
Hari ini jadwalku mengunjungi Ibu, di RSJ kata suster Ibu sekarang sudah lebih baik, ya meskipun kadang masih sering kumat ngamuk-ngamuk namun sudah tidak sesering dulu, Anisa memintaku berbicara dari hati ke hati, agar Ibu jujur dengan apa yang sudah ia lakukan agar mempermudah proses penyembuhan namun, sepertinya usahaku sia-sia Ibu masih enggan mengakui kesalahanya.Hari ini Anisa melalukan pengobatan lagi, tapi Anisa bilang kalau tidak ada niat dari Ibu sendiri untuk bertaubat semua akan sia-sia pada akhirnya.Aku tidak tau lagi bagaimana caranya membujuk Ibu, aku ingin Ibu sembuh seperti sedia kala dan menjadi manusia yang lebih baik lagi, aku pulang dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, karena sejatinya aku sedang memikirkan Ibu.
"Mas, aku perhatikan Mas Ridwan dari tadi melamun terus ada apa mas?" tanya Anisa.
"Nggak apa-apa dek, aku hanya kepikiran soal Ibu aja. Susah baget bujuk Ibu" kataku.
"Tidak ada yang tidak mungkin Mas, minta sama Yang Maha Kuasa, agar dilebutkan hati Ibu, Allah maha membolak-balikan hati manusia"ucap Anisa
Setelah kembali dari menjenguk Ibu, aku semakin rajin tahajud aku berdzikir cukup lama setiap malamnya, memohon ampunan dan pertolonganNya.Aku berharap suatu ketika Ibu mau berubah.Setelah sebulan dari kejadian itu aku kembali menengok Ibu, dan membujuknya namun reaksinya masih sama ia tidak bergeming dan tidak mau mengakui kesalahanya.Tiba-tiba Anisa mendekati Ibu.
"Ibu sudah lebih baik?" tanyanya halus dan lembut.Ibu hanya menganguk.
"Ibu masih betah disini?" tanyanya lagi lalu Ibu mengeleng, pertanda Ibu tidak mau lagi disini.
"Ibu mau saya bantu keluar dari sini?" tanya Anisa lagi, Mata Ibu langsung berbinar mendengar ucapan dari Anisa.
"Kalau begitu tolong ceritakan apa saja yang Ibu alami selama ini, dengan begitu akan mempermudah saya membantu Ibu keluar dari tempat ini" ucap Anisa.
Lalu Ibu mulai menceritakan kisahnya.
"Ini semua berawal dari kesalahan Ibu dan dendam yang membuat Ibu begini" kata Ibu
__ADS_1
"Hmmm....terus?" tanya Anisa lagi
"Hiks...hiks..hik" Ibu malah tergugu.
"Apa yang sebenarnya terjadi bu?" tanya Anisa.
"Suatu hari Ibu didatangi empat orang berbadan besar dan berbaju hitam, mereka menyeret Ibu kesuatu tempat, entah itu tempat apa namanya, aku melihat banyak orang disana sedang bekerja tanpa henti, dan mereka juga bilang kalau aku akan jadi karwawan baru ditempat itu, saat itu dihadapanku sudah ada kuali yang sangat besar dan aku disuruh memasak dikuali yang sangat besar itu bersama tiga orang lainnya, para pekerja disana hanya melirikku sekilas lalu, mereka bekerja kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, kalau tugasnya mengiris daging setiap hari mereka akan mengiris daging kalau yang menumbuk bumbu seharian penuh ia akan menumbuk bumbu, sedangkan aku bertugas memasak yang sangat banyak dan tidak pernah ada habisnya.Semua orang sibuk tak ada satupun yang berbicara mereka fokus pada tugas masing-masing, suasana ramai seperti orang kampung yang lagi hajatan cuma, bedanya disini tidak ada yang berbicara sama sekali, dan masakanya rasanya sangat anyir dan menyengat" Ibu menjeda ceritanya.
"Lalu?" tanya Anisa.
"Siang malam aku bekerja tanpa henti, setiap masakan sudah matang, akan ada orang yang mengangkatnya lalu aku disuruh memasak lagi, begitu seterusnya aku merasakan lelah yang berkepanjangan, Suatu ketika kami semua tim yang memasak dipanggil paduka raja, kami memasuki istana yang sangat megah, dindingnya terbuat dari emas, setelah melewati lorong kami masuk ke istana yang megah itu disana baginda sedang duduk di kursi kebesaranya, wujud baginda raja sangat mengerikan, seluruh tubunya hitam matanya merah, kepalanya bertanduk tatapanya sungguh mengerikan" ucap Ibu menjeda ceritanya sambil mengusap keringat.
"Lalu?" tanya Anisa.
"Minum dulu bu" kata Anisa, lalu Ibu menegak habis air mineral yang disodorkan Anisa.Ibu kembali melanjutnya ceritanya.
"Kami tidak bisa membantah perintah makluk menyeramkan tadi, Ibu juga sempat ketemu dukun yang Ibu mintai tolong buat cari penglaris dan menyakiti Aya, hiks...hiks..hikss" Ibu malah menangis.
"Kalau Ibu nggak kuat ceritanya dipending dulu nggak apa-apa bu" kata Anisa dengan lembut.
"Tidak Ibu harus cerita agar Ibu lega" ucap Ibu. Kemudian ia melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Ibu hendak minta tolong sama dukun itu, tapi lidah Ibu kelu Ibu sama sekali tidak bisa berbicara. Kemudian dukun itu mendekati Ibu, dan berbicara bahwa ini adalah resiko yang harus Ibu tanggung dan dukun itu bilang tidak bisa menolong Ibu, hiks...hiks..hiks" Ibu malah menagis lalu Anisa mendekat dan memeluk Ibu.
"Lalu setelah itu Ibu mendengar kamu membaca ayat apa atau mengaji, lalu Ibu seperti tersedot lalu bisa keluar dari tempat itu dan seperti saat ini Ibu bisa ada disini, Ibu takut hiks..hiks..hiks, Ibu takut kalau Ibu dibawa ketempat itu lagi" ucap Ibu tergugu aku jadi miris mendengar tangisan Ibu.
"Ibu mau keluar dari tempat itu selamanya?" tanya Anisa lagi dan Ibu hanya mengangguk.
"Sekarang Ibu bertaubatlah, minta ampun pada Allah atas dosa-dosa yang Ibu lakukan" kata Anisa
"Memangnya Ibu masih bisa dimaafkan?" tanya Ibu disela tangisnya.
"Allah itu Maha Pengampun bu," kata Anisa.
"Tapi Ibu tidak pernah sholat ataupun mengaji, Ibu juga tidak bisa sholat dan mengaji" kata Ibu.
"Ibu mau Nisa ajari?" tanya Nisa, lagi-lagi Ibu mengangguk.
"Satu lagi yang harus Ibu lakukan, minta maaflah pada orang-orang yang Ibu sakiti selama ini" kata Anisa.
"Tapi kesalahan Ibu banyak, apakah mereka mau memaafkan Ibu terutama Ay, mantan menantu Ibu, Ibu sudah mendzolimi dia, hiks...hikss...hikk, dia sebenarnya adalah perempuan yang baik dan tulus tapi karena hati Ibu tertutup oleh kebencian Ibu tidak pernah melihat Itu semua, bahkan Ibu hendak mencelakainya melalui dukun" ucap Ibu semakin tergugu menyesali perbuatanya.
"Kata Ibu Mbak Aya itu orang baik, jadi pasti bisa memaafkan Ibu tentunya" kata Anisa menyemangati Ibu, sungguh aku semakin kagum dan takjub dengan perempuan ini, aku saja yang sudah dari kecil mengenal Ibu tidak bisa membujuk Ibu, tapi lihatlah Anisa dengan kelembutanya bisa meluluhkan Ibu.
__ADS_1
Tbc...jangan lupa,like comment dan favorite ya men temen