
Kediaman Ridwan
Ridwan kini sudah tidak tinggal di gudang masjid lagi, pelan namum pasti ia bangkit.Berkat modal yang dipinjamkan Aki Ali, kini ia membuka kedai mie ayam kembali, usahanya cukup ramai karena racikan mie ayam Ridwan memang enak, kini ibunya Ridwan sadar tanpa penglarispun dagangan Ridwan laris manis.
"Alhamdulillah ya Wan, kita bisa bangkit lagi, Ibu sangat bersyukur kita dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Aki Ali dan Anisa" ucap Ibunya Ridwan.
"Iya Ridwan juga sangat bersyukur dengan keadaan kita sekarang, meskipun hidup kita sederhana tapi, kita bisa menikmati hidup ya bu?" kata Ridwan.
"Iya Wan, semua berkat Aki Ali dan Anisa, kapan kamu mau menikahi Anisa, Ibu sudah tidak sabar mempunyai menantu Anisa" kata Ibunya Ridwan.
"Ibu Yakin, mau terima Anisa dengan segala kekuranganya, Ibu nggak bakal nutut cucu?" tanya Ridwan ragu.
"Tidak Wan, ini adalah teguran dari Tuhan karena kita melalaikan Narayan, sekarang bagi Ibu Narayan dan Dinda sudah cukup Wan" kata Ibunya Ridwan
"Ibu sudah bisa menerima Dinda kembali?" tanya Ridwan ragu.
"Iya Wan, anak itu tidak bersalah dia tidak tau apa-apa tidak seharusnya kita membencinya, walau bagaimanapun juga Dinda scara hukum anak dari Riswan adekmu" ucap Ibunya Ridwan menitikan air mata.
"Iya bu, Ridwan senang melihat Ibu yang sekarang, sekarang apa rencana Ibu?" tanya Ridwan.
"Ibu ingin kerumah Cahaya untuk meminta maaf padanya secara langsung dan menemui cucu Ibu Narayan, setelah itu kerumah Dinda" kata Ibunya Ridwan.
"Tapi Dinda sekarang nggak tinggal dengan Dita dan orang tuanya sekarang dia tinggal bersama Ayah kandungnya Heri" kata Ridwan
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ibunya Ridwan.
"Yang Ridwan dengar mereka nggak sanggup urus Dinda dengan segala tingkahnya, makanya mereka menitipkan Dinda pada Ayah kandungnya" ucap Ridwan.
"Kasian sekali Dinda, anak sekecil itu harus adaptasi dengan orang baru, meskipun itu Ayah kandungnya, semua gara-gara Ibu dulu terlalu memanjakan dia dan akibatnya malah membuat dia badung seperti itu, hik..hik..hik.., sekarang Dita dimana? Kenapa nggak mengurus Dinda?"tanya Ibunya Ridwan.
"Kata orang-orang Dita kerja di kota Bu" ucap Ridwan.
__ADS_1
"Besuk antarkan Ibu kerumah Aya dan Dinda ajak Anisa juga, agar mereka tidak salah faham dengan kedatangan kita" ucap Ibunya Ridwan.
"Iya bu, nanti Ridwan akan ajak Anisa juga" kata Ridwan.
Hari berikutnya Ridwan, Ibunya dan juga Anisa pergi kekota dengan mengunakan mobil Aki Ali, awalnya Ridwan menolak namun Aki Ali terus memaksa.Sepanjang perjalanan Ibunya Ridwan semangat sekali karena akan bertemu dengan cucu-cucunya namun, ia juga menyimpan ketakutan, takut Aya tidak mau memaafkannya namun, Anisa terus menyakinkan Ibunya Ridwan bahwa semua akan baik-baik saja.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota, tak lama kemudian mereka sampai disebuah perumahan elit, Ibunya Ridwan sangat kagum dengan rumah Cahaya.
"Assalamualaikum..." ucap Ridwan
"Waalaikum salam" terdengar jawaban dari dalam rumah.
"Ceklek" pintu dibuka nampak seoarang art sedang membukakan pintu dan tersenyum ramah.
"Ibu Aya ada?" tanya Ridwan
"Ada, kebetulan nyonya besar juga ada disini, silahkan masuk Pak Ridwan" ucap Art yang memang sudah mengenal Ridwan karena Ridwan sering datang untuk menemui Narayan. Ridwan beserta Ibunya dan Anisa masuk kedalam rumah Aya, Ibunya Ridwan tidak berhenti berdecak kagum melihat interior rumah Cahaya, begitu ia masuk ruang tengah ia sangat kaget melihat pemandangan yang ada di depanya, Seorang wanita yang tengah hamil besar sedang di potong kuku kakinya oleh wanita paruh baya, dari penampilanya ia tau bahwa itu adalah Yulia mertua Cahaya sekarang, dulu jangankan membantu memotong kuku menantunya, bahkan ketika Aya hamil besar ia masih memperlakukan Aya layaknya babu. Sebenarnya Aya merasa tidak enak mertuanya memotong kuku-kuku kakinya namun, Yulia terus memaksa kasian katanya karena Aya kesulitan untuk memotong kuku kakinya.
"Test..." bulir air mata turun dengan derasnya dari kelopak mata yang ibunya Ridwan yang sudah keriput.
"Ib...u" ucap Aya ragu. tanpa diduga Ibunya Ridwan langsung bersimpuh di kaki Cahaya.
"Aya, maafkan Ibu! Ampuni semua kesalahan Ibu, hiks...hiks..hiks" ucap Ibunya Ridwan masih bersimpuh
"Ibu jangan begini, bangun bu!" kata Aya lembut ia juga tampak menitikkan air mata.
"Ibu nggak akan bangun sampai kamu memaafkan semua kesalahan Ibu" kata Ibunya Ridwan sambil menangis.
"Aya, sudah memaafkan Ibu sebelum Ibu meminta maaf" kata Aya dengan tulus
"Ibu punya banyak dosa sama kamu, hiks...hikss...hikkk, Aya hatimu begitu bersih nak, Ibu sangat malu padamu" kata Ibunya Ridwan masih terisak.
__ADS_1
"Sudahlah bu, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita buka lembaran baru hidup kita agar lebih baik lagi" ucap Aya sambil membimbing mantan mertuanya untuk bangun.
"Oh ya bu, kenalkan ini Mama Yulia" kata Aya memperkenalkan Yulia pada Ibunya Ridwan.
"Saya Yulia, Aya bukan hanya menantu saya, dia sudah saya anggap anak saya sendiri" ucap Yulia tulus.
"Oh ya Aya, Ini Anisa Calon Istrinya Ridwan" ucap Ibunya Ridwan memperkenalkan Anisa.
"Hallo Assalamualaikum mbak, Saya Anisa senang bertemu dengan mbak Aya" ucap Anisa ramah
"Hai, Saya Aya, senang bertemu denganmu, Silahkan duduk!" ucap Cahaya mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Perbincangan mereka makin lama makin menghangat, Ibunya Ridwan sangat senang beban didadanya seolah berkurang setelah meminta maaf pada Aya, Ridwan juga meminta maaf pada Aya atas semua kesalahannya dimasa lalu. Tak lama kemudian Narayan yang baru bangun tidur langsung digendong Yulia diajak gabung dengan nenek dan Ayahnya, Kini Ibunya tak lagi iri melihat kedekatan Narayan dan Yulia karena ia melihat sendiri kalau Yulia sangat menyayangi cucunya.
"Narayan salim dulu sama nenek dan Ayah juga tante Anisa" bujuk Yulia.Awalnya Narayan ragu untuk bersalaman dengan neneknya namun Yulia dan Aya dengan sabar membimbing Narayan agar mau dekat dengan nenek kandungnya.
"Ayah, ini tante Nisa yang mau jadi Ibu balu Nalayan?" tanya bocah kecil itu. Semua tertawa mendengar celoteh Narayan.
Anisa sangat kagum dengan kelembutan hati Cahaya juga kedekatanya dengan mertuanya. Ia berharap kelak juga akan bisa dekat dengan Ibunya Ridwan seperti Aya dekat dengan mertuanya.
"Ibu menginap disini saja, nanti bobok sama Narayan" kata Cahaya.
"Tawaran yang sangat menarik, tapi lain kali saja Ibu sebenarnya pingin banget tidur bareng dengen cucu Ibu yang ganteng ini, tapi Ibu pingin ketemu dengan Dinda dulu, Ibu kangen dengan dia Ibu juga mau meminta maaf pada Dinda" ucap Ibunya Ridwan.
"Oh kalau begitu mau Ibu, baiklah nanti tolong sampaikan salamku pada sisca" ucap Cahaya. Lalu ia memberikan dua goodie bag satu untuk Ibunya Ridwan dan satu lagi untuk Dinda yang ia titipkan pada Ibunya Ridwan.
Tbc....
Hai..hai sayang-sayangnya author sambil nunggu novel ini kalian bisa bac novel othor yang lain
1.Perjalanan Cinta Rania (End)
__ADS_1
2.Bams dan Thalita( masih on going)
3.mengejar cinta suamiku ( belum rilis hehhehe)