
Sesampainya dirumah Ridwan langsung mengutarakan keiginannya untuk menikahi Sila, Awalnya Ibunya Ridwan sempat menolak.Wanita paruh baya itu kurang begitu suka dengan Sila, karena wanita itu tampak arogan menurut pendangan Ibunya Ridwan, sangat berbeda dengan kedua menantunya terdahulu, Aya cenderung bodoh dan mau dimaanfaatkan sedangkan Dita dia seorang yang penurut walaupun akhirnya mereka tertipu oleh Dita.Wanita tua itu tidak dapat membayangkan hidup berdampingan dengan Sila yang nota bene wataknya sama-sama keras kepala.Ridwan juga mengutarakan keiginan Dita untuk tidak tinggal bersama Ibunya Ridwan, hal ini tentu saja mendapat penolakan keras dari ibunya Ridwan, setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Ibunya Ridwan mengalah tinggal di kontrakan dekat Rumah Ridwan.
"Mas, Kok kita masih tinggal di tempat yang sama dengan Ibumu sih" protes Dita.
"Yang penting kita sudah tidak satu rumah, harusnya kamu mengerti dong. Ibu sampai rela mengontrak rumah sendiri demi memenuhi keinginan kamu" sungut Ridwan.
Tak lama setelah kedatangan Sila, ijab kobul untuk ketiga kalinya Ridwan ucapkan, dengan mahar seadanya dan saksi beberapa warga sekitar pernikahan Ridwan dan Sila dilakukan dirumah Ridwan yang akan ditempatinya bersama Sila.
"Jangan harap saya seperti Aya dan Dita yang bisa Ibu atur, mulai sekarang keuangan Mas Ridwan aku yang atur. Kalau Ibu ingin uang ,Ibu harus kerja bantu-bantu di warung mie ayam kami" bisik Sila setelah selesai ahad dan memeluk Ibunya Ridwan.
"Kita lihat siapa yang akan bertahan disini,aku atau kamu" Ibunya Ridwan membalas bisikan ditelinga menantu barunya.
Kehidupan Ridwan benar-benar berubah setelah menikahi Sila, semua keuangan dikendalikan oleh Sila termasuk uang untuk beli bensin dia harus meminta uang pada Sila, nasib Ridwan benar-benar berbanding terbalik dengan saat berumah tangga dengan Aya, ia kerja atas jasa istrinya yang membantu kuliah namun hasilnya dinikmati sendiri bersama Ibunya, kini hasil keringat dia dan Ibunya mereka tidak menikmati sama sekali hasilnya, Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari mereka.
"Sila, Aku rela hanya kamu jatah bensin saja, tapi tolonglah kasiani Ibuku dia sudah tua, kalau cuma ngasih makan dia saja aku kira uang kita lebih dari cukup nggak perlu Ibu kerja sampai malam-malam begitu, kasian beliau sudah tua" ucap Ridwan.
"Kalau mau makan ya harus kerja! Enak aja makan, nganggur terus foya-foya pamer ketetangga dengan emas kaya toko mas berjalan gitu kaya jaman Aya masih jadi istrimu, sementara aku harus banting tulang" sewot Dita.
__ADS_1
"Dita!, bukanya kamu nggak pernah kerja selama menikah denganku kamu hanya ongkang-ongkang dan belanja kepentingan kamu sendiri, mikir dong Ibuku setua itu harus kerja demi sesuap nasi sementara kamu dirumah kaya nyonya bos, nyuci,nyelika bersih-bersih rumah kamu nyuruh orang, kamu pikir kamu siapa? Aku hanya penjual mie ayam lagakmu sudah seperti nyonya besar" ucap Ridwan penuh emosi.
"Terserah ya mas, aku mau ngapain ini rumah-rumahku sendiri mau tidur, mau makan itu hak aku" ucap Dita.
"Maksudmu apa? kamu kesini datang nggak bawa apa-apa cuma bawa bacot doang pake ngaku-ngaku rumah ini rumahmu" ungkap Ridwan.
"Asal kamu tau mas, rumah ini sudah aku pindah atas namaku jadi kamu jangan banyak tingkah kalau tidak mau aku usir dari sini" ucapan Dita membuat rahang Ridwan mengeras emosinya memuncak ia bahkan sampai gelap mata mendorong Sila hingga terjatuh.
"Brak..." Sila terjatuh namun itu tidak menyurutkan Ridwan mendekat ia ingin menghajar Sila, usaha yang digelutinya siang dan malam ia tidak menerima hasilnya sama sekali dan rumah tanpa sepengetahuanya sudah pindah nama atas nama Sila.Mata Ridwan menetap nyalang kearah Sila, selama ini ia hanya diam mendengar aduan dari Ibu tersayangnya yang mengatakan seringkali dibentak, dimaki dan dihina oleh sila namun, kali ini tindakan Sila sudah diluar batas menurutnya.
"Jangan lari kamu pengecut!" teriak Ridwan sambil berusaha mengejar Sila.Sila terus saja berlari tanpa melihat arah kanan kiri, pikiranya sedang kalut saat ini lari dari Ridwan adalah jalan terbaik menurutnya.Dari arah kanan nampak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas.
"Brak..." Sila terpental hingga lima meter
"Sila! Teriak Ridwan,Tubuh Ridwan bergetar hebat melihat Sila bersimbah darah.
"Tolong!" teriak Ridwan tak lama kemudian warga berkerumun untuk membantu Membawa Sila kerumah sakit, meskipun hatinya masih marah sama Sila namun melihat kondisi Sila yang seperti ini belum lagi didalam perut Sila ada darah dagingnya membuat Ridwan kian terpuruk. Begitu sampai dirumah sakit Sila langsung mendapatkan penanganan dokter melakukan tindakan operasi , Ridwan sangat mencemaskan keadaan anak dan istrinya.Tak lama setelah itu lampu didepan operasi yang semula berwarna merah kini sudah berubah menjadi warna hijau pertanda operasi telah selesai.Tak lama setelah itu dokter keluar dari ruang operasi dengan masih mengenakan seragam operasi lengkap dengan maskernya.
__ADS_1
"Dengan keluarga Ibu Sila" kata dokter yang barusan keluar dari ruang operasi.
"Saya suaminya dok" kata Ridwan.
"Ada dua hal yang ingin saya katatan, hal hal yang baik dan yang kedua adalah hal yang kurang baik, hal baiknya adalah operasi istri anda berjalan dengan lancar dan istri anda berhasil kami selamatkan dan kabar buruknya kami tidak dapat menyelamatkan janin yang ada dalam rahim istri anda, karena benturan yang terjadi sangat keras mengakibatkan janin dalam perut Ibu Sila tidak dapat bertahan" ungkap dokter pada Ridwan. Lutut Ridwan seketika melemas, anak yang menjadi alasanya selama ini bertahan dengan Sila sudah tidak ada lagi di dunia ini, air mata Ridwan tanpa permisi berlomba-lomba berlarian dari pelupuk matanya.
Kondisi Sila mulai membaik namun belum dipindahkan keruang rawat karena harus menunggu observasi dari dokter dulu.Ridwan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada rumah tangganya kedepannya. Ia langsung menghubungi Ibunya dan menyampaikan kabar kecelakaan yang Sila alami.
"Maaf ya Wan, Ibu tidak sudi menjenguk menantu sialan itu. Ini adalah teguran dari Tuhan atas dosa-dosanya selama ini pada Ibu, biar dia tau rasa Ibu malah mendoakan dia agar tidak selamat biar nggak ada yang ganggu ketengan hidup Ibu" ucap Ibunya Ridwan.
"Ibu jangan ngomong begitu!, walau bagaimanapun juga dia istri Ridwan bu" ucap Ridwan.
"Bela aja terus dia, semenjak kamu nikah sama dia kamu nggak peduli dengan Ibu, kamu hanya bersembunyi dibalik rok istrimu, Aku malah bersukur bayi yang dikandung perempuan sialan itu mati aku terus berharap Sila segera menyusulnya keneraka" ucap Ibunya Ridwan.
"Astagfirullahhal ahdzim bu!, istigfar" ujar Ridwan.
Jangan lupa like ,comment dan fav ya men temen
__ADS_1