
"Ibu tidak salah Ridwan, tadi Ibu tidak sengaja menumpahkan mie kuah panas kemuka Dinda hiks...hik..hik" ucap Ibunya Ridwan masih sesengukan.
"Apa? Ibu jangan bercanda, kita lagi banyak masalah" mendengar perkataan Ibunya sontak Ridwan bangun dari duduknya ia mengusap rambutnya kebelakang kemudian memijit pelipisnya.
"Ibu nggak sengaja Wan, Pas Ibu mau tuang mie kedalam mangkok Dita mengoyang-goyang tangan Ibu lalu mie itu tumpah ke mukanya" ucap Ibunya Ridwan.
"Kenapa bisa kemuka Dita?" tanya Ridwan.
"Ia mengoyang-goyang tangan Ibu sambil mendongak dan tangan Ibu jadi tremor dan tumpahlah mie itu" ucap Ibunya Ridwan.
"Sekarang dimana mereka?" tanya Ridwan.
"Kerumah sakit untuk mengobati Dinda sekaligus visum, Ibu takut Wan hiks...hiks...hiks" Ibunya Ridwan masih sesengukan menangis.
"Berdoa saja semoga Dinda tidak kenapa-napa" ucap Ridwan akhirnya ia sudah pasrah denga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah dua hari tidak ada kabar dari keluarga Dita, Ibunya Ridwan merasa bersyukur berarti ia tidak jadi dilaporkan polisi, namun kelegaanya hanya beberapa saat saja, sore harinya ada polisi yang datang untuk menjemputnya.
Melihat polisi datang Ibunya Ridwan langsung berinisiatif untuk melarikan diri, sore itu Ridwan belum pulang kerja, jadi Ibunya hanya ada dirumah sendirian.Polisi menyadari pergerakan Ibunya Ridwan lalu melakukan pengejaran tak butuh lama Ibunya Ridwan bisa ditangkap.Pihak kepolisian langsung menghubungi Ridwan.Ridwan langsung menyambangi kantor polisi untuk menemui Ibunya.
Ridwan sebisa mungkin mengupayakan jalan damai dengan pihak keluarga Dita.Namun usahanya buntu.Tanpa sengaja Ridwan bertemu teman semasa SMA dan dia bersedia membantu kasus yang dihadapi Ridwan.
"Wan.....satu-satunya jalan terbaik adalah kita melakukan negosiasi perdamaian mungkin mereka akan meminta sejumlah uang, tapi ini aku rasa lebih baik dari pada Ibumu masuk penjara" ucap Umar teman Ridwan yang kini menjadi pengacara dan membantu kasusnya.
"Lakukan yang terbaik asal Ibuku bisa bebas, kasian kalau dimasa tuanya harus dihabiskan dijeruji besi" ucap Ridwan.
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu umar langsung menemui keluarga Dita dan mereka sepakat berdamai dengan meminta sejumlah uang.
"Wan, mereka sudah setuju untuk berdamai tapi mereka tetap meminta kompensasi" ucap Umar.
"Baiklah, bilang pada mereka aku akan menjual rumahku satu-satunya harta yang aku punya saat ini" ucap Ridwan.
"Kalau kamu jual rumah terus kamu mau tinggal dimana?" tanya Umar.
"Sementara waktu aku akan pulang kampung tinggal dirumah almarhumah nenekku yang saat ini ditingali uwakku" ucap Ridwan
Setelah kesepatakan tercapai Ridwan segara menjual rumahnya selang beberapa waktu rumah itu sudah laku terjual dan uangnya langsung diberikan pada keluarga Dita sebagian untuk membayar jasa pengacara, mereka hanya pegang uang sedikit dari sisa penjualan rumah.
"Bu, sebelum kita meninggalkan kampung ini aku ingin melihat Narayan dulu untuk terakir kalinya" ucap Ridwan.
"Nggak usah Wan, Ibu takut kita kena masalah lagi" ucap Ibunya Ridwan yang masih trauma selama dua minggu mendekam dipenjara.
"Ya udah, kalau begitu Ibu ikut kita lihat Narayan dari kejahuan aja" ucap Ibunya Ridwan.
Kemudian mereka berkemas dan menuju TK dimana Narayan bersekolah. Rupanya disekolah Narayan sedang ada acara perayaan hari Ayah.
"Bapak dan Ibu tidak boleh masuk, didalam sedang ada acara hanya yang pakai undangan saja yang bisa masuk" ujar security.
"Kami janji tidak ingin membuat keributan.Tapi tolonglah ijinkan kami masuk" ucap Ibunya Ridwan memelas.
"Sekali tidak bisa ya tidak bisa" ucap Security.
__ADS_1
"Tolonglah kami, sekali ini saja" pinta Ibunya Ridwan.
Tiba-tiba ada staf yang keluar menuju ke pos security.
"Pak bisa minta tolong carikan petugas kebersihan dua orang segera, ini acara mau dimulai petugas kebersihan masih kurang dua orang karena yang satu sakit yang satu tiba-tiba ijin" ucap staf tadi.
"Kami bersedia pak, nggak dibayar nggak apa-apa. Ini KTP kami" ucap Ridwan serasa mendapat angin segar.
Setelah melalui berbagai macam pertimbangan mereka diijinkan masuk dan langsung memakai seragam petugas kebersihan lengkap dengan maskernya.
Begitu sampai didalam Ibunya Ridwan dibuat kagum dengan pangung yang megah untuk acara sekelas anak TK. Sambil menunggu perintah dari kepala kebersihan Ibunya Ridwan matanya menyapu seluruh tamu undangan untuk mencari Narayan, namun ia tidak menemukanya.
"Assalamualikum Wr.Wb,Selamat siang Bapak/Ibu wali murid TK Al-Madinah yang dimulyakan Allah SWT " Mc mulai membuka acara dan membacakan serangkaian acara yang akan ditampilkan pada siang hari ini.Salah satunya adalah penampilan anak-anak TK yang akan membawakan puisi, story telling, bernyanyi dan lain-lain.
"Penampilan pertama akan dipersembahkan oleh ananda Narayan yang akan menyanyikan lagu Ayah, tepuk tangan untuk ananda Narayan" ucap Mc.kemudian Narayan langsung naik keatas panggung dan bernyanyi lagu Ayah. Tanpa terasa Ridwan air matanya mengalir deras mendengar Narayan menyanyikan lagu Ayah.
"Terima kasih....lagu tadi saya persembahkan untuk papa saya Papa Arman dan Om saya Om Ilham" kata Narayan. Kemudian Mc memberikan sebuah bucket bunga dan meminta Arman dan Ilham naik panggung namun Ilham berhalangan hadir jadi yang naik keatas panggung hanya Arman.
"Ini untuk Papa" ucap Narayan lalu memberikan bucket bunga pada Arman. Arman menerimanya dan kemudian memeluk Narayan lalu mengendongnya turun panggung.Ridwan yang melihat pemandangan itu dadanya semakin sesak ia langsung ketoilet untuk menumpahkan semua rasa sesak didadanya.
Setelah dirasa lebih baik Ridwan kembali lagi ketempat perayaan. Mc mulai membacakan acara berikutnya.Acara demi acara dimualai hingga akhirnya Narayan kembali tampil dengan story telling
"Hallo....Bapak/Ibu semua, Namaku Nalayan. Aku akan belcelita soal ayahku Papa Alman, dali Papa Alman aku mengenal cinta seolang Ayah.Papa Alman olangnya baik dan ganteng dia sayang banget cama aku, dia ceolang docen tiap hali sebelum belangkat mengajal kita belmain dulu.Dia nyuapi aku makan, kadang mandiin aku telus habis itu dia antal kecekolah Papa Alman baik, tiap hali minggu kita jalan-jalan kalau Papa lagi cibuk kita main dilumah aja main kuda - kudaan Papa Alman jadi kuda dan aku naik pungungnya.I love you Papa celamat hali Ayah, telima kacih cudah jadi ayah yang baik buat Nalayan dan adek nantinya " Narayan terus berceloteh soal Arman betapa bangganya ia pada Arman.
Ridwan kembali merasakan sesak dadanya, mendengar cerita Narayan ia kembali ketoilet untuk menumpahkan tangisnya disana.
__ADS_1
"Maafkan Ayah sayang, Selama ini Ayah sudah jahat sama kamu. Bahkan hal kecil pun tak mampu Ayah lakukan untukmu, hanya sekedar memandikanmu,menyuapimu bermain bersamamu hiks..hik..hik aku Ayah yang buruk" Ridwan menumpahkan semua sesak didadanya di toilet ia hanya bisa berguman pelan