NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Over Protektive


__ADS_3

"Sayang, mulai besuk kalau kamu ke toko aku sudah siapkan pengawal untuk kamu" ucap Arman.


"Mas, ini nggak lucu mas. Masak cuma ke toko aja pake pengawal kaya istri pejabat aja atau istri CEO, nggak usah lebay deh" ucap Cahaya.


"Aya sayang, kamu nggak ingat kejadian kemarin sampai kamu pingsan itu? aku nggak mau kejadian itu terulang lagi" ucap Arman.


"Mas Arman sayang, Mas Ridwan itu nggak mungkin berani deketin aku karena kejadian kemarin cukuplah buat dia jera" ucap Aya yang tidak setuju ide dari suaminya.


"Si brengsek itu, udah bebas sayang aku khawatir dia nekat menemui kamu lagi" ucap Arman dengan nada serius.


"Mas, dia itu bukan bebas murni dia tahanan kota, jadi kalau dia macam-macam lagi bisa dipastikan dia akan dikurung lagi, jadi aku kira dia akan mikir seratus kali untuk ganggu aku" ucap Aya


"Tetep aja aku khawatir sayang!," ucap Arman semakin posesif setelah mengetahui istrinya hamil.


"Mama, didalam pelut Mama cudah ada dedek bayi ya?" tanya Narayan tiba-tiba membuyarkan perdebatan suami istri itu.


"Iya sayang!, disini ada adenya Narayan" ucap Arman seraya mengelus lembut perut istrinya yang masih datar.


"Coba, Nalayan mau dengel cuala adek bayi di dalam cana" ucap Narayan sembari mendekatkan telinganya di perut Cahaya.


"Kok ndak ada cualanya?" tanya Narayan keheranan.


"Belum sayang, kan adeknya masih kecil banget jadi belum kedengeran suaranya ataupun gerakanya nanti, kalau udah gede di perut Mama akan kelihatan kalau adek bayi lagi gerak-gerak" ucap Cahaya sembari mengelus rambut putra kesayanganya.


"Mulai sekarang kita jaga adek bayi bareng-bareng, Mama nggak boleh capek, kalau Mama capek adek bayi juga capek, Jadi kalau Mama bandel Narayan boleh tegur Mama" ucap Arman.


"Apaan sih kamu Mas?" ucap Cahaya sambil mencubit lengan Arman.


"Oh ya sayang, Mama bilang katanya mau adain sukuran kecil-kecilan gitu ngundang teman-teman arisanya gitu" ungkap Arman.

__ADS_1


"Mas, apa ini nggak berlebihan mas? Usia kandunganku juga baru dua bulan biasanya, orang syukuran itu setelah empat bulan setelah ditiupkan ruh dalam tubuh bayi" ucap Aya yang agak keberatan dengan ide mertuanya.


"Kata Mama, nanti kalau empat bulanan syukuran lagi ngundang pengajian dan anak Yatim begitu" ucap Arman.


"Mas aku rasa semua ini terlalu berlebiham menurutku, segala sesuatu yang berlebihan itu jatuhnya nggak baik loh mas" ucap Aya.


"Aya, aku nggak mau mengecewakan Mama dengan melarangnya mengadakan acara itu, dia kelihatan sangat antusias sekali menyambut calon cucunya yang ke dua ini" ucap Arman.


"Ya udah, aku bisa apa mas? Yang penting semua untuk kebaikan calon anak kita" ucap Aya.


"Oh ya sayang satu lagi, Mama udah beli banyak banget baju bayi tapi masih dirumah Mama besuk baru mau dibawa kesini" ucap Arman.


"Mama ada-ada aja, jenis kelaminya aja belum tau udah beli baju bayi kan sayang kalau nggak kepake" ujar Cahaya.


"Dia beli warna netral katanya, cewek sama cowok bisa pakai" ujar Arman


"Mbak Aya, mau minum?" ujar Rita menawarkan minuman untuk Aya.


"Rita!, Mas Arman sudah nggak ada. Kamu nggak usah ikut-ikutan lebay, aku bukan nenek-nenek jompo yang apa-apa harus diambilkan atau dilayani bak Ratu, kamu bekerja seperti biasa saja" ucap Cahaya yang merasa tidak bebas karena setiap gerak-geriknya diawasi Rita seperti perintah Ridwan.


"Nggak bisa gitu mbak, nanti kalau ada apa-apa nanti aku yang disalahkan banyak orang, Ibu Yulia, Pak Arman dan yang lebih serem lagi Mas ganteng Ilham" ucap Rita.


"Hallah mereka nggak bakalan tau, kamu tau nggak kalau kamu terus ngintilin aku gini aku risih tau nggak sih?" seowt Cahaya.


"Siapa bilang mereka nggak tau? noh liat cctv dimana-mana ada masalah dikit Rita bakal digorok rame-rame" ucap Rita


"Serah loe!" ucap Aya sebal


¤¤¤

__ADS_1


Sementara itu dikampung halamanya Ibunya Ridwan begitu sampai dikampung ia tidak langsung ke dukun langananya karena uangnya sudah habis semua untuk membebaskan Ridwan.Ia mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk pergi kedukun sambil mencari informasi soal Aya sampai sedetail-detailnya lewat tetangga julidnya yang dulu pernah tinggal bersamanya. kini suaminya temanya menjadi tukang kebun dirumah Cahaya, jadi dengan mudah ia dapat mengetahui kegiatan Cahaya lewat teman julidnya.


"Aya, bersiap-siaplah akan aku hancurkan hidupmu mulai sekarang.Jangan senang dulu kamu liat setelah ini hanya air mata yang akan menemani hari-harimu, itu sumpahku" batin Ibunya Ridwan


"Ada apa lagi kamu kesini?, Bukankah usahamu sudah sukses dan peletnya juga manjur mau apa lagi?" tanya dukun langanan Ibunya Ridwan.


"Mbah kemarin sepertinya mbah salah mantra apa gimana, ini bukanya mantan menantu saya yang tergila-gila malah anak saya yang semakin tergila-gila pada mantan istrinya" curhat Ibunya Ridwan pada dukun langananya.


"Brak..., ini nggak mungkin selama ini tak pernah ada satupun mantraku yang gagal, ini pasti ada yang tidak beres" ucap dukun itu tidak terima bila dikatakan mantranya tidak manjur.


"Ta..tapi itu bener mbah apa yang saya katakan" ucap Ibunya Ridwan agak takut


"Sekarang maumu apa? Mau aku buat perempuan itu menjadi gila beneran" tantang dukun tersebut


"Jangan dulu mbah, aku pingin dia menderita. Pertama aku pingin dia keguguran karena aku tidak suka melihat kebahagiaan mereka" ucap Ibunya Ridwan


"Kamu kejam juga ya?" ucap sang dukun


"Dendam membuat saya seperti ini anak saya jadi miskin gara-gara perempuan itu, anak saya dipenjara juga gara-gara perempuan itu dan kemarin ia hampir dipenjara lagi juga karena perempuan itu" ucap Ibunya Ridwan penuh kebencian.


"Tini kamu dengarkan aku, kamu yakin akan melakukan ini? Karena resikonya sangat besar jika nanti keluarganya tidak terima maka santet ini akan kembali padamu aku tidak mau bertanggung jawab sedikitpun" ucap sang dukun.


"Saya yakin mbah, mantan menantu saya tidak kenal klenik dan semacamnya jadi nggak mungkin semua akan berbalik pada saya" ucap Tini mantab.


"Terserah kamu, yang penting aku sudah memberitahumu sejak awal" ucap sang dukun.


Sepulang dari rumah dukun, senyum senang langsung menghiasi wajah Tini, ia sangat yakin rencanaya kali ini akan berhasil pelan-pelan ia akan rusak kehidupan Cahaya dengan cara halus yang tidak dapat dibuktikan sehingga dia tidak akan terkena masalah dikemudian hari.


"Rencana ini tidak boleh bocor ketelinga Budi, bisa panjang ceritanya kalau dia tau rencanaku ini" guman Ibunya Ridwan setelah kembali dari rumah dukun andalanya.

__ADS_1


__ADS_2