
"Mulai sekarang aku yang antar jemput kamu ke toko, pagi kamu bareng aku sekalian Narayan, nanti kembalinya kamu tunggu aku" ucap Arman.
"Iya mas" ucap Cahaya.
"Apa perlu aku sewa bodyguard buat kamu?, aku jadi nggak tenang begini ningalin kamu kerja" ucap Arman.
"Nggak usah berlebihan mas, kaya istri pejabat aja kemana-mana harus ada yang kawal" ucap Aya
"Tapi aku beneran khawatir sama kamu" ucap Arman penuh kekawatiran
"Tenang Mas, disana ada Rita selain mulutnya pedes dia kalau teriak-teriak melebihi toak masjid, nanti kalau Mas Ridwan datang biar Rita yang handle" ucap Aya meyakinkan suaminya. Dengan terpaksa Arman menyetujui ide dari istrinya walau sebenarnya ia masih khawatir.
Mobil melaju ke TK tempat Narayan sekolah, Narayan sangat senang sekali hari ini diantar oleh Papa dan Mamanya.Bocah itu girang bukan kepalang. Begitu datang, ia sudah disambut oleh Dinda yang kini sudah bisa bersikab sopan dan Manis.
"Celamat pagi Tante, Om" Sapa Dinda
"Pagi Dinda!, Kamu sekarang manis sekali, Ibumu sangat pintar mendidik kamu. Kamu panggil bude seperti biasanya aja nggak usah Tante-tante segala" ucap Cahaya seraya mengelus rambut Dinda kebencianya pada gadis kecil itu perlahan luntur.
"Enggak Tante, sekarang Tante Aya nggak pantas dipandil bude. kata Ibu, kuno katanya" ucap Dinda polos.
"Ibumu ada-ada saja, Ya sudah kami pergi dulu yang rukun ya. Oh Ya Narayan tadi bawa bekal dua, satu buat kamu ya" ucap Cahaya.
"Makasih Tante" ucap Dinda.
"Sama-sama" ucap Cahaya lalu mencium Narayan dan Dinda secara bergantian.Lalu mereka meneruskan perjalanan.
"Mama kamu cekalang wangi dan cantik banet Nalayan" ucap Dinda.
__ADS_1
"Iya, Mama memang cantik dan wangi, aku sayang sama Mama" ucap Narayan. Mendengar ucapan Narayan Dinda menjadi sedih ia teringat dengan Dita.
"Tenapa kamu cedih Inda?, ciapa yang jahat cama kamu?" tanya Narayan.
"Aku tanen Ibu Dita" ucap Narayan.
"Memangnya, Ibu kamu yang balu ndak cayang cama kamu?" tanya Narayan.
"Ibu Isca cayang cama aku, tapi tetep aja aku tanen Ibu Dita. Aku celing mimpi Ibu Dita nanis dan minta tolong aku jadi cedih, kemalin aku ketemu Ayah Iwan, Ayah kamu juga, tapi ia pula-pula ndak kenal inda" ucap Dinda sedih.
"Kamu beldoa aja, cemoga Ibu Dita baik-baik aja, kata Mama doa anak yang baik didengal Allah, Soal Ayah, aku ndak cuka dia! Dia celing buat Mama nanis. Kemarin aku culi dengal Mama nanis gala-gala Ayah, Nalayan sebel cama Ayah, Tapi Inda tenapa Ayah ndak kenal Kamu?, Ayah kan Cayang banet cama kamu" ucap Narayan.Dinda hanya mengeleng lemah mendengar ucapan Narayan.
"Kamu ndak ucah cedih, Kamu kan puna Ayah balu yang lebih cayang cama kamu, Aku juga puna papa balu yang cayaaaang banet cama aku, jadi kita ndak boleh cedih kita main aja yuk" ucap Narayan lalu ia mengandeng Dinda untuk bermain keduanya langsung bermain dan melupakan kesedihan Dinda.
Sementara itu, Ridwan terpaksa harus pulang dulu karena stok bahan baku mie Ayam sudah habis. Ia juga harus meracik stock bumbu yang banyak lagi, karena hanya dia yang bisa membuatnya Ibunya tidak bisa dihandalkan, Dua hari dirumah rasanya seperti satu tahun lamanya, rasa rindu didada kian mengunung, di tatapnya foto mantan istrinya dengan penuh kekaguman diusap lembut foto itu seolah ia sedang mengusap pipi Cahaya lalu, ia mendekapnya berharap ia akan bertemu Aya dalam mimpi, sungguh Ridwan sangat tersiksa dengan perasaan ini.Dari balik pintu Ibunya mengintip kamar Ridwan, ia mengeryit keheranan melihat anaknya kini seperti tenggah tergila-gila pada mantan istrinya.
Pagi harinya ia sudah bersiap-siap ke kota untuk menemui Aya lagi, kini ia tak peduli lagi apa yang akan terjadi, tekatnya sudah bulat ia akan meminta Aya untuk rujuk kembali padanya.Ia berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan menyakiti Aya kembali cukup sudah penderitaan yang ia alami karena kehilangan anak dan istrinya.
"Sekarang aku fokus ke Aya dulu, kalau Aya sudah aku dapatkan bisa dipastikan Narayan akan ikut serta, aku harus semangat mengejarmu kembali Aya" guman Ridwan menyemangati diri sendiri.
Sesampainya dikota ia kekontrakan Budi terlebih dahulu baru kemudian ia akan mampir ke toko Cahaya.Pucuk dicinta ulam pun tiba, sesampainya di toko Cahaya ia tidak melihat Rita si mulut kaleng rombeng.
"Bagus!, kaleng rombeng itu nggak ada, jadi aku bisa leluasa masuk ruangan Aya dan merayunya kembali aku tidak akan memaksanya seperti kemarin aku akan merayunya sampai dia luluh" batin Ridwan dengan lengkah percaya diri ia memasuki toko bak pemilik toko.
"Berhenti!,Bapak nggak boleh masuk sembarangan masuk ruangan Bu Aya!" ucap salah satu pegawai toko Cahaya yang mencegah Ridwan masuk ke dalam ruangan Cahaya.
"Kamu pikir kamu siapa? Diam kamu!, kalau aku sudah menjadi suami Aya lagi, kamu akan aku pecat karena kamu lancang" ucap Ridwan.
__ADS_1
"Jangan ngimpi pak!" ucap pelayan toko tadi.
"Brugh..." pelayan tadi jatuh didorong oleh Ridwan, saat hendak mencegah Ridwan masuk keruangan Cahaya.Dengan langkah pasti Ridwan menapaki satu persatu tangga yang menuju ruangan Cahaya, sebelum masuk ia memastikan penampilanya dahulu, ia merapikan baju, sepatu dan rambutnya lalu dengan pelan-pelan tanpa mengetuk pintu ia mendorong perlahan berharap Aya tidak kaget melihat kedatanganya. Namun, bukanya Aya yang kaget melihat kedatanganya, bahkan Aya sama sekali tidak menyadari kedatanganya karena dia sedang asik berciuman dengan suaminya, melihat pemandangan yang ada didepan matanya darahnya serasa mendidih, tangannya mengepal erat, rahangnya mengetat dengan langkah cepat ia menghapiri keduanya.
"Bugh...." satu tinju melayang di perut Arman setelah Ridwan menarik Arman paksa pada saat ia sedang berciuman dengan Aya.
"Apa-apaan kamu! Nggak sopan banget masuk ruangan orang, dan main pukul" umpat Arman yang merasakan kesakitan diperutnya akibat tonjokan dari Ridwan
"Brengsek! Beraninya kamu cium Ayaku" ucap Ridwan.Ia hendak melayangkan tinju kembali Arman langsung menyadarinya dan bangkit lalu menyerang balik.Cahaya sangat ketakutan melihat dua lelaki dihadapanya kini sedang adu jotos, ia langsung berlari memeluk Arman meskipun ia tau ini membahayakan dirinya namun ia tidak ingin Arman kenapa-napa.
"Hentikan!," teriak Aya
"Dan kamu Mas Ridwan, pergi dari tempat ini" usir Cahaya.
"Kamu membela dia Aya?" ucap Ridwan tak percaya.
"Aku kesini untuk membebaskanmu dari laki-laki brengsek ini, tapi kamu malah membela dia" ucap Ridwan tidak terima.
"Jelas karena dia suamiku, sedangkan kamu bukan siapa-siapaku mengerti kamu" ucap Aya.Mendengar ucapan Aya membuat Ridwan meradang ia ingin menghajar Arman hingga babak belur agar tidak adalagi yang menghalanginya untuk bersatu dengan cahaya.
"Bugh..." satu pukulan yang diarahkan ke Arman namun rupanya malah Cahaya yang terkena pukulan itu karena dia mengahalangi Ridwan yang ingin memukul Arman.
"Bugh....Aya!" teriak Arman.Aya terjatuh hingga pingsan
Tbc....
Jangan lupa like comment dan favorite ya guys ya
__ADS_1
Love you all