
"Ibu aku mohon dengarkan aku, tolong jangan bikin keributan lagi. Semalam Pak RT datang memberi peringatan kalau sekali lagi kita bikin keributan, maka kita akan diusir dari kampung ini" ucap Ridwan.
"Semua ini gara-gara Aya dan Dita dua menantu sialan itu" ucap Ibunya Ridwan bersungut-sungut.
"Berhenti nyalahin orang lain bu!, saatnya kita berbenah diri dari semua kejadian yang kita alami marilah kita ambil hikmahnya" ucap Ridwan.
"Hallah nggak usah sok bijak kamu, semua juga gara-gara kamu juga, pakai acara selingkuh dan mencelakai Ilham nasib kita jadi begini" omel Ibunya Ridwan
"Terserah Ibu, semua orang memang salah dimata Ibu. Hanya Ibu yang benar, tapi aku mohon dengan sangat kali ini saja jangan bikin keributan lagi" ucap Ridwan.
"Iya...Ibu juga nggak budek jangan diulang-ulang terus" ucap Ibunya Ridwan.
"Assalamualaikum...." terdengar seseorang mengucapkan salam dari luar pintu.
"Waalaikum salam..." ucap Ibunya Ridwan.
"Biar Ridwan aja yang buka pintu bu, sebaiknya Ibu disini saja" pinta Ridwan.
"Baiklah" Ridwan bergegas membukakan pintu. Begitu membuka pintu ia dikagetkan dengan kedatanga Dita, Dinda dan Ibunya.
"Mau apa lagi sih?, mereka kemari" batin Ridwan.
"Ayah...." Dinda langsung berhambur memeluk Ridwan.Ia hanya diam saja tak ada reaksi apapun saat Dinda memeluknya. Sejujurnya ia sangat jengkel dengan anak ini. Gara-gara dia anaknya kehilangan kasih sayang seorang Ayah dan takut pada Ayahnya sendiri.
"Dita mau apa lagi kamu kesini?, please jangan buat keributan lagi" ucap Ridwan memohon.
"Mas aku janji nggak akan buat keributan disini. Aku hanya mengantar Dinda yang kangen kalian. Sejak kemarin dia menangis, merajuk tidak mau makan" ucap Dita sedih.
Dari dalam Rumah Ibunya Ridwan melihat siapa yang datang ia sengaja tidak keluar karena tidak mau ada keributan lagi.
"Ayah...nenek dimana? Tanya Dinda.
__ADS_1
"Nenek lagi pergi" dusta Ridwan.
"Inda inin ketemu nenek, Inda mau pesta sepelti nalayan. Inda liat di hp Ibu nalayan ulang taun meliah inda juga mau" ucap Dinda.
"Huffft...." Ridwan menarik nafas lalu menghembuskan lagi untuk menetralisir rasa amarah dalam dadanya.
"Dinda setiap tahun kamu ulang tahun pasti dirayakan, tahun ini kamu rayakan sama Ibu dan nenek Ida ya?" ucap Ridwan setenang mungkin.
"Ndak mau, inda mauna pesta kaya nalayan dan Ayah kacih hadiah mobil gede kaya Papanya nalayan, pokokna semua kaya nalayan" ucap Dinda semakin merengek.
"Dita...Please bawa anak kamu pulang jangan tambah beban kami" ucap Ridwan.
"Ayah nakal....Ayah nakal" lalu Dinda mengambil sapu dan memukuli Ridwan dengan sapu.
"Dita! Bawa anakmu pulang sekarang!" bentak Ridwan.
"Ayo sayang, kita pulang Ayah lagi tidak bisa diganggu dan nenek juga lagi pergi" Bujuk Ida neneknya Dinda.
"Ndak mau...,inda ndak mau puwang ini lumah inda" ucap Dinda sambil menangis kemudian ia berlari kesemua ruangan untuk mencari neneknya.
"Narayan maafin nenek yang sudah jahat sama kamu, dulu nenek lebih mengutamakan Dinda yang bukan siapa-siapa" batin Ibunya Ridwan sambil menagis sesengukan dikamar
"Dita kepalaku rasanya mau pecah, kamu atasi anakmu. ku harus keluar dulu dari pada disini aku menjadi gila dengan sikab anakmu, kuharap setelah aku kembali kalian sudah pergi" ucap Ridwan lalu keluar mengambil motor bututnya dan meninggalkan rumah.
"Ayah....janan pelgi....huaaaa..." tangis Dinda makin memekakan telinga.Hingga sore hari Dinda belum mau pulang.Ibunya Ridwan kelaparan ia diam-diam keluar kamar untuk membuat mie instan perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.Dengan langkah berjingkat ia menuju dapur lalu menyalakan kompor untuk membuat teh dan mie instan.Namun rupanya Dinda menyadari keberadaanya neneknya dan langsung menuju dapur.
"Nenek....nenek cudah pulang" ucap Dinda namun tidak digubris sama sekali oleh Ibunya Ridwan.Gadis kecil itu tidak kekurangan akal lalu ia memeluk neneknya, dulu cara ini paling ampuh ia gunakan untuk merayu neneknya.
"Lepasin!" bentak Ibunya Ridwan.
"Ini inda nenek...cucu nenek yang antik" ucap Dinda semakin mengeratkan pelukanya.
__ADS_1
"Lepaskan hei anak sialan, aku bukan nenekmu aku neneknya Narayan" hardik Ibunya Ridwan yang masih mengaduk mie dalam panci.
"Hua....aaa nenek nakal huaaa..." tangis Dinda kembali pecah. Dita dan Ibunya yang mendengar Dinda menangis langsung menuju dapur.
Saat hendak menuangkan mie dalam mangkok tangan Ibunya Ridwan digoyang-goyang oleh Dinda hingga tremor dan "Byur..." mie beserta kuah panas menyiram wajah Dinta yang sedang mendongak mengoyang-goyangkan tangan Ibunya Ridwan.
"Hua....aaa, Ibu....panas....hua...aa" tangis Dinda semakin kencang.
"Astaga! Apa yang Ibu lakukan kenapa menyiram Dinda dengan air panas dan mie" ucap Dita yang kegat mendapati anaknya tersiram mie dengan kuah yang panas.
"Dita....Ibu nggak sengaja, sumpah Dinda mengoyang-goyang tangan Ibu hingga tremor dan mienya tumpah ke wajah anakmu" ucap Ibunya Ridwan yang tidak kalah kagetnya.
"Ibu Tini apa yang ada lakukan pada cucu saya, anda bukan manusia!. Setega ini ada pada anak kecil, saya tidak terima" ucap Ibunya Dita yang melihat muka Dinda yang mulai kemerahan.
"Saya nggak sengaja, sumpah!" ucap Ibunya Ridwan lagi.
"Dita bawa anakmu, sekarang kita kerumah sakit obati Dinda sekalian visum kita laporkan mantan mertua yang laknat ini" Ancam Ibunya Dita.
Ibunya Ridwan bener- bener shock, lututnya lemas seketika bayang-bayang hidup dibalik jeruji besi sudah didepan mata.Ia hanya bisa menangis meratapi nasib sampai sekarang Ridwan juga belum pulang, rasa lapar yang mendera hilang tergantikan dengan rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan. Beberapa saat kemudian Ridwan kembali kerumahnya. Didapatinya rumah sudah sepi ia bernafas lega.
"Ah...syukurlah Dita dan keluarganya sudah pergi" guman Ridwan.
"Ibu...Ridwan pulang" ucap Ridwan lalu mencari keberadaan Ibunya kedapur dilihatnya dapur berantakan ada tumpahan mie tidak dibersihkan.lalu ia ke kamar Ibunya dilihatnya Ibunya sedang meringkuk dan menangis.
"Ibu..." panggil Ridwan.
"Jangan mendekat, jangan bawa aku, aku tidak salah, aku tidak sengaja" ucap Ibunya Ridwan yang menangis sambil mengigil karena ketakutan.
"Bu ini Ridwan bu, apa yang terjadi kenapa Ibu begini?" tanya Ridwan keheranan melihat sikab Ibunya.
"Ridwan..." Ibunya langsung memeluk Ridwan sambil menagis hingga bergetar.
__ADS_1
"Ibu takun Wan" ucap Ibunya masih terisak.
"Ibu kenapa? Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi jangan buat Ridwan bingung" ucap Ridwan