam dan pasrah dengan apa yang dilakukan mertuaku.


"Nasi sama sayurnya sebagian aku bawa pulang buat sarapan dirumah Dita belum masak" katanya tanpa menunggu jawaban dariku dia sudah mengambil nasi dan lauk serta sayur hanya disisakan sedikit.

__ADS_1


"Tapi bu" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku mertuaku sudah menyela


"Nggak boleh pelit sama mertua" ucapnya tanpa dosa melengang pergi. Sore hari Mas Ridwan pulang kini ia tidak sendiri melainkan bersama Dinda anaknya Dita


"Narayan ...papa bawa teman buat kamu" ucap Mas Ridwan ketika baru pulang kerja sambil mengandeng Dinda


"Din... aku laper ambilin makan" perintah mas Ridwan


"Nasinya habis dibawa Ibu, dan beras tinggal dikit juga dibawa Ibu " ucapku


"Ya sudah ...nggak papa, aku keluar bentar cari makan buat kalian sama Dinda sekalian kasian dia belum makan" ucapnya


"Hampir aja aku seneng banget, tumben tumbenan dibelikan makanan ternyata karena Dinda" batinku mendadak aku jadi sebel dengan anak itu.


"Aku titip Dinda ya, hanya sebentar aku beli makanan di warung makan pojok" pamitnya.Setelah itu dia pergi meninggalkan kami untuk membeli makanan .Tiba-tiba Narayan menangis histeris terus aku deketi dia ternyata dia lagi rebutan mainan sama Dinda .


"Kenapa kamu nangis nak?" tanyaku pada Putraku


"Inda natal" ucapnya


"Sudah sekarang kalian baikan dan bermain lagi" ucapku dan anakkupun berbaikan lagi sama Dinda. Aku menungguinya tiba tiba Dinda menendang anakku sampai tersungkur lalu aku mendekatinya


"Dinda kenapa kamu dorong Narayan, jangan begitu kasian dia kalian harus rukun" nasehatku


"Ngapain lukun cama anak miskin malu maluin, kamu anak miskin halusnya ngalah sama aku" ucapnya pongah.Aku tak menyangka anak sekecil itu bisa berbicara seperti itu.Lalu aku peluk anakku.


"Kalian cama cama miskin, mingil" ucapnya kembali


"Kamu nggak boleh ngomong seperti itu, namanya nggak sopan" aku kembali menasehati Dinda. Setelah itu terdengar suara motor mas Ridwan dan Dinda tiba tiba menangis histeris .


" Hua.... pakde olang itu jahat...huaaaa" tangisnya semakin meledak


"Kamu apakan dia Aya?" tanya Mas Ridwan


"Aku cuma menasehati dia aja tadi dia nendang Narayan sampai jatuh" ucapku

__ADS_1


"Dia kan anak kecil jadi wajarlah" ucap mas Ridwan membela Dinda. Aku berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malah mas Ridwan semakin marah dan meninggalkan kami pergi entah kemana.


__ADS_2