
"Ampuni aku ya Allah, telah mengabaikan istriku. Hukuman ini terlalu berat ya Allah setiap hari hamba dilanda rasa bersalah dan rindu pada istri saya"Guman Arya.
Arman bergegas masuk kerumahnya, dan langsung menemui putra sambungnya lalu memeluknya dengan erat untuk menyalurkan rindunya pada sang istri melalui anak yang sangat dicintainya dan istrinya.
"Papa, Mama kapan pulang?" tanya Narayan.
"Papa, belum tau sayang. Kamu kangen ya sama Mama?" tanya Arman.
"Iya Pa, Nalayan kangen cama Mama" ucap Narayan.
"Sekarang Narayan sholat dulu lalu berdoa agar Mama cepat pulang setelah itu Narayan bobok siang" ucap Arman penuh kelembutan pada Narayan.
Selesai Sholat Narayan langsung bobok siang ditemani Arman. Tak terasa Arman ikut ketiduran disamping Narayan.Di saat mereka berdua tertidur lelap Cahaya pulang kerumahnya.Dilihatnya Arman dan Narayan tidur berpelukan hatinya menghangat melihat pemandangan itu.
"Mas, kamu itu sebenarnya baik tapi kamu itu kadang menyebalkan nggak peka, bikin darting. Aku harus sedikit memberi pelajaran padamu. Aku harus jual mahal, enak aja dia langsung dimaafkan" batin Cahaya
Setelah menatap Anak dan suaminya lama , kemudian Aya menyelimuti keduanya dan berjalan kedapur untuk memasak.Di dapur ia bertemu dengan art. Art tersebut menceritakan hari-hari yang dilalui Arman tanpa Cahaya. Termasuk Arman merasa selalu melihat Aya dimana-mana.
"Jadi begitu bik?" tanya Cahaya.
"Iya non" kata Art Cahaya.
"Aku punya Ide", Aya membisikan sesuatu ditelinga artnya.
Artnya menganguk-anguk pertanda ia mengerti, beberapa saat kemudian Arman terbangun dan merasa haus ia langsung ke dapur, ia melihat sosok Aya lagi. Ia mengucek matanya tapi sosok itu tidak hilang.
"Nggak mungkin itu Aya, masak Aya pakai baju kaya bibik gitu, tapi....Asta'firullah. kenapa bibi jadi persis Aya begitu?, gila...gila..., aku mikir apa sih, hingga mikir kalau bibik itu Aya" batin Arman
Arman langsung balik lagi ke kamarnya sendiri.Ia benar-benar pusing sekarang diambilnya foto Cahaya lalu didekapnya
"Kamu dimana? Jangan siksa aku kaya gini" Arman berbicara sendiri
Dari balik pintu Aya mengintip apa yang dilakukan suaminya.Ia tersenyum dari dasar hatinya sebenarnya ia sudah memaafkan namun ia perlu memberi sedikit pelajaran pada suaminya yang tidak peka itu. Aya langsung ke kamar Narayan ia merebahkan diri disamping putra kesayanganya, dihirupnya aroma tubuh putranya yang ia rindukan. Tak terasa ia ikut tertidur bersama putranya.
__ADS_1
"Mama!," ucap Narayan ketika bangun melihat ibunya sudah disisinya.
"Sssttt..., jangan keras- keras ini rahasia" ucap Aya.
"Lahacia ya ma?," ucap Narayan.
" Ho....oh.." keduanya berpelukan lagi.Tanpa mereka sadari Arman sudah didepan kamar Naraya.Dadanya membuncah pujaan hatinya telah kembali.ia segera masuk kamar.
"Sayang....kamu sudah pulang?" ucap Arman ketika memasuki kamar Narayan.Ia hendak memeluk Cahaya.
"Stop!, berhenti disitu atau aku pergi lagi" ancam Cahaya sukses membuat Arman mengurungkan niatnya.
"Maafin aku Aya" ucap Arman.
"Kita bicara di kamar kita" ucap Aya yang tidak ingin Narayan tau permasalahan kedua orang tuanya.Bagai kerbau dicucuk hidungnya Arman langsung mengekori Aya dari belakang.
"Ceklek" pintu dikunci setelah mereka berdua masuk
"Mau bicara apa?" tanya Aya dingin.
"Maaf? Untuk apa? Emangnya kamu punya salah?" sindir Aya.
"Maafkan aku sudah mengabaikanmu dan lebih mementingkan Shella, aku bener-bener nyesel dan aku juga udah marahin Shella aku nggak nyangka dia bakal ngelakuin ini sama aku sahabatnya dari kecil" ucap Arman.
"Oh..itu?" ucap Cahaya.
"Kenapa dia cuma ngomong kaya gitu, aduh gimana ini" batin Arman
"Aya kamu boleh marahin aku, tampar aku.Tapi aku mohon jangan cuekin aku kaya gini" Arman mengiba.
"Marah sama kamu ngapain? Aduh...kaya nggak punya kerjaan banget, nggak penting!" ucap Cahaya.
"Aya...kamu jangan gini dong, apa yang harus aku lakukan agar kamu maafin aku?" tanya Arman ia mulai putus asa.
__ADS_1
"Nggak ada, jangan anggap aku marah sama kamu karena hal sepele kaya gini.Aku ini wanita mandiri semua bisa aku kerjakan sendiri, dua kali aku menikah dari situ aku bisa belajar kalau suami itu hanya titipan kalau tidak diambil yang kuasa ya diambil pelakor" ucap Cahaya.
"Jleb" kata-kata Cahaya membuat Arman terdiam.
Tiba-tiba ponsel Aya berdering Arman melirik sekilas terlihat sebuah Nama disana "Niko" batin Arman
"Ya ...ko, iya aku baru saja pulang. Oleh-oleh? Ada dong nanti kamu ambil ditoko sudah aku titipkan sama Rita" ucap Aya
"Bisa-bisanya dia membelikan oleh-oleh untuk Niko tanpa memikirkanku"batin Arman ,namun ia tak berani mengungkapkanya.Tanganya mengepal erat Cahaya melirik sekilas ia tersenyum puas melihat reaksi Arman.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku mau ke toko sebentar" ucap Aya.
"Biar aku antar" ucap Arman.
"Tak perlu!, ini masih sore. Malam saja kamu biarin aku pulang sendiri ngapain siang-siang kamu repot nganterin aku" sindir Cahaya.
"Aya maafin aku!" ucap Arman sambil mengekori Cahaya.
"Ini belum lebaran ngapain dari tadi maaf-maaf terus?, udah ah aku mau keluar" ucap Cahaya lalu ia menyalakan mobilnya.Arman tidak mau Aya ketemu Niko langsung masuk mobil Aya.
"Ngapain kamu ngintilin aku? Nggak ada kerjaan?" sindir Cahaya.
"Aku akan terus menempelimu sampai kau memaafkanku" ucap Arman.
"Terserah" ucap Cahaya lalu ia memutar music dan memakai headset agar tidak mendengar ocehan Arman.Setelah sampai di toko Aya langsung ultimatum Arman
"Jangan bikin keributan ditokoku" ucap Aya pada Arman.
Sesampainya disana teman-teman Cahaya sudah menunggunya, Arman tanpa malu langsung mengekori Aya. Meskipun dicueki Aya Arman berusaha membaur dengan teman-teman Aya.Arman berusaha mencairkan suasana dengan membuat jokes walaupun hasilnya garing, ia tetap berusaha. Tiba-tiba Rita datang dan mengucapkan sesuatu yang membuat Arman tidak nyaman.
"Mbak Aya.... Tadi pak Camat kesini, nitip salam katanya buat mbak Aya, salam manis katanya" Ucap Rita spontan.
"Dia hidup dijaman apa pakai nitip salam segala?" sewot Arman.
__ADS_1
"Itu merupakan wujud perhatian pak, perhatian kan nggak harus nunggu semaleman disebuah tempat" Rita mulai memanasi keadaan. Aya hanya diam saja, ia ingin tau reaksi Arman selanjutnya. Merah padam muka Arman Rita langsung ngeloyor pergi setelah tau reaksi Arman. Setelah teman-teman Aya pulang sikab Aya kembali dingin pada Arman namun Arman tidak putus asa.Meskipun dicueki, Aya bersikab dingin Arman terus menempel pada Cahaya kadang membuat Aya risi juga karena dia nggak bisa me time.
Arman membuka ponselnya ia membuka mbah pintar di ponselnya ia langsung mengetik "Cara meluluhkan Istri yang ngambek" .